High School Never Ends

High School Never Ends
Apakah Firasat ku Benar?


__ADS_3

Hari yang cerah, secerah hatiku. Bianca hari ini bangun lebih pagi sehingga aku tidak perlu menunggunya terlalu lama. Saat aku sampai Bianca sudah menungguku di depan pintu. Ah senangnya tidak akan terlambat lagi.


"Bi sering-sering kaya gini ya biar kita gag telat terus. Haha." Ucapku sambil tertawa


"Siap bosku, besok-besok aku gag bakal telat lagi kok." Janji Bianca


"Btw ada angin apa bi?" Tanyaku penasaran


"Gag ada angin apa-apa kok Re,kok aneh pertanyaannya." Jawab Bianca datar


"Kok tumben? Biasanya kamu ngaret mulu."


"Apa sih Re, aku berubah lebih baik kamunya malah ga percaya gitu huhu." Bianca memasang tampang memelas


"Heleh, kayak gag apal kamu aja." Ucapku


"Hehe, biar bisa lamaan gitu sama kak Rey." Jawab Bianca


"Gag kapok kamu sama kejadian kemarin? Kalo kak Eka datang lagi gimana?" Aku mencoba mengingatkan Bianca pada masalah yang dibuat kak Yuna dkk kemarin siang.


"Kagak lah ngapain juga takut. Lagian kak Eka juga bukan pacar kak Rey. Pokoknya aku gag bakal mundur sebelum janur kuning melengkung." Bianca kekeh dengan pendiriannya


Anak keras kepala ini kalau sudah membuat suatu keputusan maka akupun tidak akan sanggup membuatnya berubah pikiran.


"Yaudah sih, baik-baik sama kak Rey, jangan sampe perjuangan kamu sia-sia." Pesanku pada Bianca.


Saat sampai di gerbang sekolah aku melihat kak Rey sudah menunggunya disana. Aku menurunkan Bianca seperti biasa, dan seperti biasa, aku masih tidak menyukai lelaki bernama Reyhan itu. Mengingat bagaimana dia memandang Bianca dengan tatapan mesumnya itu membuatku risih saja.


"Re, nanti aku mau maen lagi sama kak Rey." Ucap Bianca bersemangat saat sampai di dalam kelas


"Kemana Bi, karaoke lagi?" Tanyaku penasaran


"Belum tau sih Re." Jawab Bianca sambil mengangkat bahunya


"Yaudah yang penting kamu hati-hati Bi, have fun ya."


Bagaimanapun aku harus selalu mendukung Bianca, aku tidak boleh memaksakan firasatku padanya. "Ayolah Re ini hanya sebuah firasat, mungkin saja kamu salah." Gumam ku pada diri sendiri


Bianca nampak antusias mengikuti pelajaran, tidak ada sedikitpun terucap kata ingin bolos hari ini, mungkin suasana hatinya sedang bagus. Jelas saja, nanti sore dia kan mau maen sama kak Rey, tentu saja dia sangat bersemangat.

__ADS_1


Pulang sekolah


"Ayuk Re pulang." Ajak Bianca bersemangat


"Cie yang mau ngedate semangat amat." Sindir ku


"Hehe, gimana gag semangat Re, ibarat bunga cinta aku tuh lagi mekar-mekarnya." Jawab Bianca tidak nyambung


"iya deh percaya. Semangat orang jatuh cinta mah gag ada yang ngalahin." Ucapku datar


Aku segera melajukan motorku dan mengantar Bianca pulang, aku sengaja tidak langsung pulang hari ini. Aku mampir ke rumah Bianca untuk melihatnya bersiap-siap. Yah lucu juga sih kalo orang jatuh cinta mah, kencan jam 5 jam 3 udah gag sabaran aja.


"Kamu ntar bawa motor sendiri apa dijemput Bi?" Tanyaku pada Bianca


"Mau dijemput sih katanya." Jawab Bianca


"Kalo gitu aku balik dulu ya, jangan lupa ntar kabarin aku jangan sampe enggak." Pesanku pada Bianca


"Siap boss." Bianca cengengesan


Aku segera berpamitan kepada orang tua Bianca dan segera pulang. Ku rebahkan sebentar badanku di tempat tidur untuk menghilangkan lelah.


