
Meskipun rencana Hana ini berjalan sesuai kehendaknya akan tetapi tak mulus seperti yang ia harapkan.
Pasalnya perempuan berpakaian maid seakan kebal terhadap efek dari isi suntikkan tadi.
Tentu Hana menjadi gelisah, ia tak ingin tertangkap lagi. Maka pilihan selanjutnya adalah lari sekuat-kuatnya agar tidak tertangkap.
Menyusuri setiap area di dalam laboratorium. Hana kesulitan dikala jalan didepannya menjadi sempit oleh beberapa peralatan mesin.
Dan beberapa temuan membuatnya sedikit melambat lantaran terkejut serta penasaran, bahkan lebih membuatnya meremang.
Perasaan familiar tiba-tiba menyeruak dalam diri, Hana seperti merasakan kehadiran seseorang yang tak asing baginya.
Dan benar saja. Dialah orangnya. Namun tidak seperti harapan Hana saat memikirkan seseorang itu.
Malah ekspresi Hana sekarang berubah menjadi kesal dari yang sebelumnya khawatir akan dirinya yang bisa saja tertangkap lagi.
"Apa kabar, Adikku tersayang," ucap seseorang tak adalah pria si penculik. Tengah mengenakan pakaian lab seraya melepaskan topeng yang terus melekat padanya selama Hana tinggal beberapa hari disini.
Itupun karena terpaksa dan dipaksa oleh orang yang tak Hana kenal sebelumnya. Dengan topeng itu tentu saja membuat Hana curiga mengenai identitas pria yang telah menculiknya itu.
Dan barusan pria itu memanggil Hana adalah adiknya, pikir Hana sekarang apa pria itu waras.
"Huh? Apa kamu bilang? Adik, apa kamu belum meminum obat?" tanya Hana dengan ekspresi mengejek pria itu serta menatap sinis kearahnya.
Sebenarnya saat pria itu hendak membuka kedok dari wajahnya yang tertutupi oleh topeng, aksinya tertahan lantaran Hana berkata seperti tadi.
Pria itu kembali menyembunyikan identitasnya.
"Pria aneh. Dan untuk kesekian kalinya aku bertanya, apakah kamu ini adalah seseorang yang dekat denganku?" Pertanyaan Hana barusan seperti ia mengeluarkan salah satu pertanyaan yang selama ini ia tahan untuk ditanyakan.
Ya. Beberapa hari ini selama ia tinggal di tempat yang entah ada dimana Hana selalu merasa dirinya bersama dengan orang-orang terdekatnya.
Dengan kata lain perasaannya saja. Harusnya ia takut jika dalam keadaannya saat ini, Ia bisa saja kehilangan nyawa. Namun semenjak Hana terbangun perasaan takutnya terhadap kondisi dirinya yang diculik tak begitu buruk.
"Hmm, harusnya kamu tau siapa aku ini."
__ADS_1
"Kamu ... jangan bilang semua ini hanyalah permainan semata dan kau adalah...."
Disaat Hana akan menyebutkan identitas pria itu, rupanya seseorang yang hendak diungkap identitasnya lebih dulu menunjukkan perangai.
"Ka--kaka!?" Hana tak menyangka jika selama ini Kakaknya lah yang mengurungnya disebuah tempat tak dikenali. Padahal selama berpikiran ke arah itu ia sempat tepis dan hanya sebuah suprise dari kakaknya saja.
Tapi sekarang...
"Ya. Aku ini adalah Adam kakakmu. Hanya saja aku ini bukan berasal dari dunia ini!" ujar Adam, tak lain adalah identitas pria bertopeng selama ini.
"Hahaha Kakak pasti bercanda, kan? Ada ada saja. Lalu apa yang ku ketahui selama ini itu pasti bagian dari suprise besar-besaran yang kakak siapkan. Hanya demi merayakan ulang tahun ku hehe.."
Adam membiarkan adiknya itu berkata mengenai keadaan dirinya selama ini.
Tapi raut ekspresi Adam terlihat seolah tak percaya mendengar penuturan barusan.
"Bahkan kakak sempat-sempatnya mengundang seseorang yang mirip dengan ilmuwan terkenal itu. Tapi tunggu ... aku tadi melakukan hal buruk kepada maid itu," sambung Hana masih mengingat-ingat flashback. Dirinya terlihat seolah sedang mengingat.
