
Alia duduk menyandar di pintu besar yang baru saja ia tutup. Kedua tangannya ditumpukkan diatas lutut. Seperti waktu itu, didalam sana sangat gelap. Gadis itu hampir tidak bisa melihat apa apa. Kemudian arah matanya menatap 3 kantong plastik berisi sayur yang diletakkan disebelahnya. 'Aku ingin cepat pulang. Aku gak mau mereka semua khawatir' Batinnya sambil menaruh kepalanya diatas tumpukan tangannya itu. Siapa sangka kalau ternyata ia lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Ya. Sejak awal dia memang begitu. "Tuh kan, disini rasanya gak sedingin diluar" Gumamnya bersama senyum nyamannya.
Tiga jam kemudian, langit sudah terlihat cerah. cahaya matahari siang memantul masuk melewati jendela rumah. Kedua mata Alia terbuka. Seperti yang kalian pikirkan, gadis berambut cokelat gelap itu baru saja bangun dari tidurnya. Alia melihat pantulan cahaya yang masuk. Kemudian ia mengangkat kepalanya. 'Hhh~, aku ketiduran'. Gadis itu lalu menatap ponselnya, dan seketika terkejut saat melihat nomor Glavin yang menghubungi nomornya sampai 51 kali. 'Gila! Bisa bisanya dia nelpon sebanyak ini!'. Ponsel Alia pun berdering untuk yang ke-52 kalinya. Dan tentunya Glavin yang menghubungi.
Alia : "Halo? Glavin? Aduh! Maaf, ya! Tadi aku-"
Glavin : "Kenapa tidak jawab?"
Saat itu suara Glavin terdengar pelan. Membuat Alia yang tadinya tersenyum, menjadi murung. Ia sangat tahu sifat teman kecilnya itu. Saat ini Glavin sedang marah. Lelaki bermata biru permata itu, marahnya kepada Alia berbeda dengan marahnya kepada orang lain. Kalau ia marah kepada orang lain, tentunya normal seperti orang marah. Tetapi berbeda kalau kepada Alia. Amarahnya tenang, suaranya terdengar pelan, kata katanya singkat, namun tatapannya dingin.
Alia : "Maaf. Aku gak... bermaksud buat kamu khawatir"
Glavin : "Dimana kamu?"
Alia : "Hujannya sudah reda. Aku bisa pulang sendiri. Tenang sa-"
Glavin : "Bukannya tersesat?"
Alia terdiam sejenak. Sedang memikirkan jawaban yang tepat.
Alia : "Nanti..., aku coba tanya orang sekitar. Kamu..., tunggu saja di halte bus dekat sekolah"
__ADS_1
Glavin : "..., aku tunggu"
(Glavin mengakhiri panggilan)
Sebelumnya, Glavin sama sekali tidak pernah menutup panggilan. Tapi kali ini, adalah pertama kali ia menutupnya. Marahnya benar benar bukan sebuah gurauan. Alia meraih 3 kantong plastik berisi sayur, dan bangkit dari duduknya sambil menghadap kearah pintu. Saat ini ada banyak yang sedang dipikirkannya. Entah apa saja yang hadir dipikirkan gadis tersebut. Yang jelas, ia merasa sangat gelisah.
Gadis berambut cokelat gelap itu pun mendorong kedua pintu besar yang ada tepat didepannya. Namun, satu hal membuat dirinya panik. Pintu itu tidak mau terbuka. Alia tentunya terus mencoba mendorong. Tetapi tetap saja. Seakan akan pintu itu terkunci.
"Apa yang terjadi?!" Bingungnya dengan panik sambil terus mencoba mendorongnya lagi. "Kamu tidak bisa keluar" Ucap seseorang dengan nada dingin. Kedua mata Alia membulat. Ia mengenal suara ini.
Kemudian gadis itu menoleh ke sumber suara. Yang ternyata terdapat beberapa meter disampingnya. Yaitu seorang lelaki bermata merah darah yang sedang berdiri menyandar di tembok. Pakaiannya sedikit berbeda dari yang sebelumnya dikenakan. Tetapi warnanya sama seperti waktu itu. Hitam.
"Tidak, tidak. Tapi, kamu tidak akan pernah bisa keluar lagi dari sini" Tukas orang itu lagi dengan seringaian membunuhnya. Lelaki itu berjalan mendekat dengan pisau sama yang di genggamnya. 'Orang ini..., gak mungkin. Kalau begini yang akan terjadi..., aku gak bisa ketemu Glavin!' Alia melangkah mundur. Kemudian ia berhenti sambil menggigit bibir bawahnya. Lelaki itu sudah berada di dekat Alia. Seringaian nya masih sama. Ketika pembunuh itu menodongkan pisaunya ke leher Alia, Gadis itu menatapnya dengan kedua matanya yang bergetar. Kemudian ia menjatuhkan lutut dan telapak tangannya ke lantai.
