
Entah seperti apa pandangan orang-orang yang melewati gedung Patibrata ini, Nama Patibrata sudah semakin ramai di perbincangkan orang-orang. Namun hingga saat ini belum ada kabar dari Daniel tentang wanita itu. Apa yang harus dia lakukan jika wanita itu tidak bisa ditemukan.? Itulah yang kini dia pikirkan.
Para direksi sudah mulai angkat bicara, seperti pagi tadi seorang dari Dewan Direksi perusahaan Patibrata, mulai menyuarakan agar dia menikahi gadis itu. Menikah? Membayangkan untuk menikah saja Deo tidak pernah, apalagi dengan gadis asing. Bukankah itu aneh, terasa gila dan terlalu memaksa? Deo menolak saran itu mentah-mentah, dia percaya dia akan segera menemukan dan membersihkan nama Patibrata Group.
Ceklek..
Daniel baru saja sampai ke ruangan itu, Meski hanya telat dua menit saja, Dia sudah di tatap tajam oleh Deo, apalagi jika telat satu jam, mungkin bulan ini dia tidak akan mendapatkan gajinya. “Bagaimana hasilnya Niel?” Daniel menarik nafas pelan sebelum menjawab “ On progress tuan, sedang di laksanakan, kita tunggu kabar dari Andri di lapangan, saya juga sudah meminta bantuan Kenan.”
“Kenapa lambat sekali sih NIel, ini udah terlalu lama, tahu gak?”Daniel mengangguk dia paham betul yang terjadi, tetapi banyak kendala yang dia hadapi saat mengejar wanita itu. Sepertinya wanita itu di lindungi oleh seseorang yang berkuasa.
“Siapa wanita itu sebenarnya” gumam Deo sambil menatap langit-langit ruangannya.
Flashback
Musik hingar-bingar itu memenuhi pendengarannya sesaat setelah memasuki Club itu. Ini bukan pertama kalinya dia memasuki tempat hiburan malam seperti ini, Namun pria itu memang termasuk jarang dan tak terbiasa dengan kehidupan malam, selama perjalanan karirnya Deo lebih banyak menghabiskan waktu bekerja dan bekerja saja. Dia jarang sekali bertemu teman-temannya. Kini dia harus memasuki tempat ini karena pihak Shawn.Corp meminta pertemuan mereka kali ini diadakan di tempat yang menyenangkan katanya. Deo yang membutuhkan pendukung untuk menopang Patibrata, akhirnya menuruti keinginan calon patner bisnisnya.
Tidak ada yang mencurigakan dan semua berjalan lancar, temasuk perjalanannya yang biasanya selama satu pekan terakhir selalu terkendala, malam ini Deo bisa sampai di tujuannya tanpa kendala sedikit pun. Deo segera memasuki ruangan yang sudah di tunjukkan oleh Greeter club malam itu bersama Daniel tentunya. Mr. Shawn terlihat sangat ramah, pria itu banyak tertawa, dan tampak menikmati kebersamaanya dengan para wanita disampingnya. Meski tahu batas toleransinya akan alcohol, Deo minum lebih banyak dari biasanya. Deo terpaksa melakukan hal itu, karena sudah hampir tiga puluh menit, pria tua itu belum juga membahas perihal bisnisnya. Sementara kepalanya sudah terasa berdenyut. Dengan usaha yang keras, dia berusaha tetap duduk dengan tenang dan sambil berbincang-bincang dengan Mr. Shawn. “ Silahkan diminum lagi tuan Deo” Mr. Shawn selalu mengisi gelasnya yang hampir habis. Tidak enak hati untuk menolak akhirnya Deo meminum minuman keras itu perlahan-lahan.
Lalu tiba-tiba seorang wanita datang membawa minuman tambahan, Deo memandang wanita itu kesal, lagi pula siapa yang memesan minuman setelah memesan banyak tadi. Deo mulai khawatir, jika terus minum dia akan jatuh pingsan. Sementara Daniel belum juga kembali. Dahi Deo mengernyit ketika pria tua itu dengan kasar dan bersikap kurang ajar pada seorang gadis yang membawa minuman kedalam ruangan itu. Deo segera melerai tangan pria itu, toh sutar perjanjiannya tidak basah kan. Begitu pikir Deo. Wanita itu sudah ketakutan tadi.
Saat yang dia tunggu-tunggu pun tiba, tepat setelah gadis itu pergi, entah karena melihat dirinya yang mulai sempoyongan. Mr. Shawn menandatangani surat perjanjian kerjasama itu. Para pemegang saham tidak akan kemana-mana jika dia sudah memegang kerja sama dengan perusahaan Mr. Shawn. Berkali-kali Deo mengucapkan trimakasih, berbasa-basi sedikit. Deo akhirnya pamit.
Di depan ruangan itu ternyata gadis yang dia lihat di ruangan tadi berdiri di depan pintu, “ Kau masih disini?” pertanyaan yang muncul saat itu dari bibirnya. Gadis itu segera membawa Deo berlari, Deo tidak mengerti apa yang terjadi. Melewati musik hingar bingar dan mobil-mobil yang tersusun rapi, dalam pandangan Deo saat itu mereka sedang bermain polisi-polisian, “ dor..dor” sesekali ucapnya begitu. Kemudian mereka sampai di hotel setelah naik taksi, dan Deo mulai terlelap setelah di rebahkan di kasur empuk itu. Rasa ingin buang air kecil terpaksa membuatnya bangun dari tidurnya di pagi buta. Setelah beres dengan urusannya di kamar mandi, dia kembali ke tempat tidur, masih dengan mata kantuknya. Deo hanya bisa melihat samar wajah wanita itu, namun paha putih polos situ sangat jelas dan menggoda. Entah darimana dia memulai. Dia hanya ingat mencumbui gadis itu meski gadis itu meronta-ronta minta dilepaskan. Dia tidak peduli, dia menuntaskan apa yang ingin dia tuntaskan.
