Hello Ex, I'M Coming (Hallo Mantan, Aku Datang)

Hello Ex, I'M Coming (Hallo Mantan, Aku Datang)
Bab 6 Maju Terus Atau Mundur Sekarang


__ADS_3

"Lagi? Aihh, bisa kerja gak si lo pada hah?" Maki Daniel. Benar-benar menyebalkan. Sudah dua hari dan hasilnya sama, anak buahnya gagal membawa gadis yang kabur setelah tidur dengan bos mereka.


Bukan karena Deo mengingingkan wanita itu lagi, namun karena pemberitaan tentang pelecehan yang dilakukan seorang pengusaha pada seorang gadis yang tidak di ketahui namanya.


Dampak dari scandal besar ini tentu saja membuat harga saham menurun. Dan tentu saja membuat kehebohan diantara para Direksi perusahaan dan para karyawan dan tidak hanya itu sampai pula berita itu keseluruh kota dan mulai memperbincangkannya. Namun Deo masih mendiamkannya, hanya memerintahkan Daniel mencari keberadaan wanita itu.


Deo ingin tahu siapa yang menyuruh wanita itu tidur dengannya. Agar dia bisa membalas orang tersebut.


Namun harapan Deo belum bisa terpenuhi. Hingga saat ini keberadaan wanita itu belum di temukan. meski lokasi kerjanya sudah di temukan dimana. Acap kali mereka gagal menemui gadis itu, ada yang melindungi gadis itu atau malah sebaliknya mengincar gadis itu juga.


Ponsel Daniel berdering, seorang bawahannya melaporkan sesuatu. Dari wajahnya terlihat bukan kabar baik yang Daniel terima.


Daniel diam mendengarkan penjelaskan anak buahnya yang ada di lapangan. Bahwa mereka kehilangan gadis itu di daerah belakang Mall Assa.


Mereka tidak bisa menemukan dimana gadis itu.


Daniel diam saja, namun jelas berita ini akan membuat Deo kecewa ini. Masalah ini sudah terlalu lama berlarut-larut. Nama Patibrata Group semakin buruk jika di biarkan berlarut-larut begini.


Deo menatap anak buahnya satu per satu


"Hari ini gue gak mau main tangan, setelah istirahat lo semua harus mengawasi kawasan itu. dan Andri bagi kelompok menjadi dua sebagian ke daerah tempat tinggal wanita itu, sebagian lagi ke tempat kerja wanita itu".


"Siap, bos" Andri segera melaksanakan tugasnya membagi anak buahnya menjadi dua kelompok.. Kemudian beristirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


Daniel segera kembali ke kantor, dia harus menemui Deo. Sejak pagi Deo uring-uringan, semua yang bermasalah, mendapat omelan dari bibir pedasnya.


Di jalan dia menghubungi Kenan meminta bantuan pria itu mencari data diri seorang wanita yang ada di cctv yang dia kirimkan.


***


Sementara di Swell Tech, seorang gadis duduk dengan anggunnya. "Ini kopi untukmu" ucap Pria tampan yang kini berada di hadapannnya. Giovano schotwell.


"Thank you" Ariana menyecap kopi buatan Gio dan kemudian mengucapkan trimakasih. Lalu membuang nafas kasar.


"Rasanya ini bukan waktu yang tepat menikmati kopi" Ariana kembali meletakkan minumananya .


Gio masih diam saja.


"Semua data Edrea sudah aku amankan, kau jangan terlalu kuatir"


"Tapi Sekarang bagaimana? Beritanya udah kemana-mana dan E..."

__ADS_1


"Kamu bisa diam gak? aku juga lagi mikir ini, Kita juga udah usaha sebaik mungkin kan, gak usah berisik.." Arianan diam, duduk sambil menikmati kopi miliknya.


Ponselnya berdering, "Oke, saya kesana"


"Putrimu ngambek, ikut gak, aku mau jemput dia" Gio mengangguk, mungkin bertemu gadis kecil itu akan menenangkan pikirannya.


Di sepanjang jalan itu Ariana dan Mark diam saja, hanya suara pembawa berita di radio itu yang terdengar suaranya. "Maaf" ucap Mark, pria itu sadar sudah membentak Ariana. " Tidak apa, aku ngerti kok perasaan kamu kak"


Aku ngerti perasaanmu bagaimana, aku harusnya tidak terlalu berharap kau bakal jatuh hati padaku. batin Ariana.


Ariana larut dalam pikirannnya, hingga tidak tersadar jika mereka sudah sampai di depan sekolah bocah kecil mereka. " Ariana.. Ariaanaaa"


"Eh..i..iya kak? Oh udah sampe ya?" Ariana segera keluar tanpa menunggu Gio. "Sial..kenapa aku sampai membentaknya sih" Mark merutuki kebodohannya yang sudah membentak kekasihnya sendiri.


