
Jam istirahat, di kantin...
"Kalian sudah tahu kan soal Zelle? Yang benar saja dia ini. Kenapa dia malah pergi ke rumah itu? Lagipula dia juga malah tidak percaya kalau rumah itu berhantu"
Tukas Erdan sambil melahap mie.
"Alia, dengar ini. Kamu jangan pernah mendatangi rumah itu. Rumah itu BER-HAN-TU! Kalau kamu sampai pergi ke sana untuk melakukan hal yang sama seperti Zelle, aku tidak akan menganggapmu temanku lagi"
Ujar Manna kepada Alia yang hanya terdiam menatap mie yang terhidang dihadapannya.
"Alia?"
Panggil Manna.
"Sudahlah Alia, aku tahu kamu sedang merenung bahwa selama ini kamu salah. kami benar kan? Hantu itu memang ada"
ucap Jefry sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.
Saat itu Alia masih terdiam. Seakan akan gadis itu tidak mendengar ucapan teman temannya.
Mau bagaimana pun juga, akhirnya mereka hanya bisa diam dan membiarkan Alia yang sepertinya sedang tidak baik moodnya.
Sepulang sekolah, didalam kamar Alia...
Gadis berambut cokelat itu hanya duduk diam diatas ranjangnya. Ia jadi penasaran soal apa yang terjadi pada Zelle di rumah itu. Saat disekolah, ia mendengar bahwa beberapa teman kelasnya, beberapa guru, kepala sekolah, keluarga Zelle, dan polisi akan datang ke rumah besar tersebut untuk mencari hilangnya Zelle. Manna, Erdan, dan Jefry tidak datang karena mereka benar benar takut. Sebelumnya, ketika di kantin mereka sudah membahas soal ini. Bahwa mereka janjian untuk tidak datang.
Saat itu Alia berkata bahwa ia akan datang, tetapi Manna, Erdan, dan Jefry benar benar melarangnya sehingga mereka mengantar Alia sampai ke rumahnya. Mereka tidak ingin sesuatu terjadi pada salah satu teman dekatnya, terutama Alia yang paling keras kepala diantara mereka.
Namun saat ini, keinginan untuk pergi semakin menjadi jadi. Pada akhirnya pun siang itu ia pergi dengan seragam SMP yang masih dikenakannya.
Sesampainya ditempat tujuan...
'Ternyata rumah ini memang ada' Batin Alia yang baru tiba.
Disekitar rumah itu sudah datang banyak warga sekitar, dan didekat jurang juga terdapat beberapa polisi, orang rumah sakit, dan beberapa teman kelasnya. Alia pun mendekat ke sana, dan ketika ia sudah didekat sana, ia melihat keluarga Zelle yang tampak menangis. Ia juga melihat Irene yang juga sedang menangis, didekatnya terdapat teman lainnya yang menenangkan gadis cantik itu.
Alia mendekati Irene dan yang lain.
"Zelle..., dimana?" Tanya Alia.
Salah satu dari teman yang menenangkan Irene menunjuk kearah jurang yang sedang dikerumuni polisi dan orang rumah sakit dengan raut wajah yang terlihat sedih.
Alia terdiam sejenak menatap Irene yang masih menangis. Ia lalu berjalan menuju kerumunan orang yang ada didekat jurang.
Dan saat itu ia melihat Zelle yang sudah mati dengan tubuh yang terdapat banyak luka tusukan.
Seketika, kedua mata Alia membesar. Ia langsung menjauh dari sana sambil menutup mulutnya. Gadis itu merasa mual. Bau darahnya sangat tajam, tercium amis. Selain itu, ini juga pertama kalinya ia melihat mayat secara langsung. Terlebih luka yang didapat cukup mengerikan.
Gadis berambut cokelat gelap itu lalu menoleh kearah rumah besar yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya. Dan ia melihat sesuatu di jendela lantai 3. Alia menyipitkan kedua matanya agar terlihat sedikit jelas. Ia tidak tahu apa yang dilihatnya, entah itu memang hantu atau manusia. Tetapi sesuatu itu terlihat tersenyum mengerikan kepada Alia. Alia yang melihatnya langsung menunduk beberapa detik dan kembali menatap kearah jendela lantai 3. Namun ia sudah tidak melihat apa apa lagi.
'Tadi itu..., apa? Hantu? Tidak! Tidak mungkin kan kalau itu hantu?'
Batin Alia yang kemudian pundaknya disentuh oleh seorang lelaki berambut kuning dengan mata biru yang terlihat seperti permata. Gadis itu terkejut dan langsung menghadap kebelakang.
"Glavin?!"
__ADS_1
Kejutnya.
"Apa yang kamu lakukan disini, Alia?"
Tanya lelaki itu yang raut wajahnya terlihat marah.
Ia adalah Glavin Kelzaeer. Sang ketua kelas dikelas Alia, sekaligus teman kecilnya, dan bisa dibilang lelaki yang selalu menjaga dan menyayangi Alia.
"Aku..."
Gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya.
"Bukannya Manna dan yang lain sudah melarangmu untuk datang kesini? Tapi kenapa kamu malah tetap datang?"
Gadis itu hanya diam menunduk.
Glavin terlihat menghela nafas, dan menggenggam tangan kiri Alia.
"Kalau begitu tetap didekatku, dan jangan kemana mana"
Tukas lelaki itu sambil menarik Alia untuk sedikit menjauh dari rumah itu ke tempat yang cukup ramai.
