
Keesokan harinya, saat jam kelas...
Seorang gadis bermata cokelat muda terlihat sedang memainkan ballpoint miliknya, dengan tangan kiri yang menopang dagu. Saat ini gadis itu sedang memikirkan sesuatu.
'Mereka..., perlu tahu gak ya?' Batin Alia sambil melirik kepada Manna, Jefry, dan Erdan yang sedang duduk di kursi masing masing, dengan tatapan yang terarah kepada guru yang sedang menjelaskan.
'Sepertinya mereka tidak perlu tahu kalau malam nanti aku akan pergi kerumah itu. Lagipula kalaupun mereka tahu..., mereka pasti akan melaporkannya pada Glavin' Batinnya lagi sambil melirik Glavin yang saat itu sedang fokus mendengar penjelasan guru.
Gadis itu lalu menatap buku yang ada dihadapannya, dan menghela nafas. Ia tidak tahu harus apa.
'Apa mungkin ku katakan saja, ya? Tapi hanya akan ku katakan padanya' Batin gadis bermata cokelat muda itu sambil menatap Irene yang duduk beberapa meja di depannya.
Saat jam istirahat...
Irene yang hari ini tidak pergi ke kantin itu hanya terdiam menatap mejanya. Padahal banyak teman kelas yang mengajaknya untuk makan di kantin, tetapi semua ajakan itu ditolaknya. Yah, wajar saja. Ia baru saja kehilangan teman berharganya. Yang berteman dengannya tanpa memandang dirinya yang cantik dan kaya.
Tak lama kemudian salah seorang siswi yang ada didalam kelas tersebut berjalan menghampirinya.
"Irene" Panggil siswi itu.
Gadis berambut hijau gelap yang bergelombang itu menoleh ke arah orang yang baru saja memanggilnya.
"Bisa..., ikut aku sebentar?" Ucap gadis yang memiliki rambut cokelat gelap dikelas itu. Alia.
Dibelakang gedung kelas...
"Kenapa kamu membawaku kesini?" Tanya Irene dengan nada sedikit kesal.
"Karena ku pikir..., ini tempat yang cocok sangat cocok" Jawab Alia sambil menoleh ke sekeliling.
Saat itu Irene berdecak, dan bertanya tentang apa yang akan dikatakan oleh gadis bermata cokelat muda itu.
"Tolong rahasiakan ini, Irene. Kalau aku... akan pergi kerumah itu untuk memastikan sesuatu"
" 'Rumah' itu..., maksudmu rumah yang ada didekat jurang belakang itu?"
Irene tersentak kaget ketika Alia menjawab pertanyaannya dengan anggukan.
"Dipikiranmu ada apa sih?! Dan juga kenapa kamu memberitahu hal ini padaku?!"
"Karena aku butuh bantuanmu" Jawab Alia serius sambil menggenggam kedua tangan Irene.
"Tidak ada orang lain yang dapat aku mintain tolong selain kamu. Kalau aku mengatakan semua ini pada Manna atau yang lain..., mereka jelas akan melarangku" Lanjutnya.
"Lalu kamu pikir dengan mengatakan hal ini padaku aku tidak akan melarangmu?! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu disana?! Pasti semuanya akan mengocehiku kan karena tidak segera melarangmu?!" Kesal Irene sambil melepas kasar tangannya dari genggaman Alia.
"Sudah ah! Aku sudah muak mendengar ada yang akan pergi kesana!"
Gadis berambut hijau gelap itu membelakangi Alia dan berniat untuk pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti karena tangan kirinya ditahan.
"Irene. Aku benar benar memohon padamu. Tolong bantu aku. Kali ini saja!" Tukas Alia yang menatap Irene dengan lekat.
Saat itu, ketika Irene ingin menarik tangannya dari genggaman Alia lagi, Alia malah semakin menggenggamnya. Irene terdiam sejenak menatap gadis yang ada didekatnya. Wajahnya menggambarkan keseriusannya. Irene menghela nafas.
"Benar benar orang yang keras kepala! Tapi bagaimana kalau kamu tidak kembali, dan semua orang malah akan mengocehiku?"
"Tenang saja. Aku pasti akan kembali! Dan mereka tidak akan mengocehimu selagi kamu tidak memberitahu mereka tentang ini"
"Terus, apa yang akan aku dapatkan dengan membantumu?"
