He Is Luke

He Is Luke
Episode 6


__ADS_3

Keesokan pagi harinya, di suatu ruangan...


Alia yang sebelumnya pingsan telah sadar kembali. Ia pun membuka matanya.


'Aku masih hidup toh. Ini dimana?' Batin Alia yang memperhatikan sekitar. Ketika itu, ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman. Tubuhnya terasa pegal. Kemudian ia menoleh kearah cermin yang ada di dekatnya. Ia sangat terkejut ketika melihat dirinya dicermin yang ternyata sedang duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kakinya yang terikat kencang.


"Lepaskan aku! Aku mau sekolah! Kalau tidak, ibuku pasti akan marah padaku karena terlambat! Lepaskan aku cepat! Hoii! Dengar gak sih?! Dimana kamu?!" Teriak gadis itu kencang.


Ketika itu juga, Alia mendengar suara decakan, juga langkah kaki yang menghampirinya.


Gadis berambut cokelat gelap itupun menoleh kearah pintu yang sejak tadi terbuka. Ia menyipitkan kedua matanya, dan terlihatlah seseorang yang sama dengan yang ia lihat malam itu.


"Berisik sekali! Apa kamu tidak bisa sedikit tenang? Padahal baru saja sadar setelah 7 jam lamanya" Ucap lelaki itu, yang masih berjalan menghampiri Alia.


'Apaan sih? Namanya juga pingsan. Dikiranya tidur apa? 😠' Batin gadis itu dengan raut wajah kesal.


Lelaki itu, yang sudah berdiri didepan Alia pun mendekatkan wajahnya.


"Saat ini, kamu beruntung. Karena nafsu membunuhku sedang turun. Jadi..." Putus lelaki itu sambil menarik kembali wajahnya, dan berjalan menjauhi Alia menuju pintu keluar.


"Nikmati waktu terakhirmu diruangan ini" Lanjutnya. Seketika, raut wajah Alia mengerut kesal.


"Apaan sih?! Aku mau sekolah hoi! Kalau sampai ibuku tahu aku gak pergi, maka..." Putus Alia. Membuat langkah kaki pembunuh itu terhenti.


"Nyawaku gak bakal bisa tenang~😣" Lanjut Alia.


Lelaki itupun melirik kearah Alia.


"Jangan khawatir. Ibumu tidak akan dapat kesempatan untuk itu. Karena akulah yang akan membuat nyawamu tidak akan tenang hari ini" Tukas lelaki itu dengan seringaian menyeramkan nya yang kemudian keluar dari ruangan itu sambil menutup pintu tersebut. Alia terdiam menatap pintu yang baru saja tertutup. Kemudian gadis itu menghela napas.


'Ya sudah deh. Terserah dia saja. Lagian kalau mau ngebantah, dengan kondisiku yang seperti ini, tentu saja gak bisa. Kalau mau kabur juga, ya percuma lah. Daripada buat dia marah, terus malah aku benaran dibunuh, mending ladenin saja kata katanya' Batin Alia dengan santainya. Padahal saat ini nyawanya benar benar sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk selamat.


Beberapa jam kemudian...


Alia terduduk lesu dengan tangan dan kakinya yang masih terikat kencang sejak tadi.


' "Nikmati waktu terakhirmu diruangan ini", apa otaknya kosong? Dia bilang begitu tadi. Tapi tidak ada yang menarik sedikitpun diruangan seperti ini. Bagaimana mungkin aku dapat menikmatinya? Terlebih, tangan dan kakiku masih terikat begini. Hhh~, badanku sakit semua~. Dan selain itu...' Gadis itu menundukkan kepalanya sejenak, kemudian mengangkat kembali kepalanya, seraya berteriak.


"AAKUU LAAPAAAAARR!!!" Begitu teriaknya, dengan perut kosong yang sedang keroncongan.


Kemudian, satu satunya pintu yang terdapat diruangan itu terbuka, dan memperlihatkan seorang lelaki yang sama.


"Berada jauh dari pikiranku. Ternyata kamu masih bisa bertahan"


Alia hanya diam menatap lelaki itu dengan tatapannya yang sangat kesal.


