
Didepan sebuah rumah...
Salah satu pintu mobil terbuka, dan menunjukkan seorang lelaki berambut kuning dengan mata biru permata nya.
"Glavin?" Panggil seorang gadis berambut hijau gelap bergelombang yang juga baru saja turun dari mobil sambil berjalan menghampiri Glavin. Lelaki berambut kuning itu menoleh kepada Irene.
"Nanti aku akan masuk kedalam" Tukas lelaki itu. Irene tersentak kaget mendengarnya.
Seluruh polisi yang tadi masih berada didalam mobil pun keluar. Termasuk ayah Glavin yang semobil dengan putranya.
"Ayah, tolong biarkan aku masuk" Ucap Glavin dengan tatapan seriusnya yang menatap mata biru permata yang juga dimiliki sang ayah.
"Jangan asal memutuskan semuanya tanpa berpikir lebih, Glavin. Ingat itu! Hanya kamu yang akan meneruskan ayah nantinya" Tegas ayah Glavin sambil menghampiri polisi lainnya yang sudah berkumpul didekat sana.
Lelaki itu mengepalkan tangannya, lalu menahan ayahnya dengan panggilan.
"Aku mohon! Biarkan aku masuk kedalam! Aku akan periksa disana!"
Sang ayah terdiam sejenak melirik putranya. Ia terlihat sedang mencoba berpikir. Tak lama kemudian, pria itu menghela nafas.
"Baiklah. Tapi kamu tidak pergi sendirian. 2 orang polisi akan menemanimu. Aku akan bicara pada mereka sekarang. Tunggu disini sebentar"
Kemudian Glavin menatap satu satunya rumah didekat jurang itu.
'Alia...' Lelaki itu menyebut nama Alia dalam batinnya dengan raut wajahnya yang sedih.
"Glavin" Panggil Irene yang berdiri disamping Glavin.
"Aku minta maaf. Harusnya..., aku melarang Alia waktu itu. Aku tahu saat ini kamu sedang sedih, tapi-"
"Diam" Putus lelaki bermata biru permata itu.
"Setelah semua ini terjadi pada Zelle, maupun Alia, kamu selalu saja bilang bahwa kamu sudah salah karena tidak melarang mereka pergi. Aku sudah berkali kali mendengarnya sejak awal. Semua itu membuatku muak! Lalu, apakah kamu pernah berkata pada mereka untuk tidak pergi, karena rasa khawatir?" Tanya Glavin dengan kepala yang menunduk.
Seketika, Irene langsung membeku. Ya~, meskipun gadis itu tidak benar benar melarang mereka, setidaknya ia merasa sangat khawatir. Itu yang ingin dikatakannya, tetapi menurut Irene, semua itu tetap saja terjadi kalau dia pun membiarkan teman temannya pergi.
Tak lama kemudian 2 orang polisi menghampiri Glavin dan Irene.
"Glavin, kamilah yang akan menemanimu masuk" Ucap polisi dengan tubuh yang kurus. Atei.
__ADS_1
"Iya. Glavin jangan takut. Kami akan melindungimu!" Lanjut yang satunya lagi dengan tubuh yang terlihat sedikit gemuk. Teddy. Glavin menangguk.
"Terima kasih. Kalau begitu, ayo kita masuk"
"Tunggu sebentar!" Cegat Irene dengan cepat.
Glavin dan kedua polisi dibelakangnya berhenti dan menoleh kepada Irene.
"Se-sebagai ganti..., aku akan ikut masuk!" Tukas gadis itu serius, sehingga membuat Pak Atei dan Pak Teddy terkejut.
"Aduh, nona. Tolong jangan bicara begitu. Didalam sangat bahaya!" Ucap Pak Atei.
"Iya, nona. Lagipula polisi belum tahu ada apa didalam" Pak Teddy melengkapi kalimat Pak Atei.
"Aku..., aku gak peduli! I-ini..., aku tidak bercanda, loh!"
Kemudian, Glavin berjalan menghampiri Irene, dan menyentuh kedua pundak gadis itu.
