
Seorang lelaki berambut kuning dengan mata permata sedang berlari dari kelasnya menuju ke suatu tempat. 'Harusnya aku mengajak Alia kalau tahu aku cukup lama tadi' Batinnya dengan menambah kecepatan berlari. Glavin terus berlari hingga ia melihat ada banyak orang yang berkumpul dengan banyak pertanyaan yang keluar dari mulut mereka. Kemudian ia teringat akan Alia yang ia tinggalkan. Lelaki itu lalu berlari mendekat, dan mencoba menerobos ketengah. Yang kemungkinan terdapat Alia ditengah tengah kumpulan orang orang itu.
"Alia!" Teriak Glavin yang melihat Alia sedang terduduk dengan tangan yang menutupi kedua telinganya. Seluruh tubuhnya gemetaran, keringatnya turun dengan deras, juga nafasnya yang terengah-engah. "Minggir!" Kesal Glavin yang lalu membuka jalannya dengan mendorong orang orang dewasa yang menghalanginya. Ketika tepat berada di dekat Alia, Glavin langsung memeluknya erat. "Tenanglah. Aku ada disini. Kamu gak perlu takut" Ucap Glavin menenangkan. Lelaki itu bisa merasakan jantung Alia yang berdetak sangat cepat. Juga dapat mendengar nafasnya yang tidak stabil. Orang orang yang berkumpul disana terdiam. Membuat suasana disana menjadi sunyi.
Kemudian seorang perempuan dewasa membuka suara. "Maaf nak, apakah kami boleh mewawancarai temanmu yang menjadi topik akhir akhir ini?"
"Maaf. Saya tidak mengizinkannya" Tukas Glavin dingin. "Kenapa? Kami hanya aka-"
"Saya bilang, saya tidak mengizinkan!"
Jennie yang mendengarnya terdiam menatap Glavin. Wanita itu lalu menghela nafas. "Sayang sekali~" Ucapnya lesu. "Saya minta maaf sekali lagi. Tapi, bisakah kalian semua pergi ketempat lain dulu? Ada yang ingin saya katakan kepada teman saya. Dan..., ebagai temannya juga, saya akan menggantikan Alia untuk diwawancarai. Jadi mohon untuk menjauh dari sini sebentar"
Jennie bersama teman temannya pun meninggalkan Glavin dan Alia disana.
Setelah mereka pergi, Tubuh Alia yang tadinya gemetar hebat langsung hilang, dan detak jantungnya mereda. Juga nafasnya yang sudah kembali normal. Glavin melepas pelukan eratnya, dan menatap Alia yang menunduk. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah lebih baik?" Tanya Glavin lembut.
Gadis berambut cokelat gelap itu mengangguk. Kemudian Glavin menggenggam tangan Alia, dan berjalan bersama menuju gerbang. Disana Naobe sudah menunggu dengan mobil Glavin yang sama seperti pagi tadi. Di depan gerbang itu juga, terdapat Jennie dan teman temannya yang juga menunggu Glavin. Lelaki bermata permata itu membantu Alia masuk kedalam mobil. Kemudian ia melangkah mendekati Jennie dan yang lain.
"Maafkan saya sekali lagi. Saya terpaksa bicara seperti itu karena teman saya Alia, mempunyai agoraphobia" Orang orang yang mendengarnya terkejut. "Kalau begitu, justru kami yang harusnya meminta maaf kepadamu. Tolong maafkan kami" Ucap Jennie mewakili dengan tulus.
Sebenarnya, penyakit itu juga belum pasti dimiliki Alia. Karena, hanya ada 'beberapa' dari banyaknya ciri penyakit agoraphobia, yang diderita gadis itu.
"Tidak apa apa. Dan untuk wawancaranya, saya akan ikut arahan kalian. Tapi biarkan saya mengantar Alia dulu sampai kerumahnya"
...
Saat ini sudah pukul 20:47.
