
AAAAA....
Deo segera menjauh dari ranjang itu sambil menutup telinganya, wanita ini meski mungil teriakannya sangat memekakkan telinga.
"Ck, Belum makan saja, teriakanmu bisa sekencang itu, apalagi jika sudah makan. "Ini makanlah dulu, setelah itu kita bicara "Yemima memandang makanan yang ada di depannya, "Maaf, saya tidak makan daging." tolak Mima.
"Ck." Deo berdecak, menatap kesal pada Mima.
"Baiklah kemarikan"
Yemima segera mengambil piring yang sudah ditangan Deo itu dan segera memakan makanan itu dengan pelan.
"Ck. Sok jual mahal sekali" gerutu Deo.
Yemima makan tidak lebih lima belas menit, ternyata semua makanannya tandas tak bersisa. Sepertinya setelah ini dia akan pusing memikirkan cara untuk menurunkan berat badannya.
"Sudah selesai kan nona. Jadi, mari kita mulai bernegosiasi." Arshinta mengerutkan dahinya, apa maksud pria ini dengan bernegosiasi?
"Tuan jika yang anda ingin bernegosiasi tentang siapa yang menyuruh saya tidur dengan anda, saya rasa anda tidak perlu melakukan itu. Karena jawaban saya tetap sama, saya tidak disuruh oleh siapapun tuan." Deo menatap tajam Yemima, namun gadis itu tidak takut sama sekali.
"Siapa yang ingin anda dengar saya sebut namanya, biar saya ucapkan sekarang agar semua fantasi anda itu menjadi nyata."ujar Yemima sambil tersenyum sinis.
"Apa kau mengataiku tidak waras dan hanya sedang berfantasi?"
"Iya.. lalu apa lagi kalau tidak waras? Bukankah itu yang anda inginkan, saya HANYA PERLU menyebut nama seseorang KAN? Hah? Bukankah ini gila, bagaimana saya tahu siapa musuh anda?" Mima terus berceloteh, memancing amarah Deo yang sudah akan siap meledak.
"Hei... Jaga ucapan anda nona" pekik Deo sambil mencengkram rahang Yemima. Lalu melepaskan cengraman itu dengan kasar.
"Jika bukan itu yang anda inginkan, lalu apa? Saya harus kembali bekerja tuan, saya bukan orang kaya seperti anda yang uangnya tidak akan habis sampai kapanpun, saya butuh makan. Saya perlu bekerja" Sungguh akting Mima sangat cocok untuk memenangkan awards tahunan diacara tv. Kali ini dia menunjukkan seseorang yang tengah emosi.
"Oho...apa jangan-jangan semua ini hanya drama anda untuk meminta pertanggungjawaban saya atas kejadian malam itu? Come on tuan, mari kita lupakan malam itu ya, anda pantas mendapat wanita yang lebih baik. Rasanya saya kurang pantas. Saya tidak punya uang untuk bertanggung jawab dan mengajak anda menikah"
"Aih...asta....ga... anda benar-benar pede sekali nona...wah" Deo menatap tak percaya pada wanita ini, sampai tidak bisa berkata-kata. Bisa-bisanya dia berfikir bahwa Deo akan meminta pertanggungjawabannya.
__ADS_1
"Ck..apa anda semiskin itu, sampai kaca pun tidak punya untuk bercermin? Besar sekali kepercayaan dirinya, saya tidak tertarik sama bekas orang" Wajah Yemima seketika sendu namun secepat mungkin dia terlihat biasa saja dan membalas pria di depannya ini.
"Bekas orang lain lebih berpengalaman daripada situ pasti baru pertama kali sampai kaget dan malah bikin drama untuk mendapat pertanggung jawaban saya." ucap Mima ketus.
"Ya ampun nona, untuk apa saya minta anda bertanggungjawab? Kurus, mungil, pesek, sama sekali bukan tipe saya. Rugi saya, kalau anda jelas beruntung."
"Idih kepedean, menarik enggak cowok seperti anda tuan. Pemarah, jutek, dingin, menyebalkan.....
aku mau pulang...tolonggggg" Deo membekap mulut Mima, jika sampai di dengar pihak hotel bisa berabe urusannya.
"Bisa diam gak? Kalian sebenarnya sedang apa hah?" Kenan yang entah sejak kapan disana semakin pusing mendengar perdebatan dua orang itu.
"Makan" jawab dua orang itu bersamaan. Kenan menggeleng-gelengkan kepala. "Ck, serah lo orang aja, gue capek" Kenan segera pergi dari ruangan itu.
"Bisa diam gak?"
"Gak, siapa suruh nuduh saya menjebak anda, lagian ya kita sama-sama menikmatikan, ya udah sampe situ aja, kenapa jadi panjang gini sih?"
Samar-samar suara mereka masih tersengar dari luar hingga pintu itu tertutup. "Dejavu" gumam Kenan.
"Ada apa tuan?"
"Bagaimana hasil dari ponsel yang Daniel berikan padamu beberapa hari lalu, tidak ada hasil?" Erik menggeleng.