"Glavin, kamu sendiri..., ngapain?"
Tanya Alia.
"Aku membantu ayahku memblokir rumah ini lagi. Coba kamu lihat tanda blokir itu. Selalu saja rusak seperti itu. Aku sampai heran kenapa bisa sampai serusak itu. Padahalkan orang orang sudah hampir tidak ada yang berani lagi kesini"
Jelas Glavin sambil menunjuk ke tanda blokir disekitaran rumah besar itu yang memang sudah terlihat rusak.
Alia yang juga menatap tanda pemblokiran itu lalu menatap Glavin.
"Apakah..., memang benar kalau semua ini ulah hantu?"
Tanya Alia yang menatap Glavin dengan lekat.
"Entahlah. Aku tidak tahu soal itu. Yang ku tahu, hantu itu tidak ada"
Alia manggut manggut. Bahkan Glavin berpikiran yang sama dengannya. Ya~, itu memang sudah jelas untuk orang seperti Glavin yang sifatnya dewasa.
"Oh iya, kamu... sudah melihat Zelle kan?"
Tanya Glavin dengan nada yang terdengar rendah sambil menatap mata cokelat muda Alia.
Alia yang mendengarnya jadi teringat tubuh Zelle yang dipenuhi luka tusukan, dan ia juga jadi mengingat bau amis darah itu. Hal itu membuatnya menjadi mual kembali. Glavin yang melihat Alia, terkejut dan langsung menopang gadis itu yang ingin jatuh.
"Kamu tidak apa apa kan? Maaf, aku lupa dan malah mengatakannya"
Ucap Glavin.
Alia menggeleng. Berkata bahwa Glavin tidak bersalah.
Hari mulai sore.
Glavin mengantar Alia yang masih tidur untuk pulang dengan mobil yang dikendarai oleh supir pribadi lelaki itu. Saat masih dirumah besar tadi, Alia sempat tertidur di tempat teduh yang disana juga terdapat Irene dan teman kelas lainnya. Karena melihat Alia yang terlihat tidur karena lelah, Glavin membawa gadis itu pulang kerumahnya.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Alia, ia digendong oleh Glavin kedalam kamarnya. Ibu Alia berterima kasih kepada Glavin karena telah mengantar pulang putrinya dengan baik. Ketika ingin masuk kedalam mobil, seseorang berambut cokelat gelap pendek keluar dari dalam rumah dan menyapa Glavin.
"Hai!"
Sapanya dengan lambaian tangan sambil bersandar didinding.
Ia adalah kakak perempuan Alia yang telah menginjak kelas 3 SMA. Alianna Vertissertia.
"Hai kak! Selamat sore!"
Balas Glavin menyapa Alianna.
"Selamat sore. Glavin, terima kasih karena sudah mengantar adikku dengan selamat"
Ucap Alianna dengan senyuman berteman. Ia memang orang yang mudah berteman ( gaul ). Selain itu, ia juga gadis yang tomboi. Kebanyakan temannya adalah laki laki. Mau yang lebih muda, seumuran, ataupun tua dan tua renta sekalipun, ia menganggap semua itu adalah temannya.
Glavin mengangguk dan membalas senyuman Alianna dengan senyuman yang sama.
"Ngomong ngomong, bagaimana hubunganmu dengan anak itu?"
"Seperti biasa, kak"
Jawab Glavin.
"Dekati lagi, dong. Dia itu memang bukan anak yang polos, jadi kamu harus lebih dekat dengannya, ya. Agar dia bisa membalas perasaanmu itu"
Canda Alianna dengan suara kecil agar jika Alia sudah bangun, ia tidak mendengarnya.
Glavin tertawa kecil mendengar kata kata Alianna yang memang sering bercanda.
"Kalau begitu, aku permisi ya kak. Dah~"
Pamit Glavin sambil memasuki mobilnya.
Alianna melambaikan tangannya.
Malam harinya, dikamar Alia...
Gadis itu terdiam didepan layar komputernya. Ia teringat dengan apa yang ia lihat di jendela lantai 3 rumah besar itu.
Tak lama kemudian, ia juga teringat perkataan Erdan yang berkata tentang berita internet yang sering memberitakan tentang rumah besar itu. Alia lalu mencari tahu tentang rumah besar tersebut diberita internet.
Ia membacanya dari awal. Dan disalah satu paragraf, ada yang paling membuatnya terkejut. Bahwa ada banyak orang yang menjadi korban setelah memasuki rumah itu. Diberita itu juga terus terusan membahas tentang hantu. Membuat kepalanya jadi semakin pusing memikirkannya. Hari ini, ia malah lebih banyak mendengar soal hantu dari pada sebelumnya.
'Hhh~, hantu itu tidak mungkin ada' Batinnya sambil menyentuh kepalanya.
Alia terus membaca berita internet itu sampai akhir.
'Yang dikatakan Manna, Erdan dan Jefry memang ada diberita ini. Sebenarnya..., hantu itu tidak ada, kan? Iya! Pasti tidak ada! Tidak mungkin ada! Tapi berita ini...' Batin Alia yang kemudian terdiam. Memikirkan sesuatu.
Tak lama dari situ, Alia mengepalkan tangan kanannya.
'Oke. Sudah kuputuskan. Malam besok, aku akan datang kesana, untuk melihat secara langsung! Kalau semua ini bukan ulah hantu! Dan hantu itu tidak ada!'
Batin gadis berambut cokelat gelap itu. Tekadnya sudah benar benar bulat.
__ADS_1