
Hujan sudah reda beberapa saat yang lalu. Dan langit siang sudah kembali. Di halte dekat sekolah, Glavin masih menetap. Tentu saja, karena ia sedang menunggu teman kecilnya yang memintanya untuk menunggu di halte itu. Lelaki berambut kuning dengan mata biru permata nya itu kemudian menatap ponselnya, dan menghubungi nomor seseorang yang sejak tadi ditunggu tunggu nya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif " Itulah yang didengar oleh anak muda itu. Glavin lalu kembali menatap ponselnya. 'Apa yang sedang dia lakukan?' Tangan kirinya terkepal kuat, dengan wajahnya yang sedang ditahan agar tetap terlihat santai. "Tuan muda, apa terjadi sesuatu?" Tanya Naobe yang memperhatikan dari dalam jendela mobil. Naobe mengerti raut wajah itu. Ditambah dengan kepalan tangan Glavin. Itu adalah ekspresinya ketika ia sedang sedikit marah kepada Alia, namun juga sedang merasa khawatir terhadap gadis itu. Tapi lelaki puluhan tahun itu hanya menatapnya dengan diam tak berkata kata.
Tak lama kemudian, "Glavin!" Panggil seseorang secara tiba tiba. Kedua mata Glavin membesar, kemudian ia menoleh. Suara itu tak lain adalah milik Alia. Dari halte itu, Glavin melihat Alia yang berlari kearahnya dengan tangan kiri yang dia lambaikan, dan tangan kanannya yang terlihat membawa 3 kantong plastik belanjaan. Wajahnya menampakkan aura bahagia ketika bertemu dengannya. "Aku minta maaf!" Tukas gadis itu yang langsung melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Glavin. Tentunya Glavin kaget dengan perlakuan teman kecilnya. Walaupun sebenarnya ia mengerti kalau Alia tahu ia sedang marah. Dan ingin mencoba agar ia memaafkannya. "Maaf, Glavin..." Alia mengulang ucapannya. Saat itu, Glavin hanya terdiam merasakan pelukan hangat dari Alia. Dan selang dari situ, ia pun mulai membuka mulutnya. "Baiklah. Aku memaafkan mu" Tukasnya. Setelah mengatakan itu, perasaan marah dan khawatirnya menghilang. Sekarang ini ia tersenyum lembut. Alia pun mendapat balasan pelukan dari Glavin. Hal itu membuatnya senang, karena ia dapat dimaafkan. Dan Glavin yang lembut seperti biasanya juga telah kembali.
Kemudian, Alia melepas pelukan itu. Dan memberikan seringai-an nya kepada Glavin. Tapi, malah membuat lelaki itu kaget ketika melihat wajah Alia. Dipipinya terdapat sebuah goresan yang cukup dalam. "Alia, benda apa yang menggores pipi mu?" Glavin menggantung poni samping Alia ke telinganya, dan mendekatkan wajahnya. Luka itu membuat wajah khawatir Glavin terlihat sangat jelas dimata Alia. Gadis berambut cokelat gelap itu mematung tak berkata kata. 'S*alan! Kenapa aku lupa? Bisa bisanya juga gak terasa sakit. Kalo gini kan, aku yang bakal susah! Ah! Dasar ba*ingan! Awas saja malam nanti!' Alia memasang wajah kesal di pikirannya. Dan membayangkan kakinya yang menginjak wajah si pembunuh itu sambil tertawa puas.
"Jawab aku!" Glavin menyentuh kedua pundak Alia. Sedangkan gadis itu sejenak memperhatikan kedua mata permata Glavin yang bergetar, lalu sedikit menundukkan kepalanya. "Sebenarnya..., tadi itu... ada sedikit masalah yang menimpaku" Jawabnya. "Masalah apa yang sampai membuatmu begini?". "Aku sempat... sempat bertemu dengan... tiga... tiga preman. Terus, pipi ku mengenai benda tajam yang dibawa mereka. Tapi..., tapi ada orang yang datang membantu, kok. Karena dia, aku selamat" Jawabnya dengan senyuman yang diberikan kepada Glavin. 'Glavin, maaf karena bohong! Aku terpaksaaaa!!!'. Gadis itu menjerit dalam hati. Wajah anak laki laki itu masih sama. Namun yang ini, ditambahkan dengan senyumnya. "Syukurlah ada yang membantu. Aku senang mendengar bantuan itu". Naobe ikut tersenyum ketika melihat tuan mudanya bisa sedikit tenang. "Sekarang, aku akan mengantarmu pulang. Ayo" Glavin meraih tangan kiri Alia, dan membawanya masuk kedalam mobil.
