
Hari ini kak Rey sudah menunggu Bianca di pintu gerbang, seperti biasa, aku menurunkan Bianca di dekatnya, dan ku lajukan kembali motorku ke arah parkiran.
Sejak Bianca kenal kak Rey, Bianca memang lebih sering menghabiskan waktunya dengan kak Rey. Yah, meski aku sedikit cemburu tapi aku cuma berharap Bianca bisa bahagia. Ternyata benar, kehilangan sahabat itu lebih sakit dari kehilangan pacar wkwk
"Bi aku cemburu loh." Ucapku saat Bianca sampai di kelas
"Apaan sih Re, jangan-jangan kamu lesbong ya?" Jawab Bianca dengan sikap waspada
"Enak aja, abisnya kamu berangkat udah ditungguin, istirahat ditungguin, akunya kan jadi terabaikan." Ucapku pura-pura memelas
"Yee, aku gag bakal lupain kamu Re janji. Lagian tiap hari juga kita bareng-bareng terus kok, aku gag bakal jadi kacang lupa kulitnya, bagaimanapun kamu akan selalu jadi sahabat baik aku." Kata Bianca serius
"Bercanda kali, gitu amat nanggepinnya." Jawabku sambil tertawa mendengar jawaban Bianca. Bocah ini emang gampang banget dikerjain wkwk
Jam istirahat pertama
"Oh ini anak baru yang ngerayu Reyhan? Punya nyali juga ya?" Bentak kakak kelas yang bernama Eka itu pada Bianca
Entah ada angin apa, tiba-tiba ada 4 orang kakak kelas yang mendatangi kelasku dan langsung menuju ke arah Bianca. Teman-teman yang masih tersisa di
kelas pun hanya bisa melihat dari tempat mereka semula, tidak ada ada yang berani mendekat apalagi menolong Bianca, termasuk aku yang tak sanggup berbuat apa-apa untuk Bianca.
"Oh, Udah ngerayu Josep masih ngerayu Reyhan juga? Gatel banget emang." Ucap kak Yuna sambil melipat kedua tangannya di depan dada
"Maaf kalo boleh tau kakak siapanya kak Rey ya?" Tanya Bianca
"Emang apa pentingnya buat kamu aku ini siapanya Reyhan?" Tanya kak Eka dengan nada sadis
"Penting lah kak, kalo kamu pacarnya kak Rey aku bakal mundur." Jawab Bianca tegas.
"Aku calon pacarnya Reyhan." Jawab kak Eka cepat
"Kalo baru calon mah aku juga calon pacarnya kak Rey." Ucap Bianca percaya diri
__ADS_1
"Eh brengs*k kamu ya, dasar pelac*r!" Ucap Kak Eka marah sambil melempar sebuah kursi ke arah Bianca, untung saja Bianca dengan sigap segera menghindar. Tidak hanya itu, Bianca mendorong meja yang ada di depannya dan meja itu tepat mengenai kaki kak Eka.
"Sial*n kamu , berani sekali kamu lempar meja ke aku." Kak Eka marah dan mencoba untuk menyerang Bianca tapi teman-teman nya segera menahannya.
"Kakak yang mulai duluan, saya hanya membela diri lagian saya juga gag lempar meja ke kakak, saya perempuan yang lemah lembut mana mampu saya mengangkat meja dan melemparkannya ke kak Eka, aku cuma dorong sedikit kok sumpah." Ucap Bianca sambil berakting polos
"Cihh... berlagak." ucap kak Eka kasar
"Eh jangan sombong dulu kamu, lihat besok kamu masih berani ke sekolah atau tidak." Ancam teman kak Eka yang bernama Febby,
"Kamu juga, jangan berani-berani merayu Doni lagi." Lanjut kak Febby sambil menunjuk ke arahku.Laahh, aku pulak dibawa-bawa, padahal aku udah lama jatuhin kak Doni, emang semua cowok ganteng di sekolah ini udah di booking ya sama geng norak itu?
