
Bianca bangun kesiangan lagi, saat aku sampai dirumahnya bahkan Bianca masih terduduk di tempat tidur mengumpulkan nyawa nya. Aku memaksanya bergegas untuk bangkit dan mandi.
"Nak Tere udah sarapan belum?" tanya budhe Lastri ibu Bianca kepadaku
"Belum budhe." jawabku polos
"Yaudah yuk sini sarapan dulu."
Budhe Lastri membawakan ku sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat.
Aku pun segera memakannya, tanpa sungkan. Sudah jadi kebiasaan setiap pagi budhe akan memaksaku sarapan di sini, budhe tau orang tuaku tidak di rumah, jadi aku jarang sarapan.
Bahkan jika aku menolak sekalipun, budhe Lastri akan memaksaku sarapan bersama Bianca.
Setelah hampir 20 menit aku menunggunya mandi dan ganti baju akhirnya Bianca keluar juga. Aku berdiri dan bersiap untuk pamit kepada budhe Lastri.
"Ayo re buruan jangan sampe telat" Bianca menarik tanganku untuk berjalan mengikutinya
"Kalo kamu gang bangun kesiangan kita gag bakal telat woyyy." Ucapku kesal
Jelas-jelas Bianca yang bikin kita telat kenapa jadi aku yang disalahkan. Nasiiib
Aku melajukan motorku lebih cepat dari biasanya. Untung saja jalanan hari ini tidak terlalu ramai, dalam 25 menit aku sudah sampai di sekolah.
"Yo, anak baru udah punya nyali buat telat ya?" Beberapa kakak kelas yang kami lewati menatap sinis ke arahku dan Bianca.
"Misi kak." Ucapku pelan
Aku hanya bisa menundukkan kepala semetara Bianca nampak cuek pada mereka.
"Bodo ah Re cuekin aja, keburu telat kita." Ucap Bianca pelan sambil menarik tanganku.
******.... Kalo sampe kedengeran kakak kelas abis lah kita. Si Bianca ini kalo songong suka kelewatan emang.
"Woooo, udah pinter jawab ya, punya nyali juga. Kelas mana kalian?" Tanya salah satu kakak kelas tak terima
Aku dan Bianca terus berjalan mencoba mengabaikan mereka. Haish mentang-mentang kosong, pada kurang kerjaan jadi gangguin adik kelas deh tuh perempuan- perempuan tanah jahanam.
"Inget ya kalian, ini cuma peringatan aja. kalau kalian berani deketin Doni lagi, aku bakal bikin kalian pindah dari SMA Harapan." teriak perempuan yang putih dan tinggi.
Aku berhenti sejenak mengingat wajah perempuan yang berteriak tadi.n
"Ternyata dia itu ceweknya kak Doni Bi, cewek yang di kantin waktu itu, pantes aja dari tadi mau nyari ribut mulu sama kita. Abis ini kita harus lebih hati-hati Bi." Aku mencoba memperingatkan Bianca. Dengan sifat Bianca yang seperti ini, bukan tak mungkin kejadian di kantin akan terulang lagi.
__ADS_1
"Eh kelas kita juga kosong Re, asyikkkk." Ucap Bianca bersemangat mengabaikan ucapanku.
Anak ini emang suka gemesin. Kadang-kadang sih, tapi banyak nyebelinnya.
Btw karna kelas kosong jadi anak-anak cuma nongkrong di depan kelas, sebagian lagi ke kantin.
Berkah banget deh kalo yang kosong jam matematika, suka suka.
"Oke kita kemana Re? Kantin yuk." Ajak Bianca padaku setelah meletakkan tasnya di atas meja.
"Kamu aja Sono, aku udah dibuatin Nasi goreng tadi sama budhe Lastri." Ucapku menolak.
"Laahh, budhe Lastri itu kan nyokap aku, aku aja tadi kagak sarapan, kenapa malah kamu yang makan nasi goreng dirumahku." Bianca cemberut
Jelas Bianca tidak terima aku sarapan dirumahnya sementara dia sendiri belum makan apapun, Wkwk lucu juga ni anak.
