HiTam

HiTam
Bab 7


__ADS_3

“jika kita pergi, kita bukan apa-apa nak, kita akan menggelandang dijalan, kita tidak punya rumah, ibu tidak ingin Alex sakit, ibu ingin alex sekolah dan jadi anak sukses.


Bagaimanapun juga kita perlu membawa sayuran segar kepasar, banyak orang yang menunggu kita. Lihat, semuanya dari ayah...tanpa ayah kita bukan siapa-siapa”. Saat itu mendadak wajah ibu memucat dan menutup mulutnya. Alexi menoleh dan seketika ketakutan.


Nenek dan ayahnya berdiri di pintu melihat mereka garang. Mulutnya komat kamit dengan gigi geraham yang berbunyi kreek kreek. Segera saja, wanita itu menarik anaknya kebelakang tubuhnya dan terisak memohon ampun.


“ pak.......jangan sakiti Alex....dia masih kecil..” dengan gesit dan penuh amarah, Lelaki itu menarik paksa anaknya. Alexi meraung dan teriak minta ampun. Terdengar suara pecut dan bak buk dari luar. Wanita itu tidak dapat berbuat apa-apa karena rambutnya di tarik dan dijambak oleh ibu mertuanya. Hanya airmata yang terus mengucur tanpa henti.


“menantu tidak tau diri. Sudah dibiarkan tinggal. Berani sekali mencoba-coba melawan kami!!!menantu ini sebaiknya....” mata wanita itu nyalang mencari-cari sesuatu, kemudian tanggannya meraih panci yang berisi air panas.


Byurrrrrrr!!!! ARRRRRGGGHHHHHHH. Suara erangan keras tak tertahankan terdengar. Siraman air panas itu membasahi badan dan tangan wanita lemah itu. Senyuman puas mengambang.


“aku masih baik. Karena bukan mukamu yang kusiram!!” klontang....wanita tua itu melempar panci dan berlalu dari sana.


“hu.....hu...hu.....”dengan terisak-isak dan tangan yang gemetar. Wanita lemah itu mencari anaknya. Anaknya tersungkur lemah di dalam gudang. Dia tahu anaknya ada disana, karena disitulah suaminya biasa menyiksa anaknya. Anaknya nyaris pingsan. Sekujur tubuhnya penuh memar yang berasal dari pecutan kayu dan pukulan tangan. Meninggalkan bekas yang jika orang melihatnya bisa menjadi mual. Dia mendekap anaknya.


Tangisnya pecah tak berhenti. Sudah cukup....kami bisa mati kalau begini.........cepat atau lambat....

__ADS_1


...****************...


“diana...diana...” sayup-sayup terdengar suara. Itu mengusik dan berisik. Kelopak matanya terbuka perlahan. Garis panjang melengkung. Ada tiga. Aahh, itu sebuah senyuman dan mata??? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku???


“diana....sudah saatnya.....ayo pergi!” aku menutup mataku lagi. Ribuan wajah berkelebat, tidak kenal seorangpun, ah ada juga yang kukenal. Mau apa mereka??? Itu Ibu, Ayah, Lena, dan Alexi??? Di belakang mereka lebih tepatnya dibawah kaki mereka ada aliran air yang menggulung. Apa itu? Warnanya gelap, pekat, dan baunya memilin-milin perut.


Aku memicing, ini...dejavu? air itu tidak bergerak mundur, dia mengalir maju meraih kakiku. Kaki? Mana kakiku? Aku tidak kasat mata?? Aku tidak dapat melihat diriku sendiri. Dimana aku? Siapa aku?.


Oh tunggu, bukankah tadi ada yang memanggilku?? Dia mengajakku pergi? Tapi kenapa aku disini. Aku terkepung. Aku bahkan tidak bisa berlari. Apa itu bibi mary?tidak! dia yang membelengguku? Dia lebih senang membuatku tidur selamanya. Lalu kepingan masa lalu maju mundur, kepalaku sakit, erangan, teriakan, sedu sedan yang kemudian menjadi isakan berbisik mengancam. Mengaduh dan terus mengeluh. Lalu pecah!!! Byarrrrr! Aku terbangun.


...****************...


Bermacam-macam jenis yang dijualnya. ada bayam, wortel, tomat, sawi, cabe, kacang panjang dan banyak lagi lainnya yang terbentang dan tumbuh luas disana.


Sepasang suami istri mengepaknya kedalam wadah yang bisa menjaga kualitas dan kesegaran hasil produk mereka. Disana sepi tapi menyenangkan, Ayu ningsih melihat anaknya berlari kecil sambil mengelus sayuran yang dilewatinya. Juragan kebun itu membangun rumah dan gudang hasil panennya dilahan itu juga, mereka ingin menikmati masa-masa tenang diumur mereka yang hampir memasuki setengah abad. Katanya mereka lelah dari hiruk pikuk kota.


Ayu ningsih membutuhkan waktu 3 jam hingga sampai kesini. Di perbukitan yang tenang, sepi dan bebas dari polusi. Di beberapa sisi pohon bambu melambai kepadanya.

__ADS_1


“ayu, duduk dulu, nanti saja pindahkan sayurnya” bu watno melambai dan menepuk kursi disebelahnya. Ayu tersenyum dan bergegas menghampiri.


“maaf ya bu, saya datang terlalu dini” ayu mengusap kedua tangannya karena dingin. Bu watno memberikan secangkir teh untuknya.



“tidak apa-apa yu, ibu tahu kondisi kamu gimana, ibu malah terbantu, kamu sudah membantu ibu menjualkan sayur mayur ini.”


“tidak bu, saya hanya membantu sedikit saja, padahal seharusnya saya membeli sayuran ibu, karena kebanyakan tukang sayur membeli langsung pada ibu dan bapak. Sedangkan saya hanya bisa mengantar saja ke kios.” Bu watno melambai kepada Alexi dan tersenyum simpul. Sambil memperhatikan Alexi yang berlari menghampiri.



“kamu memudahkan mereka yu, mereka tidak perlu jauh-jauh kemari, mereka tinggal telepon dan kamu mengantar. Mereka dan saya sangat bersyukur karena kamu sangat rajin dan gigih.” Bu watno melanjutkan dan memberikan segelas susu pada Alexi yang diterima dengan girang. Ayu terbatuk-batuk.



“bagaimana batukmu? Sudah kedokter?”tanya bu watno dengan wajah prihatin. Ayu menggeleng pelan. Dia tidak berani berbohong, dia sudah 1 tahun bekerja dengan keluarga ini. Mereka sangat baik padanya dan Alexi. Tidak sampai hati jika harus mencari-cari alasan karena mereka pasti akan tahu sendiri kebenarannya.

__ADS_1


“hmm...ayu apa mau ibu temenkan ke dokter, kebetulan besok ibu luang. Jangan dibiar-biarkan. Kamu masih punya Alexi. Dia masih kecil. Tidak ada yang bisa menjaganya selain kamu.


Sesekali kamu harus mendengarkan isi hatinya. Ibu rasa kamu harus mengambil keputusan untuk masa depan kalian.” Alexi yang sedari tadi asyik menikmati secangkir susu dan pisang gorengnya langsung berhenti dan menatap bergantian ke arah bu watno dan ibunya sendiri. Mulutnya menganga.


__ADS_2