
Maaf ya baru bisa update. Otor gak enak bdan tiga hari ini dan tulisan hilang 200 kata.. Aku hanya bisa menangis.
Selamat Membaca
..............
Sya menangis dikamarnya. Duduk di samping tempat tidurnya sambil menekuk kakinya. Air mata itu masih terus mengalir. Sya tak memperdulikan itu semua. Tapi hatinya terlalu sakit saat tetangganya menjulidi kehidupannya apa lagi bayi yang ada di kandungannya.
"Dia tidak bersalah. Akulah yang salah" sesal Sya yang masih menangis sesegukkan dilantai kamarnya.
Sya merasa hidup ini terasa kejam. Tidak ada bala bantuan yang datang menghampirinya .
Sya terdiam .
Sayup terdengar...
"Tok...tok..tokk" pintu digedor kasar dari luar rumah.
Sya bangkit. langsung menuju pintu depan rumahnya. Sya tak langsung membukanya. Sya mengintip terdahulu dari kaca depan.
Sya terkejut. Sya menutup mulutnya. Dengan kuat. Sya menggeleng lemah.
"Ayah" batin Sya. Ternyata yang datang adalah mantan mertuanya. Entah ada keperluan apa sang mertua datang menghampirinya.
Sya membereskan pakaian yang dikenakannya agar tak terlihat perut buncitnya.
"Ceklekkk" Sya membuka pintu pelan pelan.
"Ayah" cicit Sya hormat.
__ADS_1
"Jangan panggil aku ayah lagi. Mulai saat itu aku bukan mertuamu lagi dan kau bukan siapa siapaku. Panggil aku tuan Abraham" kata sombong tuan Abraham.
"Iya.. Tuan Abraham " ucap Sya pelan.
"Bagus.. Baiklah aku tidak mau berlama lama dirumahmu yang kumuh ini"
"Braakk" tuan Abraham melempar kasar satu undangan mewah ke meja ruang tamu Sya.
"Apa ini?" ucap Sya.
"Ini adalah undangan Mark yang akan melangsungkan pernikahan nanti. Kau harus datang dan melihat megahnya acara pernikahannya" sombong tuan Abraham.
Sya tersenyum getir. Tega sekali mantan mertuanya ini menyombongkan pernikahan anaknya yang merupakan mantan suaminya sendiri.
" Jangan menangis" sindir tuan Abraham.
"Aku takkan menangis hanya karena ini tuan Abraham" ucap lantang Sya.
"Baguslah jika kau tahu diri" ucap tuan Abraham.
Setelah mengatakan itu tuan Abraham. Langsung pergi meninggalkan mantan menantunya tanpa mengucapkan salam perpisahan.
Sya juga langsung menutup pintu depan rumahnya. Sya melempar undangan tadi kesembarang arah.
Sya tak memperdulikan hal itu.
Ditempat lain
Mark kecewa atas perlakuan ayahnya pada mantan istrinya. Mark tak menyangka setega itu ayahnya dengan mantan istrinya.
__ADS_1
Mark masih sangat mencintai Sya. Dan takkan terganti. Meskipun dia telah menikah dengan pilihan ayahnya bukan pilihan dirinya.
Mark tak ingin hatinya berlabuh kelain hati.
Ditempat lain.
Rey prustasi karena perlakuan Sya yang memalukan dirinya. Rey merasa tak bahagia setelah kepergian Sya dari kehidupannya.
Rey ingin pergi sejauh jauhnya meninggalkan kenangan dirinya dan juga Sya.
.
.
Mampir yuk dikarya temanku
Blurb.
Meski terlahir dan tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan santun, tetapi Mirza tetaplah sosok anak muda yang butuh mengekspresikan diri dan ingin menikmati kebebasan masa mudanya.
Ia menjadi pemuda yang urakan dan sering gonta-ganti pacar dengan dalih penjajakan untuk menentukan sebuah pilihan yang tepat, gadis pilihan yang akan Ia jadikan sebagai istri.
Namun, dari banyaknya gadis yang Ia pacari, tak satupun yang bisa memenuhi kriteria Mirza. Kriteria istri idaman, yang membuat semua keluarga tercengang.
"Mereka semua adalah gadis yang tidak bisa menjaga dirinya dengan baik, masak baru pacaran sudah minta cium?" gerutu Mirza.
Akankah Mirza, dapat menemukan gadis seperti yang Ia idam-idamkan?
__ADS_1