"Cukup! Sepertinya apa yang kamu anggap itu bukanlah kebenaran sesungguhnya. Tapi fakta lain memuat opsi tak terduga," pungkas Adam memberitahu, tapi tidak terlalu detail. Hana yang menyimpulkan sendiri.
Sekarang ini ekspresi Hana berubah menjadi kecut. Ia menyimpulkan opsi terduga yang dimaksud oleh kakaknya menurut kesimpulannya sendiri.
"Begitulah."
Hal itu membuat Hana shock.
•••
Pagi hari ini Adam bersama dengan dua orang perempuan menuju ke sebuah tempat evakuasi. Sebenarnya Adam membantu dua perempuan itu, lantaran jalan kedua sejalan.
Menuju ke sebuah pelabuhan. Dimana kapal-kapal pengangkut korban jiwa dalam tragedi kerusakan yang diakibatkan oleh SCP ditemukan lagi.
Kapal besar berjumlah 10 tersebut bukan hanya mengangkut mereka beruntung saja, dalam arti masih selamat. Adapula kapal pengangkut mayat para korban.
Rencananya Adam hendak mencari sebuah kapal guna menjadi kendaraannya menuju ke sebuah pulau. Tempat markas penjahat yang telah mengubah banyak hidup orang lain, termasuk dirinya.
__ADS_1
Adam benar-benar sangat benci terhadap pria itu. Andai ia temukan, pasti akan ia tangkap dan menyiksanya secara perlahan-lahan.
Area ini menurut informasi sudah aman dari makhluk SCP, paling tidak beberapa dari mereka yang tak terlihat.
"Ayo cepat masuk, sebentar lagi kapal ini akan berangkat!" titah seorang pemandu tim kapal tersebut, mengintruksikan kapal yang ditumpanginya akan berangkat.
Saat ini Adam dihadapan kan dalam situasi balas Budi terhadap kelakuan baiknya. Sebelumnya selain membantu kedua perempuan itu menemukan rute, ia juga mengobati pendarahan kedua perempuan itu.
Serta memberi keduanya makan lantaran lama bersembunyi hingga membuat keduanya memilih mendekam dengan perut lapar.
"Terimakasih atas bantuanmu, kami tidak bisa sampai kesini jika tidak memiliki takdir bertemu dengan seseorang yang amat baik ..." Perempuan itu begitu hangat saat berbicara.
Berbeda dengan perempuan satunya, walaupun ia sempat ditolong namun sekarang malah mengabaikan Adam begitu saja.
Ia langsung berlari menuju arah kapal yang akan segera berlayar tanpa menyempatkan perpisahan kepada Adam, penolongnya.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu," jawab Adam sembari memberitahu bahwa dirinya tak bisa berbincang lebih lama. Tapi perempuan itu menahan tangan Adam.
Sekilas perempuan itu mengerucutkan bibir mengira bahwa pria penolongnya ini tak memiliki ketertarikan kepadanya. Padahal jika soal kecantikan dan kemolekan ia berani bertaruh.
"Apa?" ucap Adam.
"Eem, jika boleh aku ingin memberimu ini." Perempuan itu menyodorkan sebuah kalung permata.
"Kalung?"
"Ya. Ini adalah hadiah perpisahan sekaligus terimakasih ku. Kamu bilang ingin mencari adikmu, aku harap kamu bisa segera bertemu dengannya. Dan untuk kalung ini ... kamu bisa berikan padanya. Aku nyakin dia pasti menyukainya," jelas perempuan itu ramah serta menunjukkan senyum saat berbicara.
"Baiklah aku terima."
Beberapa saat hingga sebuah kapal pesiar telah Adam temukan sebagai tumpangan.
"Akhirnya aku temukan kendaraan yang ku butuhkan. Bagaimana denganmu? Apa kamu tertarik untuk menaikinya?" ucap Adam sembari menoleh ia berbasa-basi terhadap sosok SCP berwujud perempuan cantik yang hanya ia yang bisa melihatnya.
"Hump, aku pernah mencobanya. Aku kan sudah hidup sangat lama," jawab perempuan itu dengan bibir manyun dan kedua lengan dilipat. Seperti orang ngambek.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" tanya Adam bingung, ia tidak tau mengapa partnernya itu diam sejak tadi. Dan sekarang mendapatinya dengan keadaan seperti itu.
"Huh, dasar tidak peka!" seraya pergi menuju kapal yang telah disebutkan oleh Adam. Sebuah kapal pesiar mewah, namun tak bertuan. Adam bisa dengan bebas menggunakannya.