Hasrat Wanita Bayaran

Hasrat Wanita Bayaran
Ch 29


__ADS_3

"Sebenarnya informasi apa yang kamu inginkan. Kenapa kamu terus menyiksaku. Jika Ara tau kau melakukan ini padaku, aku yakin dia akan pergi meninggalkan kamu." Dengan kondisi yang sudah babak belur Gaharu masih berani menentang Zivan.


"Katakan padaku, apa yang kamu ketahui tentang istriku, jika kamu katakan dengan jujur, aku akan membebaskan kamu, bahkan jika perlu aku akan melindungi kamu dari Oregon." Zivan mempererat cengkraman di dagu Gaharu.


"Sepertinya, perang antara Gragon dan Oregon bukanlah tentang kekuasaan ataupun balas dendam lagi, melainkan perang saudara." jawab Gaharu, dan masih bisa menyeringai.


"Apa maksudmu, jelaskan?! jangan bertele-tele jika memberi informasi, aku masih memberiku satu kali kesempatan untuk hidup. Sekarang katakan sejujurnya."Zivan pun melepaskan cengkeramannya dengan kasar


Gaharu pun tertawa lebar walau darah bercampur air liur keluar dari sudut bibirnya. Gaharu tertawa melihat ekspresi Zivan yang sangat penasaran.


"Aku punya satu syarat, jika kamu menyetujuinya, maka aku akan mengatakannya sejujurnya padamu."


"Kau-" Sentak Zivan yang merasa diremehkan." sudah sekarat masih saja meminta syarat. Baiklah katakan apa yang kamu inginkan?"


"Antarkan aku bertemu dengan tuan Rafandra. Ada yang ingin aku sampaikan padanya. Aku tau kalau sebelumnya tuan Rafandra masih hidup."


Zivan pun benar-benar tak percaya, jika Gaharu salah satu infoman yang handal. Bahkan rahasia yang tersimpan rapat pun di ketahuinya.


Dengan berat hati Zivan pun menyanggupi syarat Gaharu, Zivan pun berjanji akan melindungi Gaharu dari kejaran Oregon. Ketua Mafia dragon ini pun punya rencana cemerlang untuk memanfaatkan kepandaian Gaharu.


Gaharu pun memberitahu informasi yang dibutuhkan, dan informasi yang di sampaikan Gaharu pada Ara pun Gaharu sampaikan pada Zivan.

__ADS_1


Setelah mendapatkan informasi dari Gaharu, Zivan dan anak buahnya pun kembali dan menyembunyikan Gaharu ke tempat aman sebelum berangkat ke kota C.


****


Sesampainya di rumah, Zivan mendapati istrinya menikmati makan malam seorang diri. Zivan menghampiri dan mengusap pucuk rambut Ara, lalu mengecup keningnya.


"Kenapa tidak menungguku?" tanya Zivan sembari menarik salah satu kursi untuk tempatnya duduk.


"Jika aku menunggu maka aku akan mati kelaparan. Aku tidak tau kapan kamu pergi dan kapan kamu pulang, kau bukan orang kantoran yang bisa berangkat dan pulang tepat waktu." Jawab Ara dengan datar.


"Apa kamu masih marah padaku? Aku rasa begitu. Puaskan saja marah mu, aku tidak akan membujuk ataupun memaksamu untuk memaafkan aku." Saut Zivan yang menanggapinya dengan santai.


Ara mer*emas sendok di tangannya, menahan kemarahannya pada Zivan, yang masih tak mau meminta maaf terlebih dahulu.


"Setelah selesai makan malam, aku ingin bicara hal penting denganmu."


"Hal penting!? kenapa tidak di bicarakan di sini saja?"


"Ara... Apakah pertengkaran kita kemarin, membuatmu amnesia?"


'Aarrgghh, berdebat dengan dia, membuatku semakin gila. Tapi kenapa, aku sama sekali tidak bisa membencinya, padahal jika aku mau aku bisa membunuhnya.' gumam Ara, kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa benar-benar marah.

__ADS_1


Ara pun menemani Zivan makan malam hingga selesai. Ia pun segera mengikuti Zivan ke kamar sesuai perintahnya.


"Aku ada misi penting untukmu."


"Misi!? Sejak kapan kamu mempercayaiku menjalankan misi? Aku pergi gak sampai sehari saja kamu mengerahkan anak buah mu buat mencari ku, bagaimana aku bisa menjalankan misi."


"Ini beda perkaranya, dan sepertinya kamu sangat cocok untuk menjalankan misi ini, secara kamu mantan agen rahasia, jadi aku rasa bisa mempercayakan misi ini padamu."


'Sebenarnya apa sih tujuannya, atau jangan-jangan sengaja dia mengirim ku dalam misi yang dia maksud, untuk membunuhku di luar sana. Aaahhhh... tidak, gak mungkin dia ingin melakukan itu padaku. tapi bagaimana jika itu benar. Ayolah Ara jangan berfikiran buruk pada suamimu ini, jika dia ingin membunuhmu gak perlu dia mengirim mu, dia bisa saja melakukan kapanpun dia mau." Ara pun berbicara sediri dalam hati, merasa bimbang untuk menjawabnya.


"Bagaimana apa kamu setuju menjalankan misi ini?" tanya Zivan sekali lagi.


"Baiklah aku setuju. Katakan apa yang harus aku lakukan?"


Mendapat jawaban Ara, Zivan pun akhirnya bisa bernafas lega, tidak perlu panjang lebar menjelaskan dan membujuknya.


Zivan mencengkeram dagu Ara, "Kamu memang wanita yang bisa di andalkan. Aku bahagia bisa mempersunting mu." Zivan pun mendaratkan ciumannya di bibir dan berlahan dia mulai melu*matnya.


Ara hanya bisa memejamkan mata, dan langsung membalas perlakuan suaminya. Tangan Zivan pun mulai menyusuri lekuk tubuh Ara yang seksi dan juga wangi.


"Setiap kamu marah, kamu semakin membuatku bergairah. Banyak lelaki yang mudah bosan dengan istrinya dan memilih mencari wanita lain di luar sana, tapi kamu berbeda, kamu selalu bisa membangkitkan gairah cintaku, yang membuatku semakin candu padamu." Zivan pun menanggalkan pakaian yang di kenakan Ara hingga terjatuh kelantai semuanya begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


Keduanya pun memadu kasih di atas ranjang king size. Suara manja nan imut menggema mengisi ruang kamar, tak perduli jika ada penjaga yang mendengarkan pergumulan yang mereka lakukan, Mereka telanjang menikmati apa yang sudah mereka mulai, sebelum mereka akan berpisah dalam waktu yang cukup lama.


To be continued ☺️☺️☺️


__ADS_2