He Is Luke

He Is Luke
Episode 8


__ADS_3

Sebelumnya...


"Bagaimana? Mau bekerja sama?"


Alia terdiam sejenak menatap lelaki bermata merah darah itu. Sedang mencoba berpikir cepat. Dan...


"Enggak! Harus kulaporin!" Jawabnya dengan wajah yang terlihat kesal.


Lelaki itupun tertawa.


"Baik, baik. Bukan masalah bagiku. Kalau gitu, selamat tinggal" Katanya sambil melayangkan tangannya yang menggenggam sebuah pisau yang tertuju kepada bagian jantung Alia.


"Bentaaarr!!! 😫"


Lelaki itupun menghentikan pergerakannya.


"Oke..., aku gak akan lapor! 😩" Tukas Alia.


"Mukamu tidak terlihat meyakinkan. Aku gak percaya" Ucap lelaki itu sambil melayangkan kembali tangannya lagi.


"Aku serius lhooo! Jangan bunuh aku!"


tangan yang menggenggam sebuah pisau itu berhenti dengan jarak 1 cm dari dada bagian jantung Alia. Membuat nafas gadis berambut cokelat gelap itu terhenti beberapa detik.


"Buat aku agar sedikit percaya" Tukas lelaki tersebut.


"Emangnya aku harus apa biar kamu percaya, ha?"


Tanya gadis itu dengan nafas yang sudah kembali normal.


"Bilang, 'Aku janji gak akan bocor ke orang, kalau sampai bocor, aku siap dengan nyawaku yang langsung melayang'. Sekarang!"


" 'A-aku janji! Aku janji gak bakal bocorin ke orang orang! Kalau sampai bocor, aku siap kalau nyawaku langsung melayang pergiii!!! 😫"


Lelaki itu kemudian menyeringai.


"Nice!" Katanya sambil menyimpan kembali pisaunya.


"..., terus?" Bingung Alia dengan alis yang terangkat.


"Apanya yang terus?" Tanya balik lelaki itu.


"Aku harus tetap duduk disini gitu? 🙁"


"Ya iyalah. Biar mereka yang datang kemari mencarimu. Oh iya, sepertinya..., gak akan seru dengan kondisi yang seperti ini"


"Ha?"


Lelaki bermata merah tersebut keluar dari ruangan itu, dan tak lama kemudian ia masuk kembali masuk kedalam ruangan tadi sambil mengunci pintu ruangan itu.


"Kok dikunci? Kamu mau apa? 😶"

__ADS_1


Langkah lelaki itu mendekat kepada Alia yang kedua kakinya masih terikat kuat. Hal itu membuat gadis itu semakin bingung dengan jantung yang berdetak kencang. Dengan gerakan cepat, kedua tangan gadis itu diikat kembali oleh si pembunuh tersebut.


"Kok diikat lagi? Kamu mau nga-"


"Sssttt..., jangan berisik" Ucap lelaki itu pelan sambil menyeringai, dengan jari telunjuknya yang menyentuh bibir Alia. Bahkan saat itu, wajah mereka sangat dekat.


"Memangnya, kamu pikir aku mau apa? Apakah mungkin..., kamu berpikir bahwa aku akan melakukan sesuatu padamu?" Seringaian lelaki itu masih sama.


"Tentu saja iya!" Lanjut lelaki tersebut.


Seketika, Alia yang mendengarnya langsung menutup kedua matanya. Dan akhirnya tidak tahu apa yang dilakukan lelaki dihadapannya tadi.


"Jangaaann!!!"


Crooott...


Gadis berambut cokelat gelap itu, merasakan sesuatu yang baru saja jatuh ke kepalanya, yang kemudian mengalir ke wajahnya. Kedua mata cokelat mudanya terbuka.


"Apa yang kamu lakukan barusan?" Tanya Alia dengan raut wajah bingung.


"Harusnya aku yang tanya hal itu. Kenapa kamu teriak? Jangan jangan kamu memang berpikir kalau aku akan melakukan itu padamu? 😑"


"Mana ada! Aku gak mikir gitu!" Tukasnya dengan wajah yang memerah.


"Ya terserah. Lagian juga aku gak mungkin ngelakuin itu, apalagi orangnya kamu" Ledeknya santai.


'Hhh~, tahan Alia. Tahan~' Ucap Alia menahan marah dalam hati.


Crooott...


"Hei!" Kejut Alia yang bajunya tiba tiba disemprotkan saus.


"Apa apaan ini? Kenapa kamu menyemprotkan nya padaku?!" Alia memasang wajah kesal. Tidak terima.


"Kamu akan tahu nanti. Tadi juga aku menyemprotkan benda ini ke kepalamu. Memang terasa panas kalau kelamaan. Tapi jangan khawatir. Nanti sang pahlawanmu akan tiba secepat mungkin"


Tak lama kemudian, mereka mendengar suara pintu terkunci yang didorong.


"Itu pasti dia. Tapi sayang sekali, ya. Aku sudah mengunci pintu itu"


Saat itu, Alia berniat ingin berteriak memanggil Glavin. Tapi terhentikan karena si pembunuh itu meliriknya dengan tajam. Sehingga gadis itu hanya bisa diam tanpa membantah. Ya~, dari pada langsung dibunuh kan, pas ngebantah.


Beberapa menit kemudian, mereka tidak mendengar suara dari luar sana.


"Waah wah, sepertinya pahlawanmu itu tidak benar benar berniat untuk mencarimu. Buktinya, pintu yang ku kunci tadi sama sekali tidak disentuhnya lagi. Dan dia malah pergi begitu saja" Ucapnya yang kemudian menatap Alia.