...
"Dasar anak b*d*h!" Alia yang mendengarnya hanya diam menunduk di depan pintu masuk rumahnya. Siang ini, ia mendapat omelan lagi dari seorang wanita paruh baya dihadapannya. "Kamu itu benar-benar anak yang paling b*d*h di keluarga ini!". 'Waah..., aku bisa melihat wajahnya yang terbebani dengan kata "b*d*h" itu' . Arlex terkekeh dalam hati dibelakang ibu. Sedangkan Alianna yang berdiri didekat Arlex, mengelus dadanya dengan hembusan nafas lega. Wajahnya juga terlihat lega melihat adik perempuannya yang kembali dengan selamat. Walaupun ia sebenarnya melihat luka dalam di pipi gadis itu. Ya setidaknya..., ia masih terlihat sedikit dalam keadaan baik. Tapi beda dengan wanita paruh baya yang masih memasang wajah marahnya.
__ADS_1
Secara tiba tiba, suatu hal membuat tubuh Alia mundur beberapa langkah. Matanya membulat ketika tahu kalau wanita itu sedang memeluk putri keduanya dengan erat. "Kamu itu..., memang anak yang b*d*h" Suara ibu terdengar bergetar ditelinga Alia. Alia melirik kearah ibu. Meskipun tidak dapat melihat wajahnya, tapi ia sangat yakin kalau wanita paruh baya itu sedang menangis. "Kamu tidak hanya sekali berbuat seperti ini. Harusnya kamu tahu, kan? Ini sudah menjadi kebiasaan yang paling buruk mu!". Ibu melepas pelukannya, dan langsung mengarahkan mata hijaunya ke luka goresan di pipi kiri Alia. "Kenapa pipimu bisa begini? Pasti sangat sakit, kan?" Wajah khawatir ibu terlihat merasa nyeri saat melihat luka itu. Ia bisa merasakan bagaimana perihnya. Gadis bermata cokelat muda itu tersenyum sedih kepada sang ibu. "Sesuatu memang terjadi, tapi ibu gak perlu sekhawatir itu". "Gimana ibu gak khawatir, sih? Luka ini dalam, Alia!" Geram wanita itu. Bahkan setelah mendengar perkataan putri keduanya barusan, wajah galaknya kembali lagi. Semua yang ada di sana tertawa. Sedangkan Glavin yang berdiri dibelakang Alia tersenyum.
Skip>>>
Alianna mengantar Alia ke kamarnya. Setelah tiba, gadis bermata hijau yang sama seperti ibu dan Arlex itu, menarik kembali tangannya dari kedua pundak adik perempuannya. Alia menghadap kakaknya. "Nah, kamu istirahatlah. Jangan buat ibu khawatir lagi. Oke?" Alianna memberikan seringaian nya. "Iya, iya". Pintu kamar tertutup. Alianna sudah keluar, meninggalkan Alia yang tetap didalam.
'Sekarang, gimana caranya?' Gadis berambut cokelat gelap itu langsung tenggelam didalam pikirannya. Ia terus teringat dengan janji janji yang dikatakannya saat itu. 'Gimana caranya biar ibu dan yang lain gak khawatir lagi? Tengah malam nanti kan aku udah harus kesanaš«! '. Alia beranjak duduk di sebuah kursi, kemudian menyentuh kepalanya dengan siku yang menempel di atas meja. 'Hhh~, aku nyesel. Semenjak aku pergi ke rumah itu, nasibku jadi buruk! Eh, bukan! Bukan karena rumah itu, tapi gara gara anak stress itu! Bisa bisanya juga dia bangga habis bunuh orang, gak takut dosa emang!' Gadis berambut cokelat itu lalu menyalakan komputernya, dan membuka internet, yang kemudian terkejut ketika tahu kalau TGG telah mengabarkan suatu berita. 'Oh iya, hari ini mereka pasti mengabarkan hasil wawancara dengan Glavin, kan?' Dengan tanpa rasa sabar, Alia meng-klik berita baru itu.
