Hello Ex, I'M Coming (Hallo Mantan, Aku Datang)

Hello Ex, I'M Coming (Hallo Mantan, Aku Datang)
Bab 4 Temukan wanita itu!


__ADS_3

Deo tampak syok dengan apa yang baru saja terjadi, "Niel, dimana lo, jemput gue"


Bayangan beberapa saat lalu berputar lagi di kepalanya.


"Aaarghhhh" ucap Deo dan Mima bersamaan.


"Ini handuk, tuan silahkan mandi" lalu tanpa sengaja karena gerakan tiba-tiba yang dia lakukan gadis itu jatuh di atasnya dan berapa orang masuk membidik kamera mereka.


sial...pasti ada yang merencanakan semua ini.


Lalu semua terjadi begitu cepat, bahkan jam dan hari apa saat ini Deo sama sekali tidak tahu. Otaknya seperti belum bisa berfikir. Orang-orang mengerumuninya, mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak dia mengerti.


Apa mungkin mereka salah orang?Tidak mungkin, tidak...bisa saja, wartawan juga manusia, bisa salah kan. "Maaf , saya tidak mengerti" Ucapnya sambil melangkah cepat.


Gadis yang bersamanya tadi malam kini sudah menghilang entah kemana.


"Kenapa bapak bilang tidak mengerti? apa yang bapak pikirkan? setelah menodai seorang gadis bapak bilang tidak mengerti? wah...apa ini sifat asli anda?" Deo menatap tajam wartawan itu. beberapa wartawan juga ikut menyambung tanpa melihat raut wajahnya yang sudah berubah.


Kini wajahnya terlihat di setiap media sosia. pemberitaan tentangnya semakin memperburuk keadaaan. Sial!


"Cari gadis itu sekarang"pekik Deo ketika dia sudah berada di mobil. Daniel hanya bisa mengelus-elus dadanya pelan.


"Kita bisa atasi ini, tenanglah" Daniel mencoba menenangkan Darren.


"Tenang lo bilang, ini salah lo, kalau lo gak ninggalin gue"


"Wait ..wait..."


"Sorry tuan Deo yang terhormat, saya pergi karena ada urusan mendadak , menyangkut perusahaan tuan. saya tidak teri...aw"


"Man, kesal dia ahaha, kenapa lo marah, kan kita bisa bikin konfrensi pers kalo gak benar. Tunggu..tunggu apa jangan-jangan...waw" pekik Daniel girang. Tidak menyadari wajah frustasi Deo saat ini


"Apa dia lebih cantik dari Rea?...ups" Daniel terdiam, mata Deo sudah menatapnya tajam.


"Sorry"


"Segera temukan wanita itu, itu bukan ulahmu kan Niel?" Deo menatap Daniel intens. Daniel menggeleng, "Tega bener nuduh sahabat lo yang soleh ini" Cih! Deo berdecih. "Cari wanita itu sampai ketemu"

__ADS_1


"Iya tuan, anak buahku sudah mulai mencari sejak tadi." jelas Daniel. " Di tambah anak buah dari Kenan tuan" lanjut Daniel.


"Apa mungkin ini jebakan seseorang? Tapi siapa yang paling mungkin melakukan ini?" Deo menggeleng, meski sudah ada beberapa nama dalam pikirannya, tapi mereka masih butuh bukti kuat.


"Wanita itu harus di temukan Niel, ingat itu".


Perjalanan yang lumayan jauh itu mulai diisi keheningan setelah membahas seorang wanita yang tiba-tiba ada di samping Deo pagi tadi. Dan sialnya dia terbangun dari tidurnya tanpa mengenakan busana. Bayangan paha putih polos itu kembali berputar-putar di benaknya.


Sekelebat bayangan muncul ketika bagaimana dia mencumbui gadis yang dia pikir itu mimpinya. Aroma yang sama dengan wanita di masa lalunya. aroma yang membuat birahinya terpancing.


Bagaimana mungkin, apa ini kebetulan saja,mungkinkah karena gadis itu karena  memakai parfum sama dengan gadis masa lalunya? Lalu bagaimana dengan gadis lain yang menggunakan parfum yang sama?Mengapa Deo tidak merasa terpikat?


Setelah sekian lama dia merasa tidak bisa dekat dengan wanita, tidak mau di dekati wanita manapun. Inikah akhirnya?


Suara indah yang dia dengar dini hari tadi, semakin membuatnya bersemangat, hingga mencapai apa yang ingin dia tuntaskan. Tidak peduli dengah rintihan gadis yang ada di bawah kungkungannya itu.


Entah darimana datangnya gadis itu, apa mungkin dia seorang wanita bayaran, tiba-tiba Deo merasa jijik. Bagaimana jika itu adalah benar. Sialan! Siapa yang berani melakukan itu padanya?


Tentu saja banyak yang membencinya, termasuk keluarga yang sudah ditampungnya. Memang Mereka tidak tahu diri. Lalu kenapa Deo menampung mereka? Semua itu dia lakukan, agar tetap mengingat masa lalunya yang buruk.


Membayangkan wanita itu sudah berapa ratus kali di jamah pria berbeda rasanya sangat menjijikkan.


