Hello Ex, I'M Coming (Hallo Mantan, Aku Datang)

Hello Ex, I'M Coming (Hallo Mantan, Aku Datang)
Bab 10 Mata Itu Mengingatkan Akan Sesuatu


__ADS_3

"Selamat pagi Nona muda" sapa para pelayan di rumah itu. "Agi" Deona tersenyum ramah, hingga gigi ompongnya itu terlihat.


Pelayan yang hendak melangkah ke kamar Deona untuk merapikan kamar gadis itu, harus menghentikan langkahnya ketika Deona memekik.


"Hati-hati nona" mereka tampak.kuatir, jika tuannya tahu, bisa di pastikan mereka akan kehilangan pekerjaan.


"Nona duduk disini dulu, nanti Kak Rose bawakan sarapan nona jika sudah selesai di masak si mbah ya" Deona mengangguk.


"Mba Ita keatas dulu beresin kamarnya Nona"


"Sutopp bak.." pekik Deona, hingga lagi-lagi langkah dua pelayan itu harus terhenti karena gadis itu.


"No bak, mommy masih bobo di kamar Ona" Gadis itu terlihat manis sekali ketika bicara.


Para pelayan itu pun undur diri karena mereka akan mengerjakan pekerjaan lain lebih dulu.


Deona yang bosan akhirnya bermain Pussy kucingnya yang kebetulan baru saja bangun tidur. Kucing bertubuh besar dan bulu lebat itu menhampiri Deona, seolah mengucapkan selamat pagi pada Deona.


Bobby pun datang menghampirinya dan pussy. Anjing siberian husky itu mengangkat satu kakinya keatas paha Deona. Deona tampak asik dengan dua peliharaannya. Deona berlari kesana-kemari. Bercanda bersama kucing dan anjing miliknya.


"Bobby lapar? Pucy juga? Deona juga lapar tapi mama belum bangun, sabar ya" Deona mengelus-elus anjing dan kucing miliknya.


Deona tidak ingin kedua peliharaannya kelaparan, dengan inidiatif dia berjalan kedapur untuk meminta pada pelayan untuk memberikan Bobby dan Pussy lebih dulu makan. Dia akan menunggu makananya matang lebih dulu.


Ternyata tidak ada orang di dapur. Merasa mampu mengambil makanan Bobby dan Pussy di dalam lemari, Deona menaiki sebuah bangku yang ada di dapur itu.


Dan Berhasil. "Yeay, Bobby, Pussy mamam ya, aku udah..."


brukk...


Deona


***


Yemima tidur dengan bersandar di headboard ranjang mewah itu. Deo, Daniel masih ada disana. Yang sama lelahnya hingga tertidur dengan posisi duduk.


Kenan? Entah kemana pria itu menghilang, tidak ada yang tahu kapan pria itu pergi. Semalaman Deo mengintrogasinya. Namun pria itu tidak percaya dengan ucapannya, semua yang dia katakan adalah bohong bagi pria itu.

__ADS_1


Hingga akhirnya dia memilih untuk bungkam saja. Dering ponselnya membangunkan semua orang yang ada di kamar itu. Tanpa peduli pada orang-orang itu Mima sudah mengangkat ponselnya lebih dulu.


Wajahnya berubah panik, Mima segera berlari sambil memeluk tasnya. Namun usahanya sia-sia. Deo menatap Mima datar, "Kau tidak akan bisa keluar sebelum anda mau mengatakan siapa yang menyuruhmu"


"Saya sudah katakan, tidak ada yang menyuruh saya, Saya salah kamar"


"Lagi pula saya tidak merugikan anda, saya tidak meminta pertanggung jawaban anda kan?" perasaan panik semakin membuatnya bertindak berani.


"Tolong Tuan saya harus pulang sekarang" Deo tidak peduli, pria itu mengenakan Jas mahal miliknya. Lalu berjalan menhampiri Mima lagi "Ingat, kau tidak akan pernah keluar sebelum identitasmu terbongkar" bentak Deo.


Pria itu segera meninggalkan ruangan itu, Sementara Mima hanya bisa menangis di depan orang-orang itu "Nona sebaiknya anda mengaku saja, agar anda bisa keluar dari sini" nasehat Daniel sebelum keluar"


Tangis Arshinta perlahan menyurut ketika orang-orang di dalam ruangan itu mulai keluar. "Bagaimana keadaannya?"


"Hanya luka ringan, kapan kau pulang?" Gio terdengar mencemaskannya. "Kak, Ariana dimana?" Mima justru malah balik bertanya. Pasalnya panggilannya tidak di jawab Ariana.