"Bagaimana? Apa kamu menikmati ruangan ini?" Ucap lelaki itu yang lagi lagi dengan seringaian diwajahnya.


"Isi otakmu apa, sih? Kamu terlihat seperti orang yang sudah tidak waras lagi 😑"

__ADS_1


"Terima kasih pujiannya" Tukas lelaki bermata merah darah itu. Kedua kakinya pun melangkah maju menghampiri seorang gadis berambut cokelat gelap yang sampai saat ini masih duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kakinya yang terikat.


'Tuh kan. Sudah jelas barusan aku sedang meledeknya. Tapi dia malah mengira aku memujinya. Kebodohannya benar benar kelewatan 😐" Batin Alia.


"Oh iya. Ngomong ngomong, nafsu membunuhku sudah kembali. Jadi..., apa kamu sudah siap untuk pergi ke neraka?" Lelaki itu mendekatkan wajahnya. Dan tentunya dengan seringaian mengerikan itu lagi.


Alia terdiam. Ia lalu menundukkan kepalanya. Lelaki bermata merah darah itu tertawa menyeramkan saat melihat Alia yang semakin terlihat melemah.


"Kenapa? Kamu baru sadar kalau saat ini kamu tidak bisa apa apa? Aku pikir kamu adalah orang yang pemberani. Tapi..., ternyata tetap saja sama seperti yang lain. Manusia itu, memang takut dengan yang namanya kematian, ya. Nah, kalau begitu, apa ada kata kata terakhir?" Ujar lelaki itu sambil mengambil sebuah pisau tajam yang tersimpan dibalik bajunya, dan mengangkat tinggi tangan kanannya yang menggenggam sebuah pisau itu.


"Hei" Panggil Alia yang masih menunduk. Kepalanya lalu terangkat, dan menatap mata merah darah yang dimiliki lelaki yang sedang berdiri dihadapannya.


"Tunggu dulu. Apa..., dirumah ini ada makanan? Aku sangat lapar sejak tadi. Perutku kosong, dan terus meminta ingin diisi 🥲" Ucap Alia bersamaan dengan suara perutnya yang kosong.


Lelaki yang sedang berdiri dihadapan gadis itu terdiam sejenak. 'Manusia seperti apa dia? Dengan keadaannya yang sedang begini, bisa bisanya dia masih memikirkan perutnya. Bahkan dari wajahnya pun tidak terlihat perasaan khawatir akan nyawanya'


Tangan kanan lelaki itu pun diturunkan kembali.


"Baiklah. Aku anggap ini sebagai permintaanmu untuk yang terakhir kalinya" Ia lalu berlalu dari ruangan itu.


Beberapa menit kemudian, lelaki itu kembali dengan membawa banyak makanan yang terlihat lezat.


"Waah~, Terima kasih~! Aku sangat senang perutku bisa terisi kembali! 😄" Dengan gadis itu dengan senyuman.


Kemudian, lelaki itu melepas tali yang mengikat tangan Alia bersama kursi.


"Daging ini enak! Sayurnya juga terasa! Semuanya enak! 😍"


Lelaki dengan mata merah darahnya, diam sejenak memperhatikan Alia yang sedang makan. Kemudian membelakangi gadis itu dengan melihat keluar jendela.


"Hei. Apa ini masakanmu? Kamu pintar memasak rupanya" Ucap Alia sambil menatap lelaki yang sedang berdiri membelakanginya. Gadis berbut cokelat gelap itu terdiam. Dan secara tiba tiba, ia merasakan sesuatu.


"Emm~, hei. Apa yang kamu lakukan dirumah kosong ini?" Tanya Alia.


Lelaki itu terdiam sejenak. Kemudian menjawab pertanyaan gadis itu.


"Apa yang aku lakukan? Kamu tidak berhak bertanya begitu. Karena aku adalah pemilik rumah ini"


Alia terdiam sejenak. Seperti tidak percaya dengan jawaban lelaki itu.


"Apa? Bisa katakan lagi? Sepertinya ada banyak nyamuk yang sedang berterbangan didekat telingaku 😶"


"Aku bilang, aku adalah pemilik rumah ini. Dengar?"


