Ice Flower

Ice Flower
Chapter #29


__ADS_3

Musim semi di laut Pantai Haeundae selalu memperlihatkan pemandangan bintang yang cantik walaupun masih terlihat samar. Hal itulah yang selalu di lakukan So Yun namun, untuk kali ini dia tidak bisa menikmati suasana dengan nyaman karena begitu banyak bayang yang memenuhi pikirannya. Seperti selembar foto dari kamera polaroid yang ia keluarkan dari saku celana jeans-nya dan buat keningnya berkerut sekian lama.


“Ppal-ddongi isipyungyeon saengil. Song Joong Ki butheo.[1]”


Untuk kesekian kalinya So Yun membaca tulisan yang tertera di belakang foto yang menampakkan dirinya bersama seorang laki-laki mengenakan topi ulang tahun. Dan lagi, ia terdiam setelah membolak-balik benda di tangannya.


“Haish, jinjja! Ige nugunya?![2]” teriaknya kesal.


Begitu frustasi karena tidak bisa mengingat laki-laki yang berfoto bersamanya membuat So Yun menghempaskan tubuh dengan keras ke atas pasir seraya memejamkan mata dan berusaha kembali menenangkan diri. Waktu yang sama di Seoul, sosok Song Joong Ki tengah duduk di tepi ranjang dan terdiam dengan pandangan kosong tertuju ke sebuah tas gitar kuning samping meja rias.


Jaga gitar dan boneka beruangku baik-baik, ya… Makanlah yang banyak… Ibu, dia siapa? Kenapa aku di sini?... So Yun, ini aku, Song Joong Ki… Jangan ganggu, aku tidak mengenalmu...


Seketika Joong Ki tersentak dari lamunan saat ia merasakan kedua pipinya telah basah karena air mata dan segera ia menghapusnya. Tetapi, lagi-lagi ia memasuki ingatannya tentang So Yun ketika pandangannya teralih pada sebuah boneka beruang ungu yang tampak lusuh di atas meja rias.


Ini boneka kesayanganku sejak lulus dari SMA. Kau akan kubunuh kalau berani menyentuhnya… Seharusnya kau mencucinya…


Dalam ruang sunyi, seakan suara napas pun bisa terdengar. Samar namun, perlahan isak tangis itu terdengar sangat jelas.


“Nan niga bogosipda, So Yun~a,[3]” ucap Joong Ki di sela isaknya.


Tertunduk di tepi ranjang dengan badan bergetar dan air mata yang semakin membasahi wajahnya membuat Joong Ki bahkan tidak bisa mendengar suara pintu apartemennya yang tengah di buka oleh seseorang.


“Hyeong, eodiga?!”


Entah itu sebuah ritual atau kebiasaan tapi, Dae Hyuk yang selalu berteriak sesaat setelah masuk ke apartemen Joong Ki pun kini mulai mencari sosoknya. Dan…


“Hyeong, ige na...”


Seketika Dae Hyuk bungkam ketika menemukan sosok yang ia cari tengah duduk memunggunginya. Dari celah pintu yang sedikit terbuka dan suasana apartemen yang sangat senyap, tentu Dae Hyuk bisa mendengar jelas isak seorang Song Joong Ki.


Walau keduanya mengetahui keberadaan masing-masing setelah Dae Hyuk masuk dan menepuk pelan pundak kirinya tetapi, Joong Ki tidak sedikitpun peduli. Senyum riang Dae Hyuk beberapa menit lalu pun memudar setelah ia ikut duduk di sampingnya.


“Gwaenchana, Hyeong,” tegur Dae Hyuk pelan seraya merangkulnya yang semakin terisak.


Lama, keduanya saling diam setelah kini duduk di ruang tamu dan tengah menikmati minuman kaleng masing-masing. Sampai…


“Kau bertemu So Yun saat pulang ke Busan?” tanya Joong Ki datar lalu meneguk minumannya lagi.

__ADS_1


“Aku hanya bertemu So Jun, Adiknya. Sewaktu aku datang ke rumah mereka, So Yunsedang di Pantai Haeundae,” jelas Dae Hyuk pelan.


“Apa kau menyusulnya kesana?”


