
Bukan Ariana tidak ingin memberitahu Gio kemana tujuannya saat ini, namun gadis itu masih sedikit kesal. Namun dia tidak punya kekuatan untuk menunjukkan semua keingingnanya pada pria itu, gadis itu terlalu menjaga sikapnya di depan Gio. Dia lebih sering memendam, berbeda dengan beberapa tahun lalu, dulu dia begitu ekspresif berbeda dari yang sekarang. Tadi anak buah mereka menghubungi mereka melalui ponselnya. Mengabarkan sesuatu yang penting.
Perjalanan menuju tujuannya kali ini terasa lama sekali, terlebih lagi macet yang panjang benar-benar menghabiskan waktu dalam mobilnya. Dia duduk dengan gelisah, “ Masih panjang ya pak?” tanyanya pada sang supir. “ Iya nyonya” jawab pria paruh baya itu. Arshinta sibuk mencari-cari sesuatu di ponselnya, lalu berdecak karena tidak sesuai dengan keinginannya. Suasana mendadak sepi , “ Loh, ini dimana pak?” tanya Ariana yang mendapati mereka kini di jalan yang sepi dan sempit, dia tidak tahu ini ada dimana.
Ariana mulai panik. “ Awas pak…”
Bruk…
***
Gedoran pintu di pintu itu membuat Yemima terbangun dari tidurnya, dengan langkah malas dia membuka pintu setelah memastikan siapa yang ada diluar sana. Yemima sedikit kaget karena baru tersadar, hari sudah pagi dan matahari mulai meninggi. Rasanya dia baru saja tidur. Ceklek.
Ariana tiba-tiba memeluknya, “ Ada apa ini?” tanyanya pada Ariana, yang tampak sedikit berkeringat. Dengan perasaan bertanya-tanya, Yemima bertanya kembali, sebab Ariana bukan tipe wanita yang mudah menangis. Gadis itu mulai marah-marah, dan mengajak untuk kembali saja, pulang ke rumah. Dengan tegas dia menolak. Misinya belum selesai.
“ Kamu ada masalah sama kak Gio?”
Akhirnya Ariana mengatakan bahwa dia khawatir pada Yemima, namun dia tetap menyangkal meski Ariana sudah mengatakan bahwa dia dalam bahaya. Dan malah memilih bersiap untuk menuju tempat kerjanya yang baru.
Sementara itu Ariana tampak kesal karena Mima benar-benar tidak mau mendengarkannya. Gadis itu malah bersiap-siap untuk pergi ke Restaurant Si Enak. Apa Mima tidak mengerti bahaya yang dia hadapi sekarang ini?
Meski tetap di jaga oleh anak buah Gio rasanya Ariana masih kuatir, entah sekuat apa musuh mereka di luar sana.
“Maju terus atau mundur sekarang?” gumam Mima di kamar mandi kecil yang ada di dalam rumah sederhananya itu . Haruskah dia berhenti? Kini Yemima tengah di rundung kebimbangan antara maju atau mundur sekarang. Lama dia di kamar mandinya duduk termenung di balik pintu kayu kamar mandi itu. Dia masih menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan. Semua ini terjadi juga melibatkan dirinya didalamnya. Lama Mima di dalam kamar mandi sementara Ariana masih disana sambil memainkan ponselnya, wajahnya tampak murung. “ Gue khawatir sama lo, ngerti nggak sih Ed?” Ucap Ariana saat melihat Yemima keluar daru kamar mandi, dia benar-benar kesal dengan kekeraskepalaannya Yemima.
“An, lo gak ngerti apa yang gue rasain, gimana gue bisa ninggalin orang yang bisa aja di lenyapkan kapan pun, sementara gue tahu mereka akan mencelakai orang itu, ck” Yemima menatap Ariana berharap sahabatnya itu mengerti. Lalu tangannya mulai mengoleskan berbagai produk kecantikan di wajahnya dan mulai memoles beberapa produk untuk membuat wajahnya terlihat berbeda.