"Aku akan mencari tahu tentang penyebab kematian Zelle!"
Irene tersentak mendengarnya. Seraya membantah perkataan Alia.
"Aku tahu kalau hantu lah yang melakukannya! Lagipula bagaimana mungkin kamu menangkap hantu?!"
"Apa aku harus bilang kalau aku nggak percaya hantu?" Ujar Alia.
'Kata katanya mirip dengan yang dikatakan Zelle. Mereka sama sekali tidak percaya yang begituan. Dasar!' Batin Irene yang menatap diam Alia.
Suasana disana terdengar sunyi. Belum ada yang bersuara setelah itu. Pada akhirnya, beberapa detik kemudian Irene bersuara, bahwa...
"Oke. Akan kubantu" Tukasnya.
Alia terlihat tersenyum sambil melepas genggamannya, dan mendekatkan tangan kanannya kepada Irene.
"Terima kasih. Aku harap kita bisa berteman saat ini juga"
Irene menatap tangan kanan Alia yang menawarkan jabatan tangan. Entah saat itu ada apa didalam kepalanya, sehingga Irene menerima tawaran jabatan tangan itu sambil mengangguk. Dengan arti bahwa gadis itu menerima untuk menjadi teman Alia.
Malam harinya, pukul 22:30.
Didepan rumah besar berhantu itu...
Seorang gadis berambut cokelat gelap berdiri tepat didepan rumah itu dengan tas yang ia rangkul yang isinya terdapat 2 senter cadangan, kotak P3K, 1 korek api, 8 buah lilin, 1 bungkus roti selai cokelat, 1 kotak susu cokelat, dan sebuah pisau dapur, juga tangan kirinya yang membawa sebuah senter.
__ADS_1
Alia memperhatikan sekelilingnya.
'Entah kenapa di malam hari suasananya jadi lebih mencengkam dari pada siang' Batin Alia.
Tak lama kemudian terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Ia lalu memeriksa pesan chat yang masuk, yang ternyata dari Irene.
Irene Goldilocks : "Sudah sampai?"
Alia Vertissertia : "Sudah. Toh, aku pas didepan rumahnya. Kamu..., gak tidur?"
Irene Goldilocks : "Aku benci ngomongnya. Tapi..., aku khawatir. Kamu yakin mau masuk? Mumpung masih ada kesempatan buat pergi, sebaiknya kamu pikirin lagi"
Alia Vertissertia : "Makasih sudah khawatir. Tapi tekadku sudah bulat"
Beberapa detik Irene tidak menjawab. Dan ternyata ia malah beralih ke panggilan langsung.
Alia : "Halo? Irene?"
Irene : "Alia, perasaanku benar benar gak enak. Coba kamu pikir lagi baik baik"
Alia : "Kan aku dah bilang. Tekadku sudah bulat loh..."
Irene : "Yasudah. Tapi, tetap begini, ya sampai kamu pulang"
Alia : "Maksud kamu kita tetap telponan?๐"
Irene : "Iyalah! Aku cuma mau mastiin kamu gak kenapa napa"
Alia : "Ya terserah sih. Oh iya, kalau dengar suara hantu, langsung matiin panggilan dan cepat tidur sana daripada hantunya datang kerumah kamu. Hahaha! ๐"
Irene : "Jangan bercanda!"
Alia : "Iya iya. Yasudah, aku mau langsung masuk"
Gadis itu lalu membuka kedua pintu rumah itu yang juga terlihat besar.
"Aku masuk..." Ucapnya yang kemudian masuk kedalam tanpa menutup pintu.
Alia berjalan maju sambil menatap ruangan besar disana, namun didalam rumah itu terlihat sangat berantakan dan sangat kotor.
"Waw..., bersih dan cantik sekali rumah ini ๐ฎ"
Tukas Alia dengan sedikit ledekan.