“Iya. Tapi, karena takut mengejutkan jadi, aku hanya melihatnya dari jauh,” sahut Dae Hyuk.


“Tidak ada perkembangan darinya?” kembali Joong Ki bertanya datar.


Dae Hyuk menggeleng pelan dan langsung meneguk habis minumannya.


“So Jun mengatakan padaku kalau So Yun marah ketika dia menyuruhnya untuk bermain gitar,” ucap Dae Hyuk yang lalu menghela napas keras, “entahlah. Aku rasa sangat sulit mengembalikan ingatannya,” tambahnya yang tampak frustasi.


“Hari itu, So Yun mengirim pesan padamu untuk menjemputnya, lalu aku konfirmasi dan kau mengiyakan. Harusnya kalian bertemu di makam Ibuku tapi, bagaimana bisa kau menemukannya di apartemen Dong Wook? Dan kenapa kau tidak beritahu aku lebih awal? Aku rasa, kau belum ceritakan semuanya.”


Joong Ki yang kehilangan wajah cerianya kini terlihat sedikit menakutkan bagi Dae Hyuk yang seketika tertegun dan pertanyaan juga nada bicaranya yang dingin pun sempat buat dia memucat.


“Tidak ingin bicara?” tanya Joong Ki datar seraya melirik sinis padanya.


“Ma, maaf, Kak. Ak, aku tidak bermaksud begitu tapi, kau tidak pernah menanyakannya lagi setelah So Yun sadar ataupun sebelumnya dan hari itu kau juga terlihat sangat kacau,” jelasDae Hyuk gugup.


Reaksi Dae Hyuk yang tampak sangat terkejut karena tindakannya buat Joong Ki hanya bisa menghela napas pelan.


Perintah datar namun, terdengar lebih santai tersebut sedikit lebih baik bagi Dae Hyuk walaupun ia masih terlihat tegang dan sempat meneguk ludah dengan kuat.


“Waktu tiba di makam, aku tidak bertemu So Yun dan sempat mencarinya sampai ke dalam. Cukup lama, sekitar satu jam dan memang niat awal aku akan menghubungimu tapi, bertepatan dengan saat itu Dong Min menelepon, kau tahu kalau kami juga berteman karena aku sempat bekerja di Bar JeeMee sebelumnya. Dia mengatakan, melihat So Yun masuk ke gedung apartemen Dong Wook dan kupikir sebelum aku datang, So Yun sudah berencana akan menemuinya. Kau pasti ingat halte bus dekat komplek makam Ibumu, kan? Kurasa dia naik bus dari sana,” jelas Dae Hyuk.


“Mmm… lalu?” tanya Joong Ki yang sekarang bersandar seraya memejamkan mata.


“Lalu, Dong Min mengatakan padaku untuk segera ke sana tapi, di jalan aku malah terjebak macet. Perasaanku sudah sangat tidak nyaman dan satu-satunya yang terpikir hanya Dong Min jadi, aku lebih utamakan untuk meminta bantuannya. Aku tidak mungkin menghubungimu karena tahu pasti selama acara ponselmu di pegang Kak Hwi Jae,” jelas Dae Hyuk yang sempat melemah.


“Benar dan Yang Hwi Jae pasti akan langsung memutus teleponnya. Kau bekerja cukup baik. Lalu?” ucap Joong Ki datar dan sempat buat Dae Hyuk kembali tertegun walau perasaan lega sempat ia rasakan.


“Aku terjebak kurang lebih 15 menit dan selama itu kami saling kontak. Dong Min menunda pertemuannya di kantor dan kami tiba di apartemen Dong Wook pada waktu yang sama. Aku tidak tahu harus mengatakan apa tapi, membayangkan lagi ketika kami menemukan Dong Wook di kamar mandi sedang membenturkan kepala So


Yun dan mencekiknya kuat benar-benar membuatku ingin mati. So Yun tam…”


Kalimat Dae Hyukterputus sepenuhnya setelah perubahan suara yang menjadi serak dan hampir hilang bersamaan dengan air mata yang kini tidak bisa ia tahan lagi, jatuh membasahi kedua pipinya. Sedangkan, Joong Ki yang masih tetap memejam terlihat tenang dan memberikan jeda sejenak pada laki-laki yang sudah dia anggap seperti

__ADS_1


saudaranya itu.