“ Dia aja gak peduli sama lo, dia gak pernah nyariin lo, sekarang lo datang ke dalam hidupnya, kemana harga dirimu hah?” Sentak Ariana.
__ADS_1
“ Gue udah gak punya harga diri, puas lo. Gue yang jalani, An, bukan lo. Kalau gak mau bantu ya udah, gak usah ambil pusing” bentak Yemima. Ariana segera mengambil tasnya lalu meninggalkan rumah itu.
Beberapa orang segera melindunginya sejak keluar dari rumah itu, meski dari jarak yang agak jauh. “ SSSSSHHH” dia mendesis, air mata yang dia tahan sejak tadi kini luruh sudah kepipinya. Dilihatnya lengan kananya sedikit membiru namun tertutup dengan kemeja lengan panjang yang dia gunakan.
“Dasar bego, gak punya harga diri” Ariana merutuki Yemima karena kesal.
***
“ Kamu kenapa An?” tanya Gio ketika mendapati Ariana pulang dalam keadaan menangis. Namun Ariana tidak menghiraukan Gio, “ Mama” bahkan panggilan Deona pun tidak dia hiraukan lagi. Ariana segera masuk ke kamarnya. “ Daddy..hiks..hikss mama marah ama Deoana ya” tangis Deona pecah. Gio sampai kelimpungan dibuatnya. “ No, baby…mama gak marah sama Deona, mama lagi capek makanya mau bobo”ucap Gio memberi pengertian pada Deona.
Deona pun mengangguk paham. “ Deona mainnya sama Daddy dulu okeh?” Deona mengangguk senang.
Satu jam sudah berlalu, Deona mulai terkantuk-kantuk, Gio mengelus-elus rambut Deona, yang membuat gadis itu semakin terlelap dalam tidurnya. Gio segera memanggil baby sitter Deona untuk menjaga gadis itu, sementara dirinya menyusul Ariana di lantai atas.
“An..Ana..Ana, buka dong pintunya” tidak ada sahutan dari Ariana. Gio segera membuka pintu kamar itu dengan kunci cadangan yang disimpan pelayan rumah itu. Di atas ranjang itu Gio mendapati Ariana duduk termenung, masih ada sisa air mata di sekitar pipinya. “ Ada apa hem?”tangan Gio segera dihempaskan oleh Ariana saat ingin menyentuh gadis itu. Gadis itu sedikit meringis, lalu memegang lengannya yang sakit itu.
“ Apa sih? Kamu ini bicara apa, aku gak ngerti? Aku sudah minta maaf, aku salah membentak kamu, aku minta maaf Ariana” Gio kini mendudukkan dirinya di samping Ariana. Ariana diam. Gio memperhatikan gadis itu. Gadis itu berkeringat, ada yang tidak beres pikirnya. Dia kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Na, kalau ada apa sesuatu itu ngomong dong, biar aku tahu” Ariana ingin menangis lagi, pria ini selalu bersikap lembut padanya tapi hatinya untuk wanita lain, kenapa gak marah-marah aja, atau benci dia sekalian. Ariana kesal sekali. Kini kesalnya double.
“Dia gak mau berhenti, semua ini salahmu, kenapa kamu harus dukung dia hah?”
Flashback on
“ Arrrrghhh” pekiknya pagi itu. Mendengar suara pria yang ada di ruangna yang sama, membuat otak Yemima berpikir cepat. Dia akhirnya menyadari jika sejak malam tadi dia dan pria itu ada diruangan yang sama. Segera dia menutup pintu kamar mandi itu. Merutuki dirinya sendiri atas apa yang terjadi dan berusaha menghilangkan tanda kebiruan di lehernya. Dia segera mengangti pakaiannya dengan seragam yang dia pakai kemarin, lalu mengeluarkan alat make up yang ada dalam tas kecilnya. Untung saja tadi malam dia tidak menghapus make yang di pakaikan Ariana tadi malam untuknya. Dia hanya perlu menebalkannya lagi meski sambil menggerutu karena akibatnya mungkin wajahnya akan jerawatan setelah ini.
