Hasrat Wanita Bayaran

Hasrat Wanita Bayaran
CH-26


__ADS_3

Kali ini semua anak buah bisa bernafas lega, karena lolos dari hukuman Zivan atas kelakuan istri bosnya yang selalu saja bisa lolos dari pengawasan.


"Istri bos Zivan memang benar-benar lihai mengelabuhi, lihatlah kita yang berjaga sebanyak ini, tapi nyonya masih bisa pergi dengan begitu mudahnya." Ucap salah satu dari beberapa yang sedang membicarakan Ara yang membuat mereka geleng kepala.


Hukuman yang diberikan Zivan sebelum-sebelumnya tak membuat Ara jera, Zivan pun menghukum Ara dengan cara lain dan berharap Ara jera dan tidak mengulangi kesalahannya lagi.


Zivan terpaksa mengikat tangan kiri istrinya dengan borgol dan mengaitkannya dengan tepian ranjang, berharap dengan begitu, Ara tidak bisa kemana-mana lagi.


"Lepaskan aku, jangan perlakukan istrimu ini seperti budak, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji." rengek Ara.


"Tidak, kamu harus diberi hukuman dulu, biar kamu jera."


"Bagaimana aku akan menyusui Vania kalau tanganku di borgol. Lepaskan aku, apa kau tak mendengar, putri kita sedang menangis dia butuh ASI." Ara terus membujuk Zivan dengan berbagai cara yang ia bisa. Namun sayang semuanya tak ada yang mempan, yang ada ia malah ditinggalkan pergi.


Satu jam, dua jam, hingga beberapa jam Zivan tak muncul untuk menyudahi hukumannya. Pergelangan tangan Ara sudah mulai merah kerena gesekan saat Ara berusaha untuk melepaskannya.


Akhirnya saat makan malam, Zivan pun kembali muncul dan membawa nampan yang berisi makan malam.

__ADS_1


"Mas... tolong! please! lepaskan aku."


"Apa sudah jera?" tanya Zivan dan Ara pun mengangguk.


Zivan menangkup wajah Ara dan mengusap pipinya dengan jempolnya.


"Apa kamu tahu, alasan aku melakukan ini padamu? Kau sangat berharga bagiku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu, kau tahu kan musuhku dan musuhmu masih banyak yang berkeliaran dan mereka selalu mengincar kita untuk di sebagai target. Jika terjadi sesuatu padamu, aku dan Vania akan sangat kehilangan. Jadi sebelum semuanya terlambat jangan jangan cari mati duluan." jelas Zivan dan ia pun melepaskan borgol yang menjeratnya.


Zivan pun mengambil piring yang berisi nasi dan lauknya. Ia pun menyuapi Ara layaknya seorang suami yang benar-benar sayang.


* * * *


Zivan yang sudah di beri obat tidur oleh Ara, tak mengetahui jika istrinya sudah kabur lagi.


Sebuah alasan membuat Ara nekat pergi. Dendam akan kematian papanya tak bisa di bendung lagi. Ia ingin mengetahui pembunuhnya dan ingin membalas perbuatannya. Kini satu-satunya harapan Ara hanyalah Gaharu dan ia berjanji akan mengatakan sesuatu padanya.


Ara datang di sebuah warung makan kecil, tempat Ara dan gaharu dulu sering bertemu. Di sana Gaharu sudah lebih dulu datang dan sudah memesan kopi panas.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku terlambat." Ucap Ara dengan nafas masih tersengal-sengal kerena ia harus berlari.


Gaharu menyeruput kopinya sebelum bicara.


"Apa kamu tak takut jika tuan Zivan marah?" tanya Gaharu menyakinkan.


"Aku tak perduli jika dia marah ataupun menghukumku lagi. Aku hanya ingin mengetahui siapa pembunuh papa, agar aku bisa membalasnya agar papa bisa hidup dengan tenang." jelas Ara.


"Apa kamu yakin ingin membunuhnya?" tanya Gaharu lagi.


"Aku yakin, Siapapun dia, tak akan aku biarkan dia lolos Begitu saja."


Mendengar jawaban Ara dengan keyakinan, Gaharu pun menyerahkan sebuah foto kepada Ara.


"Lihat dan cermati baik-baik, sebelum kau ambil keputusannya."


Ara mengambilnya dan memperhatikan foto tersebut. Ia mengerutkan dahinya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2