
BRAK! Aku terkejut. Pintu kamarku terhempas kuat, seakan ada dorongan besar yang ingin menghancurkannya. Bibi Mary, tatapan matanya memicing sinis, dari sudut bibirnya melengkungkan kekejian yang mendalam. Dia berdiri menantang.
“ aku ingin kau tidak kelewat batas Diana” ada geraman tertahan dari suara itu. Apa yang ingin ditahannya? Aku mendengus jengkel. Aku menyesali keputusanku untuk ikut bersamanya.
Seharusnya aku melaporkannya ke polisi. Dia sudah menculikku. Saudara ibu apaan!? Dia hanya wanita jahat. Dia memperbudakku disini. Bahkan aku tidak diizinkan keluar selangkahpun dari sini. Aku berguling dan turun dari ranjang. Menatapnya dengan tanpa daya. Sebaiknya kubiarkan saja dia dulu.
“ apa maksud bibi? Kelewat batas? Aku sudah 4 bulan didalam rumah ini? Aku harus sekolah, teman-temanku akan khawatir” bibi mary tersenyum sinis.
“ teman yang mana maksudmu?”. Jawabnya enteng. Aku mulai jengkel.
Tenang..tenang...batinku dalam hati.
“ kau tidak perlu sekolah di sana lagi. Disinilah sekolahmu, dan aku gurumu” aku terperangah kaget, mataku terbelalak. Apa kupingku tidak salah mendengar. Apa yang dia bilang? Sekolah dirumah ini. Benar-benar berengsek.
Aku tidak dapat menahannya lagi. Aku menudingnya dan meneriakinya wanita ******, sesaat kulihat mukanya menjadi datar. Aku menggila. Aku melempar dan menendang apa yang ada.
“ kau bukan bibiku. Kembalikan aku kepanti,, disana rumahku. Kau wanita ******, kau kapital...kau penjajah. Ini hidupku bukan hidupmu!!!!” aku teriak tidak karuan. Suaraku mulai terdengar serak. Terasa sakit. Aku terbatuk-batuk. Nafasku sesak. Hik..hik..aku butuh seseorang...aku butuh seseorang....tolong aku!
“diana...” bibi mary mendekat, mendorongku hingga jatuh ke lantai. Aku mengerang. Bibi mary merunduk dan menahan badanku yang tidak berdaya melalui badannya yang besar.
“ minum ini!” perintahnya, aku terpekik. Biby mary memasukkan benda asing kedalam mulutku.
__ADS_1
Aku tidak tau apa itu. Rasanya amis. Aku berontak mencoba melawan. Aku ketakutan setengah mati. Bahkan aku melupakan kemarahan yang tadi aku rasakan. Sekejap saja benda itu meluncur dan pecah kedalam mulutku. Tanpa menunggu waktu lama. Aku merasa terombang ambing.
Aku seperti terbang. Aku merasa rohku tercabut secara paksa dari ragaku. Aku terisak. Aku tidak dapat merasakan diriku sendiri. Semua menjadi gelap.
Kemudian malam itu, Bayangan hitam bergelanyut di tepian pagar yang menyelimuti rumah mungil sederhana. Sepasang bola matanya yang putih membelalak lebar saat melihat seorang pemuda keluar dari balik pintu kayu putih yang catnya sebagian besar telah terkelupas dan memudar.
Bayangan itu mengawasi didalam kegelapan. Matanya menyipit, dan terdengar ******* keras. Tidak boleh hanya dia yang bahagia. Tidak boleh!!! pikiran kejam itu menguasai bayangan itu hingga semakin gelap.
Alexi menghempaskan tas olahraga dan jaketnya ke sofa. Rumah yang hanya ditinggali olehnya sendiri. Peninggalan neneknya yang setahun lalu sudah meninggal.
Dia kembali kesini setelah 6 tahun ditinggalkannya. Lebih tepatnya terpaksa untuk ditinggalkan. Pengacara neneknya datang menemuinya ke Panti setelah mengetahui keberadaannya.
“hahahahhahaha....hahahahhahahahaahahaaaaaa!!!”. dilemparnya surat itu ke lantai semen yang dingin dan berdebu. Dia berjalan gontai mengelilingi ruangan demi ruangan. Tangannya mengelus dinding bahkan perabotan rumah, tidak perduli tangannya menjadi kotor. “ inilah yang seharusnya nek..” gumamnya.
Dia berhenti tepat di foto neneknya yang tergantung miring di dinding.
“ setiap hari aku kesini, dan nenek hanya bisa membentak dan mengusirku, lihat sekarang aku disini, dirumah ini...rumahku...teganya...ah beraninya nenek membawaku ke panti asuhan????”.
Dia mencebik dan mengelus foto itu.
Alexi ingat 6 tahun lalu atau mundur setahun lagi tepat saat orangtuanya meninggal karena kecelakaan.
__ADS_1
Padahal dia hanya punya ibu satu-satunya yang mencintainya dengan tulus. Ayah berengsek itu Cuma mampu membiarkan dirinya dan ibunya setiap hari dicaci maki oleh orang yang dipanggilnya nenek. Laki-laki tua itu tidak peduli betapa kurus dan lelahnya ibu mencari nafkah, sedangkan dirinya berleha-leha dirumah beserta ibunya yang lebih sama dengannya.
Anak dan ibu yang kental sifatnya. Alexi selalu jijik dengan darah yang mengalir di tubuhnya. Kenapa harus laki-laki itu. Kenapa harus dia!! Tidak sepatutnya!! Alexi menggeram dan melihat wajahnya dicermin, paling tidak wajah ini adalah wajah ibu.
Sehingga dia tidak perlu menenggelamkan dirinya ke laut. Suatu hari, Alexi menghampiri ibunya didapur. Bahkan tugas rumahpun harus ibunya.
“ibu...” alexi menarik baju ibunya, mata teduh yang selalu terlihat ingin menangis itu merunduk dan membelai bahunya.
“ada apa sayang?? Sudah lapar”. Tanyanya. Bibir itu kering dan terkelupas. Sesekali ibunya terbatuk.
“ibu sakit? Kita pergi saja bu......” ucapnya pelan, takut jika ayah dan neneknya mendengar.
“pergi kemana? Ingin jalan-jalan?” Alexi menggeleng. Matanya melirik kesana dan kemari. Menoleh kebelakang dan mengintip ke jendela yang ada didepannya. Dia waspada.
“kita pergi dari rumah ini bu...lexi tidak tahan...lexi takut....” wanita itu menghela napas pelan. Menatap putranya, serba salah dan merasa khawatir.
Menggeleng lemah dan mencoba menahan airmatanya.
__ADS_1