Human VS SCP

Human VS SCP
Bab 32 Terjebak Dalam Glitch


__ADS_3

Sayangnya sebuah kejadian tragis membuat Adam berubah drastis, dikala pihak berwajib menembak mati terduga korban eksperimen secara disengaja.


Dor!


"Kau!? Arkkk!!!" Saat terjadi penembakan itu Adam tua berusaha melepaskan diri dari pegangan kedua polisi.


Tapi karena tenaganya kalah besar ia pun tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menyaksikan kematian adiknya untuk kedua kalinya.


"Aaarghh!!!" Adam meraung sekeras yang ia bisa. Diiringi air mata merembes keluar dari pelupuk mata.


Bruk.


Adam tiba-tiba saja mendadak mampu menghempaskan tubuh kekar kedua orang yang menahannya.


Dengan sigap tersangka yang menembak Hana menodongkan senjata api ke arah Adam.


Tidak menduga polisi yang seharusnya melindungi malah sebaliknya.


Dor!


Jleb.


Gletak!


Dor! dor! dor!


Kejadian tragis terjadi dalam satu waktu singkat. Sebelumnya tersangka itu memperlihatkan gerak-gerik Adam sampai tak lepas pandangan sama sekali.


Hingga ia merasa akan ada pengerakan pemicu perlawanan dari target "Adam" sedang bersiap-siap.


Disaat yang bersamaan, ketika Adam tiba-tiba bergerak secara spontan. Tersangka itu lalu langsung menekan pelatuk.


Sontak membuat Adam terluka, beruntungnya tembakan tadi melesat hanya mengenai bahu bagian atas.


Dalam hitungan detik Adam langsung meraih pistol yang terjatuh barusan. Tak menyangka bahwa ia akan benar-benar melakukan hal sama seperti dimasa lalunya, kali ini membunuh tersangka berserta dua rekannya disana.


•••


Waktu sekarang.


Kini Adam tengah menuju pulau tanpa lokasi pada map diduga markas besar dalang dibalik peristiwa menggemparkan dunia saat ini.


Berita-berita terbaru mengenai kejahatan makhluk SCP kian merebak. Bahkan negara-negara lain ikut kena getahnya.

__ADS_1


Beruntung setiap negara memiliki pertahannya tersendiri yang membuat mereka mampu mengatasi serangan mendadak sebelum kemunculan SCP menginvasi negara mereka.


Beruntung juga Adam mengetahui lokasi pulau itu yang baru-baru ini terungkap oleh kemampuan hack waktu lalu. Mungkin sebelumnya pulau tersebut adalah pulau tersembunyi.


Dalam perjalanan Adam mengobrol bersama dengan Shelli sebutan Adam kepada SCP berwujud perempuan cantik.


"Apa kamu siap melawan orang yang mampu mengendalikan makhluk-makhluk SCP?" tanya Shelli sembari memiringkan kepala, ia menatap intens wajah Adam dari samping. Karena ia duduk berdampingan dengan Adam. Seperti menikmati waktu menatap tersebut.


"Tentu saja. Adalah sebuah keharusan bagiku untuk membunuhnya!" sahut Adam terdengar berapi-api saat menyeru kata "membunuh" seperti halnya kesal terhadap dalang itu.


Masih bisa dimaklumi, namun bagi Shelli Adam terlalu percaya diri. Ia harusnya menanyakan sesuatu kepadanya, selaku SCP yang telah lolos dari kendali orang itu secara mendetail.


"Kenapa memangnya?" seru Shelli cepat.


"Kau ini, tentu saja karena orang itu merusak ketenangan ku," ucap Adam apa adanya.


"Jadi begitu ... sepertinya kehidupanmu sebelum peristiwa ini terjadi sangatlah menyenangkan ..." gumam Shelli masih didengar oleh Adam.


"Biasa saja. Lalu dirimu yang telah hidup selama ratusan tahun, apa saja yang kau dapatkan?" Kini giliran Adam melontarkan pertanyaan, mengarah langsung pada Shelli.


"Eh, tumben sekali kamu menanyakan sesuatu tentang diriku. Aku kira ... kamu hanyalah pria cuek yang tak peduli dengan perasaan orang lain," cecar Shelli terlihat memanyunkan bibir.


"Hahaha.."


Adam terkekeh geli mendengar penuturan Shelli barusan. Baru kali ini ia tertawa renyah tanpa peduli lagi dengan sekitarnya, biasanya Adam memilih untuk menahan diri.


