He Is Luke

He Is Luke
Episode 13


__ADS_3

"Sepertinya kamu memang berkeinginan untuk mati, ya? Sudah gak sabar?" Alia menatap kesal sekaligus sedikit bingung dengan kata kata yang dilontarkan oleh anak berdosa didekatnya itu. "Apa maksudmu? Kamu memang mau bunuh aku, kan?" Di dalam rumah besar itu, Alia merentangkan kedua tangannya secara suka rela. Karena sejak awal ia sudah berpikir bahwa hidupnya akan selesai tak lama lagi. "Nih. Jangan lama lama, langsung bunuh saja. Aku sudah menyiapkan diri dari rumah 😤". Dan hal itu membuat si pembunuh terdiam. Senyuman yang tak dapat di artikan pun terbentuk diwajahnya. "Hei, kamu tidak lupa dengan janjimu, kan? Gadis nakal?". Alia diam. Tidak menjawab. Kemudian lelaki bermata merah tersebut melangkah mendekatinya. "Nah, harusnya dari situ kamu sudah tahu. Mana mungkin aku menyia-nyiakan janji itu dan malah langsung membunuhmu. Benar benar bukan aku. Tidak seru". Alia mengernyitkan alisnya kepada seorang lelaki yang ada tepat dihadapannya. 'Jadi si sialan ini mau apa, sih? Pengen deh aku menampar nya lagi. Mumpung dekat'. "Bagaimana dengan orang orang mu itu? Mereka membiarkanmu pergi begitu saja ke rumah ini?" Tanya anak tersebut sambil meraih beberapa helai rambut cokelat Alia. "Gak ada satupun yang tahu. Tapi sebelumnya, aku minta kepada adikku untuk bilang kepada ibu kalau aku akan menginap di rumah temanku". Jawabnya dengan tangan yang terkepal. Kemudian menepis tangan lelaki didepannya yang sedang memutar beberapa helai rambutnya. Kemudian senyuman aneh tiba di wajah pendosa itu. "Wah~, sepertinya kamu memang sudah lupa dengan janjinya, ya? Kamu baru saja melanggar, loh". "Aku tidak akan melanggar kalau kamu tidak menyentuhku. Beda lagi kalau kamu menyentuhku" Tukas Alia dengan dingin. Anak laki laki bermata merah didepannya mencondongkan tubuhnya kepada Alia sehingga membuat gadis itu tersentak kaget.


"Hei~, kata itu tidak terdengar di telingaku sebelumnya~. Kapan kamu menambah janjinya~?" Ucapnya dengan mata melotot dan seringaian membunuh. Alia ingin mengalihkan pandangannya, tetapi anehnya ia terpaku dengan tatapan itu. Sehingga membuat kedua matanya bergetar, begitu juga dengan seluruh tubuhnya. 'A-aku gak bisa bergerak. Kenapa?' . Tubuh lelaki itu pun ditarik kembali. Dan saat itu juga, Alia baru bisa bergerak. Kepalanya pun ditundukkan, dengan tubuhnya yang masih bergetar. Si pembunuh didekatnya, menatapnya tajam. "Ck! Kau membuatku kesal malam ini!" Tukasnya yang kemudian pergi berlalu.


'Dia pergi begitu saja. Apa aku membuatnya tersinggung?' . Saat itu, kakinya melemah. Membuatnya jatuh terduduk di sana. 'Memang benar kata kata itu tidak termasuk kedalam janjiku. Tapi..., mana mungkin aku membiarkannya begitu saja? Kalau dia sampai menyentuhku seenaknya dan semaunya, Itu bisa jadi pelecehan!'.


...


Ckreeekk...


Seorang wanita paruh baya membuka suatu pintu. Dan terkejut ketika melihat ruangan itu tak terdapat seseorang yang dicarinya. "Ibu" Panggil seorang anak laki laki bermata hijau. Wanita itu menoleh. "Kenapa ibu disini?" Tanya anak itu. "Arlex, dimana Alia?". Arlex terdiam sejenak menatap ibu. "Dia..., beberapa jam lalu bilang padaku untuk menyampaikan ini pada ibu. Kalau kakak izin untuk menginap di rumah temannya". "Apa? Kenapa tidak langsung bilang ke ibu?" Wajah ibu terlihat bingung dengan sedikit panik. "Aku tidak sempat tanya. Tapi mungkin dia mengira ibu sudah tidur. Dan tidak berani untuk membangunkan ibu" Jawab Arlex sambil menyeruput sebuah kotak susu rasa cokelat. 'Kakak, kamu berhutang sekali padaku. Aku sudah membantumu sampai harus berbohong pada ibu'.

__ADS_1


â—ˆ---\=---â—ˆ


"Malam ini aku akan menginap di rumah Niel. Jadi tolong bilang pada ibu, ya" Ucap Alia. Wajah Arlex terlihat bingung sekaligus kesal. "Apa maksudmu? Bilang saja langsung ke ibu. Kenapa harus aku yang bilang?". "Aduh~. Itulah kamu. Masalahnya, kalau aku langsung bilang ke ibu, sudah pasti aku gak diizinkan! Sudah ah! Pokoknya kamu bilang saja! Aku mau siap siap!" Alia mendorong paksa adiknya keluar kamar dan menutup pintunya.