Tetapi, lama kemudian…


“Dong, Dong Wook mungkin terkejut dengan kedatangan kami jadi, dia segera melepaskan So Yun yang tampak sangat lemah. Ak, aku pikir akan jadi lebih baik tapi, malah semakin kacau. Dia tiba-tiba mengamuk dan menusuk perut Dong Min yang berusaha menenangkannya dengan gunting,“ kembali Dae Hyuk menjelaskan suara di sela isaknya, “saat itu aku hanya bisa bersyukur karena Dong Min bersamaku jadi, aku bisa mengeluarkan So Yun dengan cepat. Dia terlihat sekarat karena hampir kehabisan napas, walaupun begitu So Yun yang kukenal cerewet dulunya masih bisa tersenyum bahkan dia sempat memanggil Ayah, Ibu dan Adiknya, So Jun sebelum benar-benar tak sadarkan diri.”


Mereka kembali diam, hanya terdengar isak tangis Dae Hyuk yang perlahan mereda sementara, Joong Kitidak sedikitpun berniat membuka kedua matanya dan kini ingatan akan\ keadaan So Yun ketika ia tiba di rumah sakit kembali terlihat jelas dalam pikirannya.


Maaf, kami tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa berpasrah pada Tuhan… Dokter mengatakan, dia tidak akan sadarkan diri dalam waktu yang lama…


Ingatan akan pertemuannya dengan keluarga So Yun dalam kondisi tidak menyenangkan pun kembali memenuhi otaknya. Setiap hari, selama empat bulan lamanya dia hanya bisa menatap kosong pada So Yun yang terbaring lemah dengan peralatan medis sebagai penunjang hidupnya. Selama itu pula dia terus di bayangi ketakutan akan kehilangan sosok Hyeon So Yun yang baru saja ialihat senyum dan tawanya.


Kau siapa?...


Pertanyaan tersebut selalu memenuhi kepalanya setelah ia yang begitu senang melihat So Yun akhirnya bangun dari tidur panjang dan menjadi orang pertama yang So Yun lihat. Namun, gadis itukehilangan ingatan tentang hidupnya, sekolah juga semua pendidikan yang pernah ia tempuh dan termasuk ingatannya akan sosok seorang Song Joong Ki. Yang melekat sangat kuat dalam pikirannya hanya keluarga dan tempat tinggalnya di Busan.


Aku tahu kata maaf tidak bisa membayar semua yang telah Kakakku lakukan. Tapi, aku pastikan setelah dia sembuh total, keluarga kami akan menyerahkannya ke pihak berwajib dan menanggung seluruh biaya rumah sakit juga perawatan So Yun…


Kedua tangan Joong Ki perlahan mengepal karena menahan amarah atas perlakuan Dong Wook pada So Yun dan ingatannya akan ucap penyesalan Dong Min hanya bisa buatnya menghela napas cukup keras.


Dong Wook mengalami depresi berat dan sama sekali tidak bisa di adili. Putusan pengadilan hanya bisa menyatakan dia sebagai tahanan di rumah sakit jiwa…


Lagi, ia menghela nafas lebih keras dari sebelumnya karena ucap Jerry ikut melayang dalam ingatan dan pandangan Dae Hyuk yang tangisnya sudah mereda pun seketika teralih padanya dengan kening berkerut.


“Waeyo, Hyeong?” tanya Dae Hyuk heran dan buat Joong Ki akhirnya membuka mata lalu balas menatapnya lekat.


“Apa Dong Wook masih di rumah sakit yang pernah kau katakan padaku waktu itu?” tanya Joong Ki datar.


“Iya, dia masih di sana. Kenapa?” tambahnya semakin heran.


Tidak ada jawaban dari Joong Ki yang sekarang terlihat berpikir dan kembali mengabaikannya.


 


[1] Ulang Tahun ke-26 Ppal-ddong. Dari Song Joong Ki.


[2] Keterlaluan! Ini siapa?

__ADS_1


[3] Aku merindukanmu, So Yun


__ADS_2