"Jangan memaksakan diri. Kamu tunggu saja diluar. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada temanku lagi. Semua ini, tolong akhiri dengan kejadian Alia. Tolong mengertilah, Irene" Glavin lalu masuk kedalam dengan kedua polisi yang ikut menemaninya.
Gadis berambut hijau gelap bergelombang itupun tidak bisa berbuat apa apa. Dan memutuskan untuk menuruti Glavin.
Pintu besar rumah itu terbuka, kemudian dimasukin oleh seorang siswa SMP, dan 2 orang polisi disampingnya.
"Bagaimana kalau kita berpisah saja? Dengan begitu kan, kalau nona Alia memang ada didalam rumah ini bisa lebih cepat ditemukan. Bagaimana menurutmu Glavin? Apakah rencanaku lumayan?" Ujar Atei.
Lelaki bermata permata itu menggeleng.
"Jangan. Kalau kita berpisah, bisa saja diantara kita ada yang tidak kembali lagi. Jadi, kita pakai rencana yang ini. Kita akan mencarinya secara bersamaan satu demi satu ruangan. Kita juga harus terus memanggil nama Alia sekuat kuatnya. Kalau dia masih hidup, dia pasti akan menjawab. Tapi kalau tidak..."
Atei dan Teddy ikut memasang wajah sedih ketika melihat Glavin yang langsung terlihat lesu.
"Baiklah, Glavin. Rencanamu bagus. Ayo mulai mencari dari lorong bawah tangga yang disana" Ucap Atei sambil menunjuk kearah lorong bawah tangga yang ada disebelah kiri.
"Sekali lagi, aku ucapkan Terima kasih kepada kalian" Glavin tersenyum kepada dua orang polisi didadapannya. Yang juga sudah dikenal Glavin sejak kecil. Setelah itu, ketika Teddy melangkah mundur selangkah, ia tanpa sengaja menginjak sesuatu. Ketika dilihat, ternyata adalah ponsel milik Alia. Yang sekarang sudah hancur karena terinjak oleh Teddy. Mereka juga menemukan sebuah tas, beberapa senter yang ada dilantai, juga 1 kotak susu rasa cokelat yang sudah kosong. Glavin tahu, karena susu itu biasa diminum oleh Alia. Dan tentu saja barang lainnya juga adalah milik gadis tersebut.
Kemudian, mereka pun mulai mencari Alia dilantai 1. Namun mereka sama sekali tidak menemukan gadis itu. Lantai 2 pun mulai diperiksa. Tetapi tetap saja Alia tidak ditemukan. Disalah satu kamar yang ada dilantai itu, Glavin menemukan sebuah bingkai foto yang di gambarnya terdapat 1 keluarga beranggotakan 10 orang. Glavin sempat menatap lama salah satu anak kembar yang memiliki mata merah. Melihat anak itu, membuat Glavin teringat sesuatu. Setelah itu, Glavin keluar dari lorong lantai itu. Tak lama kemudian, ponsel Glavin berdering. Yang ternyata sangat ayah menghubungi nomornya.
Glavin : "Ada apa, ayah?"
__ADS_1
Ayah : "Glavin, dijurang, ataupun disekitar luar rumah, kami tidak menemukan Alia"
Glavin : "Apa?!"
Ayah : "Lalu, bagaimana keadaan didalam? Kamu dan yang lain tidak apa apa, kan?"
Glavin : "Kami tidak apa. Tapi Alia..., kami juga belum menemukannya"
Ayah : "Bagaimana mungkin? Apa Kamu yakin sudah memeriksa keseluruhan rumah itu?"
Glavin : "Belum. Hanya tinggal lantai 3 yang belum kami periksa"
Ayah : "Begitu, ya. Kalau tubuh Alia masih tidak ada dilantai 3 juga, berarti..., mungkin dia masih hidup"
Glavin : "Benarkah?! Alia masih hidup?"