â—ˆ---\=---â—ˆ


Arlex menatap ibunya kembali. "Temannya itu, apa maksudmu Manna?" Tanya ibu. "Bukan. Namanya..." Arlex terdiam sejenak. Ia masih ingat siapa nama teman kakaknya. Hanya saja ia merasa bahwa lebih baik membantunya. "... aku lupa siapa namanya. Intinya teman sekelas kakak yang lainnya" Anak bermata hijau itu melihat wajah khawatir sang ibu. Kemudian menghela nafas. "Ibu, jangan khawatir. Dia pasti baik baik saja. Aku punya firasat baik tentang kakak" Ya. Kata hati Arlex tidak pernah salah. Ia dapat tahu keadaan/kondisi siapapun yang ingin dirasakannya. Bahkan dirinya sekalipun. Karena itulah, ia tidak pernah terlihat memasang wajah khawatir untuk keluarganya selama ini. Kecuali saat dimana ayah mereka dalam kondisi mendekati kepergiannya. 'Kondisinya tak masalah. Keadaan hatinya seperti biasanya. Tapi terasa kesal, sedih, dan sedikit ketakutan. Apa kakak memang baik baik saja?' Batinnya menatap kotak susu cokelat yang di genggamnya. "Baiklah. Ibu akan coba tenang. Arlex, kamu tidurlah. Ini sudah lewat tengah malam" Ucap ibu yang kemudian menutup pintu kamar Alia, dan berlalu. Anak bermata hijau itu memperhatikan ke berlaluan ibunya. Kemudian menatap pintu kamar sang kakak yang terdapat namanya. 'Jangan membahayakan dirimu, b*d*h. Ibu bisa sangat sedih jika kamu ikut pergi bersama ayah' Batinnya.


...


Skip>>

__ADS_1


Beberapa lama setelah mengelilingi seluruh ruangan di sana, gadis itu kembali ke ruang utama. Pada akhirnya semua ruangan di rumah itu tidak ada yang bersih, walaupun sedikit. Dan hanya mendapatkan tubuhnya yang ikut kotor dan dipenuhi luka akibat benturan dan goresan benda lainnya. Ia pun duduk di sembarang tempat sambil menghela nafas panjang. "Rumah macam apa ini? Gak ada enaknya sama sekali. Semuanya kotor. Perabotan nya hancur semua. Kalo begini, lebih baik tinggal di hutan saja sekalian" Gerutunya yang kemudian terkejut melihat sekelilingnya yang semakin lama dapat dilihat kedua matanya. Ia pun bangkit dan mendekat ke jendela. Tanpa disadari sebelumnya, ternyata beberapa menit lagi matahari akan terbit. Jelas saja itu membuatnya ternganga. Dia bahkan sama sekali tidak tidur seharian. Cukup lama ia mematung di sana. Sampai-sampai matahari sudah mulai terlihat di mata cokelat mudanya. 'Aku..., aku melewati kesempatan tidurku...' Batinnya sedih sambil menjauh dari jendela dengan lesunya.


Gadis itu menghentikan langkahnya, dan melihat sekeliling. Mencari cari si penghuni yang semalam entah pergi kemana. "HEI PEMILIK! KELUARLAH! KAMU KEMANA SIH?!" Teriaknya kencang sehingga suaranya menggema di rumah itu. Karena tidak ada jawaban, ia pun melupakannya. Dan lalu berjalan mendekati pintu keluar. 'Mungkin dia gak tau kalau aku ada diruang utama. Apa sebaiknya aku keluar? Dengan begitu, aku gak akan pernah melihat mukanya lagi' Batinnya sambil terkekeh. Sebelum tangannya meraih pintu didepannya, tiba tiba ia teringat sesuatu yang dikatakan oleh si pembunuh.


â—ˆ---\=---â—ˆ


"Tanggung sekali janjinya. Tambah 1 janji lagi, dan itu akan jadi 10" Ujar lelaki bermata merah tersebut. Alia menghela nafas. "Ya sudah. Katakan saja! Akan aku terima". Orang itu pun tersenyum. Senyuman yang sulit diartikan. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya kepada gadis didepannya. "Berjanjilah, bahwa kamu tidak akan pernah keluar dari sini setelah kembali ke rumah ini". Tanpa perlu berpikir lama, Alia mengangguk dan mengatakan janjinya itu untuk yang kesepuluh.


â—ˆ---\=---â—ˆ


Gadis berambut cokelat gelap tersebut mematung didepan pintu. Seraya berkata dalam hati 'Sialan. Kenapa saat itu aku benar benar berpikir akan langsung dibunuh saat kembali ke sini? Akhirnya malah aku yang susah!'. Ia pun menarik kembali tangannya. Dan membelakangi pintu keluar. 'Aku gak boleh melanggar janji itu. Itu bukan hal yang baik'.

__ADS_1


Ia melihat sekelilingnya yang kotor dan sangat berantakan. Itu benar benar membuatnya geram. "Aah! Lupakan saja soal kabur! Aku lebih gak kuat lagi kalau melihat rumah besar seperti ini yang didalamnya gak terawat" Alia mengepalkan kedua tangannya. "Wahai rumah besar, berhubung aku tidak ada pekerjaan lain, jadi aku berniat melakukan pekerjaan sehari hari ku. Jadi jangan khawatir. Aku akan mengatasi mu". Kemudian ia memperbaiki tulang tulang tubuhnya. Bersiap siap untuk membersihkan rumah besar itu seorang diri.


__ADS_2