
Malam hari yang lalu...
Alia menuruni anak tangga sambil menusuk kotak susu cokelatnya dengan sedotan.
Alia : "Bagaimana? Kamu sudah percaya bahwa hantu itu gak ada?"
Irene : "Entahlah. Aku masih tidak yakin"
Alia : "Ya ampun. Haaahh~, yaudah, aku akan segera pulang. Dan besok aku akan bilang ke Glavin untuk melapor kepa-"
"Aaahh!!!" Bruuukk!!!
Teriak Alia tiba tiba. Ia jatuh dari tangga, sehingga membuat senter dan ponselnya terlempar, dan kotak susunya terlepas dari genggaman.
Irene : "Alia! Apa yang terjadi?! Jawab aku! Alia!"
Saat itu Irene terus memanggil nama Alia.
Gadis berambut cokelat gelap itu menyentuh pergelangan kaki kanannya yang terasa sakit.
"Aduuuhh~" Keluhnya kesakitan.
Ia lalu mengambil ponsel yang untungnya jatuh didepannya.
Irene : "Alia! Kamu kenapa?! Kamu baik baik saja kan?!"
Alia : "Iya, aku tidak apa apa, tadi aku jatuh dari tangga, dan sepertinya kakiku terkilir"
Irene : "Apa?! Terkilir?! Apa kamu masih bisa jalan?! Kalau tidak, aku akan panggilkan-"
Alia : "Sudahlah. Tidak perlu. Toh, aku juga sudah berdiri"
Ucap Alia yang baru saja berdiri. Ketika ia berjalan menuju senter miliknya yang terlempar, ia malah tidak sengaja menginjak susu kotaknya sehingga susu cokelat itu bertumpahan dari kotak. Alia menatap susu kotaknya dengan tatapan datar. Perasaan kesal dan sedih bercampur aduk dihatinya.
Alia : "Tapi..., susu kotak ku malah jatuh dan gak sengaja ke injak. Padahal aku baru sedikit meminumnya. Menyedihkan sekali, malah susu kotak ini yang menjadi korbannya"
__ADS_1
Irene : "Kamu ngomong apa sih? Aku malah senang kamu tidak apa apa. Ngomong ngomong, apa pintu keluarnya masih terbuka?"
Alia : "Masih kok"
Alia mengambil senter yang tergeletak dibawah. Tak lama kemudian, sebuah jam besar yang ada diruang utama itu berbunyi. Menandakan bahwa saat ini sudah pukul 00:00. Dan seketika, angin berhembus dengan sangat kencang diluar. Sehingga angin itu masuk kedalam rumah lewat jendela dan pintu. Lalu, pintu besar itu dan beberapa jendela yang tadinya terbuka telah tertutup rapat.
"Eh?" Kejut gadis itu.
Saat itu juga, senter yang digenggam oleh Alia mati secara tiba tiba.
"Ah! Apa lagi ini?!" Gadis itu mencoba menghidup-matikan senter nya berkali kali, juga memukul mukuli benda itu. Tetapi tetap saja masih mati.
Irene : "Alia, ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Alia : "Begini, tadi ada angin kencang yang membuat pintu dan beberapa jendela yang terbuka jadi tertutup rapat. Dan kemudian, senter ini malah mati tiba tiba. Ya..., kalau begini sih, sebaiknya aku gunakan senter cadangan saja. Untung aku membawanya"
Alia lalu menurunkan tas yang ada di bahunya, lalu mencari senter cadangan yang ia bawa.
Alia : "Halo Irene? Kamu masih disana? Irene?"
"Haaahh~, aneh sekali. Padahal masih terhubung" Bingung gadis itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Alia : "Apa mungkin kamu sudah tidur Irene? Kamu takut ya? Padahalkan yang saat ini seharusnya takut itu adalah aku. Hahaha, lucu sekali"
Gadis berambut cokelat gelap itu melihat ke sekitarnya. Sangat gelap, ia hampir tidak bisa melihat apa apa.
'*Rumah ini jadi terlihat lebih gelap dari sebelumnya. Lalu..., kenapa hawanya jadi terasa sangat dingin?Haaahh~, s*eharusnya dari rumah aku memakai baju tebal 😣' Batin Alia yang kemudian mencari senter cadangan yang ada di tasnya.
"Mana ya senter nya? Seharusnya sih kutaruh dibagian sini"
Gadis itu mencari dengan wajahnya yang masih terlihat santai. Ia memang benar benar tidak merasa takut sedikitpun. Sehingga...
"Ini dia!" Ucapnya senang sambil mengangkat tinggi senter yang digenggam nya.