"Salah sendiri tidur kaya kebo, jangan salahin aku kalo budhe Lastri lebih sayang sama aku daripada anaknya sendiri Ahahaha." Jawabku menggoda Bianca
"Ahhhh,, not good ini. Pokoknya mulai besok kamu gag boleh sarapan dirumahku kalo aku belum sarapan." Ucap Bianka sambil melipat kedua tangannya di depan dada
"Yuk ah kantin jadi gag." anakku
Di sekolahku ini ada 4 kantin, yang satu adalah kantin yang dikelola sekolah, dan yang 3 dikelola mandiri oleh penyewa tempat.
"Oke sip." Jawabku singkat
"Kamu tadi di rumahku makan apa aja Re?" Tanya Bianca
"Ehh, cuma nasi goreng sama teh anget kok, kenapa sih kamu?"Jawabku penasaran
Yee si bocah ini kenapa deh, cuma gara-gara ibunya nyuruh aku makan sambil nunggu dia mandi plus dandan dia kagak terima gitu.
"Aku mau persen menu kayak yang tadi kamu makan di rumahku pokoknya." ucap Bianca cemberut
"Abis ini pelajaran Bahasa Inggris loh Bi, jangan sampe kita telat,gurunya killer." Jelasku pada Bianca
"Oke." Jawab Bianca singkat
"Oke doang?" Tanyaku kesal
"Yah aku mau jawab apa dong?" Tanya Bianca sok polos
"Ya apa gitu kek, yang respek dikit kenapa." Jawabku kesal
__ADS_1
"Aduh bahasa Inggris ya? Pak Alex Dong, uhh takuttt." Jawab Bianca over acting membuatku kesal
"Uhh dasarr."
Tak lama pesanan Bianca pun datang, Bianca menikmati makanannya dengan santai sambil mengobrol denganku.
"Yuk ah Bi balik kelas, udah mau pergantian jam ini." Aku mencoba mengajak Bianca balik ke kelas.
Gimanapun kantin adalah zona nyamannya si Bianca, kalo gag diingetin bisa lupa waktu ni bocah.
"Biiii, ayoook." Ajak ku sambil menarik tangan Bianca
"Bentar ngabisin es teh dulu." Tolak Biaca sambil memegangi gelasnya
Dasar ni bocah lelet amat deh. Gag lucu juga kan kalo aku dihukum pak Alex gara-gara nungguin Bianca ngabisin es teh nya?
Keluar dari kantin aku bertemu lagi dengan kakak kelas yang tadi, ah apes deh, berasa sempit banget ni sekolah.
"Emang jodoh ya, kemana-mana ketemu." ucap perempuan berkulit putih itu
"Maaf ya kak, permisi." ucap Bianca mencoba menghindari
Brukk
Kakak kelas itu menabrak Bianca yang seketika jatuh. Sontak semua orang yang ada disitu tertawa.
Bianca segera bangkit dan mencoba untuk melawan balik perempuan itu. Aku yang tau apa yang akan dilakukan Bianca pun segera menarik tangannya.
"Udah ah Bi, jangan diterusin lagi." aku menarik tangan Bianca menjauhi kantin.
"Ngapain sih Re kamu tarik-tarik aku." ucap Bianca marah dan tak terima karena belum membalas perbuatan mereka.
"Udah lah Bi jangan cari masalah." aku mencoba menenangkan Bianca.
"Huh, awas aja mereka. Siapa tadi namanya yang ngaku-ngaku pacarnya kak Doni?"tanya Bianca padaku
"Saras." jawabku singkat
Aku tadi sempat melihat nama yang tertulis di seragamnya. Ya perempuan putih dan langsing itu namanya Saras.
"Dasar tu cewek sial*n beraninya cuma sama adik kelas, pantesan aja kak Doni gag suka sama dia. Belum jadi pacarnya aja udah posesif gitu. Aku yakin banget deh dia sama ka Doni itu belum jadian, paling juga cuma cinta sepihak." ucap Bianca meluapkan amarahnya.
Aku hanya bisa mendengarkan Bianca dengan sabar. Paling nanti setelah selesai marah-marah dia akan tenang sendiri
__ADS_1