Meski di dalam hubungan ini hanya Ariana yang mencintai, tidak seharusnya dia membentak gadis itu, Ariana hanya menyampaikan apa yang dia pikirkan, sementara dirinya asik memikirkan gadis yang hanya menganggapnya sebagai kakak.


Dasar berengsek. Umpatnya pada dirinya sendiri.


Gio pun menyusul Ariana. Saat hendak menggandeng tangan Ariana. Ariana sudah merentangkan tangan pada bocah kecil itu, bersiap untuk menangkapnya dalam pelukan. Gio menggaruk tengkuknya, Sambil celingak-celinguk, bernafas lega karena tidak ada yang melihat adegan tadi "Daddy...." pekik gadis kecil berumur 4 tahun itu. "Honey ku, apa kabar?" Gio segera menangkap Deona dalam pelukannya.


"Tentu saja baik Dad"


"Mama napa?" tanya Deona dengan wajahnya yang polos itu. Ariana hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Ya sudah ayo pulang" mereka berjalan lebih dulu, dan diikuti Ariana. Yang moodnya sedang hancur.


Gio menarik tangan Ariana dan mengajaknya keluar, Rasanya Ariana ingin menangis saat ini. "Mama kok syedih sih" senyum tipis muncul di bibirnya.


"Deona Nakal ya ma" tanya gadis kecil itu, Ariana menggeleng. " Deona anak baik, mama gak sedih sayang, tuh lihat mama senyum" Ariana tersenyum tipis. Gio merasa bersalah, dia merutuki diri sendiri saat ini.


Ponselnya berdering, Ariana sedikit menjauh dari Gio dan Deona, Ariana sedikit kaget dengan informasi yang diberikan orang suruhannya.


"Saya akan segera kesana"Ariana pun segera pamit pergi lebih dulu pada Deona dan Mark.


"Mmm...sayang...kamu pulang sama Daddy dulu ya, mama ada urusan mendadak"


Gadis kecil itu menatapnya lama, seolah mencerna apa yang sedang Ariana sampaikan. Ariana pun mengulangi kalimatnya sebanyak dua kali. Lalu Deona mengangguk.


"Mau kemana kamu? tanya Mark menatapnya curiga. "Mau cari angin aja" Arshinta menjawab tanpa menatap Mark.


"Kemana?"

__ADS_1


"Ya belum tahu" Ariana segera berlalu dari hadapan Mark. "Dad, mama marah ya? karena Deo gak peluk mama tadi" ucap gadis itu polos. Gio tersenyum, "Gak kok, mama kan sayang sama Deona" Deona mengangguk, "Daddy aku mau es krim" rengeknya, ini kesempatan untuknya biasanya mamanya akan memarahinya karena makan es, tapi kali ini, adalah moment langkah, jadi tidak akan dia sia-siakan.


"Ckckckc...kamu memang anak Daddy, ini rahasia kita berdua okeh?" gadis kecil itu mengangguk.


***


Ceklek


Yemima sedikit kaget karna pelukan tiba-tiba Ariana. "Ada apa ini?" tanya Mima.


Matanya menyipit karena sinar matahari. Padahal rasanya dia baru tidur sebentar, ternyata sudah siang. Astaga...


"Sebaiknya kita kembali saja, aku akan segera pesankan tiket..." Ariana sudah membuka ponselnya


"Apaan sih An?"


"Udah cukup Ed, udah cukup, lo udah cukup bantu dia" tangis Ariana pecah.


Arian bukan tipe gadis yang mudah menangis, lalu ada apa ini?


"Kamu lagi ada masalah sama kak Gio?" tanya Mima. Ariana tidak menjawab.


"Pokoknya kita pergi dari sini, gue khawatir sama lo, ngerti gak?" Pekik Ariana.


"Astaga sayangku, kamu ini ah, aku tahu kamu itu yang paling pengertian sama aku. sini peluk" Keduanya berpelukan, Ariana masih saja menangis.


"Ayolah Ana, aku baik-baik saja. kita sudah di tengah perjalanan" Ariana menatapnya sinis, kesal. Gadis ini keras kepala sekali.


"Lo udah ngundang bahaya..." Edrea segera memotong perkataan Ariana. "Lu itu terlalu paranoid, gue gak apa, tunggu disini. gue mau mandi, gue nebeng ya"


Ariana diam saja, gadis itu tidak memberinya kesenpatan menjelaskan bahaya yang dia undang.


"Harus bicara sama kak Gio, dia benar-benar keras kelala".


Di kamar mandi, Arshinta duduk termenung di balik pintu. Bukan tidak sadar, dia bahkan sudah mengalami bahaya musuh Deo itu, hanya saja dia sudah di tengah perjalanan.


Dia harus menyelamatkan pria itu. Dia tidak bisa mundur lagi, apalagi dia tahu, tidak hanya satu tapi dua musuh Deo yang menyerang sekaligus.


"Maju atau menyerah sekarang?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2