"Tidak ada tuan, kami juga sudah memeriksa semua kontak yang ada di ponsel wanita itu. Wanita itu yatim piatu dan juga hanya punya dua orang sahabat tapi mereka tidak bertemu beberapa hari ini, karena wanita itu ada disini. Disana juga ada beberapa nomor rentenir yang baru dia lunasi hutangnya. Dan terkakhir, panggilan keluarnya ke nomor ini, tapi ini kartu sekali pakai saja tuan, kami tidak bisa menghubungi nomor ini tuan." Kenan mengangguk-angguk pria tampak seperti sedang berfikir. "Menarik....wanita itu benar-benar cari mati" Kenan segera menuju kamar dimana Deo dan Mima masih berdebat. Sebelum melangkah jauh, Kenan mengingatkan pada Erik untuk memberikan laporan tentang ponsel itu pada Deo.
Sementara seorang pria diantara pria berbaju hitam itu tersenyum sinis.
"Jangan berteriak pada saya, berani sekali anda nona" bentak Deo. Rahang Deo mengeras, Deo benar-benar marah.
"Anggap saja kesalahan atau kebodohan itu tidak pernah ada, mari kita lupakan dan jangan di perpanjang, anda tidak terima dikatakan gila, tapi apa anda sadar anda menyandra saya disini, saya tidak bisa bekerja karena anda, ini gila tuan" pekik Mima. Mima mengabaikan perkataan Deo, tidak peduli pria itu suka atau tidak.
"Masih belum kelar juga" seru Kenan yang sudah berada di depan pintu itu. Bertepatan dengan datangnya Daniel yang terliha terburu-buru.
__ADS_1
"Apa kau sudah menerima apa yang di kirimkan Erik" Daniel mengangguk, nafasnya masih ngos-ngosan.
"Lo tahu nggak? Entah kenapa aku merasa mengenal wanita ini, ck..apa gue terlalu sensitif ya, ssst...mungkin karena sudah lama rasanya gue belum makan darah."Mata Kenan menyipit, seperti memindai seorang Mima. Namun Daniel mengabaikan ucapannya.
"Tuan beberapa Investor mencabut investasinya" lapor Daniel pada Deo.
Deo mengepalkan tangannya, rahangnya semakin mengeras.
"Kau lihat? Jika bukan karenamu, jika bukan karena ulah tuanmu, perushaanku tidak akan seperti ini" Deo menatap tajam Yemima, sama halnya Yemima juga menatap tajam Deo.
"Enak aja nyalahin orang, pokoknya saya mau keluar, saya mau kerja. Saya gak ada urusan dengan Anda." Yemima mau melangkah keluar dari ruangan itu.
"Nona berhenti! Urusan kita belum selesai"
"Urusan kita sudah selesai tuan, meski bukan keinginanmu tapi kau membantu orang yang menyuruhmu masuk kedalam kamarku" Yemima berdecih, "Anda benar-benar aneh, Orang-orang anda begitu banyak, tapi mencari musuh anda sendiri saja, anda menyandera seorang warga sipil seenak jidat."
"Mana buktinya jika aku bekerja sama dengan orang yang anda maksud?" Deo terdiam, belum ada bukti yang bisa menuduh wanita itu bersalah dan seorang mata-mata atau wanita bayaran musuhnya.
"Ini buktinya" Seketika senyum kemenangan yang terukir di bibir Mima menghilang. Bukti? Bukti apa? Bagaimana ini. Batin Yemima.
Dalam hati dia berteriak minta tolong pada Mark. Dengan gerakan gugup Yemima menyampirkan rambut yang ada di telinganya. Rambut hitam,lurus dan tebal itu hampir kusam karena tidak keramas dua hari ini. Berusaha tenang Yemima merapikan rambutnya dan menjepit rambut di sekitar telinganya dengan jepit berwarna hijau yang berbentuk kupi-kupu itu.
"Ini hasil pemeriksaan kami dari ponsel wanita ini, banyak percakapan yang sudah di hapus, hanya beberapa kontak yang tertinggal, namun setelah di periksa Erik, tidak ada hasil yang mencurigakan. Dua sahabatnya bahkan tidak bisa bertemu dia dya hari ini. Tetapi tuan, beberapa nomor yanga ada di ponsel itu adalah nomor para rentenir dan nomor satu lagi nomor yang tidak diketahui pemiliknya, kartu sekali pakai Yo" Deo menyimak semua penjelasan Kenan.
"Kemungkinan besar itu orang yang memerintahkannya Yo" tambah Daniel. Mata Daniel menatap tajam Yemima.
Diluar kamar mewah itu, Andrew terlihat berjalan mengawasi sekitar, namun mendengar semua pembicaraan yang ada di dalam lewat earpiece yang dia gunakan "Zona Merah" bisiknya sambil memegang Earpeace yang ada ditelinganya.
"Zona merah"
"Zona merah"
"Zona merah"
__ADS_1
"Apa? Siapkan anak buahmu, pantau terus, Arrggg kenapa kalian tidak bisa bekerja bersih kali ini hah?" bentak Mark.
Bersambung..