
Zevania Arata, bayi mungil yang sangat cantik, secantik namanya yang terlahir dari rahim Aurora. Kini Vania sudah siap melihat dunia yang di kelilingi oleh orang-orang hebat di sekitarnya.
Aurora dan baby Vania pun akhirnya bisa pulang. Sambutan kecil pun sudah menantinya di rumah.
"Selamat datang cucuku Vania. Selamat menjadi ibu baru Ara," ucap Malboro dengan penuh haru.
"Makasih papa buat sambutannya, tapi bukan berarti papa bisa lari dari pertanyaan Ara nanti." saut Ara.
Di pojokan, Victoria berusaha menahan air mata, seharusnya hari ini dia juga bisa merasakan kebahagiaan mendapatkan seorang cucu, tapi di sini dia hanya bisa menyambutnya dari kejauhan.
"Bibi Victoria, kenapa berdiri di sana? apa bibi tidak mau menyambut keluarga baru? padahal rencananya ,Ara mau meminta bibi buat jadi babysitternya Vania," tanya Ara dengan bibir manyun.
Zivan memperhatikan wajah Victoria dan merasa tidak asing dengan wajah itu, namun ia masih ragu.
"Kenapa wajahnya sangat mirip mama kandungnya Amela? atau hanya namanya saja yang mirip. Jika dia mamanya Amela mana mungkin Ara memanggilnya Bibi. Jadi mereka hanya mirip saja? aku kira mereka berdua kembar." Gumam Zivan
Victoria segera menghapus air matanya dan segera menghampiri Ara.
"Bibi nangis?"
"Gak Nona, bibi hanya terharu saja, rasanya baru kemarin bibi rawat Nona dan sekarang bibi juga dapat momongan baru. Berikan Vania pada bibi, bibi akan antar Vania ke kamar barunya. Biar Nona bisa istirahat lagi." Victoria pun menyambut baby Vania dari tangan Ara.
__ADS_1
"Zivan antarkan istrimu ke kamar!" perintah Malboro.
Zivan pun mengiyakan dan membawa, Ara yang masih duduk di kursi roda kembali ke kamar lewat lift yang menuju ke kamar.
Malboro menghentikan langkah Victoria, "Ingat Victoria, jangan pernah katakan apapun pada Ara kalau kamu adalah ibu kandungnya, bahkan jika Zivan bertanya jangan pernah kamu mengatakan apapun." ancam Malboro dan Victoria pun mengangguk lalu m ngantarnya Vania ke kamar.
"Tenyata selama kamu hamil, kamu semakin gemuk." ucap Zivan saat mengangkat tubuh Ara dan meletakkannya di ranjang.
"Jangan mengejekku, aku bisa membalasnya, jika saja kalau aku tidak membutuhkan bantuanmu, mungkin sudah usir kamu dari rumah ini." Ucap Ara dengan ketus?
"Benarkah? tapi sayangnya kamu tidak bisa mengusirku, bahkan kamu akan membutuhkan aku sepanjang waktu, setidaknya butuh satu bulan biar kamu bisa kembali sehat dan selama itu aku akan ada disisimu." Zivan mencubit dagu Ara menggoda, lalu melanjutkan untuk meletakkan obat-obatan yang di konsumsi Ara di atas nakas agar lebih mudah menjangkaunya.
"Kerasukan apa sih Tuan Zivan ini, dulu dia bersikap dingin padaku bahkan menghabiskan waktu bersama saja hampir tak pernah, tapi kenapa sekarang dia jadi berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pria yang perhatian. Jangan-jangan dia mulai jatuh cinta padaku, dan merasa kehilangan saat aku menghilang. Eemmm... perlu di uji nih, bisakah dia lulus ujian dariku?" gumam Ara sambil senyum-senyum sendiri.
"Selesai!" ucap Ara puas, setelah berhasil menata guling, Zivan hanya memperhatikan dan menaikkan alisnya sebelah.
"Mulai sekarang, Tuan-, ah.. tidak-tidak bukan tuan, tapi papanya Vania. Kehadiran Vania di antara kita itu tidak di rencanakan, dan kau memper*saku sekali tapi kamu berhasil membuatku hamil, sungguh keterlaluan." celetuk Ara dengan berani.
"Astaga... kau bilang aku memper*samu? Apakah seorang suami meminta haknya itu termasuk pemerk*saan?"
"Tidak! tapi kan kau memaksa secara sepihak, padahal aku tidak mau."
__ADS_1
"Berarti, kalau kamu yang mau duluan tapi aku sedang tidak mau, apa kau akan memperk*saku?"
"Bukan begitu...aaahhh... sudahlah, aku malas berdebat, pokoknya kita tidur terpisah dan jangan coba memelukku." Ancam Ara, namun dengan santainya diabaikan Zivan dengan berulang kali menggoda Ara.
Zivan pun membiarkan Ara istirahat, dan ia pergi menemui papa mertuanya yang sudah menunggunya untuk menyelesaikan masalah yang belum selesai.
"Duduklah Zivan, aku ingin bicara serius mengenai masalah kemarin yang belum tuntas." Malboro menatap Zivan dengan perasaan campur aduk atas perbuat yang di lakukan pada putrinya, namun di sisi lain Zivan melupakan putra Vios dan saat ini Zivan juga merupakan penerus Gron.
"Aku mengaku salah pa, menikahi putrimu tanpa seizin darimu. Aku sama sekali tidak tahu jika papa Ara adalah Anda. Ara bilang nama papanya adalah Malboro dan di surat keterangan yang dia miliki pun atas nama itu dan nyatanya papa Ara yang sebenarnya adalah anda yaitu tuan Rafandra." jelas Zivan.
"Kalau bukan karena kamu putranya Vios, sudah aku lenyapkan kamu. Tapi sayangnya tidak mungkin bisa aku lakukan, dan sekarang semua keputusan ada di tangan Ara, jika memang dia masih ingin melanjutkan hubungan denganmu maka kalian harus menikah ulang. Dan jika tidak maka kamu harus meninggalkan Ara dan juga Vania."
"Aku janji Pa, dalam tiga bulan, aku pasti bisa meluluhkan hati Ara, dan memastikan jika ia akan tetap bersamaku." dengan yakin Zivan pun berjanji dan di anggukan oleh Malboro.
Braakkkk...
Malboro tiba-tiba memukul meja, membuat orang yang mendengarnya terkejut, termasuk Zivan yang ada di depannya.
"Aku tidak suka menanti yang seperti itu. Jika kamu mau menaklukkan Ara gunakan caramu sebagai seorang lelaki, aku tahu putriku, dia lebih suka tantangan dan rasa penasaran daripada hal romantis atau perhatian berlebih. Tunjukan kalau sikap kamu sama seperti posisi yang sedang kamu emban," ucap Malboro dengan tegas.
"Baik pa, saya akan melaksanakan perintah papa, meluluhkan hati Ara dengan cara saya sendiri, akan menjadikan Ara wanita satu-satunya yang paling saya cintai dan lindungi."
__ADS_1
"Bagus, sekarang pergilah, aku puas dengan jawabanmu."
To Be Continued