
Diluar hari sudah semakin sore, Sedikit mendung dan berangin juga mungkin hujan akan segera turun. Namun para wartawan yang dengan gigih mencari berita itu masih tetap menunggu di depan gedung Patibrata Group. Wanita itu belum juga ditemukan, sementara waktu yang dicoba mereka ulur sudah terlalu lama. Deo tidak bisa tenang, kali ini cobaan untuk bisnisnya datang menyerang bertubi-tubi. Proyek yang baru di mulai itu hari ini memakan korban. Nama Patibrata Group semakin tercoreng.
“Arrggh…” Pekik Deo.
“ Niel apa belum ada hasil?” tanyanya pada Daniel, Pria yang ditanyainya itu malah menggeleng. Deo berdecak, di lemparnya berkas yang ada di tangannya keatas meja. Tok..tok..tok. Nadilla segera amsuk ketika Daniel mepersilahakan. “ Tuan, pertemuan dengan dewan direksi sudah akan dimulai”
ARRGHH
Deo menggeram, entah apa yang di inginkan para tua-tua itu. Seingatnya mereka baru saja menagadakan rapat beberapa waktu lalu, entah kenapa harus mengadakan pertemuan lagi hari ini. “ Menambah pekerjaan saja” gumamnya. Dia melangkah keluar dengan wajah angkuhnya, di ikuti oleh Daniel dan Nadilla yang sedang membicarakan kesiapan berkas yang di perlukan juga jadwal yang harus mereka undur atau ganti di hari lain. Nadillla mendengus kesal, semua pekerjaannya kemarin harus di ulangnya lagi, karena rapat dadakan ini.
Diruangan itu sudah ada para investor yang menunggu kedatangannya. Deo duduk di bangkunya dengan wajah dinginnya. “ Ehem.. Saya bukan tidak melakukan apapun disini, saya juga berusaha menyelesaikan masalah ini. Jadi tolong beri saya waktu.” Ucapnya dengan tenang. Para investor itu tampak keberatan “ Kami sudah memberi tuan Deo waktu, tapi ini sudah melampaui batas tuan Deo, saya harap anda mengerti” Deo mengerti, sangat mengerti hal itu. Deo memperbaiki duduknya “ Saya mengerti dan Paham pak, tapi kita memang butuh waktu..”
“Sampai kapan, ini sudah terlalu lama, ini berdampak sama kinerja perusahaan dan nama perusahaan” Potong seorang pria paruh baya. Deo menatap tajam orang-orang di ruangan itu. “ OKe, jika cara kerja saya kurang disukai oleh bapak-bapak disini, boleh berikan saran, apa yang harus saya lakukan?” Orang-orang itu mulai berbisik-bisik.
“Tuan, ijin keluar sebentar” Daniel segera keluar setelah meminta ijin pada Deo. “Begini Tuan Deo, kami sudah…ehem.. sudah berdiskusi. Jadi kami menyarankan untuk menggunakan salah satu aktris dari Famous Entertaiment untuk menutupi scandal ini, membuat scandal Aktris maksud kami” Pria tua itu dengan bangganya mengatakan saran yang sangat tidak, tidak Deo sukai. Brak…
“Sinting…hah Saya pikir anda semua punya ide yang lebih bagus? Hah? Ngorbanin orang gitu? Ckckck” Deo menatap mereka satu persatu, suasana jadi hening beberapa saat. Deo sudah berdiri, Sungguh dia tidak pernah berfikir untuk mengobankan orang lain untuk menyelamatkan perusahaannya ini.
__ADS_1
“Saya tidak setuju”
“ Tapi tuan Dei, itu jalan yang paling baik untuk diambil.” Deo tertawa sinis, orang-orang tua ini makin tua, makin egois dan gak tahu diri pikirnya. “ Pasti ada cara lain, jangan Cuma menekan saya. Berapa kepala yang ada disini, apa Cuma ide busuk itu yang bisa kalian pikirkan?” Orang-orang tua itu diam lagi, mungkin sedang berfikir.
“Ehem..tuan, bagaimana jika kita meluncurkan produk baru” seseorang memberi ide, “ Pengerjaannya belum sampai 50 %, lalu jika ada kesalahan dari produk setelah peluncuran, anda mau menanggung resikonya?” Pria tadi terdiam. Deo masih menunggu mereka berfikir, “ Apa masih ada saran? Apa Cuma ide-ide itu saja yang bisa terpikirkan?hah?”
