HiTam

HiTam
Bab 8


__ADS_3

“ibu sakit? Kenapa ke dokter”. Ayu terjengit dan mendadak gelisah. Dia menangkup kedua pipi anaknya.


“tidak apa-apa. Hanya masuk angin. Minum teh ibu watno pasti langsung sehat.” Jawabnya. Alexi mengernyit dan menepis tangan ibunya.



“ibu masih berpikir Alexi anak bayi? Tidak mengerti dan tidak tahu apa-apa? Hanya manggut-manggut setiap ibu kasih alasan seperti itu?” ayu dan bu watno terkejut mendapat balasan dari seorang anak umur 10 tahun.


Pak watno yang berjarak 3 meter dari mereka berdiri dari duduknya dan menghentikan pekerjaannya mengikat sayur ketika mendengar itu semua. Terlihat was-was.


“Alexi.......”


“ Lexi sudah besar bu. Ayah dan nenek tidak seharusnya memperlakukan kita seperti ini. Kenapa kita tidak kabur saja sch bu!!?”. Tukasnya. “ lexi capek, lexi kesakitan setiap kali ayah mulai memukul kita. Ketika nenek menyakiti kita dengan mulutnya. . hati lexi jadi sakit. Kenapa mereka tidak menyayangi kita??? Ibu salah apa??? Hu...hu...hu...”. lexi menyentuh dadanya, tangannya terkepal. Ayu dan sepasang suami istri itu menangis.


Ayu merengkuh anaknya kedalam pelukannya dan bergumam meminta maaf. Berkali-kali kata maaf keluar dari bibirnya. Dia tidak tahu harus bilang apa. Dia tidak bisa berhenti menangis.

__ADS_1


Alexi mengusap airmata yang turun dari kedua matanya. Mengusap lehernya. Mengusap kedua lengannya. Dia menahan getaran kecil di tubuhnya. Dia menggigil mengingat itu semua. Begitu mudahnya orang bahagia di atas penderitaannya. Sampai akhir dia harus merasakan ini? Jangan harap....pikirnya.


...****************...


Diana bangkit dari tempat tidurnya. Matanya menyipit, cahaya remang-remang masuk melewati celah-celah jendela yang gelap dan berembun, tirainya berayun-ayun pelan. Waktu menunjukkan tengah malam dan lampu kamarnya mati. Dia memiringkan kepalanya ke kanan dan kekiri. Perlahan dia mendekat ke arah jendela. Merapatkan keningnya dan mengintip.


Sebuah sedan gelap dan penyok di beberapa bagian terparkir serampangan di bahu jalan di depan rumahnya. Dua sosok bayangan saling berhadapan. Mereka seperti sedang bercakap-cakap. Kemudian seseorang yang dekat dengan mobil berjalan membuka bagasi.


Terlihat benda panjang dengan ujung yang melebar. Sebuah sekop dan satu benda lagi yang bekilau. Itu pisau. Diana tersentak dan menjauh dari jendela.


Jantungnya berdegup kencang. Apa- apaan?!. Terdengar dari lantai bawah suara pintu yang ditutup. Dia panik. Apa dua orang tadikah????. Diana menempelkan telinganya berusaha untuk mencari tahu. Dia menarik knop pintu pelan. Tapi tidak bergeming.


“.....aku..menguncinya...dia sudah tidur bagai orang mati....sssttss jangan bersuara....jauhkan pisau itu.....aku tidak mau kau menjatuhkannya dan mengenai kakiku!!!”.


Mata Diana melebar kaget, da mendengar suara dari balik pintu kamarnya. Suara BiBi Mary??!!!. Sedang apa dia, pencuri itu suruhanyya. Dia ingin membunuhku!!!. Diana melihat ke sekeliling kamarnya. Dimana aku harus sembunyi??? Aku harus pergi dari sini! Diana terpaku menatap kasurnya.

__ADS_1


Dengan gemetaran dia menghempaskan guling ketengah-tengah dan menutupnya dengan selimut. Dengan cahaya yang remang-remang membantunya menelusuri isi di dalam kamarnya.


Disudut samping jendela sebuah lemari kayu setinggi badannya berdiri kukuh. Ada meja tulis yang memiliki lubang kolong yang dalam, disana gelap seperti lubang hitam yang siap kapan saja mengisapnya.


Lalu ranjang tinggi dengan seprai panjang menjumbai hingga menutupi kaki ranjangnya. Perfect!!!!! Sekarang aku harus punya tameng untuk melindungi diriku!.


Dengan cekatan meski masih gemetar ketakutan, diana membuka laci meja dan mencari.


“Kreeeekkkkk............”. suara pintu terbuka. Dua sosok berdiri, diam menatap tajam ke arah ranjang.


“ kau siap??”. Suara bass memulai percakapan. Suara lelaki.


“ siap apa? Kaulah yang berperan disini” bisik Mary galak.


“ aku sudah membuatnya tak sadarkan diri. Sekarang giliranmu!” Mary menarik tangan lelaki itu dan mendorongnya mendekat kedalam. Lelaki itu mendengus. Perlahan tapi pasti dia membuka selimut dan mulutnya menganga lebar saat mengetahui di depannya hanyalah sebuah guling.

__ADS_1


“ Mary!!!” Mary yang merasa di panggil menoleh dan terburu-buru meihat ke tempat tidur. Emosinya naik. Kulitnya merinding merasakan hawa dingin yang menyentuhnya. Dua bingkai jendela bergerak pelan. Terbuka. Angin dingin menyelinap masuk. Dia berjalan dan melongok kebawah.


“apa kau pikir dia bodoh untuk terjun kebawah tanpa kita tahu???” lelaki itu mencebikkan bibirnya. “ kau tidak becus. . .”. Mary berdiri kaku di muka jendela. Beberapa menit dia masih menatap hamparan gelap di depan matanya


__ADS_2