
Selamat Membaca
................
Setelah menemui Dokter Ryan. Mama Yanti langsung menemui Sya di ruang perawatannya.
Tanpa terasa setetes air mata kebahagian melintas dengan cepat di pipi mulus mama Yanti .Mama Yanti merasa ada suatu kebahagian .entah itu apa. Tapi dia merasa . Kebahagian yang lama di nantikan.
Mama yanti masih mengintip Sya yang sedang mengendong bayi cantiknya. Sya sedang belajar menyusui . Ini adalah pengalaman pertamanya.
Dan semua itu tak luput dari pandangan mama Yanti sendiri. Tanpa menunggu lama lagi. Mama yanti langsung masuk ke ruangan Sya .
"Aduh.. Aduh.. Cucu nenek.. Sini sini pengen gendong" kata mama Yanti. Sya langsung memberikan bayi lucu itu pada nenek sibayi.
Mama yanti menyambut bayi itu dengan hati hati.
"Mengapa ada keyakinan di hatiku jika bayi ini anak Rey" bathin mama Yanti berkecamuk.
Mama Yanti tak henti hentinya menatap wajah cantik dan mengemaskan bayi lucu itu. Sangat mirip pikir mama Yanti. Hanya berbeda di bibir saja.
"Mata . Alis dan hidungnya. sangat mirip Rey saat bayi".
"Akan aku pastikan semuanya hari ini. Rey harus mengakuinya".
Ditempat lain.
Rey masih berada disekitar kantin. Masih dengan kopi tanpa gulanya.
Drett...drett.
"Halo ma" jawab Rey.
"Cepat kita pulang. Mama tunggu di loby rumah sakit sekarang" .
Tut..tutt
Telepon langsung terputus . Rey yang patuh langsung menemui mamanya diloby rumah sakit.
__ADS_1
Saat diperjalanan pun terasa hening seketika. Belum ada yang membuka obralan disiang hari itu.
Saat sampai dikediaman Mama Yanti.
"Rey " panggil mama Yanti.
"Iya ..Ma" .
"Ikut mama ke kamar. Ada yang mau tanya sama kamu. Mama tunggu dikamar" perintah Mama Yanti.
Sebelum kekamar mamanya Rey memutuskan untuk menyegarkan tubuhnya dahulu . Rey langsung mandi dengan air dingin .
Setelah berpakaian . Rey langsung menemui mamanya.
"Tok...tokk..tokk" pintu diketuk Rey dari luar.
"Masuk " .
Rey langsung masuk kedalam. Seperti biasa. Rey jika bertandang kekamar mamanya. Rey langsung menuju tempat tidur smdan berbaring. Layaknya anak bayi yang selesai mandi.
Mama yanti yang sedang memoleskan skin care diwajahnya langsung terhenti sejenak lalu melanjutkan lagi tanpa menjawab pertanyaan Rey barusan.
Setelah selesai. Mama Yanti langsung duduk bersebelahan dengan rey.
"Aku jadi takut loh ma. Wajah mama kayak gek aku kenal aja" selidik Rey.
"Bagus kalau kamu ngerti" ejek Mama Yanti.
"Langsung aja ma. lama banget" .
Mama langsung bercerita panjang lebar. baru lima menit bercerita .
"Jadi mama nuduh aku" sangka Rey.
"Mama gak nuduh. Mama cuma nanya. Apa kamu yang menghamili Sya dan tidak mau bertanggung jawab" tanya Mama Yanti .
Rey tak berani menjawab.
__ADS_1
"Kenapa?jawab aja" ketus mama Yanti.
Akhirnya.
"Oke.. Oke.Rey cerita"
Akhirnya Rey menceritakan yang sebenarnya pada mamanya. Lalu.
PLakkkkkkk
Suara tamparan terdengar nyaring dikamar mama Yanti. Tapi jika ada orang yang mendengarnya. untung saja kamar mama Yanti sama seperti kamar utama yang lainnya "Kedap Suara".
"Mama gak nyangka. Kamu bisa lari dari tanggung jawab Rey"
Rey hanya tertunduk malu. Wajahnya masih terasa panas karena bekas tamparan mamanya barusan.
"Mama selalu ngajarin kamu untuk selalu menghargai wanita, tapi lihat kamu. Di hari ini kamu membuat mama sakit. Sakit mama Rey" bentak mama Yanti.
Mama Yanti terisak menangis di kasurnya. Sambil menunduk.
"Maafin Rey ma" lirih Rey mendekati mama Yanti yang menangis.
"Nikahi dia".
.
.
Mampir yuk dikarya temanku
Blurb
Jihan mengantarkan ibu mertuanya untuk melayat ke rumah teman pengajiannya. Namun ketika berada di rumah duka ada seorang anak kecil memanggilnya ‘Mamah’.
Abrisam seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Namun takdir menentukan lain, istri yang sangat dicintainya meninggal dunia. Meninggalkannya dan anak mereka yang bernama Alika.
__ADS_1