Setelah mendengar untuk yang kedua kalinya, Alia tertawa.


"Hahaha! Mana mungkin! Bukannya 1 keluarga dirumah ini sudah meninggal sejak 9 tahun lalu? Tolong jangan mencoba untuk membohongiku. Meskipun aku memang bodoh, tapi aku tahu kalau kamu sedang mencoba untuk mengaku ngaku, kan?"


"Memang" Singkat lelaki itu, yang masih menghadap keluar jendela.

__ADS_1


Alia terdiam sejenak sambil menatap lelaki itu.


"Tuh kan. Yaa~, aku tidak menyangka kalau kamu akan mengaku sendiri tanpa perlu aku paksa 😓"


"Memang benar, bahwa 1 keluarga itu meninggal. Tetapi tidak semuanya. Hanya 1 dari 10 orang yang dulu tinggal dirumah ini yang berhasil selamat dari kejadian waktu itu"


Alia menatap lelaki itu dengan sebelah alis yang terangkat.


"Dan yang selamat itu, adalah aku. Anak kedua yang kembar dengan yang ketiga"


Seketika, mata cokelat muda Alia membesar. Ia hampir tidak mempercayai perkataan lelaki itu.


"Apa sih maksudmu? Aku tidak mau lagi mendengar kebohongan yang kelu-"


"Aku tidak ada alasan untuk berbohong. Semua yang kukatakan ini, memang benar" Ucap lelaki itu, yang memotong kalimat Alia.


"Kejadian itu, masih menempel kuat di ingatanku. Malam hari, cuaca sedang hujan deras dengan petir yang menyambar dimana mana, dan angin kencang yang membuat semua bergerak. Saat kejadian itu, aku sedang berada di lantai bawah tanah. Ketika aku keluar, aku merasakan suasana rumah yang sangat sunyi. Tidak seperti biasanya. Lalu, aku mencari cari kemana perginya mereka. Dan aku pun berhasil menemui ibuku yang diperutnya terdapat banyak luka tusukan. Ibuku berkata kepadaku dengan suaranya yang terdengar lemah. 'Cepat lari! Jangan pergi ke lantai atas! ' Itu yang dikatakannya kepadaku. Setelah berkata begitu, beliau pun meninggal. Aku benar benar tidak bisa membiarkan semua ini berakhir dengan hal yang benar benar tidak ku inginkan. Aku langsung berlari cepat mencari keluargaku yang masih selamat. Tapi semua percuma. Kakek, nenek, ayah, ibu, kakak, kakak ipar, adik kecilku, dan keponakanku yang masih bayi, semuanya sudah terbunuh. Sehingga aku bertemu dengan yang belum kutemui tadinya. Ternyata anak itu berada di balkon lantai 3, yang saat itu dihadapannya terdapat seorang pria bertopeng. Ia berteriak kencang sambil menangis dengan keras. Tubuhku bergetar hebat ketika melihat wajahnya yang menangis ketakutan. Dia kemudian melihatku yang sedang berdiri dibelakang pria bertopeng itu, dengan tanganku yang menggenggam sebuah pisau. Ya. Pisau tajam yang sekarang sedang ku genggam ini"


Alia menatap pisau itu yang memang terlihat tajam. Kemudian, lelaki itu melanjutkan kalimatnya.


" 'Tolong aku!' Itu yang dia katakan padaku. Meskipun hanya mulutnya saja yang bergerak, tapi aku tahu apa yang dia katakan. Kemudian, pria bertopeng itu langsung menusuknya. Dan kemudian membuatnya jatuh dari lantai 3. Aku yang melihatnya secara langsung, entah kenapa benar benar membuat tubuhku berhenti bergetar. Dan aku merasakan hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Perasaan haus darah yang terus menggerogoti ku saat itu. Aku langsung berlari kearahnya, dan menusuknya. Terus menusuk, dan masih berlanjut. Entah kenapa, itu membuat hatiku merasa puas. Aku juga membuka topengnya, dan juga menusuk semua bagian wajahnya. Seluruh tubuhnya pun dipenuhi oleh tusukan pisau yang ku buat. Setelah itu, aku mengambil sebuah pistol yang ada ditubuh pria itu, dan aku pergi ke depan pintu rumah, yang disana terdapat 2 orang pria dan seorang wanita yang terbilang adalah kelompok pria tadi. Aku yang melihatnya benar benar semakin membuatku haus akan darah, dan menembak mereka semua dengan semangat. Perasaan hatiku benar benar merasa puas. Semua itu sangat memuaskan. Karena aku senang bisa membunuh orang yang telah menghancurkan keluarga yang sangat berharga bagiku"