"Apanya yang lucu?" Shelli berpura-pura polos, menyembunyikan kepekaannya terhadap kelengahan Adam tadi.


"Hanya mengingatkan sesuatu. Lagian itu tidak penting buatmu, kan?" jawab Adam seraya menoleh ke arah Shelli disampingnya. Secara otomatis jarak kedua wajah mereka begitu dekat.


"Emmmm...."


"Huh, ada apa denganmu. Dasar aneh," cibir Adam ketika Shelli tak kuat lagi untuk bertatapan lebih lama dengannya. Akhirnya Shelli memalingkan muka seraya meruntukki kebodohan dirinya.


Perjalanan tersebut rupanya memakan waktu berjam-jam, meskipun begitu mereka masih belum sampai.


Namun Adam merasa ada yang janggal saat melintasi setiap rute.


"Aduh ... perutku lapar, apa disini ada sesuatu yang bisa dimakan. Aku tak mau kurusan ..." keluh Shelli, sepertinya ia kelelahan karena memaksakan diri untuk senantiasa menemani Adam. Menjadi teman bicara. Atau lebih, itu yang dia inginkan.


Setelah mengevaluasi rute perjalanan secara teliti akhirnya Adam menemukan sebuah fakta. Bahwa pesawat yang ditumpanginya ini terus mengalami sebuah glitch aneh.


Dengan kata lain ada entitas atau sesuatu yang membuat pesawat super cepat ini mengalami glict di tempat.

__ADS_1


"Jadi begitu, waktu sudah berhenti berputar semenjak kita melewati titik ini!" gumam Adam antusias untuk keluar dari glitch tersebut.


Jika menggunakan sebuah rumus maka Adam akan menyebutnya rumus "glitch in the matrix" berjudul "how to quit the dice game" dimana jika sesuatu seperti sebab akibat terjadi maka ada sesuatu yang menciptakan sebab akibat itu ada.


Adam kini bersiap-siap untuk memulai persiapan guna membuka jalan keluar dari glitch ini.


Sementara Shelli tengah mencari sesuatu yang bisa ia makan, ia sebenarnya menyesal karena melupakan perbekalan di kapal pesiar pada saat itu. Lebih tepatnya meninggalkan karena lupa.


"Dimana dia..?" Adam baru sadar jika Shelli tak ada disampingnya.


"Tunggu! tunggu! Aku telah menemukan makanan kecil untuk kita," ujar Shelli sembari berlarian menghampiri tempat duduk di depan kemudi.


"Tsk, cepatlah! Karena kita akan menyelam ke dasar laut sekarang!" seru Adam terlihat serius. Shelli hanya bisa menurut saja.


"Emm iyaa.."


"Baguslah jika kamu mengerti."


"Huh, mengerti apa? Aku bahkan tidak tau apa-apa," sahut Shelli mendadak berubah pikiran. Lantaran Adam seperti halnya tidak peka terhadap seseorang yang membawakannya sesuatu demi kebaikannya.


"Cukup. Sekarang bukan waktunya kita berdebat. Menjelaskan situasinya saja malah akan membuang-buang waktu, jadi menurutlah!" seru Adam yang mana membuat Shelli mau tak mau harus menurut.


Kini pesawat yang mereka tumpangi meluncur bebas seperti akan melakukan pendaratan di lautan luas.


"Hehe kamu bercanda, kan?! Kita tidak benar-benar akan membuat kapal ini tenggelam?" tanya Shelli dengan cemasnya.


"Itu yang aku mau."


"Kamu...."


"Kenapa, bukannya dirimu telah hidup sangat lama. Pasti diantara sejarah yang kamu lalui ada momen hidup dan mati yang paling berkesan?" sela Adam berusaha membuat lelucon.


"Humph."


Bluush.


Akhirnya pesawat tersebut menyentuh permukaan lautan.


Beberapa saat hingga badan pesawat sudah seluruhnya tenggelam.


"Hiks.. aku tidak mau ini terjadi...."


"Ada apa denganmu, bukannya dirimu ini setengah abadi?" tanya Adam melihat Shelli meringkuk yang sendari meracau.

__ADS_1


Perkataan Adam barusan diabaikan oleh Shelli.


Tak lama pesawat tersebut terus tenggelam lebih dalam lagi. Adam kemudian menunjukkan senyum smirk.


__ADS_2