Alia : "Enggak. Cuma ngejek tadi. Soalnya rumahnya kotor banget. Didepanku ini ada lampu gantung besar yang jatuh. Disekitar sini juga banyak sarang laba laba, dan banyak debunya juga. Ruangannya masih bagus, hanya tinggal bersihin rumah ini, dan bisa jadi rumah yang bisa ditinggali. Wah, karpet merahnya masih bagus juga ternyata, tapi berdebu. Yah...,bukan masalah"
Irene : "Kamu ngapain sih? Kok kayak lagi deskripsiin rumah yang mau dijual gitu? ๐"
Alia : "Maaf deh. Tapi emang benar kok. Tapi..., perabotan nya sudah pada hancur semua. Kayak sengaja dihancurin gitu"
Irene : "Alia, apa disana kamu tidak melihat hantu? Mungkin hantu itu sedang memperhatikanmu disuatu tempat"
Alia memperhatikan sekitarnya lagi dengan senter ditangannya yang turut membantunya.
Alia : "Enggak ada tuh. Lagian juga kalau emang ada ya sudah. Tidak jadi masalah"
Irene : "Gampang banget jawabnya! Kamu ini tidak peduli lagi dengan hidupmu atau apa sih?!"
Gadis berambut cokelat itu teringat sesuatu dan menoleh ke pintu keluar.
Alia : "Irene, kalau dicerita horor, biasanya pintu keluar ketutup sendiri, kan?"
Irene : "I-iya! Kenapa?! Pintunya ketutup?! Alia, kamu baik baik saja, kan?! Mumpung belum lama, aku akan panggil polisi untuk membantumu!"
Alia : "Eem..., tidak. Tidak usah, pintunya juga gak ketutup kok"
Irene : "Yakin nih?"
Alia : "Iya"
Alia lanjut berjalan, menuju suatu lorong yang ada dibawah tangga, sambil terus mengobrol dengan Irene, dan melihat lihat beberapa perabotan yang ada disana. Kemudian beberapa menit berlalu, ia kembali lagi keruang utama, dan memasuki lorong satunya yang juga ada dibawah tangga. Setelah itu, ia kembali lagi keruang utama.
Irene : "Alia, sekarang kamu dimana?"
Alia : "Aku baru saja kembali keruang utama"
Irene : "Apa pintu keluarnya masih terbuka?"
Alia : "Masih kok. Ya..., sepertinya memang benar dugaanku, kalau semua ini bukan ulah hantu. Ya kan?"
Irene : "Entahlah, tapi kalau bukan hantu, lalu siapa?"
Alia : "Mungkin ada seseorang dibalik semua ini. Oh iya, aku mau lanjut ke lantai 2. Kamu masih mau telpon?"
Irene : "Kan aku sudah bilang tadi. Aku akan terus telpon kamu sampai kamu pulang"
__ADS_1
Gadis berambut cokelat itu menaiki tangga yang juga terdapat karpet merah yang di pinggirannya terdapat motif yang unik. Gadis itupun mulai melihat lihat di lorong pertama lantai 2. Disana ia menemukan kamar yang cukup besar. Tidak. Semua kamar yang ia lihat di lorong pertama lantai 2 itu besar semua. Ada salah satu kamar yang didalamnya terdapat banyak boneka, Irene bilang, ada kemungkinan kamar itu milik sang anak bungsu dirumah itu. lalu ada lagi 4 kamar lainnya.
Setelah Alia melihat lihat lorong pertama dilantai 2, ia lalu memasuki lorong kedua dilantai tersebut. Pada saat itu ia menyempatkan diri untuk memakan sebungkus roti selai cokelatnya sambil melihat lihat. Disana juga terdapat 5 kamar besar. Di saat Alia memasuki kamar yang diujung, ia melihat ada sebuah bingkai foto dibawah lantai yang kaca bingkainya sudah pecah. Didalam foto itu terdapat 10 orang. Lalu ia menatap kedua anak laki laki yang terlihat berwajah sama.
Alia : "Irene, difoto ini ada anak laki laki kembar. Apa mereka anak yang kedua dan ketiga itu?"
Irene : "Iya. Seperti apa wajah mereka? Apakah mereka terlihat menggemaskan? Kira kira mereka berusia berapa difoto itu?"
Alia : "Emm..., sekitar 7 tahun"
Irene : "Mereka menggemaskan? Bagaimana dengan si bungsu? Apakah dia cantik? Dia lebih muda 2 tahun kan dari si kembar itu?"
Alia : "Entahlah. Mana ku tahu soal itu?!"
Alia lalu meletakkan bingkai itu diatas meja, dan pergi dari kamar itu. Saat ini ia berjalan menghampiri sebuah tangga yang menuju ke lantai 3.