Kak Eka masih meluapkan emosinya, sementara kak Yuna hanya diam saja menahan diri, aku yakin sebenarnya kak Yuna juga ingin membully Bianca, tapi statusnya sebagai anggota OSIS yang menahan dirinya untuk tidak membully orang di depan murid-murid lain.
"Udah Ayuk keluar, takutnya ntar ada guru yang lewat." Ajak kak Yuna pada teman-teman nya
Dan mereka pun segera meninggalkan kelasku.
"Alah sekarang baru berani ngomong, tadi kamu kemana aja waktu Bianca dibully, banci!" Bentak Ajeng pada Obii sementara Obii hanya bisa tertawa kecil
"Sorry ya Bi aku ga bisa belain kamu." Ucapku pelan pada Bianca
"Santai Re, cuma mereka doang, satu geng juga aku jabanin." Jawab Bianca
"Ah kamu ini Bi." Aku mencubit lengan Bianca pelan
"Semoga geng lucky girls gag ganggu kita lagi ya Re." Ucap Bianca pelan
"Ya gag mungkin gag lah, mereka itu rata-rata orang pendendam suka cari masalah, gag mungkin mereka diam begitu saja setelah apa yang kamu lakukan, lagian kamu tadi terlalu berani Bi, aku aja sampe gag bisa nafas karena khawatir."
Gimanapun sekarang Bianca sudah menjadi target dari geng lucky girls. Kedepannya kita harus berhati-hati, aku harus segera memperingatkan Bianca agar dia tidak bertindak sembrono lagi.
"Eh kak Josep Wa aku, kok dia tau nomor aku?" Suara Bianca mengagetkanku
__ADS_1
"Gimana emang?" Tanyaku penasaran.
"Ya nanya doang sih apa benar aku tadi dilabrak kak Yuna dkk, terus bilang aku harus hati-hati ke depannya jangan sampe buat masalah sama mereka lagi." Jawab Bianca dengan muka masam
"Ada apa sama ekspresi kamu itu, kok kagak seneng gitu, eh ini kak Doni juga Wa aku nanyain masalah tadi." Jelas ku pada Bianca
Ah kak Doni ini, baru juga aku mau lupain dia, malah dia sok care gitu, ambyaar lagi kan.
"Ciiih mereka itu munafik banget sih, gayanya sok perhatian tapi mereka masih ngumpul aja sama geng sial*n itu." Umpat Bianca kesal
"Jangan gitu dong Bi, gimanapun juga mereka itu temannya kak Doni sama kak Josep, sesama teman kan harus saling memaklumi." Jawabku asal
"Apaan memaklumi, harusnya saling mengingatkan." Protes Bianca
"Yaudah ah, kantin yuk laper. Gara-gara mereka aku jadi gag sempet makan." Ajak Bianca
"Yee si bocah, makan mulu yang dipikirin. Tapi ini udah mau bel masuk Bi." Jawabku memperingatkan Bianca.
"Kalo gitu aku bolos dulu ya Re, males banget masuk kelas." Ucap Bianca santai
"Eh jangan gitu dong Bi, kamu udah kebanyakan bolos tau. Ntar kamu gag naik kelas bisa sedih aku gag bisa bareng-bareng kamu lagi." Aku mencoba memperingatkan Bianca, bagaimanapun dia sudah terlalu sering membolos akhir-akhir ini.
"Terus gimana nasibku Re, aku bisa mati kelaparan kalo aku tidak segera makan." ucap Bianca pura-pura memelas
"Heleh. .aku belum pernah denger ada orang mati karena melewatkan makan siang. Jangan lebai please." jawabku mengingatkan
"Yah, Rere mah gitu." ucap Bianca memelas
"Nanti aja ya istirahat kedua kita ke kantin nanti aku yang traktir, sekarang laparnya ditahan dulu." janjiku
"Siap Boss. kalo gini kan aku jadi semangat." Tiba-tiba saja Bianca menjadi bersemangat setelah mendengar kata traktir.
"Haha dasar!"
__ADS_1