#Dimana woyy


Kutunggu sepuluh menit lebih Bianca belum juga membuka pesannya. Dasar ni anak kalo udah pacaran lupa sama temen, lebih baik aku mandi dulu sambil menunggu balasan dari Bianca.


Selesai mandi Bianca belum juga membalas pesan dariku, jujur saja ada sedikit rasa khawatir di hatiku ini. Aku tidak terlalu suka dengan cowok yang bernama Reyhan itu tapi karena Bianca begitu menyukainya akhirnya aku hanya menyimpan perasaan tidak suka ku itu.


Waktu menunjukan pukul 20.30 tapi Bianca belum juga membalas pesan ku, ku putuskan untuk meneleponnya. Aku meraih telephon selular ku tepat saat sebuah panggilan masuk, ah Bianca. Panjang umur ni bocah


"Halo Bi." Ucapku membuka percakapan


"Hiks hiks hiks, halo Re kamu di rumah tidak." Terdengar suara Isak tangis Bianca


"Halo, kamu kenapa Bi kok nangis?" Ucapku khawatir


"Ntar aku ceritain Re, ini kamu di rumah kan?" Tanya Bianca


"Iya aku di rumah Bi, ada apa?" Tanyaku penasaran

__ADS_1


"Aku tidur tempatmu ya." Ucap Bianca


"Oke aku tunggu Bi, atau kamu mau aku jemput?" Tawarku


"Gausah Re, ini aku naik ojek bentar lagi sampai." Tolak Bianca


"Oke aku tunggu." Ucapku mengakhiri percakapan


Aku semakin khawatir mendengar Bianca menangis di telephon tadi. Ada apa dengan Bianca? Kenapa dia pulang naik ojek bukannya diantar kak Rey? Terus kenapa mendadak tidur di rumahku? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku menimbulkan rasa penasaran yang tidak bisa dibendung lagi.


Aku mondar-mandir di depan pintu rumahku menunggu kedatangan Bianca, setelah hampir 20 menitan akhirnya Bianca datang juga. Bianca nampak kacau dan ketakutan, ku lihat air mata masih menetes dari matanya.


Aku segera memeluk Bianca untuk menenangkannya, lalu kusuruh untuk segera masuk.


Bianca duduk termenung di atas tempat tidurku, aku segera memberinya minum dan membiarkannya diam untuk beberapa saat agar lebih tenang. Jujur aku penasaran dengan apa yang terjadi, tapi aku tidak ingin memaksa Bianca bicara dulu untuk saat ini. Biarlah nanti saat Bianca lebih tenang, dia pasti akan bicara kepadaku.


"Kamu naik ojek dari kota ke sini Re?" aku mencoba mencari bahan untuk mencairkan suasana


"Yoi." jawab Bianca tanpa ekspresi


"Gila, berapa duit?" tanyaku penasaran,


jarak kota ke rumahku memang agak jauh


"200 Re." Jawab Bianca


"Wuihhh Mayan tuh bisa buat uang saku 3 hari Wkwk. tapi kok kamu gag dianter kak Rey?" Uppss


niatnya aku cuma mau mencairkan suasana tapi aku malah menyebut nama kak Rey, dasar bodoh


"Hehe daripada aku mati diperkosa orang." ucap Bianca datar


uppss


"Maksud kamu apa Bi? apa yang dilakuin kak re sama kamu? Coba cerita sama aku biar aku kasih pelajaran bajing*n itu."


Aku marah, aku benar-benar marah dan tidak bis menahan emosiku. Tapi Bianca masih diam dan tidak memberiku penjelasan. Dia hanya menundukkan kepala dan menangis, lagi.


"Gag pap Bi kalau kamu masih belum siap untuk cerita tidak masalah, besok saja ceritanya, sekarang kamu istirahat dulu biar agak enakan." ucapku pada Bianca

__ADS_1


Jujur kau merasa sangat bersalah pada Bianca. Tidak seharusnya aku memintanya untuk cerita dalam kondisinya yang masih tertekan ini. Tere kamu bodoh! bukannya menghibur kamu malah membuatnya semakin sedih, gobloook. Tanpa sadar aku memaki diriku sendiri.


__ADS_2