"Mungkin kamu sudah tidak dianggap penting lagi baginya" Lanjut lelaki bermata merah tersebut dengan seringaian nya.


'Itu tidak benar. Glavin bukan orang yang dengan mudah membuang seseorang. Terutama orang yang dekat dengannya, kan? 😟' Batin gadis itu.


Kemudian, lelaki itu mengambil sebuah lakban dan gunting yang ada disalah satu laci meja. Dan menggunting nya yang setelah itu, lakban tersebut ditempelkan ke mulut Alia.

__ADS_1


"Nah, dengan begini kamu tidak akan berisik lagi. Pasti akan seru nanti"


Beberapa menit kemudian, Alia dan lelaki tersebut mendengar suara teriakan Glavin. Meski terdengar samar dan tidak terlalu jelas.


Saat itu, si pembunuh bermata merah darah itu sedang menatap keluar jendela. Sehingga...


Alia sengaja menjatuhkan cermin besar yang ada didekatnya dengan kepala. Lelaki diruangan itu langsung menatap Alia dengan kesal.


"Apa maksudmu?! Kenapa kamu menjatuhkan cerminnya?!"


Alia yang mulutnya dilakban tidak menjawab. Ia malah menatap lelaki itu dengan alis yang diturunkan. Dan membuat lelaki itu semakin kesal sehingga ia menendang keras sebuah kursi yang diduduki Alia. Alia dan kursi tersebut terlempar jatuh menyamping, didekat pintu keluar. Lengan kiri Alia yang terikat dibelakang kursi terasa sakit karena tertimpa tubuhnya sendiri.


"Sejak tadi aku sudah berusaha menahan hawa membunuhku! Tapi kenapa kamu malah memancingnya?!"


Alia tidak berani menatap lelaki tersebut. Tubuhnya saja sudah gemetaran. Ia memang tidak ingin menghancurkan cermin itu, tetapi ia terpaksa karena tubuhnya terasa sangat sakit. Tidak kuat bertahan selama berjam jam dengan tubuh yang terikat begitu.


"Bukannya aku tidak ingin membunuhmu! Tetapi semua ini tidak sesuai janji! Setelah perjanjian itu, aku hanya bisa membunuhmu kalau kamu membocorkan nya pada orang lain! Tapi sekarang, aku batalkan kerja samanya! Kamu boleh melapor pada mereka! Tapi..., hidupmu akan tamat. Walaupun kamu tetap diam"


Suara dobrakan pintu terdengar. Lelaki itu lalu memasuki tempat terdalam ruangan itu yang terlihat sangat gelap.


BRAAAKK!!!


Glavin dan kedua polisi lainnya berhasil masuk keruangan tersebut dan melihat Alia yang sedang dalam kondisi kurang baik.


Dengan cepat, Atei dan Teddy langsung membuka ikatan tali yang mengikat tangan dan kakinya. Juga membuka lakban yang menutupi mulut gadis itu.


Lelaki dengan mata biru permata langsung memeluk Alia.


"Aku..., aku senang kamu masih hidup. Aku sangat senang" Tukas Glavin dengan air mata yang mengalir di pipinya. Atei dan Teddy ikut senang melihat Alia.


Glavin lalu melepas pelukannya. Dan melihat Alia yang terdapat banyak sesuatu yang berwarna merah.


"A-apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu berdarah? Apakah rasanya sangat sakit? Aku akan langsung me-"


"Aku tidak apa apa. Ini juga bukan darah, hanya saus" Kata Alia dengan senyumannya.


"Sejak kapan nona terikat begitu? Apa tubuhmu tidak sakit?" Tanya Teddy heran.


"Emm..., tidak ju-"


"Alia. Jangan terus berbohong. Aku sangat senang kamu tidak terluka parah. Tapi, aku akan tetap membawamu ke rumah sakit untuk pemeriksaan" Tegas Glavin.


"Glavin, kalau begitu sebaiknya kita cepat kembali" Ujar Atei yang kemudian berdiri, dan disusul oleh Teddy. Glavin mengangguk. Lalu, ia menggendong Alia dibelakangnya. Mereka pun pergi dari ruangan tersebut.


Sesampainya diluar, Alia turun dari gendongan Glavin. Dan langsung dipeluk erat oleh Irene. Gadis berambut hijau gelap bergelombang itu menangis tanpa henti. Betapa senangnya ia, kalau ternyata Alia masih hidup. Memang sebuah kejadian mengejutkan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Keluarga Alia dan teman teman yang lain, juga pihak sekolah sudah diberikan kabar bahwa Alia baik baik saja, dan akan langsung dibawa ke RS untuk melakukan pemeriksaan. Beberapa mobil polisi sudah kembali. Saat Alia hendak memasuki mobil yang sebelumnya dinaiki Glavin, gadis itu berhenti sejenak dan menatap jendela lantai 3, yang tadi menjadi tempat utama kejadian itu. Ia terdiam ketika melihat seseorang disana. Yang pastinya, Alia tahu bahwa orang tersebut adalah lelaki bermata merah yang sebelumnya ada bersamanya diruangan itu.


"Ada apa, Alia?" Tanya Glavin yang menyadarkan Alia.


"Enggak, kok" Singkat gadis itu yang kemudian masuk kedalam mobil, juga Glavin yang menyusul masuk.


Mobil polisi itu pun melaju pergi dengan cepat. Seseorang yang ada dibalik jendela, mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Aku membencinya!" Tukas lelaki bermata merah darah tersebut yang menatap ke berlaluan mobil itu dengan tajam. Hari ini adalah hari dimana lelaki itu merasa lebih kesal daripada hari hari sebelumnya.


__ADS_2