
Dua hari setelah, wanita tidak di kenal itu kabur dari kamar hotel tempat kejadian itu terjadi.
Deo belum menerima hasil apapun dari Daniel, sejauh ini dia berusaha bersabar agar dia tahu apa siapa musuh yang sudah menjebaknya.
"Mana hasil kerjamu Nil? Ini sudah dua hari, Apa kita harus biarkan nama perusahaan di seret-seret begini? Suara Deo sudah meninggi, sedangkan Daniel masih diam saja, dia memang sudah berusaha, namun selalu gagal. Kali ini musuh mereka benar-benar cari mati.
"Sorry bos, Kami sedang berusaha"
"Jangan usaha-usaha terus hasil gadak Niel, pala lu gak pusing lihat berita yang bersliweran diluar sana".
Deo memalingkan wajahnya keluar gedung perusahaannya.
"Siapa kau, siapa yang menyuruhmu?" gumamnya dalam hati
***
Di tempat lain, Seorang pria tua asing, yang tak lain dan tak bukan adalah Mr. Shawn.
Pria itu tampak tersenyum puas atas pekerjaan anak buahnya.
Akibat berita besar yang mulai tersebar di seluruh kota Nama Patibrata Group mulai diperbincangkan.
"Semua sudah sesuai dengan rencana, kita bisa melanjutkan dengan rencana selanjutnya"
Mr.Shawn tertawa di dalam ruangan mewahnya setelah panggilan itu selesai.
"Sean, Daddy akan membalaskan dendam kamu " setetes air matanya jatuh membasahi pipinya.
YEMIMA
Sementara itu di Si Enak Restaurant, semua orang sudah mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing, karena sudah di jam makan siang para pelanggan mulai berdatangan.
"Si..siang Mima?"
"Si..siang Anya" dua orang beda usia itu tersenyum kikuk, lalu mulai melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
"Aarghh...bisa gila aku" pekik Mima ketika sampai di ruang ganti. Ruangan itu kosong, hanya ada dia disana, semua orang sudah mulai bekerja sejak tadi.
"Dasar Ariana"
Tok..tok
__ADS_1
Seorang wanita tinggi dan cantik masuk kedalam ruangan itu. "Silahkan dipakai, ini sudah waktunya kerja" Ucap wanita itu dengan wajah datarnya. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Mima sendirian.
Hanya suara bunyi jam dinding yang kini terdengar. Tik..tok..tik.tok. Mima segera tersadar ketika punggung wanita tadi menghilang di balik pintu.
"Wah..." gumamnya.
Lima menit kemudian, Mima sudah siap untuk bekerja lengkap dengan uniformnya.
Terlihat cantik.
"Wah....Noona" pekik seseorang.
"Cantik banget sih ?" ucap pria itu. Mima hanya mengangkat sebelah bibirnya, tidak ada senyum disana, malah matanya menatap David jengah.
"Tangan mu" Pria itu segera melepaskan tangannya. Masih dengan senyum manisnya.
"Apa kalian hanya akan mengobrol saja?" wanita berwajah tanpa ekspresi itu kembali menghampirinya dan David. "David, bukankah ini waktunya kerja?" David hanya melongo, lalu mengangguk karena senggolan tangan Mima.
"Huft...ini semua demi Noona" Mereka berdua pun turun menuju tempat kerja masing-masing. Tidak ada obrolan lain selain ucapan trimakasih dari Mima untuk David.
Dari balik pintu berwarna coklat, yang dengan jelas tertulis di sebuah papan " KHUSUS KARIAWAN" David naik ke lantai tiga sementara Yemima menuju dapur.
Suara gesekan wajan dengan spatula itu jelas terdengar sejak memasuki ruangan itu. Beberapa orang berteriak menyebutkan pesanan. Apakah sudah serame ini, ini masih pagi. Oh, iya Mima telat hari ini. Mungkin sekarang sudah mau masuk jam makan siang.
para junior helper pun mulai membantu para seniornya. Mereka terlihat semangat sekali. Mima pun segera berjalan ke arah pak Yudhi yang terlihat sibuk dengan wook yang ada di depannya.
"Hai Mima, santai aja ini cuma dua meja aja" Kata pak Yudhi. " Iya pak, saya cek pancake di depan dulu". Pak Yudhi mengangguk sementara Mima sudah berjalan melewati ruang para weiter/weitress. Tempat dimana weiter dan weitress menyiapkan cutleries dan perlengkapan lainnya.
Pintu besar berornamen itu adalah salah satu pintu penghubung antara Restaurant dan dapur. "Macet..tin..tin..." ejek teman satu kerjanya, Ryan. Yemima hanya berdecak, "Makanya makan itu yang banyak Mim, biar ada tenaga ni badan".
Yemima tidak menanggapi. Pria itu segera mendahului Yemima.
