
Ada sesuatu yang selalu mengganjal pikiranku akhir-akhir ini. Sesuatu yang entah apa namanya, aku hanya dapat merasakannya, perasaan bahagia tiba-tiba, perasaan sedikit tidak nyaman, perasaan rindu. Ah tidak, aku pasti sudah gila memikirkan si playboy kadal itu. Tapi mood ku yang buruk mendadak baik hanya dengan sebuah pesan darinya. Dan hariku yang cerah mendadak rusak saat melihatnya dikelilingi perempuan-perempuan cantik. Tidak mungkin kan aku jatuh cinta padanya? Si playboy itu? Terlebih lagi dia sangat dekat dengan geng murahan itu.
"Bawa motor jangan melamun woi."
Suara Bianca mengagetkanku
Saat aku tersadar posisi kita sudah di pinggir jalan, hampir saja jatuh. Ah apa yang sudah ku lakukan, kalau sampai Bianca tau apa yang aku pikirkan...
"Hehe sorry Bi." ucapku meminta maaf
"Mikirin apa sih?" Tanya nya lagi
"Kagak Bi, cuma agak ngantuk aja." Jawabku beralasan
"Yaudah sini aku yang pegang motor aja kamu di belakang." Tawar Bianca
Akhirnya ku biarkan Bianca yang membawa motor, dan aku memilih untuk duduk di belakang. Ku peluk erat pinggang Bianca, hampir saja kita celaka karena aku melamun, maafin aku Bi.
"Re, apa sih yang buat kamu suka sama kak Doni?" Tanya Bianca tiba-tiba
Apa? Tidak mungkin kan Bianca tahu apa yang sedang aku pikirkan? ah tidak mungkin kan? rasanya tidak masuk akal.
"Ngomong apaan sih Bi?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan
Pokoknya aku gag boleh mikirin kak Doni lagi. Walauoun dia bilang suka sama aku, tapi siapa yang bisa jamin kalo dia ngomong kaya gitu ke aku aja, bisa jadi dia bilang suka ke banyak cewek. Lebih baik aku mengalihkan pikiranku untuk hal lain yang lebih bermanfaat.
"Aku punya cara loh Re buat ngetes kak Doni naksir kamu apa enggak." Ucap Bianca tiba-tiba
"Gimana caranya?" Ucapku bersemangat
"Cie semangat amat Buu." Jawab Bianca menyindirku
"Kagak kok." Yah ternyata niatku untuk melupakan kak Doni hanya bertahan beberapa menit saja, selebihnya aku kembali antusias saat membicarakannya.
"Ntar aku minta tolong Obii ya buat buat bantuin kamu biar kak Doni cemburu." Ucap Bianca memberi saran
"Boleh dicoba sih, daripada aku penasaran terus sama perasaan kak Doni, mending aku nyari kejelasannya kan? Kalau aku tau gimana perasaannya sama aku jadi aku bisa langsung ambil tindakan bagaimana nanti selanjutnya, takutnya aku semakin baper tapi dianya cuma PHP." Jawabku curhat
__ADS_1
Di sekolah
"Obii, boleh bantuin aku gag." Tanya Bianca pada Obii
"Apa sih yang enggak buat kamu." Jawab Obii genit
"Kamu pura-pura jadi pacar Tere ya di depan kak Doni, pleaseeee." Bianca merayu ini agar mau menuruti keinginannya.
"Kak Doni OSIS itu? Ogah ah, bisa ****** aku." Tolak Obii
"Yah... Tolong dong Bi, bantuin Tere ya?" Pinta Bianca memelas
Obii nampak berfikir beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk setuju.