Alia terdiam dengan kepala yang menunduk. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan lelaki itu.


"Lalu..., apa kamu yang telah membunuh seorang gadis yang beberapa hari lalu datang kemari, juga orang orang yang pernah datang ke rumah ini?" Tanyanya.


"Tentu saja. Siapa lagi memangnya? Sebenarnya aku tahu kejadian hari itu tidak ada hubungannya dengan mereka sama sekali. Tetapi, aku tidak suka melihat orang datang ke rumah ini, yang sekarang menjadi satu satunya yang berharga di hidupku. Aku tidak ingin rumah ini juga meninggalkanku. Makanya aku bunuh saja mereka. Dan inilah kenapa aku membuat rumor lewat internet bahwa rumah ini berhantu! Haha! Masa bodoh tentang hantu! Tapi, dengan begini, banyak orang orang yang mempercayai rumor rumor bodoh itu! Tapi juga membuatku merasa senang. Aku benar benar merasa puas!" Ucap lelaki itu dengan tawanya yang terdengar mengerikan. Ia lalu berjalan mendekat kepada gadis bermata cokelat muda didepannya.


"Nah, sekarang aku hanya tinggal menghancurkan mu" Lelaki itu menaikkan tangan kanannya yang menggenggam sebuah pisau tajam.


"Aku benar benar harus membunuhmu, karena sudah melihat wajahku, dan mendengar banyak rahasia dari mulutku. Sangat berbahaya bagiku jika kamu melaporkan ini kepada polisi. Aku ucapkan, terimakasih karena telah berani datang kemari, dan selamat tinggal!" Ketika lelaki berkata merah itu berniat membunuh Alia, tiba tiba saja terdengar suara sirene yang berbunyi.


Ia lalu berjalan mendekat ke jendela, dan melihat keluar. Ada sekitar 5 mobil polisi yang berdatangan. Lelaki berkata merah darah itu melirik Alia.


"Kamu memanggil mereka?" Tanyanya dingin.


"Tidak! Kamu kan tahu sendiri ponselku jatuh di lantai bawah waktu itu" Jawab Alia dengan wajah yang sedikit kesal.


'Sebentar. Tapi kenapa ada polisi? Siapa yang melaporkannya? Irene?' Batin gadis itu bingung.


Lelaki itu melihat kembali keluar jendela. Dan ia melihat salah satu mobil polisi yang baru saja terbuka, dan memperlihatkan seseorang berambut kuning dengan mata biru permata yang keluar dari mobil itu. Lelaki itu lalu menurunkan alisnya ketika tahu siapa orang itu.


"Kamu benar benar membuatku semakin kerepotan. Menyebalkan sekali!"


"Hah? Sudah ku bilang aku tidak melapor!" Kesal Alia yang ia pikir lelaki itu sedang membicarakannya.


Lelaki dengan mata merah darah itupun menghadap Alia.


"Aku butuh kerja samamu. Aku tidak memaksa, sih. Tapi, jika kamu ingin selamat, rahasiakan tentang semua yang aku katakan sebelumnya. Dan kalau kamu tidak mau menolaknya, mudah saja. Aku bisa langsung membunuhmu disini sekarang juga, dan jika aku membunuh mereka semua, ada sekitar 25% untuk keselamatan ku. Jadi ada kemungkinan aku masih bisa hidup. Nah, apa yang akan kamu pilih diantaranya?" Ujar lelaki itu dengan seringaian mengerikannya.

__ADS_1


__ADS_2