
Hujan turun sedikit demi sedikit. pohon bambu runcing di desa Rangkitan bergerak ke kanan dan kekiri. beberapa lembar daun runcingnya jatuh berserakan di lapangan luas Panti Asuhan Jelita yang terlihat makin suram.
dari jauh, di lantai dua panti Asuhan, nyonya Ros menyesap rokoknya dalam-dalam. beberapa hari lagi akan diadakan kunjungan para orang-orang yang masih setia menyuntik dana ke panti asuhan tersebut. hanya beberapa, dan dana yang masuk tidak banyak lagi. wajar itu terjadi, karena anak-anak dipanti sudah begitu banyak yang berkurang. tinggal 18 orang saja. dia harus mendapatkan suntikan dana baru sekaligus anak-anak baru agar orang-orang kembali datang dan memberi uang kepadanya. dia harus segera bertindak.
dibelakang nyonya Ros muncul sosok wanita yang melajang di usianya yang mulai bertambah tua. dia adalah Julia.
" madam? " Julia mengangguk hormat. Ros tidak bergeming. dia terus mematung memandang jauh ke bawah dengan tatapan kosong.
" piuuhhhhh". asap rokok keluar perlahan dari mulut dan hidungnya. Ros berbalik.
" berapa dana yang kita butuhkan buat acara itu???". tanyanya pelan.
__ADS_1
" tidak banyak madam, kita tidak bisa membuat acaranya seperti tahun-tahun sebelumnya. tidak ada alasan bagi mereka untuk terus memberi sumbangan ke sini." Julia menyerahkan sebuah buku besar umum kepada Ros.
Ros membuka lembar demi lembar laporan yang di tulis di situ. sebentar dia berhenti membalik dan menggoyangkan kepalanya ke kanan.
" kenapa Ibu Mary telat memberi uang kepada kita?? bukankah tiga hari lalu harusnya jadwal dia memberi uang??". Ros menyipit dan menatap penuh tanya kepada Julia.
" harusnya begitu madam, saya sudah mencoba menelpon ke ponselnya, tapi tidak di angkat, barusan saya coba telpon lagi malah tidak aktif".
" apa dia mencoba kabur?!. beraninya dia setelah apa yang kita lakukan untuknya?! "
Ros mencengkram bahu Julia dan berbisik di telinganya.
__ADS_1
" terserah bagaimana caranya, cari dia. jika tidak dapat uang, ambil apa yang sudah kita berikan kepadanya. tidak ada yang gratis di dunia ini. ". Julia tidak berani melirik nyonya besar di panti asuhan itu. jika nyonya Ros sudah marah. fatal akibatnya.
" baik ...ma..madam". Julia berbalik dengan cepat dan menghilang dari pintu.
Ros meremas tangannya. dia harus mengganti rencana dan strategi baru. dia tidak boleh lengah dan terlihat lemah. dia menghembuskan nafas berat. berkali-kali dia menarik nafas dan menghembuskannya. dia sudah mulai menua. lelah rasanya meneruskan hal ini. tapi langkahnya masih panjang. dia harus berpikir untuk ke depannya. panti ini dan dirinya sendiri.
Ros mengambil handphonenya dan menekan panggilan keluar.
" sayang.....sepertinya ada sesuatu yang terjadi. aku akan mencari tahu. bisakah kamu menunggu??? baiklah....kita ketemu di rumah kamu. apa yang kamu butuhkan? ituu? baiklahhh..."
wajah Ros merah merona. dia merasa jauh lebih muda jika memiliki cinta dalam hidupnya. cinta itu buta. semua akan dilakukan jika sudah menyangkut perasaan. Ros tersenyum lebar. dia mengelus dan memeriksa wajahnya. dia harus ke salon dan mempersiapkan permintaan kekasihnya.
__ADS_1
dari balik pintu. sepasang mata tajam menatapnya dengan penuh kebencian. terlihat urat-urat merah matanya menyembul. seolah ingin keluar. dia menatap lekat Ros yang tertawa cekikikan. seringai halus terukir dari bibir tipisnya yang tampak kering dan terkelupas