
"Minum obatnya." Zivan menyerahkan beberapa butir obat untuk di minum Ara. Tanpa protes, Ara pun mengambilnya dari tangan Zivan dan langsung menelannya dengan segelas air putih.
"Makasih." Jawab Ara dengan ketus.
"Apa aku bisa bertanya sesuatu? Em tidak jadi, aku sudah mengenalmu, tak mungkin kau akan menjawab pertanyaan dariku ini."
"Em, katakan apa yang ingin kamu tanyakan, kali ini akan aku jawab."
"Ap-" pertanyaan Ara terhenti saat terdengar suara kegaduhan dan tembakan menggema di luar kamar.
"Ada apa di luar?" tanya Ara saat mendengar suara-suara di luar.
"Kamu tunggu di sini, biar aku periksa." Zivan pun segera mengambil pis*ol yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga.
Ara merasa cemas, suara tembakan itu semakin dekat dan semakin sering.
"Vania..." Ara bersusah payah turun dari ranjang untuk mencari Vania, Ara kuatir sesuatu terjadi pada putrinya.
Tak lama kemudian, Zivan muncul membawa Vania. "Kita harus pergi dari sini, kamu dan Vania harus selamat." ucap Zivan dengan buru-buru, dan menyerahkan Vania kepada Ara.
Ara yang masih dalam kebingungan dan juga kondisinya yang belum pulih , membua jalannya tertatih.
"Apa yang terjadi, bagaimana dengan papa?" tanya Ara terus menerus.
"Papa meminta kita untuk menyelamatkan diri, Mereka datang untuk melenyapkan kamu dan Vania. Kamu dan Vania harus bertahan." Zivan pun membimbing Ara yang sedang menggendong Vania.
__ADS_1
Mereka kabur menggunakan pintu rahasia yang di beritahukan Malboro dan meminta Zivan untuk menyelamatkan putri dan juga cucunya.
Zivan dan Ara terus berlari menjauh dari rumah, agar mereka bisa selamat, terutama Vania putri mereka.
Tembakan bertubi-tubi terus di arahkan kepada mereka. Untung saja, timah panas itu selalu meleset hingga tidak mengenai Zivan ataupun Ara.
Ara hanya bisa menahan rasa sakit, yang teramat sangat, bahkan vania terus menangis dalam pelukan Ara.
"Kamu harus kuat, Ara. Sebentar lagi kita keluar dari sini." Dengan ngos-ngosan Zivan tetap menyemangati Ara untuk bertahan, Walaupun Zivan tahu, Ara sedang mengalami pendarahan akibat guncangan selama pelarian yang harus melewati semak belukar sebelum sampai ke tepian jalan raya yang agak jauh.
*
*
*
Selama pelarian, Ara mengalami pendarahan yang membuatnya langsung drop. Zivan segera melarikan Ara ke rumah sakit dengan pengawalan ketat, Zivan tahu bahwa di kota A, Ara juga masih memiliki musuh.
"Kamu harus kuat, putrimu masih membutuhkan kamu. Kamu pasti bisa melewati masa kritis ini." Zivan mencoba menguatkan istrinya, yang bisa saja hal buruk terjadi padanya.
Zivan pun menggendong putrinya sambil menunggu Ara sadar.
"Papa akan buat kamu jadi wanita hebat seperti mamamu dan kamu kelak akan menjadi penerus selanjutnya Gron." ucap Zivan lirih sambil mengusap lembut pipi putrinya.
"Tuan, semua dalam kendali. Kabar dari Tuan Rafan pun sudah di dapat." Lapor Dion. Lalu Dion membisikkan sesuatu yang terlihat serius.
__ADS_1
"Baiklah, jaga rahasia ini baik-baik, bahkan jika nyawamu yang jadi taruhannya."
"Siap Tuan." Dion pun pergi untuk menjalankan tugas selanjutnya.
"Pa... Papa... jangan tinggalkan aku..." panggil Ara dalam mimpinya.
Setiap beberapa jam, Ara pasti memanggil papanya. Keintimannya dengan sang papa, membuat keduanya memiliki ikatan yang sangat erat.
Zivan hanya bisa mengusap pucuk rambut Ara, saat Ara memanggil-manggil papanya.
****
Keesokan harinya, Ara mulai sadar, dan mendapati dirinya ada di rumah sakit.
"Vania... dimana putriku, dia baik-baik saja 'kan? Papa... bagaimana dengan papa, tidak terjadi sesuatu pada papa kan? katakan padaku, semua baik-baik saja kan." Cecar Ara kepada Zivan yang belum ingin bicara.
"Tenang dulu Ara. Putri kita baik-baik saja, dan sekarang sedang di jaga babysitter." Jelas Zivan, membuat Ara sedikit lega.
"Lalu bagaimana dengan papa? dia baik-baik saja 'kan? pasti papa bisa melawan mereka semuanya kan. Katakan padaku jika ucapanku benar, kalau papa baik-baik saja."
"Kamu harus kuat Ara."
"Tidak mungkin, tidak mungkin papa meninggalkan aku. Ini tidak mungkin. Papa... "Teriak histeris Ara hingga membuatnya pingsan kembali."
To Be Continued
__ADS_1