"Ini, lagi bantu Deona minum" Mima bernafas lega. Lama mereka berbincang dan sudah pasti Ariana masih marah padanya.


"Kami segera datang, Sudahi aja ya" Mima menggeleng padahal Gio tidak bisa melihat gelengannya.


"Gak kak..." Tiba-tiba seseorang merampas ponselnya. Mima sedikit kaget melihat pria yang berdiri di sampingnya itu.


"Tapi sampai kapan aku disini..Astaga Deona"


Daniel mengambil ponselnya yang tertinggal dan membawa ponsel Mima bersamanya.


***


Mansion Patibrata.


Seorang wanita yang terlihat cantik itu, meski belum tentu cantik memiliki inner beauty itu. Tampak duduk dengan anggunnya, sebelah tangannya memegang gelas berisi Wine, sebelah lagi memegang berkas yang dia ambil dari ruangan Deo.


"Siapa wanita ini" gumam Mariana, bibi Deo. Mendengar jika Keponakannya itu pulang, dia segera menyimpan berkas itu dengan rapi.


Dia sudah merencakan sesuatu untuk Deo. Dengan wajahnya yang penuh keceriaan, dia menyambut ponakannya itu. "Oh ya, adikmu juga mau liburan di Indonesia, biarkan dia memakai villa mu yang ada di Bali ya" Deo mengangguk, Bibi Mariana terpekik senang ketika Deo dengan mudahnya mengijinkan putranya menggunakan Villa Deo.


"Istirahatlah, bibi gak akan mengganggumu lagi" Deo mengangguk lalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Kenapa mata itu menggangguku, aku seperti mengenalnya, No Deo, stop berhentilah..arrgh"


Wanita itu sudah bahagia bersama pria pilihannya, Kenapa lo masih ingat dia bajingan. Deo merutuki dirinya sendiri.


Flashback


"Hai...Apa kau punya streples?" Seorang gadis yang saja memotong rambutnya dengan potongan pendek itu, sedikit terdiam.


Siswa pria yang tadinya ingin meminjam streples itu berbalik, dia pikir Siswi perempuan yang sering menyendiri itu tidak akan meminjamkan Streples yang dia pinjam tadi.


"Ini" jawaban singkat itu segera membawanya berbalik dan mengambil Streples itu. "Sini tugasmu, biar aku bawakan" kata Pria paling manis yang pernah gadis itu temui.


"Oke beres. Ini streples mu, Oh ya namamu siapa?"Pria itu masih saja tersenyum manis, membuat siapa saja yang melihatnya meleleh.


"Edrea"


"Deo"


Dan itu terbukti, murid baru itu memanglah pria manis dan idaman semua siswa perempuan di Citra Bangsa itu, kepopuleranya segera tersebar hanya dalam jangka waktu tidak sampai satu minggu.


Tidak ada perubahan yang signifikan dalam hidup Edrea meski pria yang membuat jantungnya berdebar itu selalu ada dan selalu terlihat.


Ya hanya itu yang dia bisa lakukan, menikmati ciptaan Tuhan dari jarak jauh. Dia sama sekali tidak bisa bertindak seperti gadis-gadis lainnya.


Perempuan pendiam sepertinya tidak akan terlihat dan hanya sebagai peldngkap disegala keadaan.


melihat wajah tampan itu saja dia sudah menciut nyalinya, apalagi mengajaknya bicara. Namun ada suatu keadaan dimana Edrea harus meminta tolong pada pria itu.


Hanya Deo saja yang dia rasa bisa membantunya, hingga akhirnya. Suatu hari ketika pulang sekolah, Ketika jadwal pria itu memberihkan kelas, Edrea menunggu Deo di depan kelas, di bawah pohon dimana ada beberapa bangku taman yang dirancang disana.


"Loh, belum pulang?" Edrea menggeng. Pria itu tampak seperti berfikir, lalu duduk di sampingnya. Edrea tidak ingin menggeser duduknya, namun jantungnya berdegub kencang, meski hanya ujung lengan bajunya yang bersentuhan dengan lengan pria itu.


Apa dia tidak merasa gerah?Itu yang muncul dalam pikiran Edrea. " Ada apa? Apa kau menunggu seseorang?" Edrea menggeleng.


"Apa kau sakit" Edrea menggeleng lagi. Deo tampak Berdecak. "Ayolah, kenapa menggeleng terus, bisa-bisa orang-orang tidak akan mengenal suaramu atau mengira kau bisu lagi" Deo terkekeh. Edrea hanya mengerucutkan bibirnya.


"Apa kau punya masalah?" Edrea mengangguk tapi Deo malah tertawa. "Is..kenapa ketawa?"

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2