Hasrat Wanita Bayaran

Hasrat Wanita Bayaran
Ch~ 25


__ADS_3

"Tuan Bold, jangan menghindar dariku lagi, aku tahu Tuan mengetahui sebuah rahasia yang ingin aku ketahui. Ku mohon, jangan menghindar lagi, aku butuh sebuah jawaban." Ucap Ara setengah berteriak melampiaskan kekesalannya, tatkala Bold yang ingin menghindari Ara lagi.


Setelah pertemuan terakhir dengan Malboro, Bold pun memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, dan menghindar dari Ara, walaupun sebenarnya Bold selalu mengawasinya.


"Tidak ada jawaban apapun yang bisa aku berikan, lebih baik tidak usah mencariku lagi, karena aku tidak punya jawabannya." Saut Bold tanpa menoleh.


"Bohong! Aku tahu Tuan mengetahui semuanya, bahkan mengenai ibu kandungku pun Tuan pasti tau.Tapi bukan itu yang jadi pertanyaanku, aku hanya ingin tau, siapa yang menyerang papaku, aku ingin balas dendam untuknya." Ara mencoba kuat demi mengetahui semua rahasia.


"Maaf aku tidak punya jawabannya," jawab Bold sebelum sebuah mobil berhenti tepat di depannya dan membawanya pergi.


"Tunggu Tuan Bold, kau tidak bisa menghindar terus dariku, sampai kapanpun aku akan mencariku." Ara berusaha mengejar Bold sekuat tenaga. Namun langkah kakinya tak mampu mengimbangi lajunya mobil tersebut.


Ara pun menyerah dan hanya bisa menatap mobil tersebut semakin menjauh. Ara pun mengatur nafasnya yang terengah-engah. Sambil mengacak pinggang Ara pun kembali mengatur nafasnya.


Sebuah tangan besar menyentuh pundak Ara, dan membuat Ara terkejut.


"Kamu sedang ngapain disini?" tanya Gaharu yang baru saja mengejutkan Ara.


Ara pun membalikkan tubuhnya dan menatap pria yang ada di hadapannya yang baru saja membuat jantungnya hampir meledak.


"Gaharu." Ara terkejut dengan penampilan baru dari sosok Mimia yang kini sudah menjelma menjadi pria yang tampan.


"Ya ini aku, Aku melihatmu tadi berlarian mengejar mobil yang sedang melaju, apa kamu sekarang sedikit kurang waras? secepat kamu lari, tidak mungkin bisa mengejarnya."


"Aku tahu itu, dan apa kamu tahu siapa yang aku kejar? eemm... aku yakin kamu tahu dan aku baru ingat kalau kamu pasti tahu tentang dia." Ara langsung mencengkeram kerah baju Gaharu dengan mengunakan kedua tangannya.

__ADS_1


"Lepaskan aku Ara, apa yang kamu lakukan." Gaharu mencekam kedua pergelangan tangan Ara dan berusaha untuk melepaskan cengkraman Ara.


"Beritahu aku, dimana tempat persembunyian Tuan Bold, aku yakin kamu mengetahuinya!"


"Lepaskan dulu, baru aku akan mengatakannya!"


Dengan setengah mendorong, Ara pun melepas cengkraman tangannya dari kerah baju yang di kenakan Gaharu.


"Percuma kamu mengejar Tuan Bold, dia tidak akan mengatakan sepatah katapun padamu. panglima tidak akan pernah mengkhianati rajanya, bahkan jika harus mengorbankan nyawanya, dia akan tetap setia." Jelas Gaharu. Mata Gaharu berkeliaran, memastikan sekelilingnya. Ia pun mencurigai jika ada yang mengawasi Ara.


" Apa maksudmu?" tanya balik Ara yang tak bisa mencerna kata-kata Gaharu.


"Aku akan memberitahu sedikit sesuatu yang aku ketahui tentang pertanyaanmu, tapi tidak sekarang. Temui aku besok di tempat biasa kita bertemu, karena saat ini ada yang mengawasi kamu." Gaharu pun segera melangkah pergi meninggalkan Ara. Sedangkan Ara memperhatikan sekeliling untuk memastikan kebenarannya dan jika benar mungkin itu adalah orang suruhan Zivan.


Drrrtt


Drrrtt


ponselnya yang berada di dalam tasnya bergetar. Sebuah pesan singkat yang di kirim Zivan. ' Masuk ke mobil sekarang,' perintah Zivan yang mengirim pesan dari dalam mobil.


Ara pun menghentakkan kakinya, sebelum menuruti perintah suaminya, yang selalu mengawasi kemanapun ia pergi.


Dengan cemberut, Ara masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Zivan.


"Kenapa cemberut? tidak suka diperhatiin suami?" tanya Zivan, lalu menaruh ponselnya di saku.

__ADS_1


"Kenapa aku selalu diawasi? aku tidak akan kabur darimu. Jika aku ingin melakukan itu pastinya aku membawa Vania." jawab Ara dengan ketus.


"Hm... sudah mulai berani ya sekarang. Aku kan hanya bertanya, tidak mencurigai kamu. Sudah aku katakan padamu, jika ingin pergi ke luar jangan sendirian, setidaknya membawa pengawal buat menjaga kamu. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu, jika terjadi sesuatu aku pasti akan sangat marah. Kau tahu kan bagaimana jika aku marah?" ucap Zivan.


Ara pun langsung teringat dengan kejadian yang lalu saat dirinya diam-diam pergi untuk mencari keberadaan Bold, dan tanpa sengaja ia bertemu dengan preman yang mengusiknya dan memaksa Ara berkelahi dengan mereka. Alhasil Ara mendapatkan lebam di beberapa tubuhnya. Zivan yang mengetahui kondisi istrinya itu langsung marah besar.


Zivan marah kepada Ara yang diam-diam pergi keluar, ia melampiaskan kemarahannya kepada anak buahnya dengan menghajarnya hingga babak belur, sebagai hukuman atas kelalaiannya menjaga istri bosnya.


Ara yang dipaksa untuk melihat apa yang Zivan lakukan kepada anak buahnya sebagai cara untuk mengingat kepada istrinya jika kesalahan yang dilakukan Ara maka yang akan menanggung hukumannya adalah anak buahnya.


Mengingat hal itu Ara langsung merubah raut wajahnya dengan wajah memelas.


"Maafkan aku, aku janji tidak akan melakukannya lagi. Jangan hukum mereka atas kesalahan yang aku buat. Jika kamu marah, marah saja langsung padaku, Jika ingin menghukum langsung hukum aku jangan mereka."


Zivan mencengkeram dagu Ara, hingga kedua wajah saling menatap. "Bagaimana aku bisa menghukum istriku sendiri, apapun kesalahannya." ucap Zivan lembut.


"Ta-tapi, kamu selalu menghukumku di atas ranjang." jawab Ara dengan gagap.


"Tapi kamu menyukainya kan." jawab zivan, membuat wajah Ara langsung merah merona, malu mengakui jika dirinya memang menyukainya.


Mereka pun segera kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Ara menyandarkan kepalanya di dada Zivan, sedangkan Zivan mengusap rambut Ara yang membuat istrinya menjadi nyaman.


"Aku tidak bisa membiarkan kamu berkeliaran di kota ini sendirian. Banyak sekali mata yang mengintai dirimu dan ingin melukaimu. Aku sudah berjanji dengan Papamu, untuk menjagamu dan Vania." Gumam Zivan sambil sesekali menc*ium pucuk rambut Ara.


To Be Continued ☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2