HiTam

HiTam
Bab 4


__ADS_3

Ibu julia.....ini..ini nyata..” suaraku terdengar mencicit. “ aku masih bisa merasakan sakit dikakiku...tapi... darahnya..darahnyaa hilang....ibu lihat Lena, bajunya penuh darah. Jika..jika itu mimpi tidak mungkin sejelas ini..dan SAMA!!!.


Kerutan dikening bu Julia terlihat berlipat-lipat. Umurnya saat ini 45 tahun dan dia masih lajang. Tidak ada yang tahu kenapa di usianya saat ini membuatnya betah tanpa seorang pendamping.


Meskipun begitu, dia sangat dewasa dibandingkan wanita-wanita yang sudah merasakan pahit manisnya hidup berumah tangga. Dia begitu sabar. Sangat sabar menghadapi Lena yang temperamen dan labil itu. Aku sebelas dua belas dengannya. Selain aku dan dia. Siapa lagi yang akan mendengarkan cerita Lena berjam-jam?.


“Baiklah, ibu akan tanyakan padanya perihal bajunya yang penuh....penuh darah” ibu Julia mengelus bahuku.suaranya sedikit goyah dan gemetar. Dia berulangkali menelan ludah. Tapi aku tahu, kali ini dia tidak benar-benar mempercayainya.


“percayalah padaku ibu Julia, kakiku tertusuk kotak dan Lena justru memperparahnya”.


“Kotak?”


“ ya..ya..kotak Pandoraku.” Aku berdiri dan mencari-cari. Jangan lagi.. jangan lagi ini berakhir menjadi gurauan orang yang mulai hilang akal warasnya. Oh Tidak! tidak ada kotak Pandora.


Kini aku benar- benar merasa mulai tidak waras, dengan panik dan terburu-buru aku merenggut tas koperku dan membongkar isi dalamnya. Bahkan di sini juga tidak ada? Hilang???.

__ADS_1


“baiklah Diana tenanglah, pasti kamu benar-benar bermimpi. Tenang tarik nafas dalam-dalam. Tidak ada luka, tidak ada darah, dan juga....kotak. Singkirkan semua obsesi dan mimpi buruk itu. Kau tau kan apa yang harus dilakukan. Hal yang biasa kau lakukan. Lakukan..jangan sampai luput sedetikpun”.


Aku melongo, apa? Apa yang biasa aku lakukan?. Ibu julia menatapku dengan tajam dan memaksaku kembali berbaring di tempat tidur. kenapa semua orang mulai berlaku aneh hari ini. Semuanya.


“Dengar Diana. Jangan terlalu kau turuti..” ibu Julia bangkit dan merenggangkan tubuhnya. Kini dia terlihat lebih santai. Aku hanya bisa menurut dan memejamkan mataku. Ini sulit. Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak jika hal yang tidak masuk akal ini baru saja terjadi.


Sweter hijau pucat, berpadu dengan jins ketat.lumayan. Ini terakhir kalinya aku berkaca di cermin kamarku. Aku begitu menyukai kamar ini. Sejak pertama aku datang ke Panti. Kamar ini sudah membuatku jatuh cinta.


Bahkan Lena juga menginginkannya. Sebal. Kenapa dia selalu menginginkan apa yang aku inginkan. Bahkan kali ini dia tidak datang. Dia tahu kalau aku akan memarahinya dan mendesaknya karena kejadian tadi malam.


Aku harus merampungkan urusanku dengannya.


Di sebelah pohon gaharu ada beberapa kursi kayu yang memanjang kecoklatan mengkilap. Kursi itu baru saja di cat kembali dengan warna kuning gading yang menyolok mata. Dulu, saat aku berumur 9 tahun, Aku sering menghabiskan waktu bersama Lena. Kalau dipikir-pikir lagi, kami seperti anak kembar yang tidak dapat dipisahkan. Aku sedikit maklum jika Lena sedikit berbeda. Dia tidak suka dikesampingkan.


Dia akan memasang tampang cemberut jika melihatku bergaul dan bercanda dengan anak-anak yang lain. Apa salahnya sih jika memiliki kawan karib yang lain. aku mengelus poni panjangku kebelakang, dan menyesali, mungkin kalau aku tidak terlalu menuruti Lena. Aku tidak berakhir pendiam kikuk dan menjadi bahan omongan dan bisikan.

__ADS_1


Semua mata anak-anak yang pernah ku ajak ngobrol dulu hanya melirik dan saling berbisik. Aku penasaran, sudah sejauh mana mereka menilaiku. Kulihat di sudut pohon, Lena sedang duduk sendiri dan melihatku dengan tatapan jahilnya. Kali ini apalagi yang dia rencanakan. Bergegas aku berlari dan berhadapan dengannya.


“kak Diana, apa tidurmu nyenyak” Lena menelengkan kepalanya dan mengulurkan tangannya ingin menyentuh rambutku. Aku menepisnya.


“hufh, apa bibi Mary sudah datang menjengukmu? aku akan sering mengunjungimu kak. Beda tempat bukan akhir. Iya kan?”


“ Lena, apa maksudmu tadi malam?” aku menahan kemarahanku. Bagaimana bisa dia bersikap seolah tidak ada apa-apa. Dia menaikkan sebelah matanya, dan bibirnya merekah terbuka.


“oh, aku sedang menolongmu kak Diana. Dan kau paling tau itu. Tapi kau malah berpikir sebaliknya. Kakak tau betapa sedihnya aku? Disini, Cuma kak diana yang paling tau dan paling memahami baik buruknya aku. Begitupun....aku”.


“DIAM!!” aku mulai melepas satu kunci kesabaranku. Aku masih punya 4 lagi. Jangan sampai semua hilang dan aku mulai melakukan hal diluar kendali. Kapan terakhir kali aku dapat menahan kesabaranku?


“ kau tidak sepenuhnya mengenal aku Lena, kau selalu mengintimidasi aku, kau selalu membuat aku tidak bisa melakukan apa yang aku mau. Bahkan sekarang kau ingin mengusik aku.” 2 orang cewek yang lewat memandang kami dengan waspada.


Tenang Diana, kau tidak akan hilang kontrol. Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menghembusnya.

__ADS_1


__ADS_2