"Oke deh, demi kamu aku mau Bi." Jawab Obii kemudian
"Tapi kalo misinya sukses ada hadiahnya dong?" lanjut Obii
"Gampang bii nanti pasti ada hadiahnya,, nanti bisa dibahas lagi ya, yang penting kamu kerjain tugas kamu dulu." janji Bianca
Aku dan Obii segera menuju kantin depan untuk mencari kak Doni, yah mungkin ini terkesan terburu-buru tapi aku harus segera memastikan perasaanku. Bagaimanapun orang polos sepertiku ini tidak pantas diberi harapan palsu. Kalaupun nanti ternyata kak Doni hanya main-main saja denganku maka aku siap mundur dengan lapang dada. Anggap saja semua pesan-pesan romantis yang pernah dia kirim kan kemarin hanya gombalan seorang playboy belaka.
Belum juga mulai dramanya, aku sudah disuguhi sebuah pemandangan yang merusak mata. Bagaimana tidak, kak Doni duduk di kantin dengan seorang perempuan bergelayut manja di pangkuannya. Mereka namoak akrab, bercanda dan tertawa ria bersama. "Sungguh tidak bermoral untuk anak SMA melakukan hal seperti itu di tempat umum." bisikku dalam hati.
Tapi rasanya hati ini sakit sekali. Ada perasaan sesak di dada yang tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata.
"Itu Irene kan Re yang sama kak Doni? Jangan cari masalah sama dia deh Re, dia anggota Lucky Girls." Kata Obii mengingatkan
"Iya Bii, yuk ah balik kelas. Males disini." Ajakku pada Obii
Saat aku dan Obii hendak keluar dari kantin, kak Doni yang menyadari kedatanganku pun segera berdiri dan menyuruh Irene untuk pergi
"Tere..." Panggil kak Doni.
Aku mengabaikannya dan terus berjalan kembali ke kelas. Kak Doni mengejar ku dan aku pun berlari meninggalkan Obii sendiri yang tertinggal jauh di belakang
"Re aku bisa jelasin." Teriak kak Doni
__ADS_1
Huh, jelasin apa? Siapa yang semalam ngirim pesan ke aku terus bilang suka sama aku tapi sekarang malah mesra-mesraan sama cewek lain? Bukti udah di depan mata apanya yang mau di jelasin.
Hiks hiks hiks
Air mata ini tak lagi dapat ku tahan, aku memutuskan untuk menuju kamar mandi.
Sakit sekali rasanya
Ku kirim pesan kepada Bianca untuk menemui ku di UKS, rasanya aku tak sanggup kembali mengikuti pelajaran dengan mata yang sembab ini
#Bi, ini aku masih di kamar mandi, abis ini ketemu di UKS ya
Tak berapa lama Bianca membalas pesanku
#otewe
Ku baringkan badanku di ranjang UKS. Sakit sekali menyadari aku ini cuma mainan buat kak Doni. Salah aku juga sih, udah tau kak Doni playboy masih saja aku nekat melabuhkan hati padanya.
"Ada apa Re? Kak Doni ngapain kamu?" Tanya Bianca saat membuka pintu UKS
Ia segera menuju ke arahku dan memelukku.
"Cerita aja Re gimana perasaan kamu. Tadi Obii sudah cerita sedikit, emang dasar bajing*n kak Doni. Berani-beraninya dia mempermainkan sahabatku." Ucap Bianca geram
"Udah lah Bi, aku yang salah, aku terlalu berharap pada kak Doni." Aku mencoba menenangkan Bianca, aku hanya takut Bianca akan melabrak kak Doni.
"Gag bisa Re, kak Doni harus diberi pelajaran." Ucap Bianca sambil mengepalkan kedua tangannya
"Udah lah Bi, jangan cari masalah sama kakak kelas"
Yaaah, padahal kan disini aku yang sakit hati, seharusnya Bianca yang menenangkan ku tapi malah jadi aku yang menenangkannya.
#Kamu dimana Re, aku cari di kelas gag ada?
sebuah pesan masuk dari kak Doni, aku hanya membukanya dan tak berniat membalasnya. Ngapain lagi sih masih nyariin aku, apa belum puas mainin aku?
#Re, aku sama Irene cuma temenan, sumpah
__ADS_1
Mana ada sih orang temenan sampe pangku-pangkuan kaya gitu di tempat umum. Aku udah lihat sendiri pake mata kepala aku, masih juga berani ngeles.