Ice Flower

Ice Flower
Chapter #22


__ADS_3

Dia sudah pernah tidur bersama kekasihnya yang dulu…


Suara seorang gadis menggema dalam pikiran Dong Wook hingga membuat iamenggenggam erat gelas di tangannya.


“Wae?!” teriaknya.


PRANG!


Gelas itu seketika pecah setelah ia lemparkan dengan keras ke sudut ruangan. Namun, hal tersebut tidak cukup bagi Dong Wook yang sedang dikuasai amarah, ia pun kemudian menghamburkan seluruh benda di atas meja kerja.


“Waeee…”


Teriakan keras penuh amarah seorang Jang Dong Wook kembali menggema di ruang minimalis tersebut. Dia terisak dengan suara yang hampir hilang, perlahan merosot dan terduduk di lantaidari balik meja kerjanya. Air mata terus mengalir dan membasahi hampir seluruh wajahnya yang juga di penuhi keringat.


“Ka, kau tahu kalau aku menyayangimu,” ucap Dong Wook disela isaknya.


Saat yang sama dalam salah satu ruang kerja pusat Kota Seoul, di sebuah gedung perkantoran paling megah dan terkenal milik Grup Haedo. Jam dinding hampir menunjukkan pukul 11.45 malam tetapi, Joong Ki masih terlihat duduk dengan serius membaca lembar bertuliskan kode morse yang ia terjemahkan di belakang meja kerjanya.


Kim Merry : “Hyeon So Yun yang sekarang menjadi kekasihmu bukanlah gadis suci seperti yang kau lihat selama ini.”


Jang Dong Wook : “Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu?”


Kim Merry : “Kami pernah dekat jadi, setidaknya ada satu atau dua rahasia yang kuketahui dan yang aku sebutkan termasuk salah satunya. Selain itu, dia juga pernah menduakan temanku.”


Jang Dong Wook : “Aku tidak percaya padamu. Kau hanya ingin merusak hubungan ka…”


“Haaa…”


Helaan napas Joong Ki jelas terdengar sebelum ia melemparkan lembaran tersebut ke atas meja tanpa membaca keseluruhan isinya. Ia bersandar di kursi setelah merenggangkan dasinya.


“Haaa…”


Lagi, terdengar helaan napasnya yang cukup keras kali ini. Seraya memijat dahi, dia mulai memejamkan mata dengan wajah yang tampak pucat. Tapi, entah kenapa dia tiba-tiba teringat akan perintahnya pada seorang pria bernama Baek Hyun Sik, yang tak lain adalah mata-mata sewaannya.


Ikuti dan laporkan terus padaku tentang apa yang mereka bicarakan. Tuliskan saja dengan kode morse, nanti aku akan mengartikannya sendiri. Aku tidak ingin ada yang mengetahui tentang hal ini jadi, kau juga harus berhati-hati. Aku…

__ADS_1


Ingatan tersebut perlahan menghilang dan sedetik kemudian bayang sosok So Yun bersamanya tiga bulan lalu hadir memenuhi pikirannya.


Dong Wook selalu membuat kesimpulan berdasarkan penglihatannya sendiri…  Aku benar-benar tidak bisa bayangkan jika dia mengetahuinya. Karena jujur saja, aku mulai takut kehilangannya… Aku sangat berharap dia tahu tentang masa laluku dan bisa menerimaku… Kau menyayangi Dong Wook?...  Aku menyayanginya…


Terkejut, karena suara So Yun yang seolah menggema dan buat ia sontak membuka mata. Dia kembali duduk dengan tegap seraya mengusap wajahnya sesaat namun, tak lama ia mulai memandang kosong dengan pikiran yang kacau.


Sampai terdengar suara ketukan pelan dari luar ruangan. Heran sembari melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 3.00 dini hari. Joong Ki terdiam dengan kening berkerut, ia beranjak lalu melangkah ke pintu. Hati-hati dan tetap siaga, ia menggenggam erat gagang pintu sebelum membukanya perlahan.


Tapi, tak lama, kekhawatirannya akan sosok jahat pun sirna seketika karena seorang gadis yang sangat ia kenal tengah berdiri di hadapannya. Gadis dengan tas gitar cukup besar di punggungnya yang tak lain adalah Hyeon So Yun itu terlihat menunduk lesu.


“So, So Yun~a, gwaenchanayo?[1]” tanya Joong Ki heran.


Rasa penasaran Joong Ki segera terjawab setelah ia menekan pelan kedua pipi So Yun dan mengangkat wajahnya. Tampak jelas darah segar yang hampir mengering di sudut kiri bibir So Yun, beberapa bagian wajahnya pun terlihat lebam juga membiru dan hal itu tentu membuat Joong Ki sangat terkejut.


“So, So Yun, apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya padamu?” tanya Joong Ki gusar.


Langsung saja air mata jatuh dari kedua mata So Yun dan membasahi pipi tembamnya. Tanpa ingin bertanya lebih lanjut, Joong Ki bergegas memapahnya masuk dan melepaskan tas So Yun sebelum ia duduk.