"Kita mampir ke rumah sakit" ucap Deo tiba-tiba, "Ada apa? Lo sakit?" Deo tidak menjawab. "Lo dengar Man? Rumah sakit, bahaya kalo tuan lo ini sakit, banyak masalah di perusahaan, mati gue ntar" celoteh Daniel. Deo tetap diam di jok belakang. Memandangi jalanan yang mereka lalui.


Deru motor dan mobil masih menemani perjalanan mereka. Hingga pandangannya tertuju pada LED Billboard di jalan raya yang mereka lalui saat ini.


Dia menghela nafas sebentar, "Gimana Nil, ada perkembangan?" Tanya Deo tanpa menatap Daniel. Pandangannya tetap ke arah Billboard itu lalu memandangi mimik orang-orang yang ada di lampu merah itu. "Belum bos, sabar"


Meski sebenarnya tidak banyak ekspresi yang dia baca, " Gak akan bisa ke baca nggak Yo, mereka pakai masker tuh, dalam mobil apa lagi" celetuk Daniel. Deo hanya menatap Daniel tajam. Dia juga tahu itu, dia hanya menebak-nebak isi pikiran mereka ketika melihat scandal besar Deo, sang pengusaha sukses dan terkenal.


Cepat sekali berita itu tersebar, ini kali kedua namanya menjadi pemberitaan besar di kota ini.


Reputasinya harus hancur dua kali, sebelumnya dia harus berjuang agar perusahaan yang dia bangun susah payah tidak jatuh hanya karena fitnah orang-orang yang iri padanya.


Dan sekarang orang-orang akan kembali mengunjingkan namanya, entah ini bisa se-tranding kasus saat ini, yang mana anak buah yang harus merenggang nyawa bersama rahasia yang orang awam tidak ketahui. Tentu saja di tidak berharap se-trending itu, itu sangat memalukan.


Mereka sudah sampai di rumah sakit dan sedang berkonsultasi dengan seorang dokter, Daniel hanya bisa mengkulum bibirnya menahan senyum demi mendengar pertanyaan Deo yang sebenarnya wajar, namun entah kenapa Daniel merasa lucu saja.

__ADS_1


Senyum tertahan itu tidak bisa bertahan lama, pada akhirnya Deo mendapati dirinya tersenyum-senyum sendiri. "Ngapa lo" Daniel hanya menggeleng saja. tetapi senyum di bibirnya belum juga hilang. Deo jadi kesal, bisa dia tebak kalau Daniel sedang mengolok-oloknya dalam hati. Mereka segera bergegeas, masih banyak agenda untuk hari ini.


Tidak seperti biasanya tatapan orang-orang yang mereka lewati di sepanjang koridor rumah sakit itu kini menatap mereka sinis. Daniel mencoba tersenyum pada mereka, alhasil hanya decihan saja yang dia terima juga beberapa orang lainnya memalingkan muka mereka ke arah lain. Sial pikir Daniel.


Sementara Deo sejak tadi berjalan tenang, terlihat angkuh dengan wajahnya yang Datar tak terbaca.


Dia berusaha tidak terpengaruh dengan tatapan orang-orang yang menatap mereka sejak tadi.


Perasaan mereka lega ketika sudah memasuki mobil dan bergegas dari sana.


“Bagaimana Nil, sudah ada perkembangan?”


“ Sudah, namanya…”


“ Nanti saja” ucap Deo , membuat hati Daniel jadi dongkol saja, bukankah Deo yang meminta hasil dari pekerjaan anak buahnya, hingga para anak buahnya tidak ada waktu walau hanya untuk minum sebentar? Dasar.


Daniel menggerutu dalam hati. “ Lalu apa rencana selanjutnya?” tanya Daniel lagi.


“Biarkan saja dulu, kita lanjutkan Agenda hari ini, jangan sampai para klien kita malah semakin tidak percaya pada kita jika mengundur rapat penting hari ini”Daniel mengangguk. “ Dan kau urus wanita itu, biarkan gue aja yang handle rapat ini”titah Deo.


Mereka sudah sampai di perusahaan Patibrata Group, milik Deo. Sekretaris Deo menyambut mereka dan membawa pemilik perusahaan itu menuju ruang rapat yang sudah dia siapkan.


Ruang rapat itu masih sepi, “ Pergilah” Daniel segera undur diri dari sana. Tidak lupa Daniel memberi perintah untuk tetap berjaga pada pengawal yang dia perintahkan untuk mengawal Deo. Yang saat ini berdiri di depan pintu ruang rapat dan di dalam ruang rapat itu sendiri.


***


Huh…huh…Huh


“Akhirnya… Sampe kapan hidup gue begini?” ucap wanita itu dengan nafas ngos-ngosan.


“ Sial mereka masih ngejar gue” baru Yemima akan berlari. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di sampingnya, seperti adegan film saja pikirnya. Dia segera menaiki mobil itu, namun matanya tetap awas melihat kebelakang apakah orang-orang tadi masih mengikutinya atau tidak.


Dia menghela nafas lega.


"Siapa mereka ya?"


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2