"Aku mohon! Aku tahu kamu punya dendam terhadapku! Tapi aku mohon 1 hal kepadamu! Tolong biarkan aku bertemu temanku kali ini saja! Aku janji tidak akan pergi!Aku pasti akan datang kesini lagi! Tolonglah!" Ucap Alia memohon dengan kepala yang mengarah ke bawah lantai. "Baiklah" Singkat lelaki itu. Alia pun langsung mengangkat kepalanya dan menatap mata merahnya. Wajahnya dihiasi dengan senyum senangnya. Tidak percaya kalau akan semudah itu. Kemudian, Alia yang masih dengan senyumnya itu, membuat lelaki bermata merah darah tersebut tertawa. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Bingung.
"Ternyata seperti itu reaksi mu" Ucapnya. "Tapi sayang sekali. Apa kamu pikir aku akan bilang begitu?" Lelaki itu lanjut tertawa. Baginya, wajah senang Alia barusan adalah sebuah lelucon yang membuatnya tertawa. Gadis berambut cokelat gelap itu memasang wajah kecewa. Bukan karena dirinya dianggap sebuah lelucon. Tetapi ia berpikir, apakah ia tidak bisa menepati janjinya untuk bertemu Glavin di halte karena lelaki ini mengganggunya? Ini benar benar tidak bisa dibiarkan. Tangan gadis itu pun mengepal. Ia lalu bangkit dan dengan beraninya, Alia meraih tangan kiri lelaki bermata merah tersebut. Membuatnya tersentak kaget dengan kelakuan Alia. "A-apa yang kau-"
"Aku mohon! Aku tidak akan kabur dari masalah ini!". Lelaki itu berdecak kesal, dan menarik kuat tangan kirinya. Namun Alia semakin mengeratkan genggamannya. Sehingga membuat sebuah pisau tajam yang ada di tangan kanan si pembunuh mendekat ke lehernya. "Lepaskan tanganku!" Titah lelaki itu dingin dengan tatapan tajamnya. Saat itu, Alia benar benar dalam kondisi gemetar dan takut. Tapi ia masih saja tidak mau melepas genggamannya. Sraaatt...!!!
Pisau itu menggores cepat pipi kiri Alia. Meninggalkan sebuah luka dalam. Darah segar mengalir dari luka di pipi gadis itu. Alia pun melepas genggaman kedua tangannya karena rasa perih di pipinya itu. "Sepertinya memang harus dilukai dulu, baru mau nurut" Ucap lelaki itu.
__ADS_1
Alia kembali menatap kedua mata merah yang dimiliki si pembunuh. Tatapan mereka bertemu satu sama lain. "Kenapa? Aku cuma ingin bertemu temanku! Apa perlu sampai seperti ini kamu melarangku? Dasar nyebelin!" Kesal Alia yang lalu mengambil salah satu kantong plastik, dan melemparnya ke arah lelaki berpakaian hitam itu. Haaahh..., tidak perlu kata kata. Tentu saja lelaki tersebut berhasil menghindarinya. Tetapi ketika ia mengarahkan pandangannya kembali kepada Alia, gadis itu berlari kearahnya, dan lalu menampar kuat pipi kirinya. 'Sialan! Gadis ini sangat kurang ajar! Beraninya dia membuat ku lengah sebentar' Batin lelaki itu dengan tatapan tajam bercampur marah.
"Walaupun tamparan itu tidak sebanding dengan luka yang kamu buat, tapi aku anggap kita impas! Nah, jadi sekarang ayo *hompimpa! Siapa yang kalah, harus turuti yang menang!" Ujar Alia. 'Haha! Disekolah, gak ada seorangpun yang bisa mengalahkan ku di permainan ini. Sudah pasti aku menang, kan?' Saat ini, gadis berambut cokelat gelap itu benar benar sangat percaya diri. Lelaki didepannya terlihat seperti tidak meladeninya. "Ayo homimpa! Kenapa? Kamu takut kalah? Yasudah, caranya sederhana. Karena aku baik, jadi biarkan saja aku pergi. Dengan begitu kamu gak akan malu, kok. Ya kan?"