Dia bergerak cepat mengambil sebuah kotak P3K dari lemari meja kerjanya, lalu duduk di atas meja kecil panjang dan mulai mengoleskan obat merah ke pipi juga sudut bibir gadis yang masih terisak pelan di hadapannya dengan hati-hati.


Karena bujukan Joong Ki, ia pun berusaha menghentikan tangisnya. Beberapa saat, Joong Ki tersenyum lembut setelah menempel sebuah plester di pipi So Yun yang tergores dan segera membereskan peralatan P3K-nya lalu


beranjak mengambil segelas air untuknya.


Walaupun masih sesenggukan, So Yun tetap menerima dan meneguk habis air putih yang ia berikan dengan sekali tegukan. Kemudian, ia menghela napas keras setelah menyerahkan gelas kosong pada Joong Ki yang masih tersenyum lembut padanya.


“Dong, Dong Wook, dia…”


“Berbaringlah, nanti saja ceritanya. Kau tidak akan bisa bicara dengan benar dalam keadaan seperti ini,”bujuk Joong Ki sambil membantu So Yun berbaring di sofa dan lalu menyelimuti dia dengan jasnya.


Walau rasa penasaran menyelimuti sejak awal kedatangan So Yun tetapi, Joong Ki tidak sedikitpun ingin mendengar keluhnya selama ia masih dalam kondisi tidak nyaman. Sengaja memutus ucapan gadis itu adalah salah satu cara Joong Ki untuk membuat mereka yang masing-masing merasa kacau pun bisa jadi sedikit


lebih tenang.


“Tunggu di sini, aku ambilkan selimut di ruang sebelah,” ujar Joong Ki pelan.

__ADS_1


Namun, So Yunbergegas menggenggam erat tangan kiri Joong Ki yang sontak menghentikan langkahnya. Jemari So Yun yang dingin membuat dia terdiam sesaat dan menatap dalam mata gadis yang kini kembali berlinang.


“Do, Dong Wook menyuruhku menonton adegan ranjangnya bersama seorang wanita. Tanganku di ikat dan dia tidak memperbolehkanku keluar sebelum mereka selesai,” jelas So Yun lirih dan tangisnya pun kembali pecah.


Niat Joong Ki untuk pergi pun benar-benar terurung, ia tertegun dengan kedua bola mata yang membesar. Seakan sulit untuk bernapas, kaki beserta badannya seketika gemetar dan buatnya kembali terduduk lemas di meja. Sorot matanya yang kini menatap lekat So Yun tampak tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar.


Tidak sampai di situ, Joong Ki lagi-lagi tertegun segera setelah pandangannya teralih pada pergelangan tangan So Yun yang tampak memerah karena bekas lilitan tali. Ia meneguk ludah kuat sebelum kemudian menyentuhnya dengan hati-hati.


“Apa dia mengikatmu dengan sangat kuat?” tanya Joong Ki datar.


Hanya terdengar isak tangis So Yun dan tidak ada satu kata pun yang bisa terucap untuk menjawab pertanyaan laki-laki di hadapannya sekarang. Sementara, Joong Ki terdiam memandanginya dengan tatap kosong sembari menyingkirkan helaian rambut yang jatuh menutupi wajahnya. Pelan, dia mengusap lembut pipi So Yun yang lebih basah dari sebelumnya.


“Kau masih mencintainya setelah kejadian ini?” tanya Joong Ki lembut.


Bahkan setelah pertanyaan itu ia ajukan dan tatap mereka bertemu, Joong Ki masih tetap memandang kosong lalu mengerjap satu kali.


“Di mana dia melakukannya?” tanya Joong Ki datar.


Lagi, pertanyaan tersebut tidak di jawab. Sorot mata So Yun seakan ingin melindungi sosok yang ia sayang dan buatnya menatap Joong Ki dengan semua air mata yang terus membasahi kedua matanya tanpa henti.


“Aku pernah mengatakan, kalau kau tidak suka saat aku berdiri di depanmu, biarkan aku tetap di belakangmu dan jika kau tidak nyaman memanggilku Kakak, panggil aku Teman. Kau masih ingat tentang itu, kan?”


Suara Joong Ki yang terdengar bergetar dan sangat berbeda dari sebelumnya buat So Yun seketika beranjak memeluknya.


“Ka, kajima, Oppa. Gwaenchanayo,[2]” kata So Yun dengan suara serak.


Pandangan Joong Ki tampak semakin kosong, matanya memerah dan pelan, sebulir air mata membasahi kedua pipinya. Ia menangis dalam diam dengan kedua tangan mengepal dan membiarkan So Yun memeluknya lebih erat.


Kau… bahkan memanggilku Kakak demi membelanya.


Batin Joong Ki tanpa sedikitpun membalas pelukan So Yun saat itu.


 


[1] So Yun, apa kau baik-baik saja?

__ADS_1


[2] Jangan pergi, Kak. Aku baik-baik saja.


__ADS_2