
Suara dentuman keras terdengar dari luar. Aku terloncat bangun. Aku meraih jam weker. Jam 02.00 dini hari. Suara apa itu? Aku biasa mendengar suara-suara gaduh di panti yang bobrok ini, tapi kali ini berbeda.
Dentuman itu seakan datang dari dalam kamarku. Ku usap tengkuk dan dahiku yang berkeringat. Ku tarik selimutku lebih dekat, saat aku mencoba tidak menghiraukan apapun, aku menatap sebelah sisi kananku yang kosong dan terasa dingin.
Lena? Kemana dia? Aku bergegas bangun dan menoleh ke kanan dan kekiri menelusuri ruang kamarku yang remang dan sempit. Sedikit cahaya kecil menerobos masuk dari celah pintu yang terbuka. Bagaimana mungkin.
Aku tidak pernah membiarkan sekecil apapun luput dari perhatianku dengan membiarkan pintu kamarku tidak terkunci.
Lena keluar dari kamar dan sekarang dia pergi entah kemana dan bisa-bisanya ceroboh.
Dengan kesal aku menjulurkan kepalaku keluar dan melihat lorong kamar dengan sorot lampu yang temaram. Hanya sedikit lampu dengan watt yang sudah sekarat.Lena kembali kekamarnya. Tentu saja. Tengah malam buta dengan pemandangan seperti ini kemana dia harus pergi? Aku menghempas pintu kamar dengan keras .
__ADS_1
“Kreekkk” sesuatu tertimpa dibawah kakiku. Aku meringis kesakitan, bisa kurasakan sesuatu yang hangat merembes keluar dan spontan aku mundur dan terhuyung jatuh menabrak sisi tempat tidur.
Oh tidakkk!!! Dengan sebelah kakiku, aku meloncat, berjinjit menuju tombol lampu dan mengerjap beberapa kali dan berlutut menatap darah merah menyala yang membalut kakiku. Gila. Benda gila apa yang....kotak itu! Kenapa ada di luar?
Seharusnya dia didalam koperku. Kotak pandora itu terbuka dengan ujung lancipnya yang sudah mengoyak kakiku dan tergeletak di tengah-tengah lantai kamar. Sedikit darahku menetes disana. Segera saja aku merasa mual dan pusing. Aku hanya menatap dan membiarkan rasa sakit itu merayap dari ujung kaki hingga kepalaku. Aku meraih selimut dan menyumbat darah yang masih mengalir.
“Bukankah itu indah Diana?? Menyegarkan dan hangat dimalam yang dingin ini....” Lena!!! Pekikku sebatas tenggorokan. Badanku terasa lemas. Lena berdiri menantang di depan pintu dengan gaun tidur yang bernoda. Noda merah? Ohh tidakkk,, itu darah. Kenapa dia? Lena meringis dan terkikik geli. Apa yang lucu? Lena mendekat dan menarik selimutku.
Tidakkkkkk...tolong aku “ .semakin lebar, lebar, lebar..dan lebar!!!.
“HEI! ADA APA INI!!!” aku terbelalak. Dan mendorong Lena menjauh. Ibu Julia, salah satu pengajar di panti dan beberapa anak panti berdiri di depan kamar dan menatap penuh tanya dan keterkejutan. Malam yang sunyi berubah menjadi bisik-bisik yang samar.
__ADS_1
“ Ibu ju..julia,,,Lena mengoyak kakiku..” aku menjawab gugup dan menoleh ketakutan ke arahnya.
“ Tidak! Mom julia, aku tidak melakukan apa-apa! Aku justru ingin menolongnya” pekik Lena berlari menghampiri ibu Julia yang memandangku khawatir.
“bohong! Dia mulai bertingkah lagi bu Julia...lihat kakiku..kakiku penuh darah” aku menunjuk kakiku yang putih bersih tanpa noda....bagaimana mungkin???? Dimana lukanya? sampai saat ini aku masih bisa merasakan panas dan sakit. Aku terdiam. Aku harus bilang apa lagi????.
“Diana bermimpi dan mulai berteriak. Aku mencoba menyadarkannya...tapi lihat...ini balasannya. Dia justru menuduhku...mengoyak kakinya???!!!!” suara bisik-bisik itu semakin keras dan semakin jelas aku dengar. Mereka berpikir aku gila sekarang.
Ibu julia meminta anak-anak yang berbisik di pintu untuk segera kembali kekamar dan menutup pintu dibelakang mereka.
“ Apa kau baik-baik saja Diana? Apa kau gelisah karena besok kau harus pergi?”. Aku menelan ludah. Aku harap Lena tidak menguping di balik pintu. “Teriakanmu keras sekali, aku berpikir ada perampok tadi. Katakan padaku, ada apa?”.
__ADS_1