Ayah : "Mungkin saja. Karena selama ini, belum ada orang yang datang kerumah ini, yang kemudian mayatnya tidak ditemukan disekitar sini. Jadi ada kemungkinan, Alia langsung berlari pergi meninggalkan rumah ini, dengan arah yang tidak diketahuinya. Mungkin saja dia tersesat di hutan"
Glavin : "Baiklah. Sangat membuatku senang jika melihatnya masih hidup. Aku harap dia baik baik saja"
Ayah : "Semoga begitu"
Panggilan pun berakhir. Glavin dan kedua polisi yang menemaninya mencari Alia kembali. Saat ini mereka sedang menuju tangga yang mengarah naik ke lantai atas. Mereka terus mencari gadis itu disana. Dan mereka menemukan pintu yang terkunci. Awalnya Glavin mau memaksa pintu itu agar terbuka dengan mendobrak pintu itu. Namun Atei melarangnya. Karena mereka tidak datang untuk menghancurkan benda yang ada dirumah tersebut. Teddy pun menambahkan juga, bahwa tidak ada suara sedikitpun dari balik pintu itu. Akhirnya, mereka kembali keruangan utama dilantai 1. Tanpa membawa Alia dari sana. Sehingga Glavin memanggil nama Alia dengan lantang. Tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Rasa khawatir Glavin semakin meningkat. Karena tiba tiba saja ia merasakan sesuatu yang sangat membuatnya tidak nyaman.
"AALIIAAA!!! TOLONG JAWAB AKU! BERTERIAK LAH MEMANGGIL NAMAKU! JAWABLAH! JANGAN HANYA DIAAM!!!" Ucap lelaki bermata permata itu dengan sangat lantang. Setelah tahu tidak ada jawaban sama sekali, tangan dan kaki Glavin gemetar dengan hebat.
'Glavin...' Batin Teddy menatap Glavin dengan tatapan lesu. Karena ternyata, mereka tidak dapat menemukan Alia. Bahkan tidak mendapat jejak sedikitpun. Yang mereka temukan hanyalah tas yang sebelumnya dibawa Alia, juga beberapa senter dilantai, 1 kotak susu cokelat, dan ponsel milik Alia yang rusak karena sebelumnya tidak sengaja diinjak oleh Teddy. Ketika mereka beranjak membuka pintu keluar, tiba tiba saja terdengar sesuatu dari lantai 3.Meskipun terdengar samar, tetapi dengan cepat, Glavin langsung berlari keatas. Artei dan Teddy yang tidak tahu harus apa pun langsung memutuskan untuk mengikuti Glavin. Ketika sampai dilantai 3, Glavin kembali memanggil nama Alia berulang kali. Namun beberapa menit kemudian tidak ada jawaban.
"Glavin, mungkin suara tadi terdengar dari luar. Toh, buktinya tidak terdengar apa apa lagi sekarang 😟. Jadi sebaiknya kita kembali saja" Ujar Atei.
"Iya. Ayo kita kembali, Glavin. Kita sudah memeriksa semua tempat" Tambah Teddy.
"Tidak! Kita belum memeriksa semuanya! Hanya 1 tempat yang belum" Ucap Glavin sambil berjalan menghampiri pintu yang terkunci.
"Disini. Aku yakin. Pasti didalam sana!" Glavin melangkah mundur. Berniat mendobrak pintu itu. Namun dengan cepat, Teddy menahan tubuhnya.
"Tidak! Jangan Glavin! Kita tidak boleh menghancurkan pintu itu! Pasti tidak ada apa apa disana! Kita kembali saja!"
"Minggir! Aku akan membuat pintu itu terbuka! Jangan menghalangiku! Menyingkirlah!" Lelaki bermata permata itu mendorong Teddy ke pinggir hingga terjatuh.
__ADS_1
Brraaaakk!!!
Pintu itupun telah berhasil didobrak dengan sekali dobrakan. Ternyata, dari sekitar beberapa jarak dari pintu yang telah didobrak, masih terdapat sebuah pintu. Glavin menghampiri pintu tersebut. Dan menekan gagang pintu tersebut. Tetapi percuma. Karena pintu itu juga terkunci. Lelaki itupun mendobrak pintu itu juga. Dan setelah itu, Kedua mata permata Glavin membesar setelah melihat apa yang ia lihat didalam ruangan itu. Juga kedua polisi yang berdiri dibelakang Glavin. Ternyata Alia, gadis yang sejak tadi dicari..., sedang berlumuran sesuatu yang berwarna merah.