
"Tuan, apakah sudah dipikirkan ulang, jika Tuan menghilang dengan cara begini. Ara pasti akan sangat kehilangan dengan perasaannya pasti sangat sakit." Victoria berusaha membujuk Malboro untuk membatalkan keputusannya.
"Lebih baik aku tidak ada di dekatnya, daripada aku membahayakan anak dan juga cucuku. Selama aku ada di dekatnya, mereka pasti akan mencelakai Ara dan juga Vania, Aku sudah kehilangan satu putriku, jadi tak akan aku biarkan ini terulang lagi." Ucap Malboro yang tengah berdiri menghadap dinding kaca.
"Aku yakin, Zivan bisa menyembunyikan putri dan cucuku dengan aman dan dia bisa menjaga Ara seperti dia menjaga Amela dulu." Ibuhnya.
Victoria memeluk Malboro dari belakang. "Terimakasih masih peduli padaku dengan menyelamatkan nyawaku, yang hampir saja terbunuh. Aku janji akan selalu berada di sisimu apapun keadaannya, bahkan jika harus bertaruh nyawa." Malboro pun menggegam tangan Victoria yang sedang memeluknya.
* * *
Dor... Dor .... Dor ....
Peluru melesat tepat di bidang target. Membuat Ara tersenyum puas, setelah sekian kalinya dia berhasil fokus membidik target.
Tepuk tangan dari kejauhan, memuji keberhasilan Ara. Membuat Ara kembali mengulum senyum. Setelah sekian lama senyumnya hilang, semenjak kehilangan papanya. Kini berlahan senyum itu mulai kembali menghiasi wajah Ara.
"Semakin hari, kemampuanmu semakin luar biasa, aku bangga." Puji Zivan sambil mengusap pipi mulus Ara.
__ADS_1
Selama dua bulan, Zivan berusaha keras mencairkan hati istrinya yang membeku dan patah harapan. Bahkan Vania putri satu-satunya 'pun hampir terlupakan, bahkan dirinya pun sempat di benci Ara kerena gagal menyelamatkan Papanya.
"Aku ingin merayakan keberhasilanku, dengan bersenang-senang malam ini."
"Baiklah, katakan apa yang kamu inginkan, asalkan tidak alkohol. Ingat Vania masih butuh ASI, dan aku tidak mau ibunya sembarangan dalam mengkonsumsi makanan apapun itu."
"Baiklah, Tidak akan. Aku hanya ini Bermain ranjang saja dengan suamiku malam ini." jawab Ara sambil jemarinya menggoda.
"Kau benar-benar menjadi liar Ara." Zivan pun mencubit dagu Ara dan melakukan french kiss sesaat, tak perduli ada orang lain yang sedang melihat mereka berdua.
French kiss mereka pun terganggu saat babysitter Vania memanggil.
"Sepertinya Vania membutuhkanmu, pergilah menemuinya. Kita lanjutkan nanti malam." ucap Zivan dan Ara pun bergegas pergi, meninggalkan peralatan latihannya.
Zivan pun mengambil alih senapan yang digunakan Ara dan langsung membidik bidang target tepat sasaran.
"Dion, bagaimana perkembangan bisnis kita? apa masih aman terkendali. Aku mencium sepertinya ada penghianat dalam Gron, yang membuat penyelundupan beberapa kali gagal" ucap Zivan sambil mengisi senapannya dengan peluru.
__ADS_1
" Sampai saat ini semua aman terkendali, tapi hingga detik ini, kami belum bisa menemukan penghianat itu." jelas Dion dan Zivan langsung mengarahkan senapan itu di kepala Dion.
"Selidiki lebih cermat lagi, tidak mungkin dia bisa menutupi kebusukannya dengan sempurna."
Dor... Dor... Dor...
Senapan itu kembali meletus, Jantung Dion hampir saja mau copot. Dion mengira jika tuannya itu akan menembak dirinya detik itu juga.
Jantung Dion berdetak hebat, ia benar-benar tak siap jika tuannya akan menembak dirinya.
"Bersiagalah apapun situasinya, jangan pernah lengan atau kamu yang akan jadi terjebak."
"Siap Tuan."
Zivan pun meletakkan senapannya dan meninggalkan tempat latihan untuk berangkat ke pabrik, tempat barang-barang ilegal di rakit, dan di sana Zivan akan ia habiskan waktunya sepanjang hari untuk memantau.
To Be Continued ☺️☺️☺️
__ADS_1