
“ Kau masih disini?” tanya pria itu, wajahnya memerah, kemungkinan sudah mabuk, atau bisa jadi lebih dari itu. Yemima masih terdiam, memperhatikan pria yang ada di depannya ini. Bunyi musik di larut malam ini semakin menjadi. Orang-orang semakin semangat berjoget ria di lantai dansa.
“Hei.. jam berapa kau selesai kerja?” ucap pria itu, pria itu mulai meracau. Matanya mendapati beberapa orang memperhatikan mereka. “ Mari ikut saya” ucapnya. Yemima segera menarik tangan pria itu, mengajaknya berlari. Namun langkah pria itu sudah terhuyung-huyung, pria ini benar-benar mabuk. “ Ayo tuan, buruan” pria-pria yang mengawasi mereka tadi mulai mengejar. “ Sorry “ gumamnya, diambilnya ponsel Deo untung saja tidak ada pola, “ Bisa-bisanya tidak ada pola, aih”
“ Ayo buruan, Ha..halo saya pegawai disini, tolong siapkan mobil tuan Deo” ucapnya lalu mematikan panggilan itu. Tangannya masih setia menggenggam tangan pria itu, “ Ayo…” Tubuhnya terhuyung, pria itu tersenyum sementara Yemima berdebar, karena tubrukan antara dirinya dan Deo barusan. “ Bukankah kita lebih baik menari lebih dulu nona?” ucap pria mabuk itu. Pria itu pun mulai menari, mengajaknya menari dengan gerakan yang jauh berbeda dari irama musik yang berdentum keras itu, kini posisi mereka seperti pasangan yang akan berdansa. Pria itu masih tersenyum.
“ Ayo kita menari” ajak pria itu
“ Menari gigimu, ayo buruan” Dengan paksa Yemima menarik tangan pria itu. Hingga akhirnya melewati kerumunan orang yang meliuk-liukkan tubuhya disana. Yemima tidak menemukan mobil Deo di lobby, dengan susah payah dia menuruni tangga darurat itu menuju parkiran. Sial. Dia mau kemana sekarang, pria-pria tadi masih mengejar mereka. Akhirnya mereka sembunyi dibalik mobil. Di rasa sepi mereka keluar dari parkiran itu, namun sesampainya dia atas, orang-orang itu melihat mereka lagi.
Beberapa orang terlihat menghadang orang-orang yang mengejar mereka, taksi lewat seperti penyelamat bagi mereka. “ Hotel Arizon” Yemima bernafas lega setelah berada di dalam taksi itu, sementara Deo sudah tidak sadarkan diri lagi.
“ Trimakasih pak” Yemima membawa Deo ke hotel Arizon. Tidak ada pilihan lain. Dia tidak tahu dimana pria ini tinggal. Dia juga butuh istirahat. “ Twin bed mbak” ucapnya dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan. Setelah mendapatkan kunci kamar, dia tidak peduli wanita itu akan berfikir apa, yang penting mereka sembunyi lebih dulu. Sesampainya dia kamar yang dia pesan, Yemima merebahkan tubuh Deo di atas kasur itu, begitu juga dirinya, “Ah… pinggang ku” keluhnya.
Gadis itu segera melepas seputu Deo juga dasi dan jas yang Deo kenakan. Sementara dia segera pergi mandi, rasanya gerah sekali.
“ Aku tidak bisa pulang malam ini” tulisnya dan dia kirim pada sahabatnya.
Rasa lelah ternyata cepat membuatnya ngantuk, hingga akhirnya tertidur dengan bathdrope yang dia kenakan.
