
“ dia masih dikamar ini...” Mary berbalik dan meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.. Lelaki itu menunggu. Dengan tawa terbahak-bahak. Mary bergerak dan menarik pintu lemari. Kosong.
Nafasnya terengah-engah.
“ Diana...keluarlah...kenapa kau tidak panggil Bibi jika sudah bangun...? kenapa kau bersembunyi???. Dia melirik dan memberi instruksi kepada lelaki itu untuk melihat ke bawah kolong ranjang.
Lelaki itu melakukannya. Matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan mengedip dan melebarkan pupilnya. Dia mengacungkan pisaunya kedepan. BUSSHHHHHH!!! Ada suara mengempis dari sana. Sebuah bola Voli. Ditariknya dan dilemparkan.
Bola yang sudah tak bulat lagi itu tertampar di muka Mary. Darah segar mengalir dari salah satu lubang hidungnya.
Mary menggeliat dari tempatnya. Bergerak secepat kilat dan menyambar leher itu. Leher itu mengerut dibalik tangannya. Mata perempuan itu memerah, darah terus mengalir dari hidungnya, sedangkan lelaki didepannya melotot, tangannya bergerak mencoba memukul wanita didepannya, tapi mary tidak terjangkau. Tangannya hanya menampar angin.
“Kau yang akan duluan Mati!!!!!”.
__ADS_1
“errgghhhhhhh......kurrrrrrrkkkkkk....”. Kretek. Terdengar suara tulang patah. Tubuh yang tadi memberontak akhirnya melemas dan diam tak bergerak. Kepalanya teleng terjatuh kebelakang. Brakk! Mary melepas cengkramannya. Menatap tubuh yang tadinya hidup terjatuh kelantai sebagai mayat. Dia meludah. Matanya nyalang.
“ ahhhhhhhh......sudah lama sekali....Diana keluarlah....kau tau kalau bibi benci orang yang membangkang. Lihat....dia contohnya....karena dia membangkang, akhirnya dia mati. Teman dengan sangat mudah menjadi musuh. Ayolah sayang....datang pada bibi......!!!!!!!”
Diana berteriak sangat kuat ketika pintu kamarnya ditarik. Kepala Mary muncul menyeruak, melongok dibalik pintu. Mulutnya menyeringai kesenangan. Gotcha!!!
Yah....disitulah Diana bersembunyi, mengintip dan menyaksikan perbuatan bibinya. Air mata mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Tangannya mencengkram knop pintu dengan tangan yang gemetar. Dia tidak ingin ditangkap dan dibunuh.
Erangan panjang penuh amarah keluar dari mulut wanita setengah baya itu, dia beringsut mundur kebelakang, sambil memaki dan berteriak karena kesakitan, dia menarik pensil itu, dan menggeram.
Diana maju. Clakkk.....clakk.....suara lantai berbunyi saat dia melangkah. Darah dari mata bibinya menempel ditelapak kakinya dan menimbulkan suara yang menjijikkan. Clakkkk clakkkk.....Diana berhenti dan melihat ada kerlipan cahaya dibawah tempat tidurnya. Kerlipan cahaya itu memudarkan rasa takutnya.
Kerlipan cahaya itu memasuki pikirannya. Kerlipan itu seakan menghilangan keraguannya. Diana tersenyum, ahh....aku ingat rasa ini....seperti ketagihan. Seperti candu!.
__ADS_1
Mary meraung, ditangkapnya dan diraupnya muka Diana. Dia berusaha untuk mencekik kembali untuk yang kedua kalinya.
“ aku bukan bibimu! Kau disini karena aku harus membunuhmu! Kasihan karena kau harus jadi korbanku!!! Hak.....hak...hak...” Diana memejamkan matanya dan merasakan sesuatu menjalar dan merambat dari ujung kaki hingga kepala.
Rasa sakit. Ditengah kesakitan yang mendera, ditengah ambang kematian, matanya melihat sesosok bayangan yang berdiri di luar pintu kamarnya, di lorong kamarnya. Hanya ada bola mata putih.
Tolong aku.....! Tangannya menggapai ke arah sosok itu. Dari gelap dan pekatnya malam, suara rintik hujan turun dan menyelimuti sedu sedan dan erangan kesakitan dikamar itu. Kilatan cahaya petir menerangi lorong itu dan sosok itu.
“sssshhhhhhh Diana.....sshhhhhhhh” sosok itu menempelkan jari telunjuknya. Diana terbelalak.
“ aku akan menolongmu.......pejamkan matamu.....” .
Matanya terpejam, dia masih sempat melirik bibinya yang tertawa terbahak-bahak dengan mata yang sudah cacat.
__ADS_1