Hello lucias (Sins system)

Hello lucias (Sins system)
03 Bidadari BAR-BAR


__ADS_3

Dengan senyum yang di paksakan akhirnya lucias pun hanya membawa map yang berisi ijazah dan kartu identitasnya saja, setelah mengambil itu dia pun memutuskan untuk keluar dari rumah itu tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, hanya cairan bening yang mengalir keluar dari matanya sambil meninggalkan rumah, seolah alampun ikut sedih tentang yang di alami lucias, hujan pun turun rintik rintik mengiri langkahnya ntah kemana dan tepat di pinggir jalan raya ia berteriak AAAAAARRGGHHHHHHHHH seketika alam menyambut amarah dari lucias suara petir menggelegar di atas langit...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lucias pingsan di pinggir jalan raya itu, iya di temukan oleh seorang gadis belia, dan gadis itu membawa nya ke klinik terdekat, gadis itu menolong lucias di karenakan ia tak mau menjadi manusia yang tidak peduli sesama.


Setelah di periksa oleh dokter yang ada di klinik itu, sang dokter berkata lucias hanya shock dengan kejadian sebelumnya, dan nanti siang/sore lucias di perkirakan siuman.


Prediksi dokter tersebut tepat, siang hari lucias terbangun sambil memegangi kepalanya yang masih pusing itu


"aku? dimana aku? apa ini surga bentuk rumah sakit?" gumam lucias


sang gadis pun tertawa mendengar ucapan lucias, mendengar ada suara di belakang lucias seketika lucias pun menoleh.


"Ini di klinik kak bukan surga bentuk rumah sakit, kakak tadi pingsan di jalan, aku membawa kakak kesini" ucap gadis itu

__ADS_1


"bidadari? aku benar sudah ada di surga?" gumam lucias yang tidak mengindahkan ucapan gadis itu, dengan bar bar nya sang gadis menepuk dahi lucias


Plakk suara tangan gadis itu bertemu dengan dahi lucias


"aduhhh sakit apa yang kau lakukan wahai bidadari bar bar kenapa kau kasar sekali" ucap lucias kepada gadis itu sembari menggosok dahi nya yang terkena taplokan maut dari sang gadis


"ini ada makanan, kalau sudah sadar dari halusinasi kakak, makanlah ini. walaupun cuma roti ini bisa mengganjal perut kakak yang kosong itu" ucap gadis itu sembari meletakkan roti dan berlalu pergi keluar ruangan


"eh ehhh mau kemana kau bidadari barbar" ucap lucias sembari bangun dari brangkar klinik tersebut, tapi apadaya kepalanya kembali pusing, ia tidak mempunyai tenaga untuk mengejar gadis tersebut.


ia memilih untuk memulihkan dirinya dulu dari rasa sakit kepala yang ia rasakan sembari memakan roti yang di berikan gadis itu.


"bagaimana aku membayar biaya perawatanku disini? aku kan tak punya uang, apa ini uang untuk membayar biaya perawatan ku disini? bagaimana kalau kurang?" lucias bermonolog dalam hati


"ah aku tak peduli yang penting aku harus bisa bertahan hidup untuk membalaskan dendamku kepada keluarga ALVARO sial*n itu" lucias bergumam sendiri seperti orang yang gila yang sedang memotivasi dirinya sendiri

__ADS_1


sore hari, setelah lucias merasa sudah baikan dia menggeret tiang infus nya keluar ruangan dimana ia di rawat dan tepat saat hendak keluar ruangan ia bertemu dengan perawat yg hendak masuk juga


"bapak udah sehat? saya baru saja mau mengecek keadaan bapak" ucap perawat perempuan itu dengan nada centil


"saya sudah mendingan bu perawat, apa boleh saya keluar dari sini? saya tidak punya uang untuk membayar biaya perawatan saya disni" ucap lucias


"oh untuk biaya sudah di selesaikan nona yang mengantarkan anda tadi pak" ucap perawat itu


"ah bidadari bar bar terima kasih banyak" gumam lucias yang bisa di dengar oleh perawat itu


"bidadari? mana pak bidadari? apakah itu aku?" balas sang perawat dengan pede nya terlihat guratan merah di pipinya pertanda dia malu


"pd banget ni mbakmbak" gumam lucias dalam hati


"engga bu perawat sudalah lupakan saja, apakah selang infus ini di cabut? " tanya lucias kepada perawat itu

__ADS_1


"baiklah pak, infusnya saya cabut ya, agak sedikit sakit di tahan aja ya" ucap perawat itu


"iya bu terima kasih, apakah setelah ini saya boleh keluar dari klinik ini bu? berhubung administrasi nya kan sudah di bayar"


__ADS_2