
Setelah mendapat kabar tentang keadaan Deona, Mima sedikti merasa lega.Tapi entah sampai kapan dia akan di Sandra di kamar mewah itu. Apa mereka selalu menculik seseorang dan dibawah ke hotel mewah? Ini diluar Ekspectasinya. Sibuk dengan pikirannya sendiri, Mima yang sedang berdiri di balkon itu sedikit kaget ketika Kenan masuk dengan membuka pintu kamar itu dengan kasar. “ Apa tidurmu enak nona? Kamu sangat beruntung karena markas kami sedang di renovasi, anda harus menginap di hotel mewah ini. Ah anggap saja rezeki terakhirmu” Kenan mulai berceloteh.
Yemima diam saja mendengar ucapan pria itu. “Jangan mengorbankan dirimu nona, jangan buat susah dirimu atau jika tidak tolonglah kasihani kami. Kami juga bosan begini, masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan. Mari kita bekerjasama Nona” Kenan mencoba membujuk Yemima agar membuka suara siapa yang sudah menyuruhnya menjebak Deo.
“Ck. Saya tidak disuruh siapapun, saya salah kamar” jawab Mima dengan tenang. Kenan menatapnya tidak percaya. Mima diam saja, terserah pria yang ada didepannya itu mau percaya atau tidak. Sebenarnya Mima bosan sekali berada di dalam ruangan itu, tapi saat ini yang dia harus pikirkan, bagaimana caranya agar semua rencananya berjalan dengan lancar. Mima tersenyum kecut.
“Ikat dia” perintah Kenan tiba-tiba. Mima yang kaget dengan perintah Kenan itu, meronta-ronta saat dua orang bodyguardnya menarik paksa dirinya untuk duduk di sebuah kursi dan mulai mengikat tubuhnya,“ Dia sudah terlalu di manja, kita akan tunjukkan bagaimana cara kita bekerja” Kenan menatap tajam kepada Mima. “ Tali ini gak akan di buka sampai kau mau mengatakan siapa yang menyuruhmu” Suara Kenan sudah mulai meninggi.
“Saya sudah bilang, saya hanya salah kamar, lalu saya harus bagaimana? Menikahi pria membosankan itu?” tantang Mima. Kenan semakin murka, gadis ini berani sekali melawannya, tangannya sudah terangkat untuk memukul gadis itu, namun dering ponsel Kenan sore itu benar-benar menyelamatkan diri Mima, Kenan buru-buru pergi dari kamar itu, menyisakan dirinya dan beberapa orang yang berjaga disana.
Seorang pria muda, mungkin hanya berbeda beberapa tahun diatasnya menghampiri seorang temannya, entah membisikkan apa pria berwajah sangar itu keluar dari ruangan itu. Setelah semua aman, Andrew mendekat dan mulai melepaskan Mima. “ Uuuh sakit ternyata” gumamnya, “ Tentu sakit nona” jawab pria itu sambi terkekeh kemudian mengunci kamar itu.
“Mataharinya cerah tapi kita harus ada disini, enak kan jika bisa minum kopi sekarang” Yemima berjalan ke arah balkon. “ Nona ingin minum kopi?” Mima terkekeh, “ Andrew, astaga Andrew, pasti pacarmu nanti bahagia bersamamu, kamu sigap dan peka. Tidak-tidak terlalu peka ini mah” Melihat Nona mudanya tertawa begitu membuatnya berfikir, kenapa menyusahkan diri hanya untuk seorang mantan? Andrew menggeleng saat menyadari pikrannya yang keliru. “ Sorry ya Ndrew, kamu jadi gak bisa kencan”
“Nona jangan mengejek saya, saya belum punya kekasih” Mima berbalik menatap tidak percaya pada Assistennya tersebut. “Wah, bagaimana bisa, wajah setampan ini, tidak mungkin tidak ada yang mengejar kan?” Andew hanya terkekeh, “ Bagaimana saya bisa mencari pacar jika saya disini menjaga nona”
“Ya sudah, kamu bisa pergi” Andrew kaget, padahal niatnya becanda malah di tanggapi serius atasannya, jika dia di pulang dan tidak dipekerjakan lagi adik-adiknya makan apa nanti. “ Nona saya hanya bercanda, Maafkan saya nona” Mima justru tertawa terbaha-bahak, “ Saya juga bercanda Ndrew, Oh ya bagaimana keadaan Anja di Restaurant si Enak?”
“ Masih mengomel nona, karena pekerjaanya tidak menantang katanya”
“ Dasar bocah itu, katakan untuk bersabar sebentar lagi” Andrew mengiyakan, dan mulai ikut memandang keluar gedung.
__ADS_1
Angin cukup kencang akhir-akhir ini, Meski terik tapi tetap terasa sejuk. Dari balkon kamar itu, Yemima bisa melihat gedung-gedung tinggi, dan jalan raya yang dilintasi kendaraan. Pemandangan indah itu kemudian tertuju pada mobil yang baru saja masuk kedalam lobby hotel itu. Bukan mobilnya yang menarik perhatiannya, tetapi orang yang keluar dari mobil itu. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, kenangan masa lalu itu seolah diputar dalam benaknya. Yemima memegangi dadanya yang terasa sesak, hingga jatuh terduduk di lantai.