Di lantai atas ada cafe bagian dari restaurant. di design kekinian, gaya milenial.
Restaurant ini sudah berdiri dua tahun ini dan masih ramai pengunjung. Pemiliknya belum pernah berkunjung, hanya ada manager dan baru saja ada pergantian manager cafe.
Dan ada satu peraturan baru yang harus mereka patuhi selama mereka bekerja di restaurant Si Enak Restaurant.
Mereka harus tutup mulut dan menganggap segala yang terjadi di dalam resto tidak ada. Jika tidak mau nasib mereka harus menyandang status pengangguran siang ini juga.
Suasana Restaurant itu akan sangat ramai di waktu siang hari. Saat makan siang berlangsung, hampir tidak ada jeda untuk istirahat hingga jam istirahat tiba, barulah semua shift pagi turun untuk makan siang. Sementara di gantikan oleh shift sore yang baru masuk.
__ADS_1
Bahkan hingga waktu pulang kerja, restaurant itu tetap ramai. Mima, Astrid dan lainnya sudah keluar dan akan pulang. Astrid lebih dulu pergi sebab sudah di jemput pacarnya. Hari sudah gelap.
"Sial, mereka datang lagi" gumamnya. Melihat ada ojek yang lewat, Yemima segera naik ke atas motor kang ojek tersebut, Beberapa menit kemdian dia tersadar akan sesuatu. "Pak, ke kelapa tiga ya pak"
"Iya Neng, Siap" Mima mengangguk. Pikirannya mulai berkeliaran. Akhir-akhir ini pikirannya tidak bisa tenang. Banyak orang yang mengikutinya.
"Loh...mobil itu kenapa ngikutin kita ya bu" ucap sang supir. " Mbak ada masalah sama pemilik mobil itu bu?". Bapak ojek itu tampaknya mulai panik. Mima tetap diam saja.
"Eh... Kelapa tiga neng" pekik sang supir, " Disini aja pak" Mima segera turun. Tidak lupa juga dia membayar ongkosnnya. Tangan supir itu sudah terlihat gemetaran. "Hati-hati pak mengemudinya pak, mereka ada masalah sama saya kok" ucap Mima tenang, sementara bapak ojek itu tampak lega.
Mima berjalan tergesa-gesa menuju kostan yang baru dia tempati kemarin. Sesekali dia melirik kebelakang, lalu mempercepat langkahnya, bahkan sesekali berlari kecil.
Ceklek.
Dia merosot kelantai sesampainya masuk kedalam kosatan itu. Nafasnya masih memburu. Semoga mereka tidak bisa menemukan dirinya.Lewat jendela dia mengintip keluar. Benar-benar tepat waktu, orang-orang berbadan besar itu terlihat di halaman dan masih mencari keberadaannya.
Yemima menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. Ini gila. Kenapa hidupnya berjalan seperti ini? Kenapa keputusannnya selalu saja berujung buruk. Dengan langkah lemas dia berjalan ke kasur tipis miliknya
"Huhh..capeknya" Yemima merebahkan tubuhnya di kasur tipis yang dilapisi sprei tipis di dalam kamar kostnya itu.
Hari ini terasa sangat melelahkan, nafasnya masih ngos-ngosan setelah lari dari orang-orang yang mengejarnya sejak dua hari yang lalu, entah siapa yang memerintahkan mereka.
Untung saja dia selamat dari kejaran orang-orang bertubuh besar tadi.
Kini pikirannya melayang, seolah me-replay semua kejadian hari ini.
Meski niatnya tidak tidur dengan pria itu, namun semuanya terjadi. Perlahan air matanya keluar begitu saja.
"Aku benar-benar memalukan"
Matanya menatap langit-langit kamar itu, udara malam ini ternyata sangat dingin, sementara selimut yang dia punya hanya selimut kecil dan tipis. Benar-benar hidup baru yang sempurna. Air matanya belum juga surut, padahal malam semakin larut. Pikirannya kini melalangbuana entah kemana-mana. Masa lalunya seolah terulang kembali.
sial...sial
Langkahnya selalu salah, niat hati ingin membantu tetapi berakhir dengan One Night Stand dengan pria itu. Lalu sekarang bagaimana?
Lelah dengan pikirannya Mima akhirnya jatuh dalam tidurnya. Rasanya baru sebentar dia memjamkan mata, namun tiba-tiba gedoran di pintu kostnya itu mengusik waktu istirahatnya.
Mima hanya menggerutu dalam hati, kepalanya berdenyut karena bangun tiba-tiba karena karena kaget.
Gedoran itu semakin menunjukkan ketidaksabaran orang di balik pintu itu. Dengan langkahnya yang malas, Mima berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu perlahan setelah mengintip dari jendela.
__ADS_1
tiba-tiba seseorang memeluknya.
Bersambung...