
Aku tidak bisa membayangkan....
Aku tidak bisa memikirkan....
Dunia tanpa dirinya.......
Aku tidak mau sendiri!
Aku sudah terbiasa menelan omelan bibiku dan tindakan kasar yang dia lakukan padaku. Sepanjang waktu tersisa yang aku lewati bersama dengannya sudah cukup mempengaruhi pikiran dan batinku. Aku ingin bebas, lari darinya.
Tapi jika tidak bisa, mungkin akulah yang harus membebaskannya. Aku yatim piatu. Sejak berusia 7 tahun aku sudah merasakan rasanya sendiri, sejak orangtuaku kecelakaan mengerikan antara mobil dan truk. Bisa aku bayangkan darah merah segar membungkus mobil ibuku dan kedua tangan yang melambai kaku mengucapkan selamat tinggal padaku. Aku harus rela menelan pahit dan runtuhnya masa-masa kecil yang bahagia.
Digilir dari panti asuhan satu hingga 2 kali ke panti asuhan lainnya.hingga usiaku mencapai 15 tahun, tidak ada satupun kerabat kedua orangtuaku yang datang ataupun seseorang yang baik hati mengadopsi. Aku tumbuh menjadi gadis pendiam dan kaku.
__ADS_1
Tapi kemudian sekitar dan sekelilingku berubah, Semua di mulai pada masa itu, yah....masih segar dalam ingatanku!
Pada hari minggu yang cerah, aku dipanggil oleh Nyonya Ros, kepala panti asuhan dan aku masuk ke ruangannya yang sempit dan lembab. Aku selalu tidak suka jika harus masuk ke dalam ruangannya. Kurasa dia sudah mulai bosan dengan pekerjaannya dan jenuh melihat kami anak-anak panti yang betah bertahun-tahun menghuni rumah pantinya.
Hal itu dibuktikan olehnya dengan selalu menghembuskan nafas keras-keras setiap bertatap muka dengan kami. Kali ini, saat aku membuka pintu hal pertama yang kudengar adalah hembusan nafasnya yang berat.
“ Diana, lihatlah dirimu. Ibu selalu senang melihat dirimu yang tenang bagai udara, dapat dirasakan meski tak terlihat”. sapanya dengan lembut. Aku tidak yakin, apalagi kali ini? Nyonya Ros selalu memanggilku hanya untuk berkeluh kesah membicarakan hal yang tidak aku mengerti. Mungkin karena aku anak panti paling lama di sini.
Nyonya Ros menghembuskan nafasnya dan bangkit dari kursi tuanya yang sudah bertahun-tahun tidak diganti. Dan berdiri membelakangi jendela. Sekarang dia tampak seperti bayangan.
“ kau tau? Sudah berapa lama kau tinggal disini? Ahhh.....jangan jawab dulu. Ibu sudah sangat mengenalmu diana. Kau adalah anak manis, tidak banyak tingkah, dan kau seorang pendengar yang baik.” Nyonya ros mengusap keningnya. Dia melanjutkan
“ dan...kau gadis paling cantik yang ada di panti ini...” aku mendesah kecil dan berusaha untuk tidak terlalu kentara.
__ADS_1
“ tapi, kau terlalu malu untuk menonjolkannya. Jika kau mau, aku bisa memolesmu lebih dari ini. Yahh...tapi aku rasa ini saat terakhir kita mengobrol seperti ini diana....”
aku mendongak. Benarkah? Kenapa? Apa aku akan di usir? atau ada seseorang yang akan mengadopsiku? Itu kemungkinan terburuk dan terbaik.
Tapi Entah kenapa rasa nyaman mulai meninggalkanku. Oh tidak. Aku masih belum cukup umur untuk di lepas. Tidak.
“ tenang diana” nyonya Ros mengganti gaya berdirinya dan menghembuskan nafas lebih berat lagi “ ibu tau apa yang kau pikirkan.. percayalah, kau akan berterima kasih dan penantianmu selama ini akan terbayar”. ini bukan penantianku. Tapi penantianmu, nyonya Ros.
“ kau tidak akan sendiri lagi. saudara dari ibumu akhirnya menemukanmu, dia ada disini.”
Apa? saudara ibu? Tapi, tapi...ibuku anak tunggal......sebelum aku dapat berpikir normal. Terdengar suara pintu berderit terbuka. Seketika aku terlonjak dan berbalik. Seorang wanita tinggi besar dengan rambut licin dikuncir kebelakang. Dari balik kacamatanya, aku bisa melihat matanya memicing dan mengawasiku.
“ Aku Bibimu.......diana”. suara berat dan dalam itu mengawali semuanya. Dan aku masih belum menyadari. Bahwa sesuatu yang terpendam dalam diriku mulai bangkit. Sedikit demi sedikit.
__ADS_1