“Nona, anda kenapa? Nona?” Samar-samar Yemima masih mendengar suara Andrew yang berlari dan membuka pintu, dan verteriak memanggil seseorang dari luar. Derap langkah orang-orang itu pun masih terdengar dan perlahan menghilang.
***
Deo
Hari semakin sore, tapi Lobby hotel itu tiba-tiba dipenuhi wartawan, Para Wartawan itu dengan setia dan gigih menunggui narasumber untuk berita yang tiba-tiba ditayangkan ekslusif oleh satu stasiun televisi siang tadi. Deo dan anak buahnya terpaksa masuk melewati tangga darurat. Berita itu cepat sekali menyebar dimedia sosial. Entah siapa yang membuat berita yang dibuat dengan narasi yang tidak sesuai dengan faktanya. Deo sudah tidak bisa menunggu lagi, dia harus segera mengetahui siapa pria yang menyuruh wanita itu. Agar dia bisa menyerang balik.
Brak..
“ Dimana Kenan, Kenapa dia tidak disini?”Deo membentak semua orang, hingga derap langkah itu mengambil semua atensi mereka, “Lo udah disini? Kenapa gak ngabarin? Di luar ada wartawan banyak banget” Dengan polosnya Kenan tanpa mengerti tatapan kemarahan Deo padanya. Deo berdecak, “Kenapa tidak panggil dokter”
“Dokter sudah dalam perjalanan tuan” jawab seseorang dari mereka.
Belum lima menit sejak dia bertanya tentang dokter yang belum kunjung datang Deo sudah bertanya lagi, “ Dokternya dimana? Kenapa lama sekali? Apa kalian ingin mengatakan kemungkinan macet? Apa kalian tidak bisa melakukan sesuatu mengatasi itu? Katanya mafia” Deo benar-bener menyebalkan saat ini, Kenan berusaha menahan emosinya, dia mengerti sahabatnya itu sedang dalam masalah besar saat ini. Tapi tetap saja Kenan menggerutu, Dunia nya di hina sahabatnya yang pemarah ini.
“Sabar sedikit kenapa, mending urus tuh wartawan” Deo terdiam, apa yang harus dia lakukan mengatasi para wartawan itu. “Lo benar-bener semakin terkenal sekarang” Kenan terkekeh ketika melihat berita yang dia putar di televisi.
“ Bukannya pemimpin stasiun televisi itu kakak kelasmu dulu?” Kenan mengangguk, “ Ya boleh lah hubungi dia, katakan untuk menghentikan rumor ini, janjikan saja kita akan memberikan berita eksklusif pada mereka. DO tv Niel, katakan untuk membuat berita-berita terupdate jangan hanya menyoroti diriku” Dengan patuh mereka semua mulai mengerjakan tugas masing-masing.
__ADS_1
“Bagaimana keadaannya dokter?” tanyanya pada Dokter yang baru saja memeriksa Yemima, “Maaf tuan, apa nona sudah makan?” Melihat Deo yang ragu-ragu mengangguk, Dokter memberanikan diri bertanya lagi, “Apa nona dalam keadaan tertekan tuan, mungkin saja ini karena cemas atau perasaan terancam” Bukan tanpa sebab sang dokter mengatakan kesimpulannya itu. Jika melihat dari sisi kedokterannya, Kemungkinan besar Wanita yang tengah berbaring di kasur itu sedang dalam keadaan tertekan. Dikelilingi orang-orang bertubuh besar itu pasti membuat wanita itu ketakutan pikir sang dokter, hingga akhirnya jatuh pingsan.
“Apa maksudmu hah” sentak Deo lagi, pria tua ini berani sekali menuduh meraka menekan wanita itu. Memang sejauh ini belum, tidak tahu nanti. Deo menyeringai dalam hatinnya. “ Tuan ada baiknya nona saya bawa ke RS saja , biar saya bisa memantau perkembangannya.”
Deo tersenyum sinis, Pria itu tiba-tiba menciut ketika Deo menatapnya tajam, “ Pergilah dari sini jika kau sayang nyawamu” Dengan ketakutan Dokter itu mengambil tasnya dan segera melangkah pergi, namu belum sampai di depan pintu, suara Deo mengagetkannya, “ Keadaanya tidak ada yang mengkhawatirkan kan?”
“Tu..tuan jika boleh, ijinkan saya membawa….”
“ Shut up, keluar”
“Dasar tukang ikut campur”
Deo memutari ranjang besar itu dan duduk di sisi ranjang itu, sambil menatap wanita yang pernah menghabiskan malam dengannya, “ Sial,” pekiknya, saat menyadari bahwa saat hari kejadian panas itu di hotel Arison itu, tidak ada noda di kasur hotel itu. “Apa kau sudah punya kekasih atau suami?” gumamnya.
“Murahan” gumamnya sambil memandang Mima yang masih pingsan, tangannya memegang ponsel miliknya, disana tertera data-data tentang Yemima dan ternyata Mima tidak pernah menikah.
“Kau harus mengakui siapa yang menyuruhmu” bisiknya di telinga Yemima.
AAAAA……
BERSAMBUNG….
__ADS_1