"Ketemu juga akhi-" Gadis itu belum saja selesai berteriak senang. Karena senter yang tadi masih digenggam nya, tiba tiba terlempar jatuh, dan terdengar dari suara jatuhnya itu, sepertinya senter tersebut sudah langsung rusak. Hal itu membuat wajah senang Alia berubah kesal. Ia langsung memperhatikan sekitarnya. Mencari siapa yang telah membuat senter nya terlempar jatuh hingga terlihat seperti sudah rusak.
__ADS_1
"Hei! Siapa yang telah berbuat begini?! Siapa?! Tunjukkan dirimu dihadapanku! Apa kamu pikir aku takut?!" Teriak gadis itu yang masih memperhatikan sekitarnya.
"ARE YOU SURE?" Tiba tiba sesuatu berbisik ke telinga kanan Alia.
Dengan cepat, gadis itu langsung berbalik. Tetapi ia tidak melihat apa apa.
'Apa itu barusan? Bisikan dari hantu? Aah~, bukan! Hantu itu kan gak ada! Tapi kok..., gak ada siapapun dibelakangku?' Batinnya.
Saat itu pula, ponsel yang ada ditangan kiri Alia juga terlempar jatuh. Cukup jauh dengan jaraknya saat ini.
"Ah! Ponselkuuu!!! Sialan! Brengsek! Keterlaluan! Siapa sih kamu?! Aku sama sekali tidak takut padamu! CEPAT TUNJUKKAN DIRIMU SEKARANG JUGAAA!!!" Teriak gadis itu yang sudah kelewat kesal. Ia benar benar sangat marah.
"OKAY"
Alia yang mendengarnya terkejut. Ia berbalik menghadap pintu keluar, yang didepan pintu itu terlihat ada sebuah bayangan.
Alia terdiam memperhatikan bayangan itu. Wajah dan tubuhnya tidak terlihat karena tidak terkena pantulan cahaya bulan. Hanya kaki bagian bawahnya saja yang terlihat.
"Si-siapa kamu?" Tanya Alia gelagapan.
'Siapa dia? Aku penasaran'
Sesuatu itu berjalan pelan mendekati Alia. Semakin berjalan maju, perlahan lahan juga kaki bagian atas hingga tubuhnya terlihat. Dan saat wajah sesuatu itu terlihat, Alia terkejut.
'D-dia bukan hantu! Manusia? Tapi..., apa yang dilakukan seseorang sepertinya disini? Apa dia mempunyai tujuan yang sama sepertiku? Entah kenapa, tapi sepertinya orang ini tidak terlihat seperti orang biasa'
Ya. Itu memang bukan hantu. Melainkan seseorang remaja laki laki dengan baju dan celana hitam yang dikenakannya saat itu. Tak lama kemudian, secara tiba tiba, lelaki itu tersenyum mengerikan kepada Alia. Dan dengan cepat, ia berlari ke arahnya, lalu menahan kedua tangan gadis itu dengan tangan kirinya.
"Lepaskan Aku! Apa yang ka-" Bukk!!!
Alia sudah dibuat hampir pingsan duluan sebelum kalimatnya selesai dengan cara memukul keras bagian punggungnya.
Pandangan lelaki itu berpapasan dengan Alia yang juga menatap lelaki tersebut. Lalu, lelaki bermata merah darah itu menatap Alia dengan tatapan mematikan. Pandangan Alia mulai buram, dan pada akhirnya gadis berambut cokelat gelap itu terjatuh di lantai. Namun ia masih setengah sadar walaupun tubuhnya sulit digerakkan.
'Siapa dia? Barusan..., dia menatapku dengan tatapan seperti mau membunuh. Apakah dia memang seorang pembunuh? Lalu..., apa yang dilakukan pembunuh sepertinya ditempat ini? Atau jangan jangan..., selama ini dia yang telah membunuh orang orang yang pernah memasuki rumah ini? Tapi kenapa? Dan kalau memang benar begitu..., sepertinya nyawaku tidak terselamatkan, ya. Zelle, apakah ini yang kamu rasakan? Glavin, Manna, Jefry, Erdan, aku minta maaf karena telah menjadi teman kalian yang sangat keras kepala. Dan Irene, maaf juga karena sudah buat kamu khawatir, dan gak bisa nepatin janjiku waktu itu. Aduhh, di akhir ini aku terlalu nge-ba*ot. Maap deh. Haaahh~, tapi menurutku, lebih baik aku bertemu hantu daripada pembunuh 🥲' Batin Alia untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
*MUNGKIN*