
Ara terbangun, setelah melewati operasi dan mendapati Zivan ada di sampingnya dan sedang menggegam tangan. Ara ingin menarik tangannya dari genggaman Zivan namun Zivan tak membiarkan itu terjadi.
"Tuan Zivan, kenapa tuan bisa ada disini? anakku ... dimana dia? kau tidak mengambilnya dariku kan." Ara sedikit ketakutan.
"Tenang Ara, aku tidak akan mengambilnya dari tanganmu. Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal, jika kamu sedang mengandung anakku. Jika aku tahu dari awal, mungkin kejadiannya tidak akan begini."
"Menjauhlah dariku Tuan, kita sudah bercerai. Sekarang kita tidak punya ikatan apapun." Ara memalingkan wajahnya tak ingin melihat Zivan.
"Tidak, aku tidak akan menjauh darimu. Karena kita belum bercerai." jawab Zivan membuat Ara terbelalak lalu menatap Zivan kembali."
"Tidak mungkin, tuan pasti berbohong. Bukankah tuan yang menginginkan. Sesuai perjanjian pernikahan kita hanya tiga bulan tidak lebih."
__ADS_1
"Tapi kamu yang mengikatkan diri denganku, dengan melahirkan anak dan itu darah dagingku. Jika kamu benar-benar ingin menjauh dariku seharusnya tak kau biarkan dia lahir ke dunia ini. Jadi siapa yang tidak ingin berpisah, aku atau kamu." jawab Zivan dengan enteng, membuat Ara terjebak dengan perkataannya sendiri.
Astaga... Kenapa kenapa bisa jadi begini. Aku kira dengan menyembunyikan kehamilanku pada tuan Zivan dan tidak memberitahu keberadaanku, semuanya akan selesai. Ternyata aku salah, sekarang apa yang harus aku lakukan di saat anak dan ayah sudah bertemu.
Malboro datang menghampiri dengan raut wajah penuh kemarahan dan bersiap untuk marah kepada putrinya yang sedang berbaring tak berdaya.
"Pa-"
Sebelum Zivan bisa menemui Ara, Malboro sudah membuat kesepakatan jika Zivan bisa membuktikan ketulusan cintanya pada putrinya dalam waktu tiga bulan, maka Malboro akan merestui, tapi jika gagal maka Zivan harus meninggalkan Ara dan juga anakku. Persyaratan tersebut di ketahui Vios sebagai papa Zivan dan Zivan pun menyetujui hal tersebut.
Selama dua hari di rumah sakit, Zivan benar-benar melakukan kewajibannya sebagai seorang suami, dan dengan telaten membantu melakukan sesuatu yang dibutuhkan Ara. Zivan membuang semua egonya hanya untuk mendapatkan hati Ara kembali.
__ADS_1
"Hari ini dokter sudah mengizinkan kamu dan anak kita pulang, jadi kamu tidak akan tersiksa lagi disini."
"Benarkah? akhirnya. Aku benar-benar tersiksa jika harus disini beberapa hari ke depan, apalagi harus bertemu denganmu setiap detik, membuatku benar-benar bosan."
"Apa kamu bilang, kau bosan denganku? Eemmm ... aku tak percaya itu, bagaimana pria setampan membuat dirimu bosan. Aku yakin kamu hanya ingin berusaha menjauh dariku tapi hatimu berkata tidak ingin. Iya kan." Ejek Zivan.
Ternyata, jika bisa lebih dekat, Tuan Zivan sangat baik bahkan sangat romantis. Ternyata tuduhan aku salah, apa yang di katakan Amela itu benar, tuan Zivan memang sangat baik dan juga penyayang hanya saja, ia sulit mengungkapkannya dengan perbuatannya.
"Terlalu percaya diri, aku sudah muak melihat wajah tuan, hampir dua puluh empat jam, tuan ada di depanku, bagaimana aku tidak bosan. Sepertinya ada udang di balik batu dari sikap tuan yang tiba-tiba saja berubah."
To Be Continued
__ADS_1