Alia : "Saat ini aku sedang menuju ke lantai 3"
Ucap Alia yang berbicara kepada Irene.
Beberapa menit kemudian setelah melihat lihat lantai 3, Alia kembali lagi keruang utama.
Irene : "Alia, apa kamu benar benar tidak melihat hantu?"
Alia : "Iya. Toh, apa yang kukatakan benar bukan? Hantu itu tidak ada. Bagaimana menurutmu? Kamu percaya sekarang?"
Tanya Alia sambil menusuk kotak susu cokelatnya dengan sedotan.
---\=---
Didalam kamar Irene...
Irene terdiam duduk diatas ranjang sambil menatap lantai kamarnya setelah mendengar kata kata Alia.
Irene : "Entahlah, aku masih belum yakin soal itu"
Alia : "Ya ampun. Haaahh~, yaudah, aku akan segera pulang. Dan besok pagi aku akan bilang kepada Glavin untuk melapor kepa-, aaahh!!!"
Bruukk!!! ( suara dari๐ฑ )
Irene sangat terkejut mendengar teriakan Alia yang tiba tiba, dengan suatu suara aneh yang terdengar dari sana.
Irene : "Alia! Kamu tidak apa apa?! Alia! Jawab aku! Alia!"
Irene terus berteriak memanggil nama Alia. Dan beberapa detik kemudian, Alia bersuara dari sana.
Alia : "Aduuuhh~"
Irene : "Alia! Kamu kenapa?! Kamu baik baik saja kan?!"
Alia : "Iya, aku tidak apa apa. Tadi aku hanya terjatuh dari tangga. Dan sepertinya kakiku terkilir"
Irene : "Apa?! Terkilir?! Kamu masih bisa jalan?! Kalau tidak, aku akan panggilkan-"
Alia : "Sudahlah. Tidak perlu. Aku masih bisa berjalan, kok. Toh, aku sudah berdiri. Hanya saja susu kotak ku malah jatuh dan tak sengaja ku injak. Padahal aku baru sedikit meminumnya. Menyedihkan sekali, malah susu kotak itu yang jadi korbannya"
Irene : "Sudahlah. Aku malah senang kamu tidak apa apa. Ngomong ngomong, pintu keluarnya masih terbuka kan?"
Alia : "Iya. Masih kok"
Irene yang sedang duduk diatas ranjang tersenyum. Senang mendengar temannya baik baik saja.
Alia : "Eh? Ah! Kenapa lagi ini?!"
Ketika mendengar suara Alia barusan, Irene menaikkan sebelah alisnya.
Irene : "Alia, ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Alia : "Tadi ada angin yang sangat kencang sehingga membuat pintunya tertutup. Lalu senter yang kupegang malah mati tiba tiba. Ya..., kalau begini sih sebaiknya aku gunakan cadangan yang kubawa"
Suara Alia mungkin terdengar santai saat itu. Namun Irene yang mendengarnya sangat ketakutan.
Alia : "Halo? Irene, kamu masih disana kan? Halo?"
Irene tidak menjawab. Entah kenapa, ia tidak bisa berkata kata. Tubuhnya sudah gemetaran. Padahal ia tidak berada dirumah itu.
Alia : "Hahh~, aneh sekali. Padahal masih terhubung. Apa mungkin kamu sudah tidur Irene? Kamu takut ya? Padahal aku loh yang ada disini. Hahaha, lucu sekali"
'Ke-kenapa aku tidak menjawab? Apa apaan ini? kenapa bibirku malah ikut gemetar juga?' Batin Irene.
Alia : "Mana senter cadangannya, ya? Ini dia! Ketemu juga akhi- hei! Siapa yang membuat senter ku terlempar?! Siapa disana?! Tunjukkan dirimu! Apa kamu pikir aku takut?! Ah! Ponselkuuu!!! Sialan! kamu siapa sih?! Tidak usah sok menakutiku! Aku nggak takut! Hei! Lepaskan a-"
Karena tidak sanggup lagi, tanpa sengaja ponsel yang digenggam Irene terjatuh sehingga mati.
Irene terdiam mematung dengan pipi yang sudah dibanjiri air mata. Ia menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Karena kali ini ia membiarkan temannya terbunuh dirumah itu.
__ADS_1