Sudah beberapa jam yang lalu ia sampai dirumah. Sebelumnya, Glavin sudah bilang padanya kalau dia siap menggantikan Alia. Dan karena tidak ada yang dapat ia lakukan, Alia pun menyetujui dan membiarkan Glavin menggantikan.
Gadis berambut cokelat gelap itu tengah bersandar di bantalnya yang disandarkan kedinding ranjang. Ia terlihat melamun. Tak lama setelah itu, tiba tiba saja Alia merasakan sesuatu. Rasa tidak nyamannya saat berada ditengah tengah gerombolan orang. Dan juga suara yang keluar dari mulut yang berbeda beda pun masih menempel dipikirannya, entah kenapa membuat telinganya terus berdenging kuat. Padahal sebenarnya suara suara itu tidak terlalu berisik. Namun beda lagi kalau telinganya yang merasakan. Sehingga gadis itu langsung menutup kedua telinganya yang tentu saja masih berdenging. Perasaan yang benar benar membuatnya tidak nyaman dan ingin lari dari tempat ramai dan bising itu. Padahal saat ini ia sedang sendirian didalam kamar bercat dinding abu dengan sedikit tambahan warna hitam.
__ADS_1
'Aku paling benci dengan hal yang aku rasakan sekarang' Itu yang sedang bergantungan di pikirannya.
Ting...! (Sebuah suara notifikasi dari ponsel)
Suara notif itu telah membuat Alia tersadar dari ingatan yang sangat membuatnya tidak nyaman. Alia meraih ponsel yang ada diatas meja. Dan saat diperiksa, ternyata Glavin memberi sebuah pesan chat.
Glavin Kelzaeer : "Aku sudah menyelesaikan wawancaranya beberapa jam lalu"
Alia Vertissertia : "Beneran? Gimana cara jawabnya?"
Glavin Kelzaeer : "Lihat saja di internet beberapa hari lagi 😄"
Seketika, Alia langsung menatap ponselnya datar. Ia ingin segera tahu apa saja yang telah dijawab Glavin saat wawancara. Tapi kalimat Glavin barusan, entah kenapa membuatnya merasa sedang dipermainkan teman kecilnya itu.
Alia Vertissertia : "Masa bodoh! 😤"
Gadis itu mematikan ponselnya, dan beranjak tidur. Membuatnya lupa tentang apa yang terjadi sebelumnya.
...
Belanja bahan bahan dapur, dan membersihkan rumah, adalah tugas Alia dirumah itu. Sedangkan Alianna, ia membantu ibu masak. selain bantu memasak, anak sulung ini mengerjakan tugas tugas sekolahnya yang banyaknya memang bukan main. Dan kalau Arlex..., jangan ditanya. Karena ia hanya bisa hidup enak dirumahnya. Ya paling tidak, anak itu membantu ibu ditoko. Itu pun hampir tidak pernah. Yang anehnya lagi, ibu malah tidak pernah mempermasalahkan nya. Selain itu ada Alianna yang memang tidak terlalu sering membantu. Namun sang ibu tidak masalah dengan itu. Tetapi kalau Alia yang hanya sedikit saja bermalas malasan, ibu langsung memarahinya. Bukan sang ibu tidak sayang, tetapi memang sang ibu sudah pasrah dengan si sulung dan si bungsu. Dan hanya Alia-lah yang paling bisa diandalkan. Walaupun gadis itu tidak bisa memasak. Intinya, kalau saja satu satunya orang andalan itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan, lantas siapa lagi yang akan kita andalkan? Itu yang selalu hadir dipikiran ibu.
Dan pagi ini, Alia sedang melaksanakan salah satu tugasnya yang tidak seberapa. Belanja sayuran. Tangan kanannya terlihat sedang membawa 3 kantong plastik yang memang berisi banyak jenis sayuran. Tak lama kemudian dari langkahnya yang menuju rumah, gadis itu secara tiba tiba berhenti. Dan menoleh ke kanan. Tanpa sadar, ternyata ia hampir melintasi jalan menuju sebuah rumah besar yang berada di dekat jurang belakang. Ia hanya diam memperhatikan. Rumah itu tidak langsung terlihat. Karena, memang harus memasuki jalan itu lebih dalam dulu. Dan rumah besar tersebut pun bisa terlihat.
