
Aku tidak mau. Aku tidak ingin. Seminggu sejak pertemuanku dengan Bibi Mary. Ini membuatku gila. Aku tidak ingin pergi dari panti asuhan ini. Barang-barangku yang tidak banyak tergeletak sembarangan. Aku bingung.
Apakah aku harus membawanya atau tidak. Ada kotak kecil berkunci, yang aku dapat dari seorang dermawan tetap panti ini. Kotak itu terguling terbuka, isinya kosong. Dermawan itu menyebutnya adalah kotak pandora.
“ kau akan selalu terkejut setiap kali membukanya...itu akan mengajarkanmu bahwa dunia ini misteri dan kau harus berhati-hati karenanya....nah pikirkan dengan baik diana. Kotak kecil ini hanya boleh terisi satu benda. Pilihlah sesuatu yang kelak dapat menolongmu.....” dia terdiam sejenak, dan tersenyum tipis. Dia mendekat ketelingaku dan berbisik.
“ apa saja. Apa saja diana.....jika kau tidak berhati-hati. ..itu bisa menjadi pilihan terbaik.......bahkan paling terburuk.....karena itulah ‘dia’ dinamakan Pandora”.
Aku mengingatnya dengan jelas, saat itu lima tahun lalu. Panti asuhan Jelita mengadakan hiburan amal untuk kami anak-anak panti beserta rombongan dermawan dari daerah manapun yang tersebar. Ya, aku disini. Di desa kecil, gelap, lembab dan penuh prasangka bagi setiap orang yang tinggal didalamnya.
Desa Rangkitan. Desa yang khas dengan rimbunan pohon bambu di setiap pinggiran jalannya. Meski disebut sebagai desa kecil. Tapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan tersedia disini.
Masyarakat disini terbuka atas hal apapun yang datang dari luar asalkan tidak merusak bambu atau menebas sesuka hatinya. Karena bambu disini melindungi mereka dari panasnya sinar matahari.
Entah mengapa semua orang yang tinggal disini menyukai kelembapan. Mereka suka dengan aromanya, kagum dengan bentuk daunnya yang kecil dan runcing. Itu adalah senjata mereka. Tepatnya sesuatu yang bisa dijadikan senjatan bagi mereka untuk menghalau sesuatu yang berpotensi sebagai ancaman. Dan desa ini jauh dari riuh pikuk perkotaan. Butuh waktu 3 jam untuk menuju peradaban yang normal. Itu menurutku.
Hanya perangkat-perangkat desa saja yang sering keluar masuk karena keperluan dinas dan pekerjaan. Suara gemerisik riuh daun bambu bergerak kesana-kemari, saling bergesekan. Awan mendung dan kelembapan sekaligus keremangan menambah dingin udara saat itu.
__ADS_1
Aku tidak tau siapa dia. Tapi dia lelaki yang tampan. Mungkin separuh baya sekitar 35 tahun. Aku menatap kesekitar, anak-anak lain tertawa senang menerima hadiah mainan-mainan lucu dengan aneka bentuk dan warna. Sedangkan kotak yang ada di tanganku begitu tua. Warnanya hitam pudar. Bukankah ini kotak kayu? Kotak pandora dari kayu. Kotak kubus yang tidak ada apa-apa didalamnya. Aku sering mendengar kata pandora. Tapi itu selalu diartikan jelek oleh orang-orang pada umumnya.
Dan aku menerima sesuatu yang buruk di hari yang menyenangkan ini?. “ kenapa aku harus terima? Aku...sebenarnya....” aku tergagap. Ahh kenapa aku harus jadi pendiam kikuk. Aku hanya bisa melirik anak-anak lain yang kini mulai sibuk dengan mainannya. Lelaki itu mengikuti arah mataku dan menyodorkan kotak itu lebih dekat.
“ kau tidak membutuhkan mainan-mainan seperti itu” senyumnya melebar dan mengedip padaku. Dia berusaha menyakinkanku. Aku hanya menunduk dan menatap kotak itu lama. Ini adalah hadiah. Tidak sepantasnya aku menolaknya kan? Apalagi dia bilang kotak itu akan berguna. Yahh, untuk saat ini akan aku simpan dulu.