"Ck! Yang benar saja! Mana mungkin aku main yang konyol seperti itu?! Dasar ke kanak kanakan!" Tukas lelaki itu. Alis dari gadis dihadapannya terlihat mengernyit. Tentu saja ia sedang kesal. Masa' dibilang ke kanak kanakan? Alia tidak suka dikatain begitu. 'Ngajak ribut nih orang! Pasti nanti bakal panjang masalahnya. Kalo gitu, mending telpon Glavin. Terus, bilang kalo gak bisa datang cepat' Batin Alia sambil menatap ponselnya. Sebelum ponsel itu sampai di telinganya, lelaki bermata merah tersebut lebih dulu merebut, dan kemudian membanting keras ponsel itu kelantai. Membuat Alia mematung melihatnya. Meskipun diam mematung begitu, sungguh. Dia benar benar syok. Gadis itupun berteriak sangat kencang.
"DASAR BA*INGAN! AKU BARU SAJA BELI PONSEL ITU, SETELAH KAMU MENGHANCURKAN PONSELKU SEBELUMNYA! AKU BAHKAN PAKAI TABUNGANKU SENDIRI! ITU KARENA IBU GAK MAU BELIIN! KAMU PIKIR AKU ORANG KAYA, YA?! MAKANYA SEENAKNYA KAMU HANCURIN! DASAR GAK BERPERASAAN! BED*BAH! SIA*AN! BANG*AT!" Kesal gadis itu, yang kemudian menjatuhkan kedua lututnya dilantai, dan menatap ponselnya yang sudah hancur. Perasaan sakit yang melebihi luka goresan di pipinya. Lelaki bermata merah yang berdiri didepan Alia hanya diam menatapnya. Benar benar tidak ada rasa tanggung jawabnya sama sekali. "Puas?" Ucap Alia dengan pelan. "Belum sebelum kamu mati" Jawab anak laki laki itu dengan cepat. Raut wajah Alia yang tadinya kesal, berubah. Seperti sudah tidak berharap mau hidup lagi. Ia pun menghela nafas. "Kalo ayah masih ada, aku dan keluargaku gak mungkin hidup seperti ini". "Jangan curhat didepanku. Aku gak mau dengar" Tukas lelaki bermata merah darah itu. Untuk yang kedua kalinya, gadis itu menghela nafasnya lagi. "Tolong, kali ini saja. Biarkan aku keluar. Aku juga dari awal gak pernah buka mulut tentang kamu. Sama sekali gak pernah"
"Aku gak perlu kerja sama lagi" Singkatnya. Alia yang tadinya menunduk menatap ponselnya yang sudah rusak, kini ia mengangkat kepalanya. Dan membuat mata cokelat mudanya bertemu dengan mata merah darah milik lelaki dihadapannya. "Maaf yang waktu itu. Aku juga gak tau kenapa bisa bisanya punya pikiran begitu. Tapi kalau kamu setuju untuk bekerja sama lagi denganku, kali ini saja. Aku pasti akan berpikir 2 kali. Janji". "Gak mau. Aku sudah muak". Setelah mendengar itu, kekesalan Alia kembali. Ia pun berdecak dan bangkit berdiri.
"Terus? Kamu maunya apa, coba? Selain bunuh aku?" Tanya Alia sambil menunjuk nunjuk dirinya sendiri. Lelaki itu tersenyum. Tidak tahu apa arti dari senyumannya itu. "Apa, ya? Aku ingin..." Alia menatapnya serius. Menunggu lelaki itu melanjutkan kalimatnya. "Kamu..." Syok! Setelah itu, Alia tersentak tidak mengerti. Wajahnya memerah. Entah kenapa bisa merah. "Apa maksudnya, sih?! Jangan aneh aneh! Kamu pikir kamu siapa? Dasar gila!". "Ah! Setelah aku pikir pikir..., ternyata aku hanya ingin membunuhmu" Lanjutnya tiba tiba dengan seringaian mematikannya. Alia menatapnya datar. "Kalau memang gitu, harusnya kamu gak usah mikir lama!" Kesal gadis itu. Untuk yang ketiga kalinya, ia menghela nafas lagi. "Tolonglah, biarkan aku keluar. Aku cuma ingin bertemu temanku, dan pulang dengan tenang. Aku janji, lho. Aku pasti akan datang kesini lagi. Toh, buktinya meskipun waktu itu aku tau kalo kamu masih dendam, aku tetap ke sini, kan? Terus apa yang buat kamu masih gak percaya?" Alia mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan laki laki dihadapannya itu.
