He Is Luke

He Is Luke
Episode 4


__ADS_3

Keesokan paginya, ketika jam masuk kelas...


"pagi, anak anak. Bagaimana kabar kalian hari ini?" Sapa wali kelas yang baru saja masuk.


"Selamat pagi juga, pak~" Jawab anak anak dikelas.


"Jadi, siapa yang disini tidak hadir?" Tanya guru itu.


Seorang siswi pun mengangkat tangan kanannya.


"Iya? Ada apa Manna?"


"Pak, hari ini..., Alia tidak hadir" Jawab Manna dengan raut sedih.


Degh!!!


Irene tersentak dengan mata yang membesar. Ia tidak tahu harus mengatakan yang sebenarnya atau tetap diam.


Sedangkan itu, anak anak lainnya menoleh ke meja Alia yang memang kosong.


'Apa anak itu sakit?' Batin Jefry.


'Kalau Alia sakit, seharusnya kak Alianna atau keluarganya menghubungiku. Tapi..., kenapa aku tidak dihubungi sama sekali?' Batin Glavin dengan wajah yang terlihat khawatir.


"Apa kalian ada yang tahu kenapa Alia tidak hadir?" Tanya guru itu.


Suasana dikelas pun sunyi. Sedangkan itu, tubuh Irene bergetar hebat. Jantungnya berdegup sangat kencang.


"Baiklah. Kalau begitu, nanti akan bapak coba tanyakan pada keluarganya. Sekarang kita mulai kelasnya"


Jam istirahat, dikantin...


Saat ini, seorang gadis dengan ciri rambut berwarna hijau gelap, sedang duduk dikursi kantin, dengan spaghetti yang terhidang di mejanya.


'Aku harus mengatakan semua yang terjadi pada Alia kepada Glavin. Tapi..., aku gak berani. Bagaimana kalau Glavin marah? Entah apa yang akan terjadi padaku nanti. Lagipula...'


< "Mereka tidak akan marah selagi kamu tidak mengatakannya pada mereka" >


Itu adalah kata kata Alia sebelum pergi, yang tak sengaja diingat oleh Irene.


Kemudian, gadis itu langsung memukul kepalanya, dan menjatuhkan kepalanya keatas meja.


"Apa yang baru saja kamu pikirkan Irene?! Alia memang bilang begitu! Tapi kamu tidak boleh terus merahasiakan ini!" Gumam gadis itu dengan kesal.


Ia lalu mengangkat wajahnya, dan menatap spaghetti yang ada dihadapannya.


"Apaan coba? Bukannya kamu ( Alia ) bilang akan kembali dengan selamat? Kamu sama saja seperti orang itu ( Zelle )!"


Tak lama kemudian, beberapa teman sekelasnya datang menghampiri mejanya.

__ADS_1


"Irene, selamat pagi!" Sapa salah satunya dengan kacamata yang menggantung di hidungnya. Ditangannya terdapat sebuah nampan yang diatasnya adalah makanan yang ia pesan.


Irene mengangkat kepalanya sambil menoleh. Ternyata mereka adalah Manna, Jefry, dan Erdan.


"Ka-kalian?" Kejutan gadis itu.


"Apa kami boleh bergabung meja denganmu?" Tanya Manna dengan senyuman.


Irene mengangguk. Manna pun langsung duduk disebelah Irene. Juga Jefry dan Erdan yang duduk dihadapan mereka.


"Irene, sebaiknya kembalikan wajahmu yang dulu. Jangan terus murung begitu. Kalau kamu masih gak ngerelain kepergian Zelle, dia pasti gak bakal tenang disana" Ujar Jefry sambil menopang pipi kanannya dengan tangan. Hari ini dia tidak mood makan. Datang ke kantin hanya karena ingin menemani teman temannya makan.


Irene menunduk. 'Aku sudah merelakan Zelle, yang sekarang sedang membuatku seperti ini adalah Alia' Batinnya.


Saat itu Manna menghela nafas.


"Aku..., merindukan Alia" Tukas Manna lesu sambil menatap sebuah kotak susu rasa cokelat yang biasa dibeli Alia.


Irene yang mendengarnya tersentak. Disana, hanya dia yang tahu kabar tentang Alia. Hal itu membuatnya menjadi tidak mood lagi untuk makan.


"Kenapa kamu beli roti yang selainya cokelat? Kan kamu gak suka. Nih. Tadi aku sempat membelinya untukku pulang nanti, sih. Tapi Terimalah. Anggap saja aku sedang menghiburmu" Ucap Jefry sambil memberikan 2 bungkus roti selai Vanila.


"Makasih" Singkat Manna yang masih lesu sambil menerima 2 bungkus roti yang diberikan Jefry.


Erdan menatap Manna sejenak, kemudian arah tatapannya berpindah ke sendok yang diatasnya terdapat nasi goreng. Kemudian melahapnya, seraya berkata.


Irene mengepalkan tangan kanannya, dan kemudian menatap Erdan yang sedang mengunyah nasi goreng.


"Sekarang..., dimana dia?" Tanya Irene.


"Glavin? Tadi sih dia bilang, dia mau coba menghubungi nomor Alia. Tapi aku tidak tahu dimana. Mungkin saja dikelas" Jawab Erdan sambil melahap sesendok nasi gorengnya lagi.