Melihat beberapa orang datang untuk mengusir wartawan itu, Yemima segera mengambil kesempatan dan lari dari sana. Beberapa orang wartawan ikut mengejarnya bersama orang-orang berbadan besar itu. Dengan tubuh yang pegal-pegal Yemima berlari kencang, hingga sampai didepan hotel, tidak ada angkot atau taksi yang lewat dengan frustasi dia kembali berlari. Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti dan seorang wanita berteriak padanya, “ Ayo” pekik wanita itu yang tak lain adalah Ariana. Dengan perasaan lega akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
“ Aku akan segera memesan tiket, kita harus segera pergi dari sini”
“ No, An, Deo dalam bahaya”
“ Ck ( Ariana membuang nafas perlahan) Ed, ini udah terlalu jauh, kamu udah usaha, udahlah. Please jangan keras kepala”
“ An, gimana aku bisa tidur nanti kalau tahu dia dalam bahaya, Mr. Shawan udah menjalankan satu rencananya, tujuannya bukan Cuma harta Deo, kamu ngerti gak. Dia ingin nyawa Deo” pekik Edrea.
“ Arrrghhh…harusnya lo gak usah datang ke pesta malam itu, sialan” Yemima tidak menjawab.
Lama mereka diam, “ Mereka gak boleh tahu siapa aku, aku harus jadi orang lain” Ariana diam saja, rasanya kepalanya mau pecah, mau mencegah juga tidak bisa jika Edrea menginginkan sesuatu maka itu harus didapatkannya. Mereka akhirnya mampir ke kantor cabang milik Gio. Gio menyambut keduanya dengan senyum seperti biasanya, “ Gak usah senyum, kita tahu kakak tau apa yang terjadi tadi” ketus Edrea. Pria itu terkekeh, “ Ini identitas baru mu, ini alamat rumahmu” Deo segera memberikan apa yang gadis itu perlukan. Yemima hampir saja terjatuh karena kegirangan. Gio memang the best pikirnya. “ Aku tidak bisa membaca hatimu atau hati kalian berdua, aku juga gak bikin alat penyadap. Aku sudah membuat ini dari lama” ucap Gio.
“ Yah..kirain kakak baru buat” Lalu matanya mulai melihat dan membaca kartu dan kertas yang baru dia terima itu.
“I..ini” dia menatap Gio dan Ariana. Ariana membuang nafas perlahan, Gio selalu mendukung Edrea, padahal pria itu juga tahu jika bahaya dari luar bisa mengancamnya. Yemima terlihat kegirangan.
“ Tapi semua ada limitnya… satu bulan…selesai gak selesai kamu harus pulang” ucap Deo tegas, Edrea akhirnya mengiyakan. “ Ini gadis cantik ini kenapa? Kok manyun?” Gio yang tahu Ariana kesal malah semakin menggodanya.
“ An, jangan bete gitu dong, nanti aku dapat musibah kalo kamu gak iklas gini” Kini Edrea duduk disamping gadis itu.
“ Oh ya, orang-orangku akan selalu ada di sekitarmu, kamu tinggal katakan apa yang kamu perlukan nanti kami siapkan”
“ Okeh deh… kakak-kakakku yang baik, adek mu ini ijin pamit untuk menjalankan misi penyelamatan mantan ahahahhahah” tawanya mengelegar di seluruh ruangan itu. Meninggalkan dua orang yang sama-sama diam, “ Ayolah, aku tahu kamu kenal dia lebih lama dari aku, kalau semakin dia di tahan semakin dia memberontak. Kita bakal pantau sama-sama tenanglah. Hem..” Gio mencolek dagu kekasihnya itu. Ariana tetap diam. Cup. Mata Ariana seketika tebuka lebar, pipinya kini merona.
Flashback off
“ Harusnya kamu gak kasih dukungan, tau gak? Musuh di luar sana gak tahu gimana jahatnya, dia gak mau ngerti, aku kuatir Kak, harusnya kita gak pernah setuju sama ide gila dia” pekik Ariana. Gio diam saja. “Ariana apa terjadi sesuatu?
__ADS_1
Bersambung