***
__ADS_1
“Astaga…. Masa bisa hilang hah?” bentak Daniel
“ Cari..cepat” bentak Daniel. Kini dia menyesal karena meninggalkan Darren sendirian. Bagaimana ini? Dia segera pergi menemui Mr. Shawn lagi, yang belum selesai dengan minuman dan wanitanya. “ Tuan apa benar anda tidak melihat ada yang aneh dari Deo tadi, atau disekitarnya”
“ Ayolah tuan Daniel, mungkin dia bersenang-senang saat ini, jangan terlalu kuatir” Ucap pria itu sambil tertawa. Sementara Daniel semakin panik, karena tidak mungkin Deo melakukan hal itu dengan sembarang wanita. Dia segera berlalu dari ruangan itu. “ Halo Ken, Deo hilang, anak buah loh dilumpuhin , gue tinggal dia tadi, karena ada urusan mendadak”
“ Astaga… bagaimana bisa, dasar berengsek” jiwa mafia nya meronta-ronta ini seperti tamparan keras untuknya, bagaimana bisa anak buahnya dikalahkan orang yang tidak di kenal. Kenan segera mengumpulkan beberapa anak buahnya, “Segera cari Deo Patibrata” semua anak buahnya segera mencari Deo
Di ruangan VVIP Assa Rock Cafe, Diskotik dan Club Malam.
“ Cari Deo Patibrata sekarang, jika boleh ekspose beritanya jika itu sangat menguntungkan kita” ucap pria tua asing itu
Malam semakin larut dan Pendingin ruangan itu, terlalu dingin hingga membangunkan seorang pria yang sejak tadi tertidur lelap. Samar-samar dia melihat seorang gadis cantik yang tidur di sebuah ranjang, dengan gaun putih yang indah. Matanya belum terbuka sepenuhnya. Namun tubuhnya sudah berjalan mendekat pada sosok cantik yang tidur dengan begitu menggemaskan.
Glek!
Paha putih polos itu begitu menggoda. Sesuatu dalam dirinya yang telah mati kini seperti hidup kembali. Ada apa dengannya, bertahun-tahun dia lepas dari godaan lalu kenapa tubuh wanita ini begitu menggoda. Sesekali dia menampar pipinya sendiri. Namun itu tidak mampu menyadarkan dirinya. Dia terus mendekat dan mulai mencumbui wanita itu.
Wajah gadis itu tidak luput dari cumbuannya, semuanya, meski wanita itu meronta, Deo tidak melepaskannya.
***
__ADS_1
Dua insan itu masih asik bergelung dalam tidurnya, saling berpelukan dalam tidurnya, Yemima terbangun dari tidurnya, namun belum menyadari siapa yang ada disampingnya, matanya belum bisa menyesuaikan cahaya, dengan langkah yang terhuyung dia berjalan kearah kamar mandi, “ Ini kenapa berantakan sih”gumamnya melihat bathdrope yang sudah bentantakan itu. Lalu Yemima membasuh wajahnya tanpa mengunci pintu. Dia mulai menyikat gigi dan mulai memakai make up yang ada di tas kecil miliknya.
“Arrrrgghhhh”
“Arrrggghhhh”
Seketika kakinya berdiri seperti jelly, tanda merah di lehernya itu nyata, suara pria itu nyata, ternyata yang dia kira mimpi itu adalah kenyataan. Brakkk..Dia segera menutup pintu kamar mandi itu. Astaga bagaimana dia bisa lupa, kalau tadi malam dia bersama pria itu.
Sementara diatas kasur, pria itu terbangun karena teriakan wanita itu, matanya belum terbuka dengan baik, masih mengantuk tapi suara siapa tadi itu. Kemudian memorinya mulai mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin malam.
“ Shit” umpatnya ketika mendapati dia telanjang.
“ Aaaaaaaa” Yemima berteriak lagi. Deo segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “ Ini Bathdrope mandi sana” ucap wanita itu takut-takut. Dia berjalan perlahan. Namun siapa sangka pria itu menarik tubuh gadis itu. Hingga jatuh diatasnya.
Ceklek
Bertepatan saat keduanya berusaha melepaskan kalung dan kancing baju Yemima yang tertaut itu, beberapa orang segera masuk dan membidik kamera mereka. Deo segera menyembunyikan Yemima di belakang tubuhnya, sementara satu tangannya memegang selimut untuk menutupi tubuhnya. “ Beraninya kalian, keluar” bentak Deo namun para wartawan itu tetap bergeming. Tiba-tiba beberapa orang datang dan mengusir para wartawan itu. Yemima segera kabur setelah para wartawan itu pergi.
“Hei…tunggu” pekik Deo, hampir saja dia keluar dengan telanjang jika tidak di tahan oleh anak buah Kenan itu. “ Kami sudah menemukan tuan Deo tuan” lapor seorang dari mereka.
Bersambung…
__ADS_1