Gadis berambut hijau gelap itu terdiam sejenak, lalu bangkit dari duduknya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Manna.


"Aku mau ke toilet. Kalau kalian mau spaghetti itu, makan saja. Aku sudah kenyang" Jawab Irene yang kemudian berlalu.


Jefry yang melihat ke berlaluan Irene menaikkan sebelah alis.


"Dia bilang mau ke toilet, tapi dia malah pergi membelakangi toiletnya. 😒"


Tukas Jefry.


"Sudahlah. Mungkin dia begitu karena masih mikirin Zelle. Kalian ada yang mau spaghetti gratis, gak?" Ucap Erdan menawarkan.


"Enggak" Jawab Manna dan Jefry kompak.


"Syukur deh"

__ADS_1


Didepan pintu kelas 3-2...


Irene membuka kecil pintu kelasnya. Didalam kelas itu, entah kenapa tapi tidak ada anak anak lain, hanya ada Glavin yang sedang berdiri menghadap jendela luar, dengan tangan yang sedang menggenggam ponsel. Saat itu tatapannya terarah kepada ponsel miliknya. Kemudian, Irene membuka pintu kelas itu, dan menutupnya kembali. Glavin yang mendengar suara pintu tertutup menoleh kebelakang nya, kemudian menghadapkan tubuhnya kearah Irene yang baru saja masuk kedalam. Tapi saat ini, lelaki bermata biru itu tidak memberi sapaan seperti Glavin yang biasanya. Ia juga menatap Irene dengan tatapan yang berbeda. Singkatnya, lelaki itu terlihat jauh berbeda dari sebelumnya.


"G-Glavin?" Panggil Irene.


Namun Glavin tidak menjawab, dan malah kembali menatap ponselnya.


Irene berdiri mematung. Ia merasa bahwa dikelas hanya terdapat Glavin, karena teman kelasnya yang tadinya ada didalam kelas pergi keluar setelah melihat lelaki itu yang sepertinya sedang dalam kondisi yang seharusnya tidak diganggu. Ya. Itulah yang saat ini sedang dirasakan Irene. Ia benar benar merasakan kakinya yang ingin berlari keluar kelas agar jauh dari Glavin.


Tapi gadis itu melawan keinginan kakinya, dan berjalan menghampiri lelaki bermata biru permata itu.


"Apa kamu sedang menghubungi Alia?" Tanya gadis itu sambil melirik ke ponsel milik Glavin. Seketika, gadis itu tersentak kaget setelah melihat apa yang dilihatnya.


'Glavin..., sudah menghubungi Alia sebanyak 47 kali?!' Batinnya yang kemudian menatap Glavin yang masih berniat untuk menghubungi nomor Alia.


'Percuma. Percuma saja. Tentu saja Alia tidak mengangkatnya. Semua ini percuma! Tidak ada gunanya!' Batin Irene lagi yang kemudian menyentuh tangan kiri Glavin yang menggenggam ponsel.


"Sudah cukup, Glavin. Alia..., Alia itu..., d-dia-"


Belum selesai Irene berkata, tiba tiba saja bel masuk kelas berbunyi. Glavin menarik tangannya yang ditahan Irene, dan berjalan menuju mejanya. Irene menatap Glavin diam. Kemudian ia juga berjalan menghampiri mejanya.


'Sebaiknya aku katakan saja yang sebenarnya kepada mereka. Ternyata aku memang tidak bisa terus menyembunyikannya'


Sepulang sekolah, didepan gerbang...


"Kenapa kamu mengumpulkan kami disini, Irene? Kalau memang ada yang ingin kamu katakan, sebaiknya cepat. Soalnya kami mau menemui Alia dirumahnya" Ucap Jefry.


Irene terdiam sejenak dengan tubuh yang gemetaran.


Manna, Jefry, dan Erdan yang melihat Irene seperti itu terlihat bingung.


"Irene? Apa kamu baik baik saja? Kenapa tubuhmu gemetaran begitu? Ada apa?" Tanya Erdan.


"Aku..., akan mengatakan yang sebenarnya kepada kalian, mengenai..." Putus Irene yang sedang mempersiapkan diri untuk menyebut kalimatnya yang terakhir.


"... Alia" Lanjutnya.


Seketika, Glavin yang tadinya sedang bersandar di tembok gerbang pun langsung menghadap kearah Irene dengan memberikan tatapan lekat.


Beberapa menit kemudian, setelah Irene mengatakan semuanya, tatapan mereka semua terlihat kosong. Tidak dapat disangka bahwa gadis berambut cokelat gelap itu benar benar datang kesana. Tak lama kemudian, Glavin membelakangi teman temannya, dan berjalan menjauh. Irene mengejar Glavin, dan menahan tangan kiri lelaki itu.


"Apa kamu..., akan pergi kerumah itu?"


Tanya Irene.


Glavin tidak menjawab. Juga tidak menoleh kearah Irene. Saat itu, tanpa perlu dijawab pun, Irene sudah tahu apa jawabannya. Sehingga ia memutuskan, bahwa...


"Aku ikut!" Tukasnya tegas.

__ADS_1


__ADS_2