“ terima kasih, hmm...aku akan menyimpannya....”
“ pilihan bagus!” dia mengusap rambutku pelan, dan aku kembali menutup mulutku yang baru saja masih berniat untuk melanjutkan kata-kataku sebelum dipotong oleh kesenangannya. Jika kulihat, dia terlihat begitu puas. Bukankah menjadi amal jika membuat orang lain lebih senang dari kita?
HAH! Aku menoleh. Seseorang membuyarkan ingatanku. Lena Adrian, dia berusia 15 tahun beda 2 tahun dariku. Dia menghampiriku dan mengambil kotak itu. Mengamatinya dengan kening berkerut.
“ apa ini kak?” tanyanya.
“ kau mengejutkanku lena, apa yang kau katakan tadi?”
“ aku bilang ‘apa ini?” dia menunjuk kotak Pandora itu.
__ADS_1
“ bukan pertanyaan itu, tapi sebelumnya. Saat kau berdiri di belakangku” Lena Adrian adalah satu-satunya yang bisa kuajak ngobrol dengan santai. Kami lumayan cukup berteman baik, meskipun dia lebih muda dariku. Karena itulah kurasa aku bisa ngobrol dengannya. Meskipun kadang-kadang aku merasa tidak suka berada didekatnya. Terkadang dia bertingkah seperti orang lain. Aku tidak bisa menebak seperti apa dia. Misalnya saja, hari-hari sebelumnya kami mengobrolkan soal menu belanja dan kami dapat tugas untuk mencatatnya dimemo. Keesokannya, saat aku meminta memo itu, dia malah tidak tau sama sekali. Kami sempat berkelahi. Dia bersikeras tidak pernah menulis memo belanjaan itu bersamaku. Dan akhirnya, kami dimarahi karena menghilangkan catatan memo. Aku tau, itu hanya alasannya saja. Dia berpura-pura sakit lupa ingatan. Dan kali ini, aku percaya dia akan menjawab “aku tidak mengatakan apa-apa!”
“apa? Hei kak diana. Aku sama sekali tidak mengatakan apa-apa” Lena menatapku protes lalu kemudian menjadi sedih.
“ senangnya, bisa bertemu dengan bibimu lagi kak” lena menggigit bibirnya “ hmm..tidak bisakah kakak minta padanya....untuk membawaku juga?” aku berhenti berkemas, yang sedari tadi aku lakukan.
“ dia bukan bibiku” tolakku tegas. “ dan...aku rasa dia tidak akan membawamu”
“ karena dia miskin?” tebaknya. Jika begitu, dia tidak akan susah payah mencariku. Aku sudah mulai tidak sabaran. Aku menjejalkan bajuku begitu saja dalam koper. Tidak banyak yang harus aku bawa. Cukup baju dan kotak pandora ini.
“yahh....karena dia miskin” jawabku asal. Lena, aku tidak tau apa-apa tentang bibiku. Aku harap dia kaya dan aku bisa menambah banyak koper suatu hari nanti.
“ dia menjemputmu hari ini? Oh kak diana.... temanku yang terbaik. Aku tidak bisa dekat dengan siapa-siapa disini selain engkau kak. Ayolah, aku tidak perduli dia miskin atau apa. Asal aku bisa terus bersama denganmu.” Rengeknya.
Lena tidak kambuh, pikirku. Kali ini kata-katanya tersusun rapi dan ingatannya masih sesuai alur. Ku tatap lena lama. Aku memang kasihan denganya. Lena berpostur pendek, dan wajahnya juga biasa-biasa saja, tidak cantik juga tidak jelek. Pas. Dia dari bayi sudah menjadi yatim piatu. Dia tidak punya kesempatan untuk memiliki ingatan mempunyai sebuah keluarga. Aku masih lebih baik darinya.
Aku menghela nafas “ andai saja Lena, malam ini ku izinkan kau tidur bersamaku, wanita yang bernama bibi itu akan menjemputku besok pagi.” Aku mengambil alih kotak di tangan lena dan tanpa melihat-lihat lagi aku jejalkan kedalam koper. Ini barang yang terakhir.
__ADS_1