Hello Ex, I'M Coming (Hallo Mantan, Aku Datang)

Hello Ex, I'M Coming (Hallo Mantan, Aku Datang)
Bab 13 Beginikah Perubahan Deo?


__ADS_3

Tenang...tenang..harus tenang. Yemima mencoba menenangkan dirinya.


"Jadi nona, ada yang ingin anda jelaskan?" Suara bariton Deo membuat Mima kaget, wajah pria itu pun begitu menyebalkan, pria itu tersenyum sinis. Anda mau mengelak apalagi? Seolab mengatakan hal itu pada Mima.


"Cih...emang apa hubungannya tukang rentenir dengan saya?" Ck..Mark anak buahmu gak becus, batin Mima.


"Ya kami tahu, hubunganmu hanya sekedar hutang piutang dengan para rentenir itu, tapi itulah alasanmu mau disuruh tidur dengan saya kan?"


Mima terkekeh.


"Heehhhahahah..ya ampun perutku" Diluar Andrew menahan semua gerakan semua rekannya.


"Anda benar-benar aneh, tampan tapi kang halu ahahahah" Mima tertawa terpingkal-pingkal.


"Shut..up! Anda bernyali besar nona"


Nyali besar katanya, ini kakiku gemetaran, tolong.


"Tunggu tuan, saya akan jelaskan" Ketiga pria itu diam dan menunggu penjelasan wanita yang ada di depan mereka.


"Tuan hutang saya sudah lunas sejak beberapa bulan lalu"


"Meluncur" Seorang anak buah Mark yang ada di bagian depan gedung segera meluncur kerumah rentenir itu, menekan pria itu mengatakan hutang yang beberapa hari lalu mereka lunasi dengan bunga yang banyak agar jika ada yang bertanya maka pria itu harus mengatakan dua bulan lalu pelunasannya.


"Cek Niel, perintah Deo" Daniel segera bertindak, tudak berselang lama, laporan sudah di terima Deo. "Benar tuan, dua bulan lalu" Deo berdecak.


"Bawa dia Nan" Kenan tidak segera bergerak,


"Apa pakai cara itu?" Daniel mengangguk, Kenan berdecak.


"Okeh...Blood i am coming" Daniel mengeleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Mari nona" ajak Kenan, Yemima menggeleng dan perlahan mundur kebelakang.


"Ck..Ck....Mundur"


Deo keluar lebih dulu, anak buahnya memberi hormat, tidak ada pengawal lain dan asing disana. Dilantai bawah, semua anak buah Mark mundur dan bersiap mengikuti nona mereka.


Yemima tidak memberontak, berjalan santai dan mengikuti mereka, matanya sudah di tutup lebih dulu oleh Kenan.


"Erik, perintahkan anak buahmu..." Samar-samar suara Kenan mulai tidak terdengar, mungkin pria itu menjauh dari Yemima.


Belasan mobil itu berangkat dari hotel bintang 4 itu. Dikuti beberapa mobil asing yang tidak mereka kenali.


Tidak lama berkendara, tidak tahu psstinya berapa menit, akhirnya mobil yang dikendarai Yemima berhenti. Terasa sepi dan sunyi. Dalam hati Yemima bertanya-tanya dimana ini.


Masih dengan baju yang dia kenakan beberapa hari lalu dan kini dia diseret entah kemana. Aku memang bodoh, aku terlalu mencintaimu, aku bemci kebodohan ini. Batin Yemima.


Kini matanya bisa melihat apa yang ada disekitarnya saat ini, setelah penutup mata itu dibuka. Dengan kasar anak buah Kenan mendudukkannya di bangku itu. Yemima meringis.


Entah dimana dia saat ini. "Tuan untuk apa kita kesini"


"Untuk bermain sebentar saja" Semua orang tertawa karena ketakutannya. Yemima tidak menghiraukan itu, yang dia kuatirkan saat ini bagaimana jika dia berkeringat terlalu banyak, lalu make upnya memudar bagaimana? Ini Urgent!.


"No, sebelum aku perintah jangan masuk"bisiknya.


"Aaahh...sakit" pekikan seseorang membuat Yemima kaget.


"Suara apa itu tuan?" Suara mima mulai bergetar dan benar saja, Kenan kini tengah menyeret seorang pria kemudian mulai mengantungnya. "No...apa yang kau lakukan" pekik Yemima.


"Nona dia sudah merugikan klan kami, dia menyusup dan berpura-pura berpihak pada kami, tapi ternyata dirinya adalah suruhan, tikus ini harus di basmi ? Karena sudah merugikan" Yemima menggeleng, matanya sudah berkaca-kaca lalu menatap Deo, apa Deo sudah berubah? Dia mengerikan sekali. Pikir Yemima.


"Jadi...nona yang cantik" Kenan mulai bergerak kearahnya, air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. Yemima benar-benar ketakukutan.

__ADS_1


"Apa anda mau mencobanya nona?" Yemima menggeleng.


"Jadi katakan siapa yang menyuruhmu hah? tanya Kenan, suaranya menggelegar diruangan itu.


Yemima tetap tutub mulut, namun air matanya masih saja mengalir. Dia memalingkan wajahnya dari pria yang ada di hadapannya, agar tidak melihat pria yang digantung itu sedang berusaha menyelamatkan dirinya dengan sebuah bangku di bawahnya. Bagaimana jika bangku itu jatuh kelantai, sudah pasti pria itu akan mati.


"Hei nona, kenapa nyalimu besar sekali, kamu sudah memberimu banyak kesempatan tapi kau malah tidak bisa diajak kerjasama. Apa kau pikir mereka peduli pada nyawamu disini? Tidak, mungkin saat ini mereka sedang makan enak, tapi kau malah berakhir disini. Kami hanya ingin tahu siapa yang merusak nama baik perusahaan kami nona, apa anda mengerti? Jadi tolong katakan sekarang atau kau akan berakhir seperti dia" Kenan menunjuk pria yang kini menggelepar karena tercekik, bangkunya sudah di tendang jauh oleh Erik.


"Aku..aku....aku disuruh Mi..mister Shawn" Deo berdiri dari duduknya.


"Jangan berbohong" bentaknya.


"Bukankah itu yang ingin kau dengar, kenapa kau malah membentakku bajingan" Yemima berdecak lalu berdehem. Tidak terlalu jelas karena isak tangisnya, namun Andrew mengerti dengan jelas perintah nona mudanya.


"Tata" ucapnya pelan.


Andrew segera mengirim kode kepada Mark.


"Sial..." pekik Mark, Pria tampan itu berdiri gusar, pekerjaannya menumpuk dan sekarang yang dia sayang dalam bahaya.


"Pantau saja terus, kirim informasi pada saya lagi nanti. Ingat mungkin setelah ini mereka akan pergi menemui Mr.Shawn, lalu kalian segera bawa Yemima kembali" perintah Mark pada anak buahnya.


"Khan, Jangan sampai Ariana tahu jika saat ini Yemima berada dalam bahaya. Nanti saja jika Yemima sudah diselamatkan" Khan mengangguk, lalu segera melaksanakan tugasnya.


Apa yang kau lakukan, Mima. Kau sudah mengundang masalah besar.


***


"Mommy...mommy"


bersambung

__ADS_1


__ADS_2