“Tuan Deo, Maaf sebelumnya, yang di pertanyakan oleh publik adalah moral anda. Maaf sebelumnya tuan. Kita tidak tahu d dengan siapa dan kenapa anda bisa ada di kamar hotel itu. Jadi saran yang bisa saya berikan adalah menikahi gadis yang bersama anda malam itu.” Rasanya kepala Deo mau pecah saja, dia pikir akan ada ide yang lebih baik, “Lupakan saja, masih ada pertemuan lain yang bisa saya hadiri, tolong beri saya waktusedikit lagi” Deo segera meninggalkan ruangan itu begitu saja. “ Membuang-buang waktu saja, dasar orang-orang tidak punya kerjaan” gerutu Deo.
“Tuan…tuan.. Deo apa selesai?”Deo hanya menjawab dengan anggukannya saja. “Ya, Niel kamu tahu, mereka semua hanya bisa membual, saat diminta saran, justru mereka ingin mengorbankan orang lain untuk keuntungan mereka sendiri, Dasar manusia payah” Daniel hanya menepuk-nepuk pundak Deo. Dia tahu jika Deo saat ini sangat kesal. Daniel teringat sesuatu, berkas yang di kirimkan Kenan untuknya. Dengan ragu-ragu Daniel memberikan berkas yang sudah di kirimkan anak buah kenan tadi.
“ Oh ya, gue udah dapat informasi dari Kenan, tentang wanita itu” Deo segera merampas dengan tidak sabaran berkas yang ada ditangan Daniel. “ Ck..aihh gak sabaran banget” Baru saja Deo akan membaca berkas itu, seseorang terlihat masuk dari pintu utama gedung Patibrata itu.
***
Restaurant si Enak.
“ Anya aku duluan” ucap Mima, Tangannya bergetar hebat dan itu tidak lepas dari pandangan Anya dan yang lainnya. Di depan pintu ruangan khusus kariawan itu David sudah menunggunya, “ Apa kau sudah mengurusnya? Perintahkan mereka untuk mengalah nanti” David menganggukan kepalanya, “ Sudah noona, tenang saja” Pria keturunan Korea-Indonesia itu celingak-celinguk, berharap tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Noona, kau gugup” ucap David, lalu memberikan minuman yang kebetulan baru dia beli tadi. “ Ya sudah aku jalan”Mereka pun berpisah di depan pintu itu. Angin mulai terasa bertiup menghembus kulitnya, terasa dingin. Tidak meredakan gugupnya, namun semakin membuatnya bergetar. Yemima segera berjalan ke parkiran yang ada disamping restaurant itu. Lama mengacak-acak tasnya, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya. Mima meronta-ronta. Orang-orang bertubuh besar itu segera memasukkan tubuh Mima yang sudah terkulai karena sudah tidak sadarkan diri.
Ketika sadarkan diri, Mima sudah berada di ruangan luas dan mewah. Entah dimana itu, kepalanya berdenyut sakit. Mima meringis, lalu sadar jika dia disuatu tempat yang tidak dia tahu dimana ini. Mima dengan terhuyung-huyung berjalan menuju pintu sambil mendekap tasnya. Dan saat itulah seseorang muncul dari pintu yang dibuka dari luar.
“Wah…sudah bangun nona?”
***
Ariana
Gadis itu menatap lama pada Gio, pria yang sejak dulu dicintainya, namun hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan dan perasaan kalut yang menyelimuti hati nya membuatnya berfikir untuk mengakhiri hubungannya dengan Gio. Meski tahu Pria itu mencintai wanita lain, dia tetap mengajak Gio berpacaran. Tidak. Lebih tepatnya dia memaksa Gio untuk memulai hubungan dengannya.
“ Mari kita putus” Sayangnya hanya bisa dia ucapkan dalam hati saja, ada bagian dari dirinya yang tidak menerima jika kata-kata itu benar-benar meluncur dari bibirnya. Dia ingin bertahan dan berjuang sedikit lagi. “ Ada apa sih?” Tanya Gio yang kemudian duduk di dekatnya. “ Sorry kak, Ariana gak kasih tahu jika orang-orang itu udah bikin Ariana celaka”
“Hem.. tidak apa, lain kali kasih tahu, supaya aku tahu bagaimana cara menjaga kamu, menjaga kalian” Ariana mengangguk.
Dering ponsel Gio mengganggu aktivitas yang seharusnya terjadi, pipi Ariana sudah merona merah. “ Pipi mu merah” bisik Gio. Dasar menyebalkan. Sudah tahu pipi Ariana memerah karena ulahnya tapi tetap saja menggodanya.
__ADS_1
“ Halo..APAA?”
Bersambung