...
Di tengah tengah itu, entah kenapa suatu teriakan mengejutkan Arlex di ujung game. Padahal ia mengenakan headphone, tapi bisa bisanya teriakan itu masih dapat masuk ke telinganya. Sehingga membuat jarinya meleset, dan mengakibatkan karakternya mati ditangan monster yang langsung menyerangnya.
Game Over!!!
__ADS_1
Sunyi sejenak. Wajah anak berusia 12 tahun itu jelas sekali terlihat kesal. Kemudian ia melepas headphone yang dikenakannya, dan langsung pergi menuju kamar tersangka yang membuatnya kalah dalam game.
Braaakkk!
"BERISIK TAU!" Bentak Arlex yang mendobrak pintu kamar Alia. Gadis berambut cokelat gelap itu melongo melihat adiknya. "Gara gara suara keras nan jelekmu itu, aku jadi kalah!". Alia terkekeh mendengarnya. Kemudian meminta maaf dengan wajah main main. Arlex yang tahu itu, jelas tidak mau meladeni. Karena yang memang ia ketahui, Alia memang tidak pernah mau mengakui kesalahannya didepannya tanpa bersikap main main. Meskipun dimata Alia semua itu hanya sebuah gurauan untuk adiknya. "Kamu ini, apa gak ada kerjaan lain? Kenapa gak tidur aja?" Ujar Arlex dengan nada yang masih kesal. Sedangkan Alia, ia terdiam sejenak. Di penglihatan Arlex, sepertinya gadis itu sedang memikirkan sesuatu. Karena merasa perasaan tidak enak yang datang tiba tiba, anak laki laki itu beranjak pergi dari kamar kakaknya sambil mengucapkan selamat malam.
Namun sebelum melewati pintu, sebuah tangan meraih kerah baju yang dikenakan Arlex. Seketika perasaan merinding menyelimuti nya. "Adikku sayang~, boleh gak kalo kakak minta tolong sesuatu~?" Ucap Alia dengan nada merayu. "JANGAN MEMPERDENGARKAN NADA ITU! AKU YANG DENGAR KAN JADI JIJIK!" Teriak Arlex sambil memutar tubuhnya menghadap Alia. Membuat kerah bajunya terlepas dari tangan sang kakak. Sedangkan, gadis didepannya terkekeh. "K-kakak mau minta apa?". 'Dasar nenek lampir! Bisa bisanya membuatku merinding!' Batinnya dengan tubuh yang bergetar.
Sebelum menjawab pertanyaan Arlex, Alia menyeringai.
Skip>>
"Sumpah. Aku menyesal" Alia menatap rumah besar didepannya. 'Lagian, kenapa juga aku bilang janji ke anak itu?'' Angin lewat berhembus dengan kencang. Membuat dahan pohon pohon besar di sana terguncang, dan dedaunan nya berjatuhan. 'Ya..., mau gimana lagi ya? Akhir hidup ini juga sudah dekat. Mungkin cerita ini akan berakhir saat aku sudah mati'. Kedua pintu besar itu terbuka lebar. 'Ya. Begitulah. Seperti yang kalian tahu'. Tepat di sana, menampakkan seseorang berpakaian hitam, dengan mata merah darahnya yang menyala. "Selamat datang kembali...". 'Nasibku..., berubah sejak bertemu dengan anak sialan ini'. Mata Alia bertemu dengan mata merah lelaki itu, yang kemudian menyeringai seraya melanjutkan kalimatnya. "...gadis nakal."
__ADS_1