Kira kira sudah sekitar seminggu lebih gadis itu tidak menginjakkan kaki dilantai rumah besar tersebut. Ia juga jadi teringat mengenai cermin yang dijatuhkannya. Ketika Alia menatap mata merah darah itu, ia bisa melihat kemarahan lelaki itu yang sangat membara. Padahal sebelumnya anak itu terlihat sedikit bisa santai terhadap Alia. Bisa dikatakan bahwa, ia tidak suka kalau barang barang rumahnya dihancurkan.
Setelah lama Alia menatap jalan menuju rumah besar itu, ternyata cuacanya sudah berubah mendung. Dan mulai hujan rintik rintik. Tidak tahu kenapa, tiba tiba saja gadis itu malah berlari masuk ke jalan rumah besar yang ada di dekat jurang sana. Ia pun berteduh di teras luas rumah itu. Hujan sudah semakin lebat, dengan angin yang berhembus kencang.
'Gimana ini? Sayuran nya belum ku antar sampai rumah. Ibu pasti nungguin' Wajah Alia terlihat cemas. Angin yang berhembus dengan kencang itu membuat tubuhnya sedikit menggigil. Kemudian ia menghadap ke pintu. 'Terus..., kenapa aku malah kesini?' Batinnya yang ternyata tidak sadar dengan kelakuannya sendiri. Gadis itu memeluk tubuhnya yang kedinginan. Ia ingin masuk, namun matanya belum siap untuk melihat lelaki bermata merah darah yang menjadi tuan rumah. 'Dia tahu gak ya, kalo aku kesini?'
Tiba tiba saja, ponsel gadis itu berdering. Dan masalahnya, yang membuat Alia terkejut adalah Glavin yang menelponnya. Awalnya ia tidak berniat menjawab panggilan itu. Tapi ia khawatir Glavin akan mencemaskan dirinya. Pada akhirnya juga, ia menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
Glavin : "Alia, kamu dimana?"
Alia : "Aku..., aku terjebak hujan waktu mau pulang"
Glavin : "Pantas ibumu bilang kamu belum pulang. Kalau begitu sekarang ada dimana? Biar aku jemput"
Deg!
'Aku harus bilang apa? Kalau dia tahu aku dirumah ini, bisa bisa dia marah dan khawatir lagi'
Glavin : "Alia?"
Alia : "A-aku juga gak tau dimana. Tadi waktu hujannya mulai lebat, aku langsung lari. Dan gak tau kemana, tiba tiba sudah sampai di tempat yang gak dikenal"
Glavin : "Ya ampun. Kenapa bisa? Aku jadi khawatir"
Alia : "Tidak apa apa. Didekatku ada banyak orang yang juga sedang berteduh"
Glavin : "Hahh~, ya sudah, nanti setelah hujannya mereda, aku akan coba mencarimu. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu"
Alia : "Iya. Makasih"
(Panggilan berakhir)
Alia menghela nafas dengan lega. 'Untunglah dia percaya. Semoga hujan ini cepat mereda. Dan aku juga bisa cepat pulang'
Pukul 08:57 (2 jam telah berlalu)
Alia mendengus kesal. "Apa apaan ini? Hujannya belum reda juga! Sekarang malah tambah dingin! Anginnya juga malah semakin kencang!" Alia menghadap ke pintu rumah. Diam selama beberapa detik. 'Apa aku masuk saja? Pasti, didalam sana gak sedingin ini, kan?' Gadis berambut cokelat gelap itu masih berdiri diam didepan pintu. Hingga pada akhirnya, gadis itu membuka pintu besar tersebut, dan masuk kedalam.
__ADS_1
Alia Vertissertia & Glavin Kelzaeer
(Tetap tunggu y! Sedang berusaha lanjut! 😄)