"Bisa bisanya masih bersikeras memohon keluar. Keras kepala sekali". "Iya. Aku memang keras kepala. Terus kenapa? Kalau kamu gak suka, cepat keluarkan aku dari rumah ini!" Pintar gadis itu sambil menyilangkan kedua tangannya. "Aku gak akan ngeluarin kamu sebelum kamu mati" Tukas lelaki tersebut. Alia pun mengeram kesal. "Ya udah. Gimana kalau siang ini biarkan aku pergi. Dan nanti malam, aku janji bakal datang kesini. Dan kamu bisa membunuhku sepuas mu. Setidaknya aku bisa melihat mereka untuk yang terakhir kali, kan?". "Enggak. Intinya aku gak akan mengeluarkan mu dari sini" Lelaki itu menyilangkan kedua tangannya. Alia menatap lelaki bermata merah tersebut dengan wajah yang semakin kesal. Dengan kedua tangannya yang mengepal kuat. "Oke. Aku tawarkan yang satu ini. Ini tawaran terakhir". Sang pemilik mata merah darah itu masih menatap kedua mata cokelat muda yang dimiliki Alia. Ia menunggu Alia menawarkan tawaran terakhir.
"Tengah malam nanti, aku janji bakal datang ke rumah ini. Terus, aku juga janji gak akan buka mulut ke siapapun kalau aku ke rumah ini nanti, janji gak bakal nge-hancurin apa apa lagi, janji gak akan nyusahin, janji kalau aku akan biarin kamu ngelakuin apa aja ke aku, aku juga janji gak akan ngelawan, lalu aku juga janji akan nurut. Ya, bisa dibilang, aku menjadi boneka mu. Janji. Aku ini bukan orang yang ingkar. Ya pokoknya, aku janji gak bakal ngelakuin apa yang kamu larang, ataupun yang gak kamu suka. Nah, jadi gimana tawaran yang satu ini?" Ujar Alia panjang lebar, dan dipenuhi kata *janji. Lelaki bermata merah darah itu memberikan seringaian yang biasa ia tunjukkan. Alia terdiam memperhatikan anak itu. 'Aku..., gak asal ngomong, kan? 🙁' Batinnya.
"Setelah kamu menawarkan yang terakhir ini..., jangan jangan..." Alia masih diam. Menunggu lanjutan kata dari seorang remaja laki laki yang terbilang seusia dengannya. "Jangan jangan, apa kamu pikir..." Gadis berambut cokelat gelap itu masih menunggu dengan sabar. "Bahwa aku akan menolaknya?" Lanjut lelaki tersebut sambil menatap kedua mata cokelat muda Alia dengan lekat. 'Ha? Maksudnya? Dia nolak, kan?'. "Ya..., gitulah. Memangnya kamu mau nerima? Gak bakal, kan? Soalnya meskipun gitu, aku juga tetap harus kamu keluarkan dari sini" Ucap gadis itu.
"OFFER ACCEPTED!" Tukasnya. Alia tertawa. "Aku sudah duga. Tentu saja. kamu menolak! Karena meskipun tawarannya gitu, tetap saja kan kalau aku per- Hahhh??!!" Kejut gadis itu. Ia lalu melangkah mendekati lelaki yang ada dihadapannya. Memutus jarak. "A-apa? Kamu bilang apa tadi? Offer accepted? Serius, dong! Kamu nolak, kan?! Tolong jangan buat aku jadi gila!". "Untuk apa aku bercanda. Tentu saja aku serius dengan kata kataku barusan" Ucapnya dengan senyuman puas. Gadis itu tertawa. "Hahaha! Bercanda mu sungguh kelewatan! Masa' sih kamu serius nerima? Kamu tetap harus ngeluarin aku dari rumah ini, lho! Terus, emang kamu gak takut kalo aku bakal bongkar semuanya?". "Gampang. Kalau kamu bicara tentang rahasia itu kepada orang lain, berarti kamu orang yang ingkar" Masih seperti tadi, wajah lelaki itu dihiasi dengan senyuman kepuasan nya.
'E- enggak, enggak. Aku bukan orang yang ingkar!' Batin Alia yang bingung harus apa. "Kamu tahu?Dengan tawaranmu itu..." Lelaki itu melangkah maju agar jaraknya lebih dekat lagi dengan Alia. Di jarak itu, Alia dapat merasakan hangat dari tubuh seorang pembunuh dihadapannya. Kemudian lelaki tersebut mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.
__ADS_1
"...I CAN KILL YOU ANYTIME I WANT" Lelaki itupun menyeringai mematikan didekat telinga Alia.