
Aku pejamkan mataku, berusaha bertahan dari rasa sakit. Bibi Mary masih terus kesetanan mencekikku. Lalu, zeeeeeeph! Seperti ada sesuatu yang merasuk ke dalam diriku. Hawanya terasa panas dan sekejap berubah dingin. Panas dingin berputar-putar di dalam diriku. Aku merasa terbang. Ringan sekali. Rasa sakit tadi seketika menghilang. Aku merasa lega. Dan dari sudut aku berdiri, aku menyaksikan bibi Mary melotot dengan satu matanya. Mulutnya menganga lebar. Darah yang mengalir dari matanya semakin deras.aku bergidik ngeri dan jijik.
Ada apa?ah....nikmatnya.....aku menikmati pemandangan itu. Bibi Mary menjulurkan lidahnya. Dia terkulai.
” Haha...hakk...hak...” aku mendengar suaraku sendiri. Aku tertawa kesenangan seperti anak kecil. “ mati kau!!! Mati!!! Beraninya mencoba membunuhku!” aku melepaskan leher Bibi Mary. Dia terjatuh tapi belum mati.
“ nanti dulu, sini kau!”. Aku menarik rambut ekor kudanya.
“ ARRGHHHHH!!” teriak wanita itu kesakitan. Dia mencengkram pergelangan tanganku. Aku menyeretnya begitu mudah. Darimana kekuatan ini, aku merasa seperti kerbau liar. Kuat dan ganas. Aku jatuhhkan badannya di dekat kacung laki-laki yang tadi ingin menusukku.
Bibi mary beringsut gemetar. Kesombongannya tadi tidak terlihat lagi. Dia seperti kucing yang ketakutan dan bersembunyi di pojok ruangan.
“ Kau ingin membunuhku kan bibi? Harusnya kau bisa saja langsung membunuhku. Tapi kau malah menyuruh sampah tua ini?” aku menyeringai sinis.
“ be..benar...harusnya kubunuh saja kau dari dulu. Kau memang sudah dikutuk! Gara-gara dukun sialan itu. Aku harus menunggu hari ini...uhuk..UhuKKK erkkkhhhhh”. Aku memijak leher wanita itu. Darah keluar dari mulutnya.
“ Hmmphhh” aku terkikik. Seruuuu! Seru banget.
__ADS_1
“ siapa yang kau maksud?”. Aku kembali melontarkan pertanyaan. Bibi Mary menangis. Bukan seperti dirinya saja. Selama ini dia bertingkah seperti ibu tiri. Sekarang dia menangis.
“ Lebih baik aku ma....ti...tu..tunggu sa..uhukkk ja... dia akan datang membunuhmu.”.
SIAL!!!!! Bibi Mary menggigit lidahnya sendiri. Gigitan terakhirnya. Dia Mati. Matanya yang sudah tidak sempurna perlahan terlihat berhenti bergerak. Kreekkkkk!! Aku mematahkan lehernya seolah itu saja belum cukup membuatnya habis.
Aku menghembuskan nafas lega. Aku menyelipkan poni ikal panjangku di balik telinga. Terduduk lemas dilantai. Dua sosok tubuh saling tumpang tindih. Dari luar kamar. Di lorong yang remang-remang. Sosok itu memandangku. Mata putihnya menyipit.
Diana..diana...kini kau sudah bangkit.....sekarang balaskan dendamku.
Aku tidak bisa melihat bibirnya. Tapi aku mendengar suaranya.
Kau akan tahu...tolong aku dulu......
Beberapa helai rambut sosok itu berkibar terkena angin malam yang masuk melalui jendela kamarku yang terbuka.
“ mulai dari dukun sialan itu..” aku menggumam. Perlahan, sosok itu mulai menghilang bagaikan asap.
__ADS_1
********************************************
Alexi melempar seluruh pakaian, foto, barang-barang yang pernah melekat di tubuh orang yang dia benci ke halaman belakang rumahnya. Bapak dan neneknya. Dia bersumpah untuk tidak memiliki apapun yang berhubungan dengan dua orang yang telah membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Dia memutuskan untuk membersihkan dan mengosongkan rumah masa kecilnya itu. Merombak dan mengecat ulang seluruh sudut terkecil rumah itu. Menjadikannya terlahir kembali.
“ bagaimana dengan furniture rumah ini?” gumamnya sambil berkacak pinggang. Dia berjongkok mengambil satu jirigen minyak tanah. Dituangkannya banyak-banyak ke tumpukan barang-barang yang tadi dibuangnya. Di geseknya kayu korek api..
CRSSSSS!!!!!
Dilemparkannya dan secepat kilat menyambar. Api merah ke oranye an menghias di kegelapan malam. Matanya berkilat. Dia tahu rahasia besar bapaknya. Hal itulah yang membuat dia kehilangan ibunya. Sampai sekarang, jika mengingat itu ingin rasanya dia menggali seluruh permukaan bumi ini. Mencari bapaknya dan membuat orangtua itu menyaksikan bagaimana dia menyiksa hal yang berharga bagi bapaknya itu.
Mata Alexi berkilat tajam. Di rogohnya sesuatu dari kantong celananya. Sebuah foto lamayang kusam. Ada gambar sebuah keluarga yang begitu apik. Semua di dalam foto itu tersenyum. Di belakang itu tertulis tulisan tegak sambung yang rapi dan cantik.
“Putriku Lana Tersayang”
“Pppfttttttttt” Alexi terkekeh geli. Lelaki tua bangka itu bisa juga menyayangi anaknya. Semakin lama Alexi tertawa semakin keras. Dia terpingkal-pingkal sambil mengelap air di sudut matanya.
Diremasnya selembar foto usang itu dan dilemparkan ke dalam kobaran api yang membara. Dia bertekad untuk hidup dalam pembalasan. Dulu saat kematian ibunya, berkali-kali dia mencoba untuk mengakhiri hidup. Apa lagi yang harus dia lakukan? Dia perjuangkan? Untuk apa semua kerja keras yang dia lakukan jika tidak ada yang akan menikmatinya. Oase baginya telah mengering. Rumah terindah dia telah hilang. Ibunya telah tiada. Harusnya dia ikut mati saja. Tapi setelah dia merenung cukup lama. Dia sadar kenapa dia tidak ikut mati. Harus ada yang membalas. Harus ada yang mengganti rugi atas semua kehilangannya. Dia harus menuntut balas. Agar matinya kelak lebih tenang. Tidak ada lagi yang mengganjal dalam hatinya.
__ADS_1
Trrrrrrrrrrrrrrrrrrr!
“halo?” lelaki muda itu mengangkat ponsel kecilnya dan mengernyitkan alis.” Dimana kau melihatnya? Hmm...hmmm. baik. Ikuti untuk sementara ini. Lalu laporkan padaku siapa_siapa saja yang dia temui.” Alexi berbalik memasuki rumahnya. Dan mengakhiri malam panjang itu sambil duduk tertidur di kursi goyang tua di sudut ruang makan rumahnya. Hanya kursi itu tempat dia paling nyaman untuk beristirahat. Pelan dia menutup matanya dan menyatukan kedua tangan di depan dadanya dan bergumam seperti merapal sebuah kalimat.