__ADS_1
Hingga pagi itu membuatnya kaget dan semua masyarakat kaget dengan berita tak senonoh dirinya.
Flashback off
“ Sial” pekiknya, setelah mengingat apa yang terjadi
***
“Gila, susah banget ketemunya, fix dia di lindungi bos, tapi untung kita bisa dapat sedikit.” ucap Erik anak buah Kenan, seorang ahli cyber. Kenan menatap lama monitor laptop itu, alisnya mengkerut, Kenan tampak berfikir,” Siapa namanya dan semua tentang dia, sudah ketemu?” anak buahnya itu segera menganggup dengan percaya diri. Dia benar-benar yakin dengan pekerjaannya.
“Yemima Sahara, sebatang kara ya…namanya juga mirip” gumam Kenan.
“Segera kirim semua ini pada Daniel dan kita segera mencari wanita ini” Erik mengangguk dan segera bergerak melaksanakan tugasnya.
Sementara Yemima duduk diam setelah kepergian Ariana, dia merasa bersalah dan bimbang dalam waktu yang bersamaan. Dia tahu dia salah, dan akan meminta maaf pada Ariana nanti, jika memaksa sekarang, gadis itu pasti akan semakin marah. Dia juga sudah mengambil keputusan. “ Gue gak bisa berhenti An” gumamnya.
“Sepertinya kita di ikuti Nona” Arshinta menoleh ke belakang, “ Iya” jawabnya.
Beberapa motor kini menyalip dan mulai mengitari mereka. Pria yang ada di depannya ini berbicara pada seseorang dengan bahasa yang tidak dia mengerti. “ Mampus gue” batinnya.
“ Biarkan aku turun disini” Pria itu diam saja.
Lalu beberapa motor melaju kencang kearah mereka, “ Siapa lagi ini, Arianaaaa” batinnya menjerit.
__ADS_1
Dua kelompok itu saling memaki, berusaha merebut dirinya. Hingga akhirnya perkelahian itu pun terjadi, sayangnya ada yang menjaganya, jika saja tidak. Dia pasati sudah kabur.Dia berusaha menghubungi kakaknya, ketika seseorang merampas ponselnya. “ Balikin ponsel gue” pekik Mima. Pria itu membentak Mima karena suaranya yang melengking. “Diam kamu”.
Sementara itu, Gio sedang berusaha membujuk Ariana bercerita, “ Apa terjadi sesuatu?” Tanyanya untuk ketiga kalinya. Gio sudah tidak sabar, Gio berdiri dari duduknya dan pindah kesebelah Ariana. Hingga anpa sengaja dia menyenggol lengan Ariana, “ AW…..”pekik Ariana. “ Ada apa? Hah? Sakit?” Gio panik, dia segera membuka lengan baju Ariana. “ Kenapa ini?” tanya Gio.
“Kan aku udah bilang musuh yang dibawa dari masalah yang kita undang ini gak tahu seberapa jahatnya.”
“ Ngomong yang jelas? Argghh, ck….Pak Tono…Bi…Ck…” Gio segera memanggil supirnya lewat intercom di ruangan itu. “ Kalau tadi gak ketahuan itus akit, kamu bakal diam aja ? iya kan” bentak Gio. Ariana diam saja, sikap Gio selalu membuatnya bingung. Kali ini dia tidak mau terlalu berharap lagi. “ Jawab” bentaknya, tapi Ariana tidak mau menjawab. “ Ariana”.
“ Ya aku harus jawab apalagi, kan udah aku kasih tahu, musuh kita udah banyak sekarang, puas?” Gio tidak puas dengan jawaban Ariana yang menyulut emosinya. Jika Ariana saja sudah terluka, bagaimana dengan Yemima. “ Kamu gak cerita gimana kita ngejagain Mima, gimana kita nyelamatin Mima” Gio masih mondar-mandir, tidak sadar dengan ucapannya yang semakin menyakiti Ariana.
Tidak lama kemudian ketukan di pintu membuat dua orang yang hanyut dalam pikiran masing-masing itu tersadar. “ Ini kenapa? Dan dahimu kenapa?” Gio menunjuk lengan Ariana dan Dahi pak Yudi. Melihat Ariana mengangguk akhirnya Pak Yudi menjelaskan apa yang terjadi diperjalanan menuju rumah Yemima tadi.
“Kamu lihat? Kalau kamu gak cerita kita gak akan bisa ngambil tindakan, bisa-bisanya diam aja” bentak Gio. Rasanya Ariana sekuat tenaga menahan air matanya, “ Pak Yudi udah bisa kembali bekerja” ucap Gio tanpa menatap pria itu.
“ Udah.. aku udah pindahin tempat tinggal Yemima” Ucap Ariana tiba-tiba. Hingga menghentikan aktivitas Gio yang hendak mengurus keperluan Yemima.
“ Oh bagus, aku suruh Andika tambah pengawalan dulu”
“ Udah, sudah aku tambah” Gio terdiam, “ Bagus” katanya kemudian.
“ Kak”
“ Hem?” Pria itu mendekat.
__